RISALAH PANDANGAN DUNIA (12)

Oleh : Muhammad Nur*

Pembahasan Tuhan dalam Al-Quran

Setelah mengawali pembahasan sebelumnya dengan pembahasan filsafat, selanjutnya kami akan membahas mengenai persoalan ketuhanan dalam perspektif Al-Quran. Hal ini sejalan dengan tujuan kami sebelumnya yaitu menjelaskan pondasi ideologi Islam berdasarkan Al-Quran dan dalil akal. Namun sebelum kami membahasnya lebih jauh, ada dua hal yang akan kami jelaskan sebelumnya :

  1. Pada pembahasan sebelumnya kami menjelaskan mengenai persoalan pengetahuan dan sedikit banyaknya kita telah mengenal persepsi partikular dan universal. Dalam pembahasan tersebut kami menjelaskan tentang konsep universal bahwa konsep universal adalah sebuah konsep yang dapat dipredikatkan pada objek-objek yang tak terbatas. Berbeda dengan konsep partikular yang hanya bisa dipredikatkan pada satu objek saja. Sebagian dari konsep partikular tersebut bisa diperoleh melalui persepsi indrawi kita dan sebagiannya lagi didapatkan dengan ilmu hudhuri.

Kami sengaja mengulang hal tersebut di atas karena kami akan memperjelas sebuah pertanyaan penting yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini. Pertanyaan itu adalah apakah pengetahuan kita terhadap Tuhan sejenis pengetahuan partikular atau universal? Atau termasuk kedua pengetahuan tersebut? Jika anda perhatikan argumentasi pembuktian Tuhan yang telah kami jelaskan sebelumnya, argumentasi yang digunakan adalah argumentasi akli (rasio). Argumentasi akal menggunakan konsep-konsep dan bentuk-bentuk di alam mental kita yang digunakan dalam mengungkap pengetahuan yang belum diketahui. Jelas, kesimpulan yang akan didapatkan melalui argumentasi akal sejenis konsep universal dan gambaran alam mental (zihni), seperti konsep wajibul wujud, konsep pengatur alam semesta, dan lain-lain.

Sebagaimana anda ketahui, konsep-konsep tersebut seperti di atas – sebagaimana  konsep-konsep universal lainnya – memiliki  karekteristik yang sama yaitu berlaku secara umum dan dapat dipredikatkan pada objek-objek yang tidak terbatas. Oleh karena itu setelah kita membuktikan keberadaan wajibul wujud, selanjutnya kita membutuhkan dalil lain dalam membuktikan Tauhid (keesaan Tuhan). Kita tidak pernah ragu bahwa pengetahuan kita terhadap Tuhan melalui perantara konsep-konsep yang ada di alam mental kita. Namun apakah ada jalan lain yang dapat menghubungkan kita kepada Tuhan secara langsung tanpa melalui perangkat alam mental kita dan kemudian melalui hubungan tersebut kita dapat mengetahui sifat-sifat-Nya? Dalam kata lain apakah mungkin kita mengetahui Tuhan melalui pengetahuan partikular ? Kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa pengetahuan partikular bisa didapatkan melalui ilmu hudhuri dan juga melalui indrawi. Tak diragukan lagi, kita tidak mungkin mempersepsi Tuhan melalui persepsi indrawi. Dia Yang Maha Tingga dan Maha Suci tidak akan digapai dengan persepsi indrawi, persepsi indrawi kita hanya bisa menjangkau materi saja, itupun tidak keseluruhannya. Oleh karena itu pengetahuan yang bersifat langsung tersebut hanya bisa diraih dengan ilmu hudhuri.

Al-Quran Al-Karim memberikan petunjuk kepada kita bahwa manusia mungkin memiliki pengetahuan hudhuri seperti itu. Al-Quran tidak hanya menggunakan argumentasi akal – baik secara implisit maupun eksplisit – dalam membuktikan berbagai hal, akan tetapi Al-Quran juga memperkenalkan kepada kita pengetahuan hudhuri dan syuhud qalbi terhadap Tuhan. Setiap manusia memiliki pengetahuan tentang Tuhan seluas wadah dan kesempurnaan eksistensi dirinya. Manusia akan berjalan menuju kesempurnaan dan akan menyempurna seiring dengan pengetahuan hudhurinya kepada-Nya. Ilmu hudhuri terhadap keberadaan-keberadaan yang ada merupakan ilmu yang paling baik dan paling jelas, walaupun pengetahuan-pengetahuan terhadap keberadaan yang ada melalui konsep-konsep di alam mental kita tetap memiliki peranan yang penting juga.   

Mendeskripsikan sebuah pemandangan yang indah, tidak akan pernah sebanding kenikmatannya jika kita hadir dan menyaksikan secara langsung pemandangan tersebut. Islam sama sekali tidak menginginkan menyembah Tuhan yang gaib. Amirul Mukminin as berkata : “Aku sama sekali tidak menyembah Rabb yang tidak aku saksikan .” Imam Husain berkata : “Wahai Tuhanku, apakah ada yang lebih jelas dari diri-Mu sehingga keberadaan diri-Mu membutuhkan penjelas?Merekalah yang buta hati sehingga tak melihat keberadaan diri-Mu. Imam Baqir : “Apa yang ada dalam persepsi anda tentang Tuhan – walaupun persepsi anda begitu detail – bukanlah Tuhan, tapi hal tersebut hanya ciptaan anda saja.”

  1. Hal yang kedua yang ingin kami sampaikan dalam kesempatan ini berkaitan dengan pertanyaan berikut ; Apakah keberadaan Tuhan bisa dibuktikan hanya dengan menggunakan Al-Quran sebagai kitab Ilahi yang diturunkan oleh Allah SWT? Apakah metode pembuktian dengan Al-Quran ini logis? Ataukah kita harus membuktikan keberadaan Tuhan terlebih dahulu, barulah kemudian kita dapat membuktikan posisi Al-Quran  sehingga kita dapat menkaji teks-teks yang ada di dalamnya? 

Jika pembahasannya ingin mengungkap persoalan yang tidak diketahui maka tentunya argumentasilah yang dibutuhkan. Tak diragukan juga, dalam setiap pembahasan tentu di dalamnya ada burhan atau argumentasi. Jika tidak maka pembahasan tersebut diterima dengan taklid semata dan Al-Quran menolak taklid buta, meskipun tidak setiap taklid itu salah. Bahkan sebagaian dari persoalan taklid itu sendiri justru ditetapkan oleh akal. Misalnya ada banyak firman Tuhan yang di luar dari jangkauan dan persepsi manusia dan kita menerimanya melalui para nabi-Nya yang memang ditugaskan untuk menyampaikan pesan Ilahi kepada masyarakat. Juga, bertaklid pada hal-hal yang tidak kita ketahui merupakan hal yang wajar dan juga diterima oleh akal. (misalnya kita bertaklid pada resep obat yang diberikan oleh seorang dokter). Oleh karena itu, persoalan taklid tidak mungkin dinafikan secara mutlak. Bahkan persoalan taklid merupakan ruh agama dalam berhadapan dengan Tuhan.

Namun persoalan-persoalan yang ada tentunya memiliki prinsip-prinsip tertentu. Prinsip tersebut seharusnya dianalisa terlebih dahulu sebelum memasuki pembahasan lainnya, sehingga berdasarkan prinsip tersebut kita dapat taklid pada subjek-subjek lainnya. Metode dalam membuktikan persoalan-persoalan seperti ini hanya melalui argumentasi rasionalitas. Umumnya persoalan seperti ini disebut dengan ushuluddin. Kita tidak diperbolehkan bertaklid dalam persoalan ushuluddin. Akal manusia sendiri yang meniscayakan demikian halnya bahwa persoalan taklid itu bisa diterima setelah persoalan ushuluddin dibuktikan dengan pendekatan akal. Sebab jika tidak demikian maka akan terjadi daur (circle).

Berdasarkan hal tersebut, ketika Al-Quran ingin membahas persoalan tersebut, Al-Quran menggunakan argumentasi akal dan burhan akal. Jika kita ingin merujuk kepada Al-Quran dalam membuktikan keberadaan Allah SWT atau persoalan tauhid, pada hakikatnya kita mencoba menelusuri argumentasi Al-Quran berkenaan dengan persoalan ini. Kita tidak ingin hanya sekedar mengetahui persoalan tersebut melalui Al-Quran setelah kita menerima kewahyuan Al-Quran.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Al-Quran juga meyakini metode syuhud dan hudhuri terhadap Allah SWT dimana metode tersebut merupakan pengetahuan partikular. Seluruh usaha Al-Quran, kitab-kitab langit, dan para Nabi berupaya agar pengetahuan hudhuri tersebut semakin menjelma dalam diri manusia. Namun harus dipahami bahwa pengetahuan hudhuri tersebut tidak dapat diargumentasikan dan tidak dapat dipindahkan pada yang lainnya. Kita menerima pengetahuan seperti ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Quran. Al-Quran banyak menunjukkan dalil dalam membuktikan pengetahuan hudhuri tersebut. Dalam sepanjang sejarah pun kita bisa melihat jejak-jejak akan syuhud qalbi (penyingkapan melalui qalbu) tersebut. Namun meskipun bukti-bukti sejarah itu tidak ada akan tetapi kita tetap menerima pengetahuan tersebut karena Al-Quran menjelaskannya.    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: