Faridudin Attar

Sufi Sekaligus Penulis Kitab

Attar memiliki nama lengkap Faridudin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim. Di sebuah distrik yang tidak jauh dari Iran, di Nisyapur, Attar dilahirkan dalam keluarga yang cukup mapan. Keluarga pedagang dan tabib. Setelah dewasa pun Attar disamping menjalani kehidupan sufinya, waktu-waktunya dihabiskan meracik obat dan menunggui toko minyak wangi warisan orang tuanya. Tahun kelahirannya ada menyebutkan ia lahir pada tahun 1120 M dan meninggal pada tahun 1230 M. Attar, Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Attar lahir pada 1119 M dan meninggal pada tahun 1220 M di Saikhukhah.

Telah banyak dikatakan bahwa perjalanan sufistik Attar dimulai sejak kedatangan seorang darwis di kedainya. Sang darwis yang dikira Attar hendak meminta belas kasih ini ternyata orang yang membuka gerbang pencarian “Cinta” pada dirinya. Darwis dengan pakain lusuh ini sesaat sebelum akhir hayatnya terus saja mengingatkan dan menyindir Attar dengan mengatakan bahwa kehidupan dunia ini fana, tiada abadi, dan menipu. Kedai minyak wangi dan kekayaan yang dimiliki hanyalah bagian dari dunia yang fana itu. “Sanggupkah engkau meninggalkan itu semua, untuk mendapatkan hal yang lebih berharga dari sekedar kenikmatan dunia?” Ia berkata pada Attar. Selesai memperingatkan Attar, seperti sudah ditakdirkan, Sang Darwis jatuh tersungkur dijemput Izrail dihadapan Sang Penebar Wewangian muda.

Kata-kata Sang Darwis meresap ke relung hati Attar, bergelora dan bergejolak dalam dirinya. Mengitari jiwanya dan membimbing tubuh Attar muda untuk mencari satu hal yang paling bermakna melampaui keindahan dunia. Satu perubahan besarpun terjadi pada diri Attar dan dia telah memutuskan untuk memilih jalan itu, jalan yang gerbangnya sudah dibuka lebar oleh Sang Darwis ber-khirqah lusuh.

Attar pun mulai pencarian akan cinta sejatinya. Meninggalkan Nisyapur dan menitipkan segala harta bendanya, termasuk kedai minyak wangi warisan orang tuanya, pada sanak dan famili. Ia melakukan perjalanan mistiknya sendiri, tanpa kawan maupun kekayaan. Ia berguru dari satu tempat ke tempat yang lain. Syaikh Ruknuddin Akkah dari mazhab Kubrawiyyah, Syaikh Bukn-ud-din, dan Abu Sa’id bin Abil Khair adalah beberapa tokoh sufi yang pernah menjadi guru Attar.

Selama bertahun-tahun ia habiskan untuk mencari cinta sejati dan mendalami dunia mistik yang ia tekuni. Lantunan-lantunan syair “cinta” yang ia buat sering menemaninya dalam perjalanan-perjalanan panjang pendakian yang ia tempuh. Berharap Sang Raja Agung menemuinya dalam pencariannya itu.

Di usianya yang ke tiga puluh lima, Attar kembali ke Nisyapur. Menjadi Hudhud penunjuk jalan kebenaran di tempat kelahirannya itu. Di kalangan sufi Attar juga dikenal dengan Saitu al-Salikin (Cemeti orang-orang sufi). Julukan itu ia dapatkan karena Attar diakui sebagai orang yang mampu memimpin para sufi itu tetap berada pada petunjuk suci dan selalu dapat membimbing mereka melepaskan kasih rindu mereka melalui syair dan puisi indah yang dibuatnya, menuju cahaya cinta Tuhan Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang.

Dikatakan bahwa Attar adalah seorang Sufi sekaligus sastrawan yang cukup produktif, mengingat kesibukannya yang selain menulis dan mengajar murid-muridnya, ia juga seorang saudagar dan tabib. Lebih dari 200.000 prosa-puisi dan syair yang dapat dihimpun darinya. Di antaranya, Manthiq at-Thair (Musyawarah Burung) dan Thadkira al-Awliya (Anekdot para Wali). Dua karya yang mengantarkannya sebagai salah seorang tersohor dari Persia yang dikenang dan kerap menjadi penunjuk jalan hingga kini.

Dalam Manthiq ath-Thayr, pembaca akan menemukan sekawanan burung yang berkelana jauh mencari Raja Agung yang mereka rindukan. Mereka melakukan perjalanan hebat untuk menemukan keindahan dan keberartian hidup yang sesungguhnya. Dipandu Hudhud mereka menjalani the sacred journey, melalui halangan dan rintangan, menyeberangi sungai dan lautan serta rimba-rimba dan gurun tanpa tuan. Qaf dengan ratusan gunung-gunungpun mereka lalui, menemui tujuh lembah pengujian menuju pegunungan Elbruz ke arah gunung Kaukasusu tempat Simurgh bertahta dengan gading-gading gajah, kayu cendana dan gaharu. Bertahun-tahun perjalanan suci itu ditempuh demi dapat menemui sang Raja Agung yang memiliki bulu-bulu berkekuatan magis itu, dialah Simurgh, raja dari segala burung di dunia. Ribuan burung yang menyertai Hudhud, namun hanya tiga puluh saja yang berhasil menemui Simurgh di Istananya. Mereka tiba di Gerbang Istana itu dan disambut salah satu abdi sang Maha Raja itu. Akhirnya masuklah burung-burung yang lelah jiwa raga itu di istana raja mereka. Tidak ada siapa-siapa di Istana itu, kecuali mereka sendiri yang telah menyadari kebertuhanan ada dalam diri masing-masing.

Thadkira al-Awliya adalah karya Attar yang berisi perkataan-perkataan para sufi agar para pembaca tahu seluk beluk dan batasan-batasan tasawuf berdasarkan apa yang pernah dilakukan para sufi terdahulu. Untuk membuat buku ini, dikisahkan bahwa Attar telah membaca ratusan buku sebagai masukan. Banyak faktor yang menjadikan buku ini hadir, salah satunya adalah permintaan para murid dan sahabatnya untuk dibuatkan sebuah buku pedoman untuk membantu mereka menuju jalan tasawuf. Selain itu Attar juga melihat bahwa ajaran tasawuf memang merupakan satu laku yang tidak akan lepas dari petunjuk melalui wejangan para sufi, yang menekankan oral method. Perkataan-perkataan para syaikh dan guru pembimbing merupakan petunjuk otoritatif yang sangat dibutuhkan oleh para pencari kesejatian. Oleh karena itu Attar memilih membuat karyanya ini sebagai petuah-petuah para sufi, syaikh, dan guru-guru sufi.

 Berguru pada Attar Melalui Manthiq at-Thair

Salah satu keindahan dan keunggulan karya Attar ini, adalah kekayaan akan kisah-kisah yang ada di dalamnya, mencetak karyanya menjadi maha karya cerita berbingkai yang terkenal dan dijadikan rujukan. Satu hal yang menunjukkan kapasitas Attar sebagai seorang petualang, sejarahwan, dan tentu sastrawan unggul. Sebagai seorang sufi petualang ia tentu kenyang makan asam dan garam kehidupan. Melihat dan menjalani berbagai macam peristiwa. Sebagai seorang sejarahwan, ia begitu lihai menggunakan tokoh-tokoh yang pernah ada sebagai pemeran-pemeran dalam kisah yang ia buat, sebut saja Sultan Mahmud, Sulaiman, Majnun, dan Bayazid al-Bistami. Attar paham betul siapa mereka, dan mungkin kisah tokoh-tokoh ini yang diceritakan dalam Musyawarah Burung ini adalah sebuah kenyataan yang pernah tercatat di buku sejarah dan kemudian dipakai Attar sebagai contoh teladan dalam ceritanya. kalau dihitung, dalam Manthiq at-Thair, ada sekitar 112 kisah yang kebanyakan dimaksudkan sebagai pesan dan nasehat untuk kita dalam menyikapi dan melihat dunia, serta melihat jalan meraih kesejatian tujuan hidup kita.

Kisah-kisah itu oleh Attar dibagi menjadi tiga bagian besar. Pertama, ada pada bab “Rapat Umum Burung-burung” yang terdiri dari tiga belas kisah, termasuk kisah Syeikh San’an dan Gadis Nasrani yang kerap dibedah dan dibicarakan oleh Dr. Abdul Hadi W.M. Kedua, ada pada bagian perjalanan pencarian Simurgh. Sekitar enam puluh enam kisah yang dibuat Attar di bagian ini. Ketiga, ada pada bagian terakhir, bagian lembah-lembah yang terdiri dari 43 kisah.

Pembagian kisah-kisah ini untuk masuk pada masing-masing kategori di dasari pada garis hubung yang ada pada masalah yang ada dengan jawaban yang coba dimunculkan. Dan kisah-kisah itu dimaksudkan sebagai jawaban atas permasalahan-permasalahan itu, dalam hal ini Hudhud sebagai penutur yang mewakili maksud Attar. Penekannya pada apa isi yang disampaikan. Dan inipun menunjukkan fase-fase yang harus diingat oleh para salik kesejatian. Tiga fase yang akan selalu ada, mengisi jalan cerita para pencari.

Pertama, fase pengenalan kesejatian. Tahapan ini melalui kisah-kisah yang digunakan Hudhud untuk menanggapi keluhan-keluhan para burung, merupakan satu cara awal untuk menjadi salik. Bagaimana harus menyikapi semua yang ada di dunia ini, dan bagaimana harus tahu apa tujuan keberadaan mereka sebenarnya. Manusia adalah makhluk yang cenderung terbelenggu oleh keindahan semu dunia dan kerap lebih suka melupakan bahwa ada satu keabadian yang dapat diraih, dan ini yang harus disadari. Seseorang yang benar-benar ingin mencari kesejatian harus tahu terlebih dahulu hal ini, atau ia akan tersesat diperjalanan pencarian.

Kedua, fase pencarian. Dalam fase ini seorang darwis diajarkan Attar bahwa kerapkali seorang pencari tidak memiliki ketabahan, keberanian, dan kehilangan semangat pada titik awal pencariannya. Kisah-kisah yang diutarakan Hudhud memberi tahu bahwa ketika kebimbangan menyelimuti ketika seorang salik melakukan perjalanan pencarian, maka teguhkanlah hati dan tujuan. Dengan demikian, para pencari tidak akan mudah terjatuh dan mati jiwa dalam pencarian itu. Ketetapan hati dalam menjalani perjalanan ini bukanlah hal mudah yang dapat diperoleh, selalu saja godaan dan tantangan menghadang. Godaan-godaan itu akan kerap muncul sebagai hal-hal yang diinginkan nafsu duniawi pada diri manusia. Harta benda, wanita, dan kekuasaan. Seorang salik yang tidak tahan akan cobaan ini akan segera meninggalkan jalan suci mereka, dan memilih kembali pada yang profan.

Ketiga, fase penyucian. Setelah sang Salik telah mempersiapkan diri dan memantapkan tujuan sebenarnya yang ingin dicapai, tahap berikutnya adalah penyucian diri. Sang Raja Agung telah menunggu jiwa-jiwa wangi mereka. Jiwa yang masih dikotori kotoran semacam nafsu-nafsu terhadap duniawi tidaklah pantas bertemu dengan Sang Raja dari segala raja. Di sinilah Attar mengajarkan bahwa kesucian jiwa dapat diperoleh melalui tujuh maqam atau tahapan. Maqam-maqam yang tidak mudah dicapai apalagi dilalui. Manthiq at-Thair dalam tahapan-tahapan itu memberikan kisah-kisah yang selalu terus mengobarkan semangat para pencari. Ini tahapan yang bukan main beratnya, tujuh tingkatan dengan rintangan dan misteri yang menyertainya. Pada fase inilah ribuan burung-burung itu berguguran satu persatu, meninggalkan tiga puluh burung lainnya yang akhirnya mampu menemui Simurgh. Kisah-kisah di fase akhir pencarian ini selalu saja mengatakan; “Bertahanlah…bertahanlah…Rajamu telah menunggumu di singasana-Nya. Bertahanlah…bersemangatlah, kau akan segera menemuinya. Dan jalanilah petunjuk-petunjuk cinta yang ada pada mata batinmu. Kau akan segera sampai…kau akan segera sampai. Percayalah gerbang istana Sang Raja selalu membuka, menunggu kehadiranmu! ”

Penutup

Demikianlah kia dapat belajar menjadi salik, mencapai Simurgh sesuai dengan petunjuk guru spiritual Attar. Attar telah menunjukkan salah satu jalan menuju Qaf tempat Simurgh berada. Hanya salah satu. Beribu-ribu petunjuk akan jalan ke sana mungkin telah diajarkan oleh para darwis dan pencari kesejatian lainnya. Semuanya tidak mudah dicapai. Semuanya hampir sama penuh rintangan, cobaan, dan godaan. Namun, Attar adalah Attar yang menunjukkan satu jalan khusus, ke sana melalui Manthiq at-Thair maha karyanya.

“Wahai Attar bejana wewangian rahasia telah kau tumpahkan isinya. Cakrawala dunia dipenuhi wangianmu dan para pecintapun terusik karena engkau. Puisimu itulah gelarmu, mereka akan mengenalmu sebagai Manthiq at-Thair dan Maqamat at-Thair. Keduanya adalah percakapan, pembicaraan sebagai tahapan di jalan kebenaran, atau katakan sebagai Diwan kemabukan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: