Dari Redaksi

sampul edisi 81Realita dunia saat ini menunjukkan bahwa ketenangan dan kebahagiaan sejati menjadi bagian yang hilang dari manusia modern. Eskalasi produksi senjata destruktif, perang, aksi rasisme dan instabilitas di pasar global telah mengancam keamanan dan kesejahteraan dunia. Saat ini, para pemimpin Barat secara paksa telah merampas modal bangsa-bangsa yang mereka tindas. Rapuhnya sendi-sendi institusi keluarga, stress, kejahatan, kekerasan, narkotika dan penyelundupan manusia membuat keselamatan masa depan dunia terancam serius. Meski kita hidup di era kemajuan sains dan teknologi, tapi kita tetap menyaksikan penindasan dan pelanggaran terhadap berbagai bangsa. Dunia modern yang dilanda krisis ini membutuhkan ajaran Ilahi untuk memulihkan ketenangan, keamanan dan nilai-nilai moral yang tinggi. Ajaran tersebut adalah yang dibawa oleh Muhammad SAW. George Bernard Shaw, penulis asal Inggris mengatakan, “Dunia saat ini membutuhkan sosok seperti Muhammad untuk menyelesaikan kesulitan yang sangat rumit, sehingga manusia dapat minum secangkir kopi dengan tenang. Eropa saat ini mulai melakukan penyebaran secara luas hikmah-hikmah rasional Muhammad dan mereka mulai mencintai agama Muhammad. Mereka juga nantinya akan membersihkan ideologi dan pemikiran Islam dari tudingan era abad pertengahan. Agama Muhammad akan menjadi sistem yang bersandar pada perdamaian dan kebahagiaan serta filsafatnya akan membantu menyelesaikan beragam kendala dan kesulitan yang sangat rumit.” Dalam kesempatan yang lain, Sayyid Ali Khamenei mengatakan bahwa, “Penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW tidak boleh hanya sekedar ungkapan dan kata saja, akan tetapi upaya untuk mewujudkan pesan-pesan perdamaian dan persatuan dari  Rasulullah SAW harus menjadi prioritas negara-negara Islam dan bangsa Muslim.” Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi

sampul edisi 80Rasulullah SAW bersabda, “Manusia itu sedang tidur, jika mereka mati barulah mereka terbangun.” Manusia dalam kehidupan di dunia ini, seringkali dibuai dengan kenikmatan dan kebahagian yang bersifat material. Hal itu disebabkan karena tidak adanya perhatian sebagian besar manusia pada orientasi hidup yang lebih bermakna dan substansial. Kondisi seperti ini biasanya terjadi bila hati kita dihinggapi salah satu tabir spiritual yang bernama ‘kelalaian’. Tabir ini sangat tebal hingga terkadang membuat seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah jatuh ke dalamnya. Seperti orang yang tidur, ia tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Lihatlah apa yang dilakukan para pemuja hedonisme, konsumerisme, materialisme di saat menjelang pergantian tahun. Mereka berpesta-pora merayakan kegembiraan sepanjang malam, seakan mereka adalah pemilik dunia ini dan akan hidup selama-lamanya. Padahal hati yang di dunia lalai dari Allah SWT, tidak akan mampu melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Allah berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 46, “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati mereka.” Pada nash lainnya, ayat 72 surah Al-Isra’ disebutkan, “Dan barangsiapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan yang benar.” Kalau sudah begitu, manusia barulah menyesali apa yang telah diperbuatnya. Al-Quran mengingatkan, “Agar jangan ada orang yang mengatakan, ‘Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah.” Wallahu a’lam bisshawab.

Wassalam

Dari Redaksi

79Sebuah ungkapan yang sudah sering kita dengarkan bahwa, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menghargai para pejuang dan pahlawannya.” Terkait dengan hal itu, maka dalam konteks berbangsa dan bernegara, tampaknya sesuatu yang ironis begitu jelas terlihat selama ini. Setiap tahun kita memang memperingati Hari Pahlawan, namun kita pula menyaksikan bagaimana nasib veteran pejuang kemerdekaan dan keluarga para pahlawan yang telah gugur. Yang seringkali harus berjuang lagi untuk mendapatkan hak-hak mereka sendiri. Lantas muncul pertanyaan, beginikah rezim penguasa negeri ini menghargai para pejuang dan pahlawannya? Kenapa mereka tidak diberikan fasilitas yang cukup dan memadai, sebagai wujud pengkhidmatan terhadap jasa dan pengorbanan mereka? Mengapa hanya para pejabat di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif yang diberikan fasilitas mewah, sementara  para pahlawan dan pejuang hanya difasilitasi seadanya. Padahal, apa yang kita rasakan di alam kemerdekaan sekarang ini, mustahil kita dapatkan tanpa pengorbanan mereka. Dalam konteks keberagamaan, demikian pula halnya. Secara umum, kaum muslimin tidak begitu akrab dengan sosok-sosok mulia dari kalangan keluarga Rasulullah sendiri. Seolah-olah keluarga Nabi SAW tidak punya andil sama sekali dalam perjuangan Islam di masa-masa awal. Jejaknya hampir-hampir tidak ditemukan dalam lembaran sejarah Islam. Umat Islam seakan tidak peduli dengan apa yang menimpa cucu Nabi SAW, Sayyidina Husain di tanah tandus Karbala pada 1375 tahun yang silam. Padahal disebutkan “Al-Islam Muhammadiyatul huduts wa Husainiyatul baqa.” Bahwa keberadaan Islam terwujud melalui Nabi Muhammad SAW dan kelestariannya melalui Sayyidina Husain. Demikianlah, kita seringkali melupakan peran penting dari tokoh-tokoh besar masa lalu, yang di tangan mereka  orientasi dan misi dari bangsa, negara dan agama sangat ditentukan. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi

edisi 78Tujuan Khalifatullah; para nabi, para hujjah, qudrah Ilahiah dan qudrah Islam ialah ishlahul ummah (membenahi umat), dan menggugah serta mengangkat manusia dari kegelapan dan kebodohan. Gelapnya kebodohan lebih gelap daripada gelapnya malam. Merugilah manusia yang bodoh. Ketahuilah bahwa Timur dan Barat memanfaatkan kebodohan umat. Jika umat tidak bodoh serta mengetahui mana yang hak dan yang batil, mana yang dusta dan yang jujur serta suci, mana yang hakikat dan yang semu, maka ia akan dekat sekali dengan keselamatan. Oleh karena terungkap baginya, tipu muslihat, makar serta kebohongan Timur dan Barat serta partai setan dan orang yang menyimpang dari jalan Allah. Pengetahuan tentang ini semua adalah berkat ilmu dan anugerah Islam. Demikian halnya dengan ibadah serta penghambaan yang benar yang membutuhkan makrifat lewat bimbingan manusia Ilahi. Islam datang agar manusia tahu dan sadar. Karenanya, Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah.” Jika ia tak tahu (bodoh), maka ia akan terjerumus di jalan setan. Setan itu bertopeng baik, ia tidak datang dengan mengatakan, “Aku antarkan kalian ke neraka.” Ia tidak mengatakan , “Aku ini setan,” tetapi ia mengatakan, “aku ini manusia, seorang yang paling mukmin.”  Ia berbohong! Tapi jika Anda berpengetahuan, mampu memilah antara hak dan batil, hidayah dan dhalalah (kesesatan), keimanan dan kekufuran, maka dengan itu Anda tidak akan jatuh ke jalan yang salah. Khalifatullah bertujuan untuk membangun manusia , yang targetnya adalah memperbaiki dunia dan jiwa, ishlah akidah, akhlak, fikih dan tabiat sosial. Jika semua itu terbina, maka semuanya akan terlahir  sebagai kebaikan. Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Dari Redaksi

edisi 77Dunia adalah tempat penghambaan kepada Allah dan penghambaan kepada setan. Manusia yang menjadi hamba Allah, akan senantiasa taat dan tunduk kepada Allah. Para nabi, para imam, orang-orang saleh, orang-orang yang bertakwa dan ulama, mereka adalah hamba-hamba Allah. Sedangkan para tiran, orang-orang bodoh, orang-orang rendah dan hina, para kelompok takfiri, para penumpah darah dan orang yang tidak bertakwa, mereka adalah para pengikut dan hamba setan. Penghambaan kepada Allah dan ketaatan kepada setan, masing-masing memiliki pengaruh dan penampakan yang berbeda. Kenabian, kepemimpinan, perdamaian, kesucian, ketulusan, kemampuan mengalahkan kekuatan tabiat, kemampuan melakukan intervensi terhadap benda-benda alam dengan seizin Allah, semuanya itu adalah pengaruh penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Orang yang terhubung dengan perangkat Allah, maka segala sesuatu berada dalam genggamannya dan berkuasa atasnya. Perangkat Allah adalah perangkat kekuasaan atas alam. Orang yang sudah tersambung dengan hal tersebut menjadi penguasa atas alam ini, sehingga air, api dan angin tunduk dihadapannya. Semua itu adalah berkat penghambaan diri kepada Allah. Setan dan para pengikutnya juga mempunyai pengaruh. Adapun pengaruh mereka ialah menyeret dunia kepada lautan api dan keburukan, menempatkan manusia ke dalam ambang kehancuran, menjadikan ilmu manusia menjadi pemicu kerusakan dan penyulut api yang membakar, karena berada dalam tawanan para pengikut setan. “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Wallahu a’lam bisshawab.

                                                                                       

Wassalam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 169 pengikut lainnya.