Pemimpin Yang Adil

Kisah dan Hikmah

{ *******}

Allah subhanawata’ala memerintahkan dengan jelas di dalam Al-Quran bahwa seluruh kaum muslimin dimanapun berada dan apapun kedudukannya, haruslah menjaga keadilan dalam segala dimensi dan mengatakan: (I’diluu huwa aqrabu littaqwaa) Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.)

Di sini terdapat sebuah contoh dari sifat adil Sayyidina Ali Kw dalam bidang baitul mal dan marilah kta simak ceritanya dibawah ini:

 

Pemimpin Yang Adil

Pada zaman pemerintahan saudaranya Ali Kw, ‘Aqil mengunjungi rumah Hadrat Ali  dan dia sebagai tamu di rumah tersebut. Hadrat Ali mengisyaratkan kepada anaknya Hasan  agar menghadiahkan pamannya sebuah pakaian! Sayyidina Hasan  lalu menghadiahkan kepada pamannya sebuah kemeja dan satu jubah kepunyaannya sendiri. Malam telah tiba dan cuaca sangat panas. Amir mukminin Ali Kw dan saudaranya duduk di atas balkon darul amaarah dan mereka berdua sibuk berbincang-bincang. Ketika makan malam telah siap. Dikarenakan ‘Aqil memandang dirinya sebagai tamu di rumah seorang pemimpin, makanya dia menanti hidangan yang berwarna (bermacam-macam), akan tetapi menyalahi dari yang dia nantikan, tikar telah disediakan dengan makanan yang sangat sederhana. Dan dengan keheranan dia bertanya: Apakah hanya ini saja makanan yang ada? Ali Kw berkata: Bukankah ini adalah nikmat Tuhan? Saya sangat bersyukur dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan dan saya sangat berterima kasih kepadaNya. ‘Aqil berkata: Baiklah saya akan segera mengatakan hajat saya dan segera pulang. Saya mempunyai pinjaman dan saya tidak mampu melunasinya. Perintahkanlah untuk melunasi pinjaman saya secepat mungkin dan bantulah saudaramu ini sesuai dengan keinginanmu! Sehingga kesusahannya menjadi berkurang dan saya segera pulang kerumah!

– Seberapa banyak pinjamanmu?

– Seratus ribu dirham.

– Seratus ribu dirham! Betapa banyak! Maafkanlah saya wahai saudaraku saya tidak mempunyai sebanyak ini untuk melunasi pinjamanmu, tetapi sabarlah sampai tiba masa pembagian hak(gaji); saya akan mengambil hak pribadi saya dan akan memberikannya kepadamu dan saya akan melaksanakan persyaratan saya sebagai saudara. Jika saya tidak mempunyai pengeluaran keluarga, seluruh saham saya akan saya berikan kepadamu dan saya tidak akan meninggalkan sedikitpun untuk diri saya!

– Saya bersabar sampai tiba pengambilan hak? Baitul mal dan perbendaharaan negara terletak ditanganmu, dan kamu mengatakan kepada saya untuk bersabar sampai tiba pengambilan hak? Kamu kan bisa saja mengambil berapapun yang kamu inginkan dari baitul mal dan perbendaharaan negara; mengapa kamu memerintahkan saya untuk menanti masa pengambilan hak? Di samping itu, memangnya hak kamu dari baitul mal berapa banyak? Coba perkirakan jika seluruh hakmu kamu berikan kepada saya, apalah faedahnya untuk saya?

– Saya sangat terkejut dengan usulanmu. Negara mempunyai dana atau tidak apa hubungannya antara saya dan kamu?! Saya dan kamu kedua-duanya adalah orang yang sama dengan orang-orang muslim lainnya. Memang benar bahwa kamu adalah saudara saya dan saya harus menolong dan membantumu sampai di mana kemampuan dari harta yang saya milki, tetapi bantuan itu dari harta saya bukan dari baitul mal kaum muslim.

Diskusi berlanjut terus dan ‘Aqil mendesak dengan bahasa yang berbeda-beda agar supaya mendapat izin untuk diberikan dana yang cukup  dari baitul mal, sehingga dia bisa pergi untuk melaksanakan keperluannya yang lain.

Mereka beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke pasar Kufah. Dari sana terlihatlah sebuah kotak berisi uang para pedagang dan pegawai pasar. Di sela-sela itu ‘Aqil mendesak dan memaksa, Ali Kw berkata kepada ‘Aqil: Apabila kamu masih juga mendesak dan tidak mau menerima perkataan saya, saya mengusulkan kepadamu; jika kamu mengamalkannya maka kamu bisa melunasi pinjamanmu!

–  Apa yang harus saya lakukan?

– Di bawah sini ada sebuah kotak yang berisi uang. Jika keadaan sudah sunyi sepi dan tidak seorangpun yang tertinggal di pasar ini, pergilah ke bawah dan pecahkanlah kotak-kotak uang itu dan ambillah sesuka hatimu!!

– Kotak-kotak uang ini milik siapa?

-Kotak-kotak ini adalah milik para pegawai pasar ini. Mereka mengumpulkan harta miliknya di dalam kotak ini.

– Saya heran! Kamu menyarankan kepada saya untuk memecahkan kotak-kotak uang orang lain dan mengambil harta mereka di mana mereka dengan sangat bersusah payah mengumpulkan dan menyimpannya di kotak ini?!

– Terus mengapa kamu bisa menyarankan kepada saya untuk membuka dan mengambil baitul mal untuk kamu? Memangnya harta ini berhubungan dengan siapa? Ini juga berhubungan dengan milik orang lain yang dengan perasaan tenang tertidur pulas di rumahnya masing-masing; jika kamu tertarik terimalah saranku yang kedua!

–  Saran apa lagi?

– Jika kamu bersedia ambillah pedangmu, saya pun akan mengambil pedang saya. Di dekat Kufah terdapat kota “Hirah”. Di sana terdapat para pembesar dan saudagar-saudagar kaya. Pada malam hari kita akan pergi berdua dan menyamarkan diri kita dengan salah satu dari mereka dan kita memikul dan membawa harta kekayaannya.

– Wahai Saudaraku! Saya tidak datang untuk mencuri, mengapa kamu berkata seperti ini. Saya katakan bahwa baitul mal dan perbendaharaan negara berada ditanganmu, ijinkanlah kamu untuk memberikannya kepadaku sehingga saya dapat melunasi pinjaman saya.

– Kebetulan jika kita mencuri harta seorang muslim, itu lebih baik dari pada harta ratusan ribu orang muslim, artinya kita mencuri harta semua orang muslim. Bagaimana bisa bahwa mengambil harta satu orang dengan pedang di sebut mencuri, tetapi mengambil harta masyarakat umum bukanlah mencuri? Kamu menganggap bahwa mencuri hanya terbatas dengan menyerang orang lain dan dengan paksa mengeluarkan hartanya? Mencuri seperti inilah yang paling buruk di mana sekarang kamu menyarankannya kepada saya.

    

{ ********* }

 

Amal saleh adalah bekal yang paling baik bagi setiap orang di alam dunia  menuju alam akhirat. Sebab sesuai dengan bahasa wahyu Al- Quran, mengatakan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian dan penyesalan yang abadi kecuali mereka yang beriman dan melaksanakan amal baik dan saleh. Sesungguhnya seorang muslim yang mengerjakan amal-amal saleh dan perbuatan-perbuatan yang terpuji dapat meninggalkan warisan dan kenangan yang baik.

Kita membaca dalam surah Ashr dikatakan: (Innal insaana lafii khusyr Illalladziina aamanu wa ‘amilushshaalihaati) Sungguh manusia, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” Perbuatan yang terpuji, bernilai dan amal saleh, tidak hanya khusus bagi agama Islam, bahkan di setiap waktu dan zaman segala perbuatan baik dan terpuji merupakan inayah bagi manusia-manusia saleh.

 

Kenangan Yang Paling Baik

Suatu hari Iskandar Maqduni dan pemimpin pasukannya dalam keadaan haus. Salah satu di antara mereka berkata: “Tuhan telah memberikan kepadamu pemerintahan yang luas, nikahilah beberapa wanita agar supaya kamu mempunyai anak yang banyak dan mereka adalah peninggalanmu di dunia ini.”  Iskandar berkata: “Peninggalan yang paling besar bagi manusia di dunia ini adalah bukan hanya anaknya melainkan manusia itu sendiri meninggalkan metode-metode yang bagus dan akhlak yang baik.”

 

 

 

 

{ 27 }

Al-Quran berbunyi: (walaw basathallahu arrizqa li’ibaadihi labaghaw fil ardhi) “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi.” Oleh karena itu Tuhan pencipta alam semesta ini akan memberikan rezekinya kepada setiap orang yang pantas menerimanya dan dia akan di uji dalam hal ini.

 

Orang Yang Layak

Pada suatu hari, di pertengahan jalan Nabi Musa as menyaksikan seorang lelaki fakir yang hidup dalam keadaan menderita. Ketika mata lelaki fakir itu tertuju kepada Nabi Musa as, dia berkata: Wahai Musa! Doakanlah agar supaya Tuhan memberikan keluasan dalam kehidupanku dan saya lepas serta terbebas dari kefakiran. Nabi Musa as  mengabulkan permohonannya dan pada akhirnya kehidupan lelaki fakir tersebut sampai pada kehidupan yang baik.

Setelah beberapa waktu Nabi Musa as lewat di sebuah jalan di mana matanya tertuju kepada masyarakat yang sedang berkumpul dan mengerumuni seseorang. Nabi Musa as pergi mendekat dan dengan penuh keheranan beliau melihat lelaki fakir itu yang baru saja mencapai kekayaannya di mana dia ditangkap dan dibawa oleh para pengawas kenegaraan. Ketika Nabi Musa as menanyakan penyebabnya, masyarakat menjawab bahwa dia telah meminum khamar dan membunuh seseorang yang tidak berdosa, sekarang dia ditangkap untuk mendapatkan qishas. Benar:

Kucing miskin jika punya sayap

       Telur burung gereja dari dunia kau ambil

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: