RISALAH PANDANGAN DUNIA (35)

Oleh : Muhammad Nur

 

Faktor kedua; Ketidaktahuan Manusia terhadap Alam Langit

          Sebagian manusia menyadari dan menerima akan kemestian dalam menyembah sebuah realitas yang Maha Besar dan Maha Agung yang disebut dengan Tuhan. Kesadaran tersebut didasarkan atas realitas fitrah yang dimilikinya atau bisa juga didasarkan atas argumentasi akal. Namun dari satu sisi ia meyakini bahwa Tuhan adalah realitas yang lebih mulia dan lebih tinggi dari realitas atau makhluk lainnya. Kemudian disisi yang lain juga meyakini bahwa keberadaan yang terletak lebih diatas, maka lebih mulia dan lebih unggul. Berdasarkan hal ini, mereka mencoba mencari Tuhan dilangit dengan asumsi bahwa singgasana Tuhan bisa ditemukan di langit. Akan tetapi ketika mereka kesana, ternyata tidak menemukan Tuhan, namun yang ditemukan adalah gugusan bola-bola, planet-planet, dan angkasa raya yang begitu agung dan menakjubkan, khususnya ketika menemukan efek-efek yang luar biasa terhadap kehidupan manusia. Dan juga ketika menyaksikan keberadaan-keberadaan lainnya disana, mereka menganggap fenomena-fenomena tersebut sebagai Tuhan. Misalnya ketika menyaksikan cahaya matahari dan menyaksikan dampak yang begitu luas terhadap seluruh kehidupan maka menganggap hal tersebut pencipta keberadaan dan pengatur alam semesta.

          Berkenaan dengan hal diatas, kita akan menemukan hal yang sama dalam Quran jika kita memperhatikan Quran dalam menjelaskan argumentasi Nabi Ibrahim as dalam menghadapi orang-orang musyrik pada zamannya. Dalam surah An-Naml : 24 dalam mengisahkan kaum saba’, “Kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.”Menyembah atau bersujud dihadapan matahari, bulan, dan bintang berakar dari kejahilan manusia terhadap hakikat dan esensi fenomena-fenomena alam semesta. Jika manusia mengetahui bahwa fenomena-fenomena tersebut juga bergantung maka dari pada menyembah hal tersebut, tentu mereka akan lebih memilih menyembah dan bersujud dihadapan pencipta yang sebenarnya. Tentu pada saat yang sama mereka akan memiliki hakikat ketauhidan.

Faktor Ketiga; Salah Memahami Ajaran para Nabi

          Diantara ajaran-ajaran para Nabi yaitu keyakinan terhadap akidah-akidah tertentu seperti keyakinan terhadap malaikat dan keyakinan terhadap keberadaan jin. Namun sebagaimana diketahui bersama bahwa keberadaan mereka tidak bisa dipersepsi secara langsung melalui persepsi inderawi sehingga tidak bisa menyaksikannya.Kemudian secara perlahan-lahan mereka mulai menafsirkan fenomena-fenomena tersebut dengan penafsiran yang tidak tepat, bahkan ada sebagian yang menganggap bahwa mereka adalah putri-putri Tuhan serta meyakini bahwa mereka memiliki andil dalam menentukan takdir manusia.

          Salah satu dampak dari penafsiran yang tidak tepat terhadap fenomena hal tersebut, mereka menyamakan sistem penciptaan dan sistem realitas dengan sistem yang ada di dalam masyarakat sosial. Mereka meyakini bahwa sebagaimana dalam sebuah masyarakat terdapat tingkatan dan derajat tertentu, seperti dalam sistem sosial ada yang menduduki posisi tertinggi seperti raja, kemudian menteri, dan seterusnya sampai pada tingkatan yang paling bawah, maka dalam sistem penciptaan dan sistem realitas eksistensi pun demikian halnya. Berdasarkan dengan pandangan yang salah ini, mereka meyakini bahwa Tuhan memiliki anak-anak dimana anak-anak tersebut memiliki maqam kedekatan (qurb) terhadap singgasana Ilahi.Oleh karena itu mereka mendudukkan anak-anak tersebut sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya sehingga melalui anak-anak tersebut mereka memohon syafaat dari Allah SWT.Namun lambat laun mereka mendudukkan posisinya sebagai wujud independen yang disembah secara terpisah. Karena itu diantara mereka ada yang menyembah malaikat dan sebagian lagi menyembah jin. Dalam surah Al-An’am :100 Allah SWT berfirman, “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”Dalam surah saba’ : 39-40 “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembahmu?’, ‘Para malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” Begitu juga dalam surah Ali-Imran : 79-80 “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi hamba-hambaku, bukan hamba Allah.” Akan tetapi (sewajarnya ia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, sebagaimana kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan mempelajarinya’, ‘Dan (tidak wajar pula ia) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) ia menyuruhmu berbuat kekafiran setelah kamu (menganut agama) Islam?”

          Dari beberapa ayat diatas dapat disimpulkan  bahwa ada sekelompok orang yang sibuk menyembah jin dan kelompok lainnya sibuk menyembah malaikat. Bahkan sebagian orang-orang musyrik dan jahil menyamakan posisi Tuhan dengan para Nabi dan menganggap Nabi sebagai Tuhan yang terpisah.

          Kecenderungan-kecenderungan pada kemusyrikan dan kebatilan seperti ini dikarenakan pemahaman yang tidak benar dan penafsiran yang salah terhadap ajaran-ajaran para Nabi.

Faktor Keempat; Persoalan Syafa’at

          Ketika para Nabi memaparkan ajaran-ajaran Ilahi termasuk persoalan syafa’at.Sebagian orang memahami dengan tidak tepat persoalan tersebut.Mereka menganggap bahwa terdapat wujud tertentu yang memiliki pengaruh dalam sistem Ilahi dan dapat membantu kehidupan mereka. Pikiran sederhana mereka mengatakan, jika manusia mampu meraih ridhanya maka manusia akan memperoleh kebahagiaan yang abadi. Keyakinan ini secara perlahan-lahan membuat mereka tunduk dan menyembahnya, lalu membuat patungnya kemudian ritual penyembahan pun dilaksanakan.Quran mencela penyembahan yang mereka lakukan dan juga mencela tujuan mereka untuk memperoleh syafaat melalui patung-patung tersebut. Dalam surah Yunus : 10 Allah SWT berfirman, “Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.”

Faktor Kelima; Kejadian-Kejadian diluar Batas Materi

          Manusia-manusia pilihan Ilahi seperti para Nabi berdasarkan atas maslahat tertentu terkadang menunjukkan suatu tindakan yang tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan manusia.Terkadang perbuatan para Nabi tersebut tidak dipahami dengan baik oleh orang-orang tertentu sehingga salah dalam menafsirkannya.Persoalan ini juga disampaikan oleh Quran ketika menjelaskan posisi Nabi Isa as dan Nabi Uzair as dimana sebagian dari pengikut mereka menganggap bahwa kedua Nabi tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Tuhan.

          Pengikut Nabi Isa as mengatakan, manusia tidak mungkin lahir tanpa keberadaan seorang ayah, disisi lain kita mengetahui bahwa tak ada seorang pun yang bertindak sebagai ayahnya. Oleh karenanya niscaya ayahnya adalah Tuhan dan dia adalah anak-Nya.Orang Yahudi juga meyakini bahwa Uzair as adalah anak Tuhan. Dalam surah At-Taubah : 30 Quran mengisyaratkan keduanya, “Orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair itu putra Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka.Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.”

          Rangkaian keyakinan mereka terhadap kedua Nabi tersebut yang memposisikan keduanya pada maqam yang tinggi dan meyakini memiliki kekerabatan dengan Tuhan menganggap bahwa keduanya mesti dimuliakan, disembah, dan mensucikannya karena mereka berharap dengan perlakuan khusus tersebut terhadap keduanya dapat menarik perhatiannya sehingga keduanya bisa menjadi perantara kepada singgasana Ilahi yang akan memberikan manfaat kepada kehidupan mereka.           

Diterjermahkan dari Buku :“Ămuzesy-e ‘Aqâ‘id” Tim Penulis : Mohsen Gharaveyân, Mohammad Reza Ghulâmî, Sayed Mohammad Husain  Mirbâqerî).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: