PEMUDA YANG YAKIN

Nabi SAW pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat Fajar (subuh). Seusai memimpin shalat subuh itu bersama jama’ah, tampak kegelapan mulai berganti dengan siang dengan sinar matahari pagi. Ketika Rasulullah SAW hampir meninggalkan mesjid itu, tiba-tiba beliau melihat seorang pemuda yang pucat. Tubuhnya lemah dan kurus, sedang kedua matanya cekung masuk ke dalam batok kepalanya.

Rasulullah SAW menanyai pemuda itu: “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini, hai Fulan?”

“Hari ini aku menjadi orang yang yakin, ya Rasulullah.” jawab mereka.

Mendengar perkataan seperti itu, Rasulullah terheran-heran dan bertanya: “Sesungguhnya setiap keyakinan ada hakikatnya. Apakah kiranya hakikat keyakinan itu?”

Jawab pemuda kurus itu: “Sesungguhnya keyakinanku, ya Rasulullah, telah menjadikan aku, membikin aku tak bisa tidur di malam hari dan kehausan di siang hari. Membuat diriku berzuhud terhadap dunia dengan segala isinya. Seolah-olah aku melihat ‘Arasy Tuhanku telah ditegakkan untuk pelaksanaan hisab dan penghimpunan seluruh makhluk. Sedang aku berada diantara mereka. Seolah-olah melihat penghuni surga sedang bersenang-senang dalam surga dan saling berkenal-kenalan, seraya bertelekan di atas dipan-dipan. Seolah-olah aku melihat penghuni neraka disiksa dan memohon pertolongan disana. Seolah-olah saat ini saya mendengar raungan dari neraka, terngiang-ngiang dalam telingaku.”

Nabi SAW berpaling kepada sahabat-sahabatnya, seraya bersabda: “Inilah seorang hamba yang hatinya diterangi Allah dengan iman.” Kemudian kepada pemuda itu beliau menasihatkan, seraya bersabda: “Tetaplah pada keyakinanmu itu.”

Kemudian pemuda itu berkata : “Berdoalah kepada Allah untukku, ya Rasulullah, agar aku dianugerahi Syahadah bersamamu.”

Rasulullah SAW memenuhi permintaannya. Tidak lama sesudah itu pemuda itu berangkat mengikuti salah satu peperangan yang dilakukan oleh Nabi SAW. Disana dia gugur setelah sembilan orang lainnya sebagai syahid. Ia adalah pahlawan syahid yang kesepuluh.

KATA-KATA TERAKHIR

Ummu Hamidah, yaitu ibu dari Imam al-Kazhim, suaminya yang bernama Imam Ja’far ash-Shadiq meninggal dunia.

Begitu Abu Bashir datang kepadanya untuk bertakziah, maka pecahlah tangisnya. Abu Bashir pun ikut menangis, karena tangisnya itu. Tatkala perasaannya telah reda dan sedu sedannya telah tenang kembali, maka wanita itu menoleh kepada Abu Bashir, seraya berkata: “Sekiranya anda menyaksikan ketika Abu Abdillah hendak melapaskan nyawanya, tentu anda melihat suatu keajaiban.”

“Apakah yang terjadi?” tanya Abu Bashir.

Jawab Ummu Hamidah: “Ketika al-Imam melihat saat-saat terakhir dari hidupnya, tiba-tiba ia membuka kedua matanya, kemudian berkata: “Kumpulkanlah ke sini siapa pun yang mempunyai hubungan kerabat denganku.”

Ummu Hamidah menambahkan, seraya katanya: “Tidak seorangpun yang tahu kenapa al-Imam meminta kerabat-kerabatnya hadir disaat-saat yang mengharukan seperti itu dari hidupnya. Tidak tahu, entah untuk tujuan apa.”

Lalu kami pun berangkat mengumpulkan mereka, tidak seorang pun yang kami tinggalkan. Semuanya diam, memperhatikan apa yang akan dikatakan dan diperintahkan oleh al-Imam. Tatkala al-imam membuka kedua matanya dan melihat kerabat-kerabatnya telah hadir disitu, maka berkatalah beliau: “Sesungguhnya syafa’at kami takkan mengenai orang yang meremehkan shalat.”

Imam Ja’far Shadiq

berkata :

“Sesungguhnya syafa’at kami

takkan mengenai

orang yang meremehkan shalat.”

Sumber : Cerita Bijak Orang-Orang Saleh, Penerbit Srigunting.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: