RISALAH PANDANGAN DUNIA (19)

Oleh : Muhammad Nur

TAUHID

          Setelah melalui pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan pembuktian wujud Tuhan. Sekarang, kami akan membahas persoalan tauhid. Beberapa argumentasi dalam membuktikan ke-esa-an Tuhan akan dianalisa.

          Hal yang perlu diperhatikan sebelum memasuki pembahasan ini, memperjelas makna yang benar dari kata ‘tauhid’ secara mendalam. Kami akan menjelaskan  makna ambigu dari kata tauhid yang mungkin ditemukan dan telah digunakan oleh golongan tertentu.

Kata Tauhid

           Kata tauhid menurut bahasa berdasarkan timbangan ‘taf‘îl’. Akar katanya berasal dari ‘wahada’. Salah satu makna bab ‘taf‘îl’ dalam bahasa arab adalah menyifatkan sebuah sifat kepada seseorang atau kepada sesuatu. Oleh karena itu seperti kata ta‘zhîm, takrîm, tamjîd satu persatu bermakna membesarkan, memuliakan, pemujaan. Begitu pula dengan kata takfîr dan tafsîq satu persatu bermakna mengkafirkan dan memfasikkan.

          Dengan memperhatikan hal di atas maka tauhid bermakna meng-esa-kan. Namun ada sebagian kalangan yang kurang mengerti bahasa arab memaknai tauhid dengan men-satu-kan atau membuat menjadi satu. Akhirnya, berdasarkan dengan anggapan yang salah tersebut menyimpulkan bahwa persoalan tauhid dalam Islam berkaitan dengan permasalahan-permasalan sosial yaitu; menciptakan kesatuan strata sosial masyarakat dan menafikan kelas-kelas sosial masyarakat. Mereka mengatakan; men-satu-kan kaitannya dengan Tuhan tidak akan dapat memiliki makna dan konsep yang benar serta rasional. Oleh karenanya kita terpaksa memaknai tauhid seperti ini. Tentunya anggapan ini adalah anggapan yang salah. Dengan memperhatikan makna yang benar dari kata tauhid akan nampak dengan jelas mengapa mereka bisa beranggapan dan menyimpulkan seperti itu. Makna yang mereka ambil sangat berbeda dengan maknanya yang benar dan tentunya juga bertentangan dengan dasar pemikiran Islam.

Pembagian Tauhid

           Pada umumnya, filosof dan teolog membahas tentang pembagian jenis-jenis tauhid dalam kitab-kitab mereka. Pembagian yang paling penting dalam persoalan tauhid adalah; tauhid dalam zat, tauhid dalam sifat, dan tauhid dalam perbuatan. Dalam pembahasan yang akan datang, kami akan menjelaskan pembagian lain dari tauhid setelah menjelaskan pembagian tauhid di atas.

Tauhid dalam Zat

           Menurut sebagian filosof dan teolog, tauhid dalam zat menjelaskan bahwa zat Tuhan itu esa dan sederhana secara mutlak (tidak memiliki rangkapan sama sekali). Dalam kata lain, zat Tuhan tidak memiliki bagian-bagian partikular. Di sisi lain tidak ada sekutu bagi Tuhan pada alam eksternal. Oleh karena itu, Tuhan adalah esa dan tunggal.

Tauhid dalam Sifat

           Tauhid dalam sifat menjelaskan bahwa sifat Tuhan adalah zat-Nya itu sendiri, bukan di luar dari zat-Nya. Dalam kata lain, hal tersebut bukan berarti bahwa zat Tuhan adalah sesuatu dan masing-masing dari sifat-Nya adalah sesuatu yang terpisah dari zat dan terpisah satu sama lain. Bahkan secara ontologis sifat-sifat-Nya satu sama lain adalah sama dan zat-Nya itu sendiri. Agar dapat dimengerti lebih jauh, kita dapat mengamati kualitas jiwa dalam diri kita; seperti sifat ilmu, kudrah, taqwa, dst, yang terdapat dalam diri manusia adalah sifat-sifat yang bukan zat karena sifat-sifat tersebut didapatkan setelah melewati beberapa tahapan atau yang biasa disebut dengan perolehan (iktisâbî). Oleh karena itu, tidak semua sifat-sifat tersebut terdapat dalam seluruh manusia dan jika sifat-sifat tersebut diasumsikan sebagai zati maka sifat-sifat tersebut senantiasa ada dalam diri manusia. Maka zat manusia yang ‘âlim (subjek yang mengetahui) terpisah dari ilmunya dimana jika zat dirinya dipisahkan dari ilmunya tidak akan melazimkan kemustahilan. Namun berkenaan dengan Tuhan tentunya tidak demikian. Sifat-sifat Tuhan adalah zat-Nya itu sendiri dan oleh karenanya keterpisahan sifat-sifat Tuhan dari zat-Nya akan melazimkan kemustahilan, karena antara zat dan sifat-sifat-Nya adalah satu, bukan dua sesuatu yang terpisah. Hal ini yang biasanya dikatakan oleh para filosof bahwa penafian zat dari zat dirinya adalah mustahil.

Tauhid dalam Perbuatan

           Tauhid perbuatan menjelaskan bahwa tidak satupun dari perbuatan Tuhan membutuhkan pertolongan serta bantuan dan pelaku setiap perbuatan berasal dari-Nya yang hanya terbatas pada zat-Nya yang tunggal. Pada prinsipnya tidak ada wujud lain yang dapat membantunya karena Dia adalah Maha Kaya dan tidak butuh sama sekali kepada makhluk. Dalam kata lain kita dapat mengatakan bahwa sebagaimana Tuhan dalam zat diri-Nya tidak ada yang menyekutuinya maka dalam perbuatan, tidak ada satu pun dari keberadaan yang dapat menyekutuinya. 

          Istilah yang lain dalam menjelaskan ‘tauhid dalam perbuatan’ oleh sebagian filosof Islam sebagai berikut; bahwa Tuhan menciptakan seluruh alam keberadaan beserta segala yang ada di dalamnya dengan satu perintah. Maksudnya bahwa seluruh keberadaan alam dengan karekteristik ruang dan waktu yang dimilikinya meng-ada dan memakai pakaian eksistensi melalui perkara takwini ‘kun’ (jadilah). Namun hal ini bukan dalam pengertian bahwa seluruh keberadaan mulai dari permulaan hingga akhir semuanya ada dalam satu satuan waktu dan berkumpul dalam satu potongan waktu tertentu. Namun maksudnya adalah bahwa masing-masing dari fenomena-fenomena eksistensi tersebut dengan syarat-syarat ruang dan waktu tertentu muncul dengan sebuah perkara takwini. Oleh karena itu dalam surah Al-Qamar ayat 50 dijelaskan: “Dan perintah Kami hanyalah satu ucapan seperti kejapan mata.” Ayat tersebut mengisyaratkan tentang makna yang dimaksud dan berhubungan dengan persoalan tauhid dalam perbuatan.

Pandangan Urafa

           Apa yang telah kami jelaskan sebelumnya berkaitan dengan pembagian tauhid di atas adalah berkaitan dengan pandangan filosof dan teolog. Namun urafa dan para ahli sayr suluk memiliki makna dan pengertian yang lain dalam pembagian jenis tauhid. Urafa meyakini bahwa pembagian tauhid tersebut digunakan berkenaan dengan kondisi-kondisi sâlik. Maksudnya bahwa kondisi-kondisi ini dimulai dari tauhid perbuatan kemudian tauhid sifat dan akhirnya sampai pada tauhid zat. Tauhid perbuatan dalam pandangan mereka adalah setelah sang sâlik melewati beberapa pendahuluan sayr dan sulûk kemudian memperoleh makrifat jiwa maka pertama-tama yang disaksikan adalah tauhid perbuatan. Pada saat itu dia akan menyaksikan bahwa tidak satu pun dari perbuatan yang tidak berasal dari Tuhan. Pelaku serta pemberi pengaruh secara hakiki dalam seluruh perbuatan adalah Tuhan. Setiap pelaku yang lain bagi setiap perbuatan yang diasumsikan tidak memiliki keindependenan dalam memberikan pengaruh, akan tetapi pengaruh serta perbuatan adalah pemberian dari Tuhan.

          Setelah sang arif sampai dalam maqam tauhid perbuatan, maka dia akan menyaksikan sifat-sifat kesempurnaan keberadaan-keberadaan dan ciptaan-ciptaan eksistensi tidak memiliki independen, bahkan seluruh sifat-sifat tersebut beserta efek-efeknya berasal dari Tuhan secara hakiki. Mereka menyaksikan sifat-sifat mumkin tersebut hanya sebagai manifestasi-manifestasi sifat kesempurnaan zat Tuhan. Jika sifat seperti ilmu, kudrah, kehidupan, terdapat dalam keberadaan-keberadaan lainnya maka pada hakikatnya sifat-sifat tersebut berasal dari Tuhan dan apa yang disaksikan dalam entitas-entitas mumkin dan makhluk-makhluk yang ada merupakan manifestasi-manifestasi dari sumber asli sifat-sifat tersebut yaitu berasal dari Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan tauhid sifat.

          Pada akhirnya sang sâlik dalam sayr sulûk irfaninya dan dengan penyaksian-penyaksian hudhurinya akan sampai pada suatu maqam dimana dia akan menyaksikan bahwa bukan hanya perbuatan pelaku-pelaku dan sifat-sifat keberadaan-keberadaan yang tidak memiliki keindependenan, namun dasar eksistensi dalam keberadaan-keberadaan tidak memiliki keindependenan dan bukan fundamental. Bahkan seluruh keberadaan-keberadaan ini adalah kebergantungan itu sendiri dimana seluruh makhluk dan entitas-entitas mumkin di alam ini bergantung kepada Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan tauhid zat yaitu wujud independen dan hakiki yang tak lain adalah Tuhan itu sendiri dan seluruh keberadaan-keberadaan yang lain adalah keberadaan yang bergantung dan bayangan semata.

          Namun dari kalangan urafa sendiri terdapat pandangan yang berbeda berkenaan dengan persoalan tauhid zat. Jika dilihat secara lahiriyah, sebagian pernyataan mereka terdapat ambigu dan memunculkan persoalan. Oleh karenanya, kita harus berpikir lebih jauh jika ingin menerima pernyataan mereka. Namun pada saat yang sama kita tidak berprasangka buruk terhadap para urafa. Pernyataan-pernyataan mereka dapat diinterpretasi ke arah pengertian yang benar. Salah satu contoh dari pernyataan mereka adalah mengenai gagasan wahdatul wujud. Kita dapat menginterpretasikan pernyataan mereka bahwa yang dimaksud dengan wahdatul wujud yaitu bahwa hanya ada satu wujud yang independen dan berdiri sendiri, sedangkan wujud yang lainnya merupakan bayangan atau manifestasi dari wujud tersebut. Tidak satupun dari seorang muslim yang mengatakan bahwa seluruh keberadaan adalah Tuhan karena akan melazimkan Tuhan memiliki rangkapan dan masing-masing dari rangkapan tersebut merupakan bagian dari diri-Nya.  Di sisi lain para urafa menjelaskan persoalan lain yang bertentangan dengan persoalan wahdatul wujud. Oleh karena itu, meskipun secara lahiriah pernyataan-pernyataan urafa bersifat ambigu dan memang lebih baik menghindari pernyataan-pernyataan yang bersifat ambigu, namun kami meyakini bahwa kita dapat mencari solusi yang tepat dalam memaknai pernyataan-pernyataan urafa. Boleh jadi, maksud sebenarnya dari pernyataan mereka berbeda dengan yang telah dikatakan sebelumnya. Sebagaimana dalam Quran terdapat kalimat-kalimat mutasyabih, maka pernyataan urafa pun demikian halnya. Berdasarkan hal ini, kita dapat menafsirkan pernyataan-pernyataan urafa yang bersifat ambigu dan mutasyabih, berdasarkan atas pernyataan mereka yang jelas. Menurut kami metode ini adalah metode yang paling baik dalam menganalisa pernyataan mereka.                             

       (Diterjermahkan dari Buku : “Ămuzesy-e ‘Aqâ‘id” Tim Penulis : Mohsen Gharaveyân, Mohammad Reza Ghulâmî, Sayed Mohammad Husain  Mirbâqerî).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: