Pemuda Berambisi Tinggi

Kisah dan Hikmah

{ ******** }

Sewaktu manusia melihat dirinya tertinggal dan tidak mampu melakukan sesuatu dari segala dimensi, maka pada saat-saat genting itu, doa bagaikan suatu cahaya pengharapan yang bersinar di dalam hati manusia dan disamping itu sang pendoa akan menemukan ketenangan batin, percaya diri, kelembutan ruh, cinta dia juga akan menampakkan makrifatnya.

Allah subhanahu wata’ala menghitung doa dan permohonan kepada-Nya sebagai salah satu nilai-nilai penting keinsanian dan kemaknawian dan mengatakan: {Qul ma ya’bau bikum rabbi lawla du’aaukum}  “Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik),” Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena ibadahmu}.

 

Pemuda Berambisi Tinggi

Telah tujuh tahun kemarau melanda di tengah kaum Bani Israil.Masyarakat memohon kepada Nabi Musa as agar beliau meminta dari Tuhannya untuk menurunkan hujan. Dengan dalil ini Nabi Musa as bersama sejumlah dari masyarakat pergi ke padang pasir untuk meminta hujan. Tuhan memberi wahyu kepada Nabi Musa as dan berkata: “Wahai Musa! Bagaimana Saya akan mengijabah doa mereka padahal mereka banyak melakukan dosa dan maksiat sehingga batinnya telah kotor dan hati-hati mereka telah gelap, mereka menyeru Aku tetapi tidak yakin kepada Kami. Wahai Musa! Saya mempunyai hamba bernama Barakh, jika dia datang dan berdoa Kami akan menerima doanya.

Suatu hari Nabi Musa as mencari dia dan menemukannya tatkala beliau sedang melewati jalan, dan melihat seorang yang berjidat hitam  karena bekas sujud, Nabi Musa as mengenali dia dengan cahaya Tuhan dan memberikan salam kepadanya lalu menanyakan namanya. Dia berkata: Barakh. Nabi Musa as menginginkan darinya untuk mengikutinya dan memohon minta hujan kepada Tuhan. Ketika mereka telah sampai di padang pasir lelaki berjidat hitam itu menengadahkan tangannya ke langit dan dengan khusyu dan perasaan cinta memulai munajatnya: “Ilahi padamkanlah kemarau yang panjang nan berat ini sebab perkara ini sangat jauh dari kelembutan-Mu, jikalau Kamu mengazab kami, apakah awan-awan tidak patuh atas perintah-Mu? Apakah angin-angin telah menyimpang dari perintah-Mu?Ataukah cadangan rahmat-Mu telah habis bagi kami?Ataukah kemurkaan-Mu telah dahsyat atas para pendosa?Apakah sebelumnya ini Kau adalah Pengasih dan Pemurah?Tuhanku, dahulu Kau adalah pencipta rahmat sebelum teciptanya orang-orang yang berbuat kesalahan?Dan Kau berkata dengan kasih sayang dan kelembutan, bukankah hamba-hamba-Mu tidak dapat berlari di bawah perintah-Mu yang Kau segerakan mereka dalam azab-Mu? “

Barakh masih belum juga beranjak dari tempatnya, tiba-tiba hujan turun dan mengalir sedemikian rupa, akhirnya Bani Israil telah kenyang air dari kehausannya. Barakh lalu memasuki kota dan berkata kepada Nabi Musa as: Wahai Musa! Kamu lihat bagaimana saya berdebat dengan Tuhan dan Tuhan berbuat adil kepada kita! Nabi Musa as marah melihat kepongahan dia terhadap Tuhan dan ingin mengadukannya. Dan telah tiba panggilan dari sisi Tuhan: Wahai Musa janganlah kamu mengurusi lelaki hitam ini, karena dia setiap harinya tiga kali membahagiakan Kami.      

 

{ ******** }

 

Allah SWT menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW yang berbunyi:(Qul hasbiyallahu ‘alaihi yatawakkalul mutawakkiluun) “Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.”

Mempertunjukkan Tawakkal

Pada zaman salahsatu dari khalifah terdahulu, masyarakatnya telah terkena bencana paceklik.Ketika bencana paceklik ini membuat masyarakat hampir kehilangan jiwa dan kesabaran mereka telah meluap, khalifah memerintahkan kepada masyarakat untuk menangis dan bersedih kepada Tuhan.Masyarakat memecahkan dan mematahkan semua alat-alat musik dan segera berdoa serta bermunajat kepada-Nya dan semuanya menjulurkan tangan ke sisi Tuhan sebagai tanda bahwa betapa mereka membutuhkan Dia.

Di tengah-tengah peristiwa ini ditemukan seorang hamba sahaya yang sedang memukul alat musik, menari dan bernyanyi. Masyarakat membawa dia ke hadapan khalifah dan mengatakan: Wahai khalifah! Dia bergembira dan bersenang-senang, dan dia telah menyalahi perintahmu. Khalifah berkata kepada hamba sahaya itu: Semua masyarakat dalam keadaan tegang dan khawatir,tetapi kamu ini mengapa bergembira dan bersenang-senang? Dia berkata: Wahai maulaku saya mempunyai sebuah gudang yang penuh dengan gandum dan saya selama ini mawas diri. Khalifah menjadi terpengaruh dengan ucapan hamba sahaya itu dan beberapa saat berpikir dengan dirinya kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: Ini adalah tawakal makhluk ke makhluk yang diberikan kepadanya ketenangan, jadi apabila semua makhluk tawakal kepada sang Pencipta betapa mereka akan memiliki ketenangan dan keamanan jiwa raga.

(Diterjemahkan oleh Ummu Jausyan)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: