Syahadah : Kematian Nan Agung

Oleh : Murtadha Muthahhari

 Kesyahidan adalah kematian seseorang yang meskipun  menyadari sepenuhnya resiko yang ditimbulkan, bersedia menghadapinya demi satu tujuan suci, atau, sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, di jalan Allah. Kesyahidan mempunyai dua unsur utama :

a)    Nyawa yang dikorbankan untuk suatu tujuan, dan

b)    Pengorbanan itu diberikan dengan kesadaran.

 

Masalah kesyahidan biasanya berhubungan dengan sisi kejahatan, dan sepanjang menyangkut korbannya, kematiannya adalah suci. Tetapi yang menyangkut pembunuhnya, tindakannya itu merupakan  kejahatan yang amat keji. Kebanyakan orang meratapi Imam Husain  karena kesuciannya, (Imam tidak bersalah). Karena Imam menjadi korban keegoisan orang yang haus kuasa. Yang menumpahkan darah Imam tanpa disebabkan  suatu kesalahan. Seandainya memang demikian sederhana, Imam Husain tentu hanya akan dianggap sebagai seorang tak berdosa yang menjadi korban perlakuan yang sangat tidak adil. Tak dapat disebut seorang syahid. Apalagi penghulu para syuhada.

Persoalannya ialah Imam Husain  bukan sekedar korban tujuan-tujuan egois. Pelaku-pelaku tragedi itu memang telah melakukan kejahatan karena keegoisan mereka. Tetapi Al-Husain dengan penuh kesadaran memberikan pengorbanan yang paling luhur. Musuh-musuh Al-Husain menghendakinya  menyerah, tetapi karena menyadari sepenuhnya akan akibatnya, Imam Husain memilih melawan tuntutan mereka.

Imam Husain menganggap bahwa berdiam diri pada masa yang genting itu merupakan dosa besar. Sejarah kesyahidannya, dan terutama pernyataan-pernyataannya menjadi saksi atas fakta ini.

Ketika Imam Husain memutuskan berangkat ke Kufah, beberapa anggota keluarganya mencegahnya. Alasan mereka, tindakan Al-Husain tidak logis. Mereka benar, menurut jalan pikiran mereka sendiri. Keputusan Al-Husain tidak sesuai dengan logika mereka. Logika yang hanya mampu mengjangkau dunia. Tetapi Imam Husain  mempunyai logika yang lebih tinggi. Logika Imam Husain adalah logika seorang syahid yang jangkauannya tidak dapat dimengerti orang awam.

Abdullah Ibn Abbas bukanlah orang kecil. Muhammad Ibn Hanafiyyah bukan orang biasa. Tetapi logika mereka didasarkan kepentingan-kepentingan pribadi dan keuntungan politis. Dari sisi pandang mereka, tindakan Imam Husain tidak bijaksana  sama sekali. Ibn Abbas  mengajukan usulan yang sangat politis. Ia berkata kepada Imam Husain, “Penduduk Kufah berkirim  surat memberitahu  bahwa mereka siap  berjuang demi tujuanmu. Sebaiknya engkau membalasnya dan meminta mereka menyingkirkan para pejabat pemerintah Yazid dari sana. Mereka akan menerima atau menolak usulmu. Bila  mereka melaksanakannya, engkau dapat pergi ke sana dengan aman. Bila mereka tidak mampu melakukannya, tidak akan mempengaruhi posisimu.

Al-Husain tidak mendengarkan nasihat itu. Al-Husain menjelaskan bahwa ia telah memutuskan untuk maju.

Ibn Abbas berkata:

          “Engkau akan terbunuh.”

          “Engkau akan terbunuh.”

          “Lalu kenapa?” kata Imam Husain

“Orang yang pergi dan tahu bahwa ia bakal terbunuh tidak akan mengajak istri dan anak-anaknya,” tambah Ibn Abbas.

          “Tapi aku harus mengajak mereka,” tegas Imam Husain.

Logika seorang syahid adalah unik, tak dapat dimengerti orang awam. Itulah sebabnya kata syahid dilingkari pusaran cahaya kesucian. Kata itu menduduki tempat yang luar biasa dalam kosa kata suci dan sangat agung. Kata syahid merujuk sesuatu yang lebih tinggi dari arti seorang pahlawan atas pembaharu. Kata syahid tidak dapat diganti dengan kata lain.

 

Darah Syuhada

         

Apakah yang dilakukan seorang syahid? Manfaatnya tidak hanya sebatas melawan musuh. Dan dalam prosesnya, memberi pukulan pada musuh atau terkena pukulan pada musuh. Bila itu masalahnya, dapat kita katakan bahwa darahnya akan sia-sia. Tetapi darah syuhada tidak pernah sia-sia. Darah itu tidak mengalir di atas tanah. Setiap tetesan darah berubah menjadi ratusan dan ribuan tetes, bahkan menjadi berton-ton darah, dan ditransfusikan ke dalam tubuh masyarakat. Itulah sebabnya Rasul yang suci bersabda, “Allah tidak menyukai tetesan apapun  melebihi tetesan darah yang tercecer dijalan-Nya.” Kesyahidan berarti transfusi darah ke dalam tubuh masyarakat, terutama masyarakat yang menderita anemia. Para syuhadalah yang menginfuskan darah segar ke dalam nadi masyarakat.

 

Keberanian dan Semangat Syuhada

 

Karakteristik khas seorang syahid adalah bahwa ia mengisi suasana dengan penuh semangat dan keberanian. Ia menghidupkan semangat keberanian dan kegigihan, kesatria dan terutama semangat ilahiah, di antara orang-orang yang telah kehilangan semua itu. Itulah sebabnya Islam selalu membutuhkan para syuhada. Penghidupan kembali keberanian dan semangat sangatlah penting bagi kebangkitan suatu bangsa.

Imam Husain berkata, “Kakekku memberitahuku bahwa aku ditakdirkan mencapai kedudukan spiritual yang sangat tinggi, tetapi tak dapat diraih kecuali dengan kesyahidan.”

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kesyahidan sebenarnya merupakan peristiwa bahagia. Bukan peristiwa duka. Itulah sebabnya, seorang ulama besar, Ibn Tawus, berkata, “Seandainya kita tidak diperintahkan untuk berduka cita, saya memilih merayakan hari-hari kesyahidan dengan pesta.”

Ajaran moral yang harus kita  petik dari kesyahidan adalah bahwa kita tidak boleh  membiarkan keadaan serupa terjadi di masa mendatang. Gagasan duka cita adalah untuk memproyeksikan tragedi tersebut sebagai suatu peristiwa yang seharusnya tidak terjadi. Berbagai emosi diungkapkan untuk mengutuk penjahat-penjahat pelaku penindasan dan para pembunuh syuhada, dengan maksud mencegah warga masyarakat meniru kejahatan-kejahatan semacam itu. Dengan demikian kita tahu bahwa tak seorang pun yang terdidik dalam ajaran yang meratapi Imam Husain  menginginkan kemiripan terkecil sekalipun dari Yazid, Ziyad atau yang serupa dengannya.

Ajaran moral lainnya yang mesti ditarik masyarakat adalah bahwa kapan saja muncul situasi yang menuntut pengorbanan, rakyat harus mempunyai perasaan-perasaan seorang syahid  dan bersedia mengikuti teladan kepahlawanannya.

Dalam dunia modern ini, adalah merupakan kebiasaan umum untuk mempersembahkan satu hari setiap tahun kepada kelompok atau golongan tertentu untuk menghormarti mereka. Misalanya Hari Ibu atau Hari Guru. Tetapi tidak ada hari yang dipersembahkan rakyat untuk para syuhada kecuali orang-orang Muslim. Hari itu adalah hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Malamnya dianggap sebagai malam syahid.

 

Kedudukan Syuhada

 

Dikisahkan oleh penulis Perang Karbala bahwa pada malam 10 Muharam, Imam Husain  mengirim putranya bersama rombongan kecil untuk mengambil air. Misi ini berhasil dilaksanakan. Semua minum air yang dibawanya. Kemudian Imam Husain menyuruh mereka mandi dan membersihkan diri. Imam memberitahu mereka bahwa ini adalah persediaan air terakhir yang dapat mereka peroleh. Bagaimanapun halnya, Imam mengumpulkan segenap sahabatnya dan mengizinkan siapa pun untuk pergi meninggalkannya, jika mereka menghendaki. Imam menyampaikan khotbah yang mengesankan dan penuh dorongan, di mana beliau merujuk peristiwa yang bakal terjadi di siang harinya.

Anda pasti telah mendengar bahwa musuh telah menyampaikan ultimatum terakhirnya pada  malam 9 Muharam. Berdasarkan itu Al-Husain membuat keputusan terakhir menjelang pagi hari tanggal 10 Muharram. Imam Zainal Abidin yang hadir pada kesempatan itu, mengisahkan bahwa Al-Husain mengumpulkan para sahabatnya di tenda yang bersebelahan dengan tempat Imam Zainal Abidin tidur. Imam Husain berkata, “Segala puji bagi Allah. Aku bersyukur kepada-Nya dalam segala keadaan, yang menyenangkan atau yang sebaliknya.” Bagi orang yang melangkah menuju kebenaran dan keadilan, semua yang bakal terjadi pasti baik. Orang yang takwa dengan sadar melaksanakan kewajiban dalam segala keadaan, tak peduli apa pun konsekuensinya.

Berkaitan dengan ini, Imam Husain memberi jawaban sangat menarik kepada Farazdaq, penyair kenamaan, ketika berjumpa dengannya dalan perjalanan menuju Karbala. Farazdaq menjelaskan situasi berbahaya di Iraq. Al-Husain menjawab, “Bila segalanya berjalan sebagaimana yang kita kehendaki, kamu bersyukur kehadirat Allah dan memohon pertolongan-Nya untuk bersyukur kepada-Nya. Tetapi bila terjadi yang tidak menguntungkan, kami tidak rugi, karena maksud kami baik dan kata hati nurani kami jelas. Jadi apa pun yang bakal terjadi pasti baik, bukan buruk. Aku bersyukur kepada-Nya dalam segala keadaan, yang menyenangkan atau sebaliknya.”

Yang Al-Husain maksud adalah bahwa ia telah melihat hari-hari menyenangkan dan hari-hari tidak menyenangkan dalam hidupnya. Masa menyenangkan adalah ketika kanak-kanak dan duduk dalam pangkuan Nabi. Ada masa ketika ia menjadi bocah kesayangan kaum Muslimin. Al-HUsain sangat bersyukur pada Allah atas hari-hari itu. Ia juga bersyukur kehadirat Allah atas kesukaran-kesukaran yang terjadi saat ini juga. Karena semua yang terjadi adalah baik baginya. Ia bersyukur  pada Allah telah memilih keluarganya mengemban tugas suci, menjadikan mereka mampu memahami Kitab Suci Al-Quran sepenuhnya, dan mempunyai wawasan yang benar tentang agama Islam.

Setelah menyatakan itu, Al-Husain menyampaikan pernyataan historis mengenai para sahabat dan anggota keluarganya. Al-Husain berkata, “Saya tidak mengenal sahabat siapa pun yang lebih baik atau lebih setia dari sahabat saya sendiri, dan tidak pernah ada keluarga yang lebih taat dan patuh, dari pada keluargaku sendiri.”

Jadi, Imam Husain memberi para sahabatnya status yang lebih tinggi dari status para sahabat Rasulullah, dan lebih tinggi dari status para sahabat ayahnya, Imam Ali, yang syahid pada perang Jamal, Siffin dan Nahrawan. Al-Husain berkata bahwa ia tidak pernah tahu keluarga siapa pun yang lebih luhur dan lebih patuh dari pada keluarganya sendiri. Demikianlah, Al-Husain memberikan pengakuan pada kedudukan tinggi mereka dan mengucapkan terima kasihnya kepada mereka. Selanjutnya Al-Husain berkata, “Saudara-saudara! Akan kuberitahu kalian semuanya, sahabat, dan keluargaku, bahwa orang-orang ini tidak punya urusan dengan siapa pun kecuali aku. Mereka menganggapku sebagai satu-satunya musuh mereka. Mereka menghendaki agar aku menyerah. Sekarang Aku  bebaskan kalian  dari janji kalian. Kalian tidak harus tinggal di sini. Kalian bebas sepenuhnya. Siapa saja yang hendak pergi, boleh pergi..” Kemudian kepada para sahabat Al-Husain berkata, “Hendaklah kalian masing-masing menggandeng, tangan salah seorang keluargaku dan pergilah.”

Anggota keluarga Al-Husain, dewasa dan anak-anak semuanya bergabung. Terlebih-lebih mereka semua asing di sana. Al-Husain tidak menghendaki mereka semua pergi bersama-sama. Karena itu Imam meminta masing-masing sahabatnya untuk menggandeng seorang di antara mereka dan meninggalkan medan pertempuran

Peristiwa ini memancarkan kepribadian luhur para sahabat Al-Husain. Mereka tidak dipaksa pihak mana pun. Musuh tidak mempunyai kepentingan langsung dengan mereka. Al-Husain telah membebaskan mereka dari kewajibannya. Dalam keadaan ini, jawaban yang menghangatkan hati disampaikan setiap sahabat dan anggota keluarga Al-Husain. Sungguh luar biasa.

Peristiwa yang Melegakan

          Tanggal 10 Muharram dan malam hari sebelumnya merupakan saat yang sangat melegakan hati Al-Husain  karena menyaksikan segenap kerabat, dari yang paling kecil hingga yang lanjut usia, mengikuti jejaknya. Kelegaan lain yang dirasakan Imam Husain adalah kenyataan bahwa tak seorang pun sahabatnya menampakkan tanda kelemahan. Tak seorang pun berbalik bergabung dengan musuh. Sebaliknya, mereka berhasil menginsafkan sejumlah tentara yang memusuhinya hingga berpihak pada mereka. Orang-orang itu bergabung dengan mereka saat hari Asyura dan malam sebelumnya. Salah seorang di antaranya adalah Hurr  bin Yazid. Sejumlah 30 orang bergabung dengannya sepanjang malam Asyura. Ini merupakan peristiwa yang melegakan Al-Husain.

          Seorang demi seorang sahabat Imam Husain berkata padanya, ”Junjungan kami! Engkau mengizinkan kami pergi tapi harus meninggalkanmu sendiri? Itu tak mungkin. Hidup tiada nilainya dibanding dengan diri Yang Mulia.” Seorang di antara mereka berkata, “Andai kata saya dibunuh, tubuhku dibakar dan abunya berceceran, sampai tujuh  puluh kali, itu belum ada artinya sama sekali dibanding Engkau.”

          Yang pertama berbicara malam itu adalah saudaranya al-Fadhl al-Abbas. Sahabat-sahabat lainnya mengulangi apa yang dikatakannya.

Ini adalah ujian terakhir buat mereka. Setelah mereka semua mengumumkan keputusan mereka, Al-Husain mengungkapkan apa yang bakal terjadi esok. Al-Husain mengatakan, “Saya beritahu bahwa kalian semua bakal syahid besok.” Mereka bersyukur ke hadirat Allah karena diberi kesempatan untuk mengorbankan hidupnya demi keturunan Rasul yang suci.

Di sini, ada tauladan baik untuk dicamkan. Seandainya ini bukan masalah logika seorang syuhada, pembelaan mereka akan sia-sia. Bila memang Imam Husain harus wafat, untuk apalagi pejuang-pejuang itu mengorbankan nyawa mereka.

Imam Husain tidak mendorong mereka untuk pergi meninggalkannya. Al-Husain tidak pernah mengatakan bahwa kesediaan mereka bertahan tidak berguna. Al-Husain juga tidak pernah menyatakan kehilangan nyawa mereka sia-sia. Seandainya demikian, pertahanan mereka tidak dapat dibenarkan.

Imam Husain tidak berkata seperti itu. Sebaliknya Al-Husain menyambut kesiapan mereka untuk memberikan pengorbanan tertinggi. Hal ini menggambarkan bahwa logika seorang syuhada berbeda dengan logika orang lain. Seorang syuhada sering mengobarkan semangat juang, untuk menyinari masyarakat. Untuk menghidupkannya kembali dan untuk memasukkan darah segar ke dalam tubuhnya. Salah satu contohnya adalah peristiwa ini.

Menaklukkan musuh bukanlah satu-satunya tujuan kesyahidan. Kesyahidan juga bertujuan mengobarkan semangat. Seandainya sahabat-sahabat Al-Husain tidak mengorbankan nyawa mereka saat itu, bagaimana mungkin telah demikian banyak semangat berkobar-kobar dibangkitkan? Meskipun Imam Husain merupakan tokoh utama dalam peristiwa keyahidan ini, tetapi para sahabatnya telah menambah gairah, keagungan dan keluhuran peristiwa itu. Tanpa sumbangan mereka, Imam Husain boleh jadi tidak akan dapat menjadikan peristiwa itu demikian penting, hingga menggerakkan, mendidik dan mendorong ummat selama ratusan, bahkan ribuan tahun. (Risalah Asyura)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: