RISALAH PANDANGAN DUNIA (5)

Tasawwur (Konsep) dan Tasdiq (Penilaian atau Judgement)

Tasawwur dan tasdiq masuk dalam wilayah konsepsi, oleh karenanya tasawwur dan tashdiq termasuk dalam pembahasan ilmu hushuli dan merupakan pembagian dari ilmu hushuli. Sedangkan ilmu hudhuri tidak memiliki pembagian tasawwur dan tasdiq dikarenakan dalam ilmu hudhuri sama sekali tidak berhubungan dengan konsep.

Jika anda merujuk ke dalam benak anda sendiri, maka anda akan menemukan kedua pembagian tersebut. Tentunya anda memiliki banyak pengetahuan terhadap objek tertentu tanpa anda memberikan penilaian terhadapnya. Di saat anda bersentuhan dengan realitas eksternal maka bentuk dari realitas tersebut terpatri dalam benak anda. Hal ini yang membuat ada banyak konsep dalam benak kita. Konsep–konsep sederhana ini biasanya kita dapatkan di sekitar lingkungan kehidupan kita, seperti konsep rumah, kelas, langit, matahari dst. Konsep sederhana seperti ini disebut dengan konsep alam mental. Oleh karena itu yang dimaksud dengan tasawwur adalah sebuah konsep alam mental yang tidak dibarengi dengan tasdiq atau penilaian (judgement). Terkadang alam mental kita mengaitkan antara satu konsep dengan konsep lainnya, menisbahkan dan menghubungkan antara satu dengan lainnya. Sebagai contoh; coba anda konsepsikan air, kemudian disamping itu anda juga menkonsepsikan ‘mengalir’ dan ‘mencair’. Kemudian kita menghubungkan diantara keduanya dengan hubungan afirmasi. Dari hal ini kita akan mengatakan ‘air adalah cairan’. Contoh selanjutnya anda menkonsepsi ‘air’ dan disamping itu anda juga menkonsepsi ‘padat’, kemudian kita menghubungkan diantara keduanya dengan hubungan negasi, dari hubungan tersebut kita akan mengatakan ‘air itu tidak padat’. Dari kedua contoh sebelumnya kita bisa saksikan bahwa selain kita menkonsepsi sesuatu  (minimal dua konsepsi), kita juga memberikan penilaian (judgement) di antara konsep–konsep tersebut. Pengetahuan seperti ini disebut dengan tashdiq. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan tashdiq adalah; ‘serangkaian konsep–konsep dimana konsep–konsep tersebut akan berkaitan antara satu dengan lainnya melalui sebuah penilaian (judgement)’. Dalam tasdiq biasanya dijelaskan dalam bentuk kalimat deskriptif yang sempurna yang biasa juga disebut dengan proposisi. Bagian pertama dari kalimat tersebut disebut dengan subjek, sedangkan bagian kedua dari kalimat tersebut disebut dengan predikat.

Konsepsi Partikular dan Universal

Kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa tasawwur atau konsep adalah sebuah konsep alam mental. Akan tetapi konsepsi alam mental ini boleh jadi bersifat partikular dan individu atau universal dan general. Ada dua jenis konsep–konsep yang ada dalam alam mental kita.

Sebagian dari konsep tersebut terkadang hanya menunjukkan satu objek realitas eksternal, namun terkadang sebagian dari konsep tersebut menunjukkan beberapa realitas eksternal. Perhatikan contoh berikut ini : konsepsi yang anda miliki mengenai saudara anda adalah sebuah konsep partikular. Maksudnya bahwa konsep alam mental tersebut hanya diperuntukkan untuk saudara anda saja, bukan untuk orang lain selain saudara anda. Begitu juga ketika anda menkonsepsi gunung bawakaraeng, konsepsi tersebut adalah sebuah konsep partikular. Maksudnya bahwa konsep tersebut hanya menunjukkan gunung bawakaraeng dan bukan gunung yang lainnya. Kesimpulannya bahwa setiap konsep alam mental yang hanya menunjukkan satu karakteristik objek tertentu di alam eksternal disebut dengan konsep partikular dan biasanya disebut dengan bentuk partikular dari objek tersebut. Selain konsep–konsep yang kami sebutkan diatas. Konsep–konsep seperti gunung, manusia, pohon, buku dst adalah bersifat general. Konsep ‘gunung’ tidak hanya diperuntukkan bagi gunung bawakaraeng tapi bisa juga disifatkan kepada gunung–gunung lainnya.

Konsep ‘manusia’ adalah sebuah konsep yang tidak hanya diperuntukkan bagi saudara anda, akan tetapi konsep manusia tersebut bisa diperuntukkan kepada semua orang. Begitu juga dengan konsep–konsep lainnya seperti pohon, buku, dan konsep–konsep alam mental lainnya. Konsep–konsep seperti ini disebut dengan konsep universal. Oleh karena itu konsep universal adalah sebuah konsep yang bisa dipredikatkan secara general kepada beberapa objek.

Sekarang, kita telah membuktikan kedua jenis pemahaman tersebut. Jika kita menyimak secara sepintas, kita dapat membedakan dengan baik kedua konsep tersebut dan memisahkan kedua konsep tersebut antara satu dengan lainnya. Disini muncul sebuah pertanyaan bahwa apakah kedua konsep tersebut benar–benar berbeda dan terpisah satu sama lain? Atau sama sekali tidak ada perbedaannya  dan pada hakikatnya keduanya tak lebih dari hanya sekedar konsep itu sendiri. Hume mengatakan bahwa konsep universal adalah konsep–konsep indrawi dan partikular itu sendiri yang mengalami kehilangan identitas karekteristik individunya sehingga konsep tersebut bersifat ambigu dan dengan demikian konsep tersebut bisa dipredikatkan kepada beberapa objek. Atau konsep universal pada hakekatnya hanyalah sebuah penamaan pada objek–objek yang mirip sebagaimana yang diyakini oleh nominalis?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut pertama–tama kami akan menukil pandangan Hume dan nominalisme, selanjutnya kami akan mencoba mengeritik pandangan tersebut. Kami meyakini bahwa konsep–konsep universal tidak dipersepsi melalui persepsi indrawi. Persepsi universal berbeda dengan persepsi indrawi.

Hume meyakini bahwa konsep universal pada hakikatnya adalah sebuah persepsi partikular yang telah kehilangan karekteristiknya sehingga bentuk dari konsep tersebut menjadi ambigu. Alam mental kita menyebut konsep ambigu tersebut dengan konsep universal. Agar anda memahaminya dengan baik coba perhatikan contoh berikut ini ; kita mengambil foto salah satu teman kita melalui kamera. Jelas bahwa wajah yang ada dalam foto ini hanya menunjukkan wajah teman kita saja, bukan wajah yang lainnya. Sekarang jika sebagian dari karekteristik–karekteristik orang tersebut seperti pakaian, rambut, jenggot kita hilangkan dari foto tersebut, maka wajah yang ada dalam foto tersebut akan terlihat kurang jelas dan bisa dicocokkan pada wajah–wajah lainnya. Bahkan jika kita membuat wajahnya menjadi sedikit kurang jelas maka wajah tersebut bisa dicocokkan pada wajah manapun. Perubahan–perubahan seperti ini bisa kita saksikan dalam konsepsi alam mental kita. Perhatikan ketika anda bertemu dengan salah satu teman anda, di saat anda bertemu, bentuk dirinya muncul dalam alam mental anda. Selama beberapa waktu bentuk wajah teman anda tersimpan secara sempurna dengan seluruh karekteristiknya di dalam alam mental anda. Bentuk wajah teman anda tidak mungkin digantikan dengan wajah orang lainnya. Kemudian, selama jelang waktu yang lama anda tidak pernah lagi bertemu dengan teman anda. Hal ini menyebabkan wajah teman anda tidak begitu jelas dalam ingatan anda. Jika waktunya semakin lama maka akan menyebabkan seluruh karekteristik wajah teman anda menjadi hilang sehingga bisa dicocokkan dengan wajah orang lain. Dari sinilah muncul konsep universal tentang manusia.

Kelompok lainnya seperti nominalisme meyakini bahwa konsep universal pada hakikatnya adalah peletakan sebuah nama atau tanda pada objek–objek yang memiliki kemiripan antara satu dengan lainnya. Seperti kata manusia yang bisa dipredikatkan kepada semua orang, atau seperti kata hewan yang juga bisa dipredikatkan kepada seluruh hewan. Oleh karena itu yang dimaksud dengan konsep universal pada hakikatnya adalah sebuah penamaan bagi objek–objek yang memiliki kemiripan. Oleh karena itu sebenarnya yang ada hanyalah konsep partikular dan nominalisme tidak meyakini adanya konsep independen selain konsep partikular.

Bagi nominalisme konsep universal adalah sebuah kata yang diperuntukkan untuk hal–hal yang mirip. Proses seperti ini sangat membantu kita dalam berfikir dan berbicara karena kita tidak perlu lagi menyebutkan satu persatu objek yang memiliki kemiripan.

Agar kritikan kami terhadap dua gagasan universal di atas menjadi jelas, kami ingin mengajak anda untuk kembali kepada intuisi anda. Jalan yang paling terbaik untuk membuktikan konsep universal yaitu dengan melacak kembali konsep–konsep alam mental kita. Sebagai contoh jika ada seseorang bertanya kepada anda; Apakah anda pernah melihat manusia? Apakah anda pernah melihat gunung dan mata air? Apakah anda memelihara burung di rumah anda?

Bagaimanakah anda menkonsepsikan konsep–konsep seperti diatas? Apakah kata–kata seperti manusia, gunung, mata air, burung dst adalah sebuah konsep yang tidak jelas (ambigu) dan anda tidak ketahui (sebagaimana yang diyakini oleh Hume)? Dan atau anda hanya bersentuhan dengan kata yang bersifat umum dan kemudian anda tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh lawan bicara anda? Dalam kata lain apakah ketika anda mendengar kata burung, manusia, dan mata air, anda tidak mengetahui sama sekali maksud dari pertanyaan tersebut? Apakah anda ingin mengatakan bahwa yang ia katakan adalah burung tertentu atau manusia tertentu akan tetapi dia bertanya dengan menggunakan kata yang tidak jelas atau ambigu? Ataukah yang anda maksud sebaliknya, dalam artian bahwa setelah anda mendengar kata tersebut anda langsung mengetahui maksud yang diutarakan karena anda mengetahui makna dari kata tersebut, dengan kata lain bahwa anda mengetahui konsep tersebut bahwa konsep tersebut adalah sebuah konsep universal yang memiliki banyak misdaq di alam eksternal?

Jelas bahwa dengan sedikit menganalisa konsep yang ada di alam mental kita, secara otomatis kita akan memahami bahwa konsep universal dapat dipredikatkan kepada banyak objek tanpa memperhatikan karekteristik dari objek–objek tersebut. Saya yakin tidak seorangpun yang meragukan dalam mempersepsi konsep–konsep kata yang bersifat umum, sebagaimana kata–kata umum yang tidak memiliki predikat. Sebagai contoh ketika kita menggunakan kata ‘bisa’, apakah yang kita maksudkan adalah bisa dalam makna boleh atau dalam makna bisa ular? Jika kita hanya mengatakan bisa tanpa adanya predikat tertentu terhadapnya tentunya hal ini akan membingungkan. Tapi kata universal tidaklah seperti ini. Kata universal tidak membutuhkan sebuah predikat tertentu karena makna yang dimaksud sudah jelas oleh yang mendengarkan kata tersebut.

Mungkin saja ada orang tertentu yang masih belum menerima gagasan di atas. Mereka masih ragu dengan beberapa persoalan dan mereka belum bisa menjawabnya dengan baik. Oleh karena itu kami mencoba menggunakan argumentasi dalam kesempatan ini untuk membuktikan  konsep universal :

Ketika kita ingin meletakkan kata untuk makna tertentu, pertama–tama kita menkonsepsi makna tersebut dan kemudian kita meletakkan kata untuknya. Contohnya kita melihat seseorang dan kita memberikan nama kepadanya dengan nama ‘Hasan’. Selanjutnya kita melihat orang lain lagi dan kita memberikan nama yang sama, sampai dengan orang yang ketiga kitapun memberikan nama kepadanya dengan nama yang sama ‘Hasan’. Segala bentuk musytarak lafzi (equivocal) bentuknya demikian. Maksudnya bahwa setiap saat kita ingin meletakkan kata pada satu makna tertentu maka tentunya kita harus mempersepsi makna dari kata tersebut secara terpisah. Oleh karena itu jika kita meyakini bahwa kata seperti kata ‘bisa’ memiliki banyak makna, hal ini menunjukkan bahwa kita meletakkan banyak makna dari kata tersebut dan masing–masing memiliki fungsi yang berbeda–beda sebagaimana lazimnya dalam kata equivocal.

Sekarang jika kita ingin meletakkan sebuah kata dalam bentuk equivokal, maksudnya bahwa kita ingin meletakkan sebuah kata untuk objek–objek yang tak terhingga yang bisa menunjukkan misdaq yang tak terhingga maka kita harus menkonsepsi satu persatu objek–objek yang tak terhingga tersebut. Setiap kata tersebut kita gunakan untuk satu objek tertentu, maka hal ini melazimkan menkonsepsi objek–objek tak terhingga tersebut dan juga meletakkan makna terhadap objek yang tak terbatas. Jelas bahwa tidak seorang pun yang mampu melakukan hal tersebut. Alam mental kita tidak memiliki kemampuan untuk mempersepsi hal–hal yang tak terbatas. Di sisi lain kita tidak mungkin mengingkari hadirnya konsep universal dalam alam mental kita, termasuk kata yang merupakan presentasi dari objek tersebut. Bahkan baik Hume maupun nominalisme tidak mungkin mengingkari hal tersebut.

Lalu bagaimanakah proses peletakan kata–kata tersebut? Mungkin ada yang memberikan solusi sebagai berikut bahwa kita tidak mesti menkonsepsi objek–objek yang tidak terbatas tersebut sehingga muncul kritikan seperti diatas. Akan tetapi cukup dengan menkonsepsi sebagian saja dari objek–objek yang mirip tersebut dan kemudian kita meletakkan kata untuknya, selanjutnya nama tersebut kita generalisasi pada hal–hal yang mirip dengan objek tersebut. Misalnya kita menkonsepsi buku tertentu dan kemudian kata buku tersebut kita letakkan juga pada buku lainnya atau hal–hal yang mirip dengan buku tersebut. Sebagaimana juga dengan kata manusia yang mana kita letakkan kata tersebut setelah kita menkonsepsi beberapa orang tertentu  dan hal–hal yang mirip dengannya. Jalan keluar ini secara sepintas mungkin saja memuaskan akan tetapi jika kita kaji secara seksama kalimat berikut; ‘kita meletakkan kata untuk objek–objek tertentu dan segala bentuk yang mirip dengannya’. Dalam kalimat tersebut kita menemukan terdapat beberapa penggunaan konsep universal. Konsep ‘segala’, sesuatu, seperti, semuanya adalah konsep universal. Justru yang kita harus pertanyakan bagaimanakah konsep tersebut muncul. Oleh karena itu menurut hemat kami jalan keluar yang diberikan di atas bukanlah jalan keluar yang benar dan tidak akan memberikan jawaban sebagaimana pertanyaan diatas.

Kami akan mempertegas dalam kesempatan ini bahwa kita memiliki potensi khusus yang dapat mempersepsi konsep–konsep universal. Potensi indrawi kita seperti mata, telinga dan lainnya hanya bisa menangkap hal–hal yang bersifat partikular. Sedangkan yang menangkap persepsi universal adalah sebuah persepsi khusus yang disebut dengan akal. Mereka yang menafikan potensi akal sebagai sebuah potensi yang menangkap hal–hal yang bersifat universal meyakini bahwa konsep universal hanyalah sebuah persepsi partikular yang buram (ambigu). Sehingga jangan heran jika mereka menafikan potensi akal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: