Diri: Bebas Dimassifikasi

Oleh : Sayyid Musa Kazhim

Rasulullah SAW merupakan teladan yang sangat berharga bagi kita dalam mendengar “suara” diri. Sebelum menerima pesan-pesan samawi, beliau menyendiri di sebuah gua di Gunung Hira. Bukan apa-apa, tapi untuk memperkukuh jati diri, mempertajam mata hati, memfokuskan niat, membulatkan tekad, mengamati penciptaan, merenungkan tanggung jawab yang bakal dipikulnya dan menghindari hiruk-pikuk dan kejemawaan warga Mekah.
Itulah sebabnya, beliau tidak pernah mengenal kata mundur dan kompromi. Beliau tidak berstrategi dengan menipu diri. Di hadapan kaum Quraisy yang menawarkan harta, tahta, dan wanita, dengan lantang beliau berseru, “Demi Allah! Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukannya (dakwah).” Suatu pernyataan yang meletup dari keimanan, kejujuran, dan komitmen penuh pada diri sendiri.
Di Mekah, kita bisa membaca sejarah yang cukup unik. Yaitu sejarah penyiksaan. Contoh tragisnya ialah apa yang dialami Bilal. Di tengah terik matahari sahara, Bilal yang berada di bawah himpitan batu besar hanya bisa bergumam, “Ahad! Ahad!” Begitu pula yang terjadi pada Ammar dan kedua orang-tuanya.
Mengapa? Bila diizinkan Nabi, tentu mereka akan melawan. Bila perlawanan mereka gagal, mereka bisa mereguk kesyahidan. Atau misalnya mengapa Nabi tidak cepat-cepat menyuruh mereka pergi dari Mekah? Mengapa Nabi tidak memerintahkan apa-apa? Inilah makna tertinggi dari metode dakwah Nabi. Dengan begitu, sebenarnya beliau hendak menjelaskan satu hal, tiada yang bisa diperbuat kalau itu tidak dimulai dengan penyadaran diri dan internalisasi ajaran. Penyadaran diri akan apa yang sedang dan akan dilakukan.
Pada periode itu, tidak ada aktivitas Nabi selain pengajaran tentang tauhid. Suatu ajaran yang ingin membebaskan diri manusia dari keterpenjaraan pada hal-hal selain Allah. Tidak ada cara lain, kecuali masuk sepenuh hati ke jalan itu atau diri manusia akan terbelit dalam sarang kepentingan, keinginan, harapan, fantasi, citra, dan lain sebagianya sebagai manifestasi dari disintegritas jiwa dan dirinya. Tanpa kesadaran seperti ini, manusia akan terjerembab dalam determinisme alam fisik dan gerak atomiknya. Kesadaran ini membebaskan manusia dari yang banyak, yang berubah-ubah, yang sementara, yang semu dan lain sebagainya dengan mengikatkannya kepada Yang Maha Satu, Yang Maha Mutlak, Yang Maha Kekal, Yang Maha Nyata dan lain-lain. Hal ini karena manusia memang tidak akan bisa bebas murni tanpa kendali sama sekali.
Islam mengajak manusia untuk menyayangi dan memperhatikan kondisi diri. Islam ingin menggugah manusia untuk bangkit melepaskan dirinya dari perasaan terkepung oleh pranata, definisi, konsep, waham, takhayul, fantasi, kekuatan, keberhasilan, kepahlawanan, kepentingan, perhatian, kekhawatiran dan tanggung jawab yang secara serampangan “diciptakannya” sendiri, dengan menuntunnya menuju jalan Ilahi yang Satu dan Tunggal. Jalan yang akan mengurai simpul-simpul kebodohan, paranoia dan kecemasan primordial yang tumbuh subur pada diri seorang yang merangkaki kehidupan tanpa “Kawan” dan Tuhan. Dalam kaitan ini, mengawali “perkenalannya” dengan manusia, Al-Quran berkata, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq 96: 1). Artinya, jangan engkau mengigau ingin merancang cara hidupmu sendiri. Bila engkau merancangnya sendiri, maka kebodohan, kelemahan, dan kecemasan primordialmu akan menjeratmu sendiri. Oleh karena itu, bacalah kehidupan ini dengan Nama Tuhan Sang Maha Pencipta yang Maha Mengetahui segala hal tentangmu.
Tidak pelak lagi, Islam sangat mewanti-wanti manusia untuk selalu melihat dan memperhitungkan diri sendiri. Semua jenis kerusakan, kezaliman, dan kerugian dilakukan dirinya sendiri. Tidak ada dosa yang terwujud, tanpa persetujuan diri manusia. Sebaliknya, tiada kebaikan hakiki yang dapat dipancarkan selain yang berasal dari diri manusia itu sendiri. “Energi positif” tidak akan menyebar dari sumber negatif yang penuh dengan polusi. Salah satu polutan yang dapat dibayangkan adalah apa yang saya sebut dengan massifikasi; pembodohan yang dilakukan secara sistematis lewat media massa.
Tidak terlalu sulit untuk membuktikan bahwa dalam hingar-bingar media massa, suara “diri” luput dari pendengaran. Teriakan massa membuat suara diri manusia terabaikan dan hanya dapat bergerak dalam gelombang yang amat rendah dan kecil.
Teriakan massa sering mengayunkan pemimpin gadungan ke puncak kekuasaan dan menenggelamkan pemimpin sejati dalam kawah pertanggungjawaban. Mereka menyuarakan ketidakadilan dengan keras, tinggi, dan merdu. Terlena olehnya, diri manusia tidak dapat menahan diri untuk berdansa mengiringi ritmenya yang centang-perenang.
Adalah memilukan mengamati kenyataan banyaknya cerdik-pandai yang terbuai oleh alunan “lagu-lagu massa”. Banyaknya pemimpin yang membangun masjid dirinya di atas gerobak kepentingan massal. Banyaknya pemikir yang merajut falsafahnya dengan benang kusut kompromi dan tawar-menawar. Banyaknya kepulan asap budaya massa yang mengaburkan ketajaman mata jiwa. Gonjang-ganjing hasrat massa yang memabukkan diri manusia. Tersaruk-saruknya pemimpin sejati dalam koridor massifikasi. Terenggutnya inspirasi diri dalam jala massa. Kenyataan-kenyataan itu tidak jarang kita temukan dalam sejarah manusia sejak dahulu kala.
Kenyataan-kenyataan tersebut dapat disaksikan dalam bentuknya yang amat mencekam di era globalisasi ini. Gendam teknologi informasi membuat diri manusia terkubur makin dalam. Media massa menjajakan diri-diri ilusif sebagai alternatif terhadap diri manusia yang karam dalam kesunyi-senyapan. Globalisasi membawa gelombang alienasi yang lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan.
Citra-citra media massa modern telah mencampakkan diri dan jiwa manusia ke dalam suatu pertarungan di tingkat pandangan-dunia, agama, ideologi, budaya, sistem ekonomi, dan politik yang penuh intrik.
Suatu pertarungan yang sama sekali tidak mengenal aturan. Hukum-hukum dirumuskan oleh para pelanggarnya. Kawan adalah lawan. Lawan adalah kawan. Suara lawan didengar kawan. Nasihat kawan diabaikan teman. Para korban adalah para pahlawan. Hidup mereka mengundang decak kekaguman. Omong-kosong dielu-elukan. Ajaran dilecehkan. Nilai-nilai dijungkir-balikkan.

Bersamaan dengan jatuhnya nilai-nilai “lama”, nilai-nilai “baru” ditanamkan. Keterampilan mengelola hak sesama, kekreatifan memperalat kecenderungan, keluwesan membodohi pelanggan, ketajaman indra menyorot mangsa, kemampuan memanfaatkan kelemahan, kelihaian bermain pedang persaingan, kecepatan merebut peluang, kefasihan bernegosiasi dusta dan lain sebagainya telah dideklarasikan sebagai nilai-nilai baru tersebut. Itulah sebagian nilai ekonomi, politik, dan hubungan internasional dalam pertarungan dan pergesekan global ini.
Nilai-nilai baru juga ditetapkan untuk agama, budaya, dan pandangan dunia. Bahkan tidak satu bagianpun dari kehidupan manusia yang tidak dijadikan ajang pertempuran ini. Walau bagaimanapun juga, alih-alih dianggap merugikan, semua ini malah disepakati sebagai suatu pencapaian yang amat berarti bagi kemanusiaan.
Pertarungan ini keras-keras menampar kesadaran kita. Ia menghisap seluruh daya-upaya dan memaksa kita untuk mempersiapkan “diri”. Memaksa kita untuk mengaktifkan diri agar tidak lumpuh otot-ototnya, tidak juling matanya, tidak pelat lidahnya, dan tidak tuli telinganya.
Pertarungan ini juga sejenis perbudakan dan penawanan. Penawanan “unsur luar” terhadap potensi-potensi diri manusia. Ia dapat berlangsung secara subtil, tidak terukur, dan chaotic. Karenanya, ia sepenuhnya “terampuni”. Bahkan, tidak jarang yang meresapi proses itu sebagai budi dan jasa para “tuan” kepada para budak.
Pada tahap selanjutnya, para budak dan tawanan itu akan hidup layaknya tanaman hias yang tak pernah menguning daunnya, tapi juga tak pernah matang buahnya. Tanaman yang disiram, tapi tidak dapat berkembang. Tanaman yang tidak memiliki “akar”; tidak “radikal”, dan tidak pula “fundamental”. Tanaman mati yang tidak dibuang, malah dipajang sebagai hiasan. Perumpamaan di atas berkaitan dengan firman Allah yang berbunyi, “Tidakkah kamu menyimak bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti tanaman yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit * Tanaman ini memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat berbagai perempamaan itu bagi manusia supaya mereka menjadi engah * Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti tanaman yang buruk, yang tercerabut dari permukaan bumi dan tidak memiliki pijakan sedikitpun. “ (QS. Ibrahim 14: 24-26)
Pujian adalah polusi lain yang dapat memumuk berkembangnya diri palsu dalam batin manusia. Pujian menyembulkan kepalsuan dan kemunafikan diri dalam tata rias yang menawan. Apalagi bila pujian itu sudah mulai disakralkan dalam wacana keagamaan, sosial, politik dan kultural. Pujian, yang sangat bertentangan dengan semangat rasional dan pola pikir kritis, dapat meredam tuntutan fitrah kepada kebenaran dan kejujuran.
Tidak sekedar itu, tapi semua gaya hidup, kebiasaan dan formalitas massa. Banyak jiwa yang terseret dalam upacara-upacara mempertahankan status quo. Lingkungan sering menjadi awan hitam yang sangat kontraproduktif bagi perkembangan diri. Diri manusia ini akan banyak dikonsumsi para “produsen” status dan jabatan.
Pengamatan menunjukkan bahwa orientasi ekstrovertif ini, telah membawa malapetaka yang tiada tara bagi manusia modern. Apa guna menguasai dunia, tapi kehilangan diri sendiri? Inilah fenomena paling menyimpang dalam kehidupan dewasa ini. Globalisasi telah menarik perhatian manusia dari dirinya sendiri menuju hiruk-pikuk global.
Benar bahwa lingkungan global dapat menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman, tapi suara diri adalah yang paling sejati dan jujur. Ekspresi kebenaran, kebaikan dan keindahan diri manusia tidak boleh larut dalam tinta koran, gelombang radio dan sorotan kamera. Musik diri mesti selalu didendangkan.
Manusia yang tidak dapat mendengar suara yang berasal dari dirinya akan kehilangan teman sejatinya. Manusia pertama-tama mesti mengenali dirinya sebelum selainnya. Bersahabat dengannya sebelum dengan selainnya. Manusia yang merasa memiliki teman yang banyak, tetapi kehilangan dirinya, akan selalu merasa kesepian. Dia akan ngeri menyendiri, menemukan alienasi dan keterasingannya sendiri. Ngeri melihat dirinya tergeletak dalam kesepian dan kekosongan ekspresi. Cermin diri mesti selalu digosok dari segala debu dan kotoran yang melekat. Cermin diri manusia modern telah banyak retak oleh benturan global.
Jangan menjadi manusia yang membangun rumahnya di atas “tanah” orang lain. Bagaimanapun, suatu hari dia akan terbangun dan meninggalkannya buat si pemilik tanahnya. Paling banter, dia mendapat sejumput rejeki sebagai pengganti.
Jangan melulu hidup untuk kulit dan daging yang membalut. Tubuh adalah juga “makhluk” asing yang menempel pada diri. Tubuh tidak segan-segan menyiksa dan menyakiti diri. Pamer dan gemar tubuh justru akan mengubur diri sejati. Parfum yang mengucuri tubuh, takkan mampu menghilangkan bau busuk bangkainya. Sebaliknya, semerbak wangi parfum diri akan tercium selamanya.
Diri juga dapat “pecah” dalam peperangan batin, bila tentara-tentara “asing” menyeruduk ke dalamnya. Diri hakiki dan sejati manusia itu merupakan hembusan dan nafas Ilahi. Diri sejati ialah yang menyukai pengetahuan dan keyakinan serta membenci kebodohan dan kesesatan, karena ia berasal dari Sang Maha Tahu nan Mutlak. Diri yang mencari keindahan Sang Maha Indah. Diri yang mencegah nista karena Sang Maha Agung nan Luhur. Diri yang menghindari kelemahan, karena berasal dari Sang Maha Kuat. Diri yang bersikap derwaman sebab hidup dengan “nafas” rahmany. Inilah diri yang mesti kita ikuti perintahnya, jaga kepentingannya, iringi ritmenya, simak nyanyiannya dan lagukan puisinya. Kita mesti bersedih dan bergembira untuknya.
Diri itulah yang secara intrinsik dan otentik akan menebarkan energi positif dalam kehidupan, baik perorangan maupun kemasyarakatan. Sang Maha Sempurna akan selalu menambahkan energi padanya. Diri itu juga secara mandiri akan merobohkan berhala-berhala kekuatan yang lalim dan sewenang-wenang. Tapi, ia tidak butuh dukungan, teman atau pasukan untuk melakukan apa yang dilakukannya. Ia akan menghapuskan kebodohan, kemiskinan, kebangkrutan, kedengkian, kebohongan, kesombongan dan kebencian bagi masyarakat sekitarnya. Sebab ia “berasal” dari Sang Maha Tahu, Maha Mandiri, Maha Kaya, Maha Agung, Maha Kuat dan lain sebagainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: