KEPRIBADIAN SAYYIDINA HASAN BIN ALI

Siapa saja yang mau melacak kehidupan Al-Hasan dan saudaranya Al-Husain, niscaya akan sampai pada kesimpulan yang pasti bahwa keduanya telah memperoleh pendidikan dan pengembangan jiwa dan pemikiran, yang tidak pernah diperoleh siapa pun sesudah kakek dan ayah mereka. Melalui tempaan wahyu dan penanganan Ilahi, terbentuklah kepribadian yang istimewa, dalam berbagai aspek dan unsur, dalam diri keduanya. A-Hasan dan Al-Husain memperoleh pendidikan dalam bentuknya yang tinggi melalui tangan kakek mereka Rasulullah SAW, ayah mereka Ali bin Abi Thalib, dan bunda mereka Fatimah Az-Zahra, yang memberikan petunjuk dan teladan dalam bentuknya yang nyata.

Begitulah, Al-Hasan dan Al-Husain berkembang di bawah asuhan Ilahi, dan disiapkan memikul tanggung jawab besar risalah Islamiah, dengan seluruh beban dan isinya. Hasil pendidikan yang luar biasa tersebut, telah menjadikan mereka sebagai “Islam yang berjalan di muka bumi.” Karena kepribadian dua orang ini boleh dikata tidak berbeda, maka kita boleh menyebut keduanya sebagai lembaran kehidupan, prilaku, perjuangan dan tujuan yang sama, dalam segi pandangan nilai-nilai Islam. Pembicaraan kali ini kita batasi pada keteladanan nyata yang diberikan oleh Al-Hasan, Sang Cucu Rasulullah, dalam bidang Spiritual, ilmu pengetahuan dan moral.

Aspek Spiritual

Dalam Raudhat Al-Wa’izhin disebutkan bahwa, apabila Al-Hasan melakukan wudhu, anggota tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat-pasi. Seseorang pernah menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau menjawab, “Sudah seharusnya bagi orang yang menghadap Tuhan Pemilik Arasy untuk pucat-pasi wajahnya dan gemetar anggota tubuhnya.”

Ali bin Jadz’an, Abu Naim dalam Al-Hilyat Al-Auliya’, serta Ibn Sa’d dalam Al-Thabaqat, megatakan bahwa, beliau pernah mengeluarkan seluruh hartanya dua kali, dan membagikan hartanya untuk Allah tiga kali, sampai-sampai setiap diberi satu terompah, beliau berikan terompah miliknya kepada orang lain, dan bila diberi khuff (sejenis kaos kaki) beliau berikan pula khuff miliknya kepada orang lain.

Setiap tiba di pintu masjid, beliau selalu mengangkat kepalanya menatap langit seraya berkata, “Tuhanku, tamu-Mu kini berada di pintu rumah-Mu. Wahai Dzat Yang Mahabaik, seorang pendosa telah datang menghadap kepada-Mu. Karena itu hilangkan keburukan yang ada padaku dengan keindahan yang ada pada sisi-Mu, wahai Tuhan Yang Mahamulia.”

Setiap ingat kematian dan kubur, Al-Hasan pasti menangis, dan setiap ingat akan hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah, pasti tubuhnya terguncang-guncang dan air matanya mengalir deras. Apabila Al-Hasan membaca Al-Quran dan bertemu dengan ayat, ‘Ya ayyuhal ladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman), beliau selalu menjawabnya, “Labbaik, labbaik, Allahumma labbaik……”

Aspek Keilmuan

Suatu hari seseorang bertanya kepada beliau, “Apa yang dimaksud zuhud itu?” “Kesungguh-sungguhan dalam bertakwa dan menahan diri dari kehidupan dunia,” jawab beliau.

“Apakah sabar itu?” “Menahan marah dan menguasai diri.”

“Apakah teguh pendirian itu?” “Melawan kemungkaran dengan yang ma’ruf.”

“Apakah kemuliaan itu?” “Menciptakan kekeluargaan dan menghindari pertentangan.”

“Apakah berani itu?” “Melindungi tetangga, bersabar melaksanakan kewajiban, dan terus maju sekalipun dalam kesulitan.”

“Apakah murah hati itu?” “Memberi ketika sulit dan membebaskan ketika lapang.”

“Apakah sikap kesatria itu?” “Memelihara agama, percaya diri, lemah lembut, melaksanakan kewajiban, dan menyebarluaskan kasih sayang di tengah manusia.”

Seorang laki-laki dari Syam bertanya kepada Sayyidina Hasan, “Seberapa jauh jarak antara kebenaran dengan kebatilan?” “Empat jari. Apa yang engkau lihat dengan kedua matamu adalah kebenaran, yang seringkali mengandung banyak kebatilan ketika engkau dengar dengan kedua telingamu.”

“Seberapa jauh jarak antara keimanan dengan keyakinan?” “Empat jari. Iman adalah apa yang kita terima melalui pendengaran, sedangkan keyakinanadalah apa yang kita lihat dengan kedua mata kita.”

“Seberapa jauh jarak antara langit dan bumi?” “Sejauh perjalanan doa orang yang dizalimi.”

“Seberapa jauh jarak antara timur dan barat?” “Sejauh perjalanan matahari dalam sehari.”

Aspek Moral

Dalam berbagai kitab Sirah disebutkan bahwa, sekali waktu Al-Hasan bertemu dengan sekelompok fakir miskin yang memungut potongan-potongan roti yang jatuh di tanah untuk mereka makan. Kemudian mereka mengajak beliau untuk bersama-sama makan potongan roti tersebut. Al-Hasan memenuhi ajakan mereka seraya berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” Selesai makan bersama mereka, beliau mengundang orang-orang fakir miskin itu untuk bertamu kepadanya. Al-Hasan membagi-bagikan uang, menyediakan makanan dan pakaian kepada mereka.

Barangkali sifat Sayyidina Hasan yang paling menonjol di antara sifat-sifatnya yang lain adalah kedermawanannya. Tujuan harta menurutnya, adalah untuk memberi pakaian mereka yang telanjang, memberi minum yang kehausan, membayar utang orang-orang yang terbelit utang atau membuat kenyang orang-orang yang lapar. Suatu kali beliau ditanya seseorang, “Apa alasan Tuan sehingga saya lihat Tuan tidak pernah menolak permintaan seseorang?”

Sayyidina Hasan menjawab, “Sesungguhnya kepada Allah-lah aku meminta, dan pada-Nya aku berharap. Aku malu kalau aku meminta kepada-Nya dan ditolak. Sesungguhnya Allah telah membuat suatu kebiasaan untukku, yaitu melimpahkan nikmat-Nya kepadaku, dan aku pun membuat kebiasaan pula untuk-Nya, yaitu mengalirkan nikmat-Nya yang dilimpahkan-Nya kepadaku itu untuk manusia. Jadi aku takut bila aku memutuskan kebiasaan itu, akan berhenti pula kebiasaan (Allah kepadaku) itu.”

Sayyidina Hasan lahir di Madinah, Selasa 15 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Ayahnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Ibunya Sayyidah Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah SAW. Beliau diberi gelar Al-Mujtaba dan julukannya Abu Muhammad. Beliau wafat pada 7 Shafar tahun 49 H dalam usia 47 tahun dan dimakamkan di Baqi’ Madinah Al-Munawwarah.

Iklan
  1. ya Allah limpahkan tempat tertinggi dan sebagus bagus tempat serta sebaik-baik tempat kpd cucu kekasihmu SAW.. aamiin

  2. mantap ceritanya..sangat inspiratif,,Alhamdulilah smoga kita bisa mendekati sifat beliau.amin

  3. ya alloh
    aku sangat hina di depan mu dan kekasih mu

  4. Amiiiin ya Alloh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: