Kebingungan Amerika Hadapi Transformasi Suriah

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry di Beirut, Lebanon kembali berbicara mengenai penyelesaian krisis Suriah melalui jalur damai.

Kerry tiba di Beirut dan berdialog dengan Perdana Menteri Lebanon, Tammam Salam, ia hadir di depan wartawan untuk jumpa pers. John Kerry dalam jumpa pers seraya mengisyaratkan dampak dari krisis Suriah terhadap Lebanon mengungkapkan, AS akan mendukung upaya untuk menyelesaikan krisis Suriah. Menlu AS menekankan, solusi politik merupakan solusi sejati untuk mengakhiri krisis Damaskus.

Seiring dengen meletusnya krisis Suriah pada Maret 2011 hingga penyelenggaraan pemilu presiden di Damaskus, pemerintah Amerika Serikat menerapkan kebijakan kontradiktif menyikapi krisis ini. Menlu AS di saat berbicara mengenai penyelesaian krisis Suriah melalui jalur diplomatik, bantuan Washington kepada kelompok bersenjata dan teroris memasuki fase baru. Pemerintah Amerika dengan transparan menyatakan akan menyerahkan bantuan militer kepada kelompok teroris di Suriah yang mereka istilahkan sebagai kelompok moderat. Dengan lawatan terbaru Ahmad Jarba, ketua Aliansi Nasional Anti Suriah ke Washington, kebijakan praktis dan tercantum AS dalam menyikapi krisis Suriah semakin kentara.

Amerika Serikat dalam kebijakan tercantum memanfaatkan semua peluang yang ada dan mencitrakan dirinya komitmen dengan solusi damai terhadap krisis Suriah, namun dalam kebijakan praktis serta untuk mencapai ambisinya, Gedung Putih memberikan senjata canggih kepada kelompok teroris di Suriah. Tujuan utama pendukung kelompok teroris di Suriah adalah menggulingkan Bashar al-Assad.

Barack Obama, presiden Amerika Serikat baru-baru ini saat berbicara di Akademi Militer West Point dengan transparan mengakui komitmen untuk meningkatkan dukungan terhadap kelompok anti Suriah. Carl Levin, ketua Komisi Angkatan Bersanjata di Senat AS juga mengusulkan undang-undang untuk memberikan kebebasan bagi militer Amerika untuk memberi pelatihan dan perlengkapan militer kepada kelompok anti Suriah.

Selain bantuan senjata Washington kepada kelompok teroris di Suriah dan pelatihan mereka, pemerintah AS dalam aksi gandanya di bidang perang anti terorisme juga memberi bantuan senilai 27 juta dolar kepada Aliansi Nasional Anti Suriah. Untuk menjustifikasi bantuan militer dan finansialnya kepada kelompok teroris Suriah, Amerika membagi kelompok teroris menjadi radikal dan moderat. Klasifikasi kelompok teororis ini muncul di saat kelompok teroris yang merajalela di Suriah mengalami banyak kekalahan dari militer Damaskus dan dalam kondisi putus asa.

Berbagai kelompok teroris dalam beberapa bulan terakhir semakin terjepit karena tidak mampu menghadapi serangan militer Suriah. Kondisi ini membuat mereka bentrok dengan sesamanya.

Seiring dengan keberhasilan militer Suriah dalam melawan brutalitas teroris, pemilu presiden di negara ini digelar dengan sambutan besar dari rakyat. Warga Suriah kembali mempercayakan tampuk pimpinan negara mereka kepada Bashar al-Assad. Partisipasi luas dan patut dipuji warga Suriah dalam pilpres membuat pendukung teroris mati kutu.

Pemilu presiden Suriah menunjukkan bahwa kebijakan tercantum dan praktis dalam menyikapi transformasi Damaskus harus didasarkan pada realita dan sekedar mengumbar pernyataan dukungan terhadap penyelesaian damai terhadap krisis Suriah tidak akan mampu membuat Amerika benar-benar berada dalam jalur demokrasi di dalam kubu sejati yang pro solusi diplomasi bagi krisis Suriah.

 

 

Hamas Dukung Pemerintahan Persatuan Palestina

Anggota senior biro politik Hamas menegaskan dukungannya terhadap kabinet persatuan nasional Palestina.

Khalil Al-Hayah dalam konferensi pers mengatakan, Hamas mengakhiri friksi dan mengambil langkah bagi terbentuknya persatuan Palestina dan penyempurnaan program pembebasan tanah dan tempat suci dari penjajahan rezim Zionis.

Ahmad Yusuf, pejabat Hamas lainnya menyerukan kepada semua pihak di Palestina untuk bersabar.

“Terwujudnya rekonsiliasi nasional final membutuhkan waktu, sebab baru sepekan berlalu setelah terbentuknya pemerintahan rekonsiliasi nasional Palestina, ” tegasnya.

 

PBB Kecam Serangan Teror terhadap Muslim Syiah di Pakistan

Sekretaris Jenderal PBB mengecam serangan teror terhadap warga Muslim Syiah Pakistan di Provinsi Sistan Baluchestan yang menurut keterangan pemerintah lokal menewaskan sedikitnya 24 orang.

Kantor berita Perancis melaporkan, Sekjen PBB, memperingatkan peningkatan tiba-tiba kekerasan di Pakistan dan mengutuk serangan teror ke bandara internasional Pakistan di Karachi yang menewaskan 30 orang.

Sekjen PBB juga meminta pemerintah Pakistan untuk melakukan investigasi atas serangan-serangan teror dan mengatasi ekstremisme.

Beberapa sumber media mengabarkan, korban tewas dalam serangan teror yang dilakukan pada iring-iringan bus pembawa para peziarah Syiah di Sistan Baluchestan, berjumlah 30 orang.

 

AS Paling Dibenci di Lima Negara Dunia

Survei terbaru oleh lembaga Gallup dan Meridian menunjukkan bahwa warga Palestina, Lebanon, Mesir, Yaman dan Pakistan paling menentang kebijakan Amerika Serikat.

Menurut laporan IRNA, warga dari 130 negara yang disurvei oleh Gallup memperlihatkan bahwa 25 persen menolak kinerja pemerintahan Obama. Namun, ada beberapa bagian dunia di mana warga memiliki kesan yang jauh lebih buruk terhadap AS.

Di tujuh negara, lebih dari 60 persen dari mereka yang disurvei tidak setuju dengan pemerintahan Amerika saat ini. Warga di negara-negara seperti, Slovakia juga tidak setuju dengan kepemimpinan AS dan 57 persen dari mereka menentang kebijakan Washington.

Di Pakistan, jumlah itu hampir 83 persen, di Palestina mencapai 80 persen, di  Lebanon sekitar 71 persen, di Yaman 69 persen, dan di Irak 67 persen.

Di antara faktor utama yang merusak citra AS di kawasan adalah “perang melawan teror” yang meliputi invasi ke Irak dan Afghanistan serta serangan militer ke Pakistan untuk membunuh Osama bin Laden.

 Kedekatan AS dengan Israel juga telah mendorong ketegangan hubungan antara Washington dan negara-negara regional.

Abbas Tuntut PBB Menyelidiki Kejahatan Terbaru Israel

Survei terbaru oleh lembaga Gallup dan Meridian menunjukkan bahwa warga Palestina, Lebanon, Mesir, Yaman dan Pakistan paling menentang kebijakan Amerika Serikat.

Menurut laporan IRNA, warga dari 130 negara yang disurvei oleh Gallup memperlihatkan bahwa 25 persen menolak kinerja pemerintahan Obama. Namun, ada beberapa bagian dunia di mana warga memiliki kesan yang jauh lebih buruk terhadap AS.

Di tujuh negara, lebih dari 60 persen dari mereka yang disurvei tidak setuju dengan pemerintahan Amerika saat ini. Warga di negara-negara seperti, Slovakia juga tidak setuju dengan kepemimpinan AS dan 57 persen dari mereka menentang kebijakan Washington.

Di Pakistan, jumlah itu hampir 83 persen, di Palestina mencapai 80 persen, di  Lebanon sekitar 71 persen, di Yaman 69 persen, dan di Irak 67 persen.

Di antara faktor utama yang merusak citra AS di kawasan adalah “perang melawan teror” yang meliputi invasi ke Irak dan Afghanistan serta serangan militer ke Pakistan untuk membunuh Osama bin Laden.

 Kedekatan AS dengan Israel juga telah mendorong ketegangan hubungan antara Washington dan negara-negara regional.

Abbas Tuntut PBB Menyelidiki Kejahatan Terbaru Israel

Mantan pejabat intelijen militer rezim Zionis, Amos Yadlin, menilai pendudukan Jalur Gaza sebagai kekeliruan strategi.

Yadlin dalam artikel yang dimuat media online menjelaskan bahwa Israel tidak boleh mengontrol Gaza selain Hamas atau pemerintahan otorita. Ditambahkannya bahwa Hamas hinga kini belum membubarkan sayap militernya dan Israel harus menjinakkan ancaman ini melalui sebuah operasi militer luas.

Yadlin menyinggung dampak operasi militer terhadap Hamas dan mengatakan, operasi tersebut sangat penting meski menelan biaya besar dan menimbulkan kerugian pada perekonomian Israel.

 Ditegaskannya bahwa jika operasi itu tidak dilakukan sekarang, maka hal itu terpaksa dilakukan Israel di masa mendatang dan pada waktu yang tidak kondusif.

Sejumlah pejabat Israel menekankan pentingnya operasi militer massif terhadap Gaza sekarang di saat para pejabat militer Zionis menolak opsi tersebut.

Kerjasama Qatar dan Israel Mempersenjatai Teroris di Suriah Terungkap

Koran al-Wafd terbitan Mesir mengutip keterangan sumber-sumber Israel, mengungkap kerjasama rezim Zionis dan Qatar dalam relokasi senjata ke Suriah untuk kelompok-kelompok teroris.

Alalam melaporkan, koran al-Wafd menulis, seorang anggota parlemen Israel (Knesset) dalam pertemuan dengan para pejabat Qatar di kediaman Khaled Ebadi, seorang pengusaha Qatar di London, membahas masalah relokasi senjata ke Suriah dan pendanaan senajta yang telah dibelik dari Eropa itu.

Sebelumnya televisi PBS Amerika Serikat, menyusun sebuah film dokumentasi yang menyebutkan bahwa tentara Amerika Serikat di Turki dan Qatar melatih para teroris yang akan dikirim untuk berperang ke Suriah.

 Arab Saudi, Qatar, Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan rezim Zionis serta sejumlah pihak asing, sejak Maret 2011 hingga kini memberikan dukungan finansial, persenjataan, pelatihan militer, obat-obatan dan media kepada para teroris yang dikerahkan dari 80 negara dunia untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Namun upaya mereka hingga kini gagal.

Teror Mulai Membayangi Arab Saudi

Rezim al-Saud yang tercatat sebagai pendukung utama kelompok teroris di berbagai negara Timur Tengah, mengkonfirmasikan kian merebaknya operasi teror di negara ini.

Televisi Arab Saudi melaporkan, dua oknum yang berafiliasi dengan kelompok teroris al-Qaeda melakukan aksi bom bunuh diri di sebuah gedung pemerintah. Aksi tersebut dilakukan setelah keduanya dikepung pasukan keamanan Arab Saudi di dekat distrik Sharurah di Provinsi Najran, selatan Arab Saudi.

Media Arab Saudi melaporkan sejumlah teroris al-Qaeda menyerang pasukan patroli penjaga perbatasan negara ini di jalur penyeberangan al-Wadiah, di dekat perbatasan bersama dengan Yaman. Dalam insiden ini komandan pasukan penjaga perbatasan Arab Saudi tewas.

Milisi al-Qaeda di Yaman dalam statemennya mengaku bertanggung jawab atas serangan ke jalur penyeberangan al-Wadiah. Mereka juga mengkonfirmasikan kerjasama para pemimpin al-Qaeda dan kelompok teroris Daulah Islamiyah fil Iraq wa Syam (DIIS) dalam menggelar sejumlah aksi teror di wilayah perbatasan bersama Arab Saudi-Yaman.

Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir memilih bungkam menyaksikan beragam kejahatan al-Qaeda dan DIIS di negara-negara kawasan, khususnya Suriah dan Irak. Namun dua pekan lalu, menyusul operasi teror DIIS di sejumlah provinsi utara Irak, Riyadh memperingatkan ancaman kelompok teroris takfiri ini dan memprediksikan serangan teror di perbatasannya dengan Irak serta Yaman.

Arab Saudi yang juga tercatat sebagai pendiri sejumlah kelompok teroris seperti Front al-Nusra dan DIIS di Suriah dan Irak ternyata dihinggapi kekhawatiran atas masuknya pengaruh kelompok teroris takfiri ke wilayahnya. Tapi ternyata Riyadh meski memberi bantuan finansial dan media kepada kelompok teroris takfiri, pada akhirnya menjadi sasaran brutalitas teroris.

 

Sebelumnya berbagai tokoh dan petinggi regional, khususnya pejabat Suriah dan Irak berulang kali menekankan bahwa api yang dikobarkan petinggi negara kawasan khususnya Arab Saudi, Qatar dan Turki dengan membentuk kelompok radikal seperti DIIS untuk menghancurkan negara lain, pada akhirnya akan membakar mereka sendiri.

Berdasarkan berbagai laporan, sejak meletusnya krisis di Suriah, ribuan Salafi dari negara-negara Arab dan Barat dengan dalih “jihad” serta dengan dorongan fatwa mufti Wahabi serta Salafi berbondong-bondong menuju Suriah. Setelah berperang dan mengobarkan kerusuhan serta pesimis berhasil menggapai ambisinya, para teroris takfiri ini mulai pulang kampung. Hal ini tentu saja membuat negara eksportir teroris khawatir, tak terkecuali Arab Saudi.

Kekhawatiran ini semakin urgen dari sisi bahwa teroris asing yang bercokol di Suriah berubah menjadi sosok profesional dalam menjalankan aksi teror setelah mendapat pelatihan dinas rahasia Amerika, Israel dan Inggris. Jika pribadi seperti ini kembali ke negara asalnya, maka secara praktis mereka berpotensi menjadi ancaman bagi negaranya masing-masing.

Realitanya adalah terorisme tidak mengenal batas geografi dan perang anti terorisme membutuhkan kerjasama internasional. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut dan mayoritas negara Arab serta Barat bersama AS yang mengklaim anti terorisme, tetap memberi dukungan terhadap kelompok teroris, maka dipastikan mereka tidak boleh puas hanya dengan mencegah kepulangan teroris ke negaranya. Negara-negara ini harus merevisi kebijakannya sehingga ancaman radikalisme dan terorisme terhapus dari dunia.

 

 

 

BEBERAPA NASH AL-QURAN

TENTANG TAKWA

 

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

 “Kitab (Al-Quran) itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang

yang bertakwa….Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya

dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Al-Baqarah [2] : 2 dan 5)

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,

pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,

tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu,

maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

(QS. Al-A’raf [7] : 96)

“Hai anak Adam! Sesungguhnya, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian

untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa

itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda

kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

(QS. Al-A’raf [7} : 26)

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia

akan memberikan kepadamu furqan, menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu

dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

(QS. Al-Anfal [8] : 29)

Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri

dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi

orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Qashash [28] : 83)

Dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

          Ya Arhamar Rahimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: