PLURALISME AGAMA DAN WAHYU (2)

Oleh : Ruhullah Syams

Penilaian Al-Quran (Islam) Terhadap Kitab-kitab  Lainnya

Sebab manusia diciptakan sebagai maujud dinamis dan pencari kesempurnaan, maka pencipta manusia untuk memenuhi kebutuhan substansial manusia ini di sepanjang zaman senantiasa mengundangnya kepada maqam kesempurnaan dan spiritual lewat ajaran dan hidayah para nabi-Nya. Prinsip dasar hidayah para nabi dan pembimbing manusia adalah satu dan bersumber dari satu mabda: “Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat; di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya” (QS. Al-Maidah [5]: 44). Tuhan, tentang Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as berfirman: “… di sisi mereka Kitab Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah…” (QS. Al-Maidah [5]: 43) dan tentang Kitab Injil yang dikirimkan untuk Nabi Isa as berfirman: “Dan Kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Maidah [5]: 46).

Jika ahli kitab menjaga dua kitab ini dari kekotoran tahrif dan mengamalkan segala apa yang diturunkan Tuhan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan berkah dari langit dan bumi: “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” (QS. Al-Maidah [5]: 66).

Al-Quran mengungkapkan secara terang tentang adanya kekotoran tahrif yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap kitab-kitab sebelumnya: “Di antara orang Yahudi (terdapat golongan orang) yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya …” (QS. An-Nisa [4]: 46), maksudnya melakukan tahrif terhadap kitab-kitab suci. Demikian juga ayat berikut ini menjelaskan perbuatan mereka yang melakukan tahrif terhadap perkataan-perkataan Tuhan: “Maka apakah kamu sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya? (QS. Al-Baqarah [2]: 75). 

Al-Quran, dalam masalah ini sangat mencela perbuatan mereka dan Tuhan melaknat pelaku-pelaku tersebut: “Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Quran), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat” (QS. Al-Baqarah [2]: 159).

Demikianlah Al-Quran memandang kitab-kitab sebelumnya sebagai kitab-kitab yang mengandung hidayah, bimbingan, dan petunjuk bagi manusia kepada kesempurnaan dan spiritual. Akan tetapi dikarenakan adanya kekotoran tahrif di dalam kitab-kitab tersebut maka masa berlakunya untuk menuntun manusia sudah berakhir dan digantikan dengan wahyu final dan kitab terakhir yang mengandung kesempurnaan-kesempurnaan kitab-kitab sebelumnya dan minus serta terjaga dari kekotoran tahrif.

Oleh karena itu, Al-Quran, dikarenakan terjaga dari tangan-tangan penahrif dan tidak terjadi di dalamnya pengurangan, penambahan, dan tahrif maka dia menjadi mizan dan tolok ukur kebenaran kandungan dan isi (yang tetap terjaga dari tahrif) bagi kitab-kitab suci lainnya. Berdasarkan ini, penyimpangan-penyimpangan yang ada dapat diluruskan dan penyelewengan ajaran Ilahiah yang disisipkan dapat dibersihkan dengan dimizankan dengan kandungan dan isi dari Al-Quran.

Di samping itu pembawa wahyu final dan khâtam yaitu Nabi khâtam Muhammad SAW, di banding atas nabi-nabi lainnya mempunyai kesempurnaan, kemuliaan, dan keutamaan yang lebih daripada mereka. Dan dia menjadi muhaimin atas mereka; sebab maqam dan kedudukan Nabi khâtam adalah setingkat dengan wahyu khâtam; sebagaimana para nabi sebelumnya sederajat dengan kitab-kitab suci mereka dan Al-Quran Al-Karim adalah muhaimin (penjaga) atas semua kitab-kitab suci: “Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya” (QS. Al-Maidah [5]: 48). Oleh karena itu, Rasul khâtam Muhammad SAW adalah muhaimin atas seluruh rasu-rasul Ilahi.

Berdasarkan maqam dan kedudukan Nabi khâtam Islam SAW ini maka Al-Quran menyatakan: “Dan bagaimanakah, jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka” (QS. An-Nisa [4]: 41). Yakni, Tuhan mendatangkan saksi (sebelumnya kami telah memaknai saksi adalah meliputi) dalam bentuk mengutus seorang nabi, rasul, atau imam bagi setiap umat yang mengawasi akidah, aturan, dan amal perbuatan mereka dan Nabi khâtam Muhammad SAW adalah saksi atas semua saksi-saksi tersebut, sebab beliau SAW adalah muhaimin atas seluruh nabi, rasul, imam, dan seluruh umat manusia. Karena itu dalam hadits, tentang kedudukan beliau SAW kita baca: Yang paling awal diciptakan Allah adalah cahayaku. Beliau mempunyai kedahuluan esensial atas seluruh ciptaan dan keniscayaan dari kedahuluan esensial adalah peliputan eksistensial terhadap eksistensi-eksistensi lainnya dan menjadi penyebab terhadap sebab-sebab di bawahnya. Oleh karena itu, apa saja di alam imkan ini mencium harum eksistensi maka semua mereka itu berasal dari semerbak wangi hadhrat khâtmi martabat SAW dan dengan perantara cahayanya alam eksistensi imkan ini mendapatkan cahaya dari sumber cahaya yaitu cahaya di atas cahaya (Allah SWT).

Komprehensi Agama dan Khâtamiyyah

Sebelumnya telah kita katakan bahwa agama mempunyai makna taslim, jalan, dan balasan. Agama-agama Ilahi (baca: kitab-kitab Ilahi) diturunkan untuk memberi hidayah pada manusia dan dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan, mereka satu sama lain saling menyempurnakan. Agama-agama Ilahi ditinjau dari dimensi kebenarannya tidak memiliki perbedaan antara satu dan lainnya dan hanya ditinjau dari segi syarat tempat dan zaman dalam mizan program hidayah mempunyai intensitas kuat dan lemah. Agama Islam adalah agama Ilahi yang paling akhir diturunkan dan merupakan paling sempurnanya agama Ilahi serta nabinya dan kitabnya merupakan khâtam anbiyâ dan kitab-kitab suci.

Adapun pluralisme agama yang berkembang saat ini tidaklah menerima pengertian agama, kebenaran agama-agama, dan khâtamiyyah (kesempurnaan agama akhir) yang kita maksudkan di atas. Sebab menurut terma mereka tidak ada keunggulan agama-agama Ilahi dibandingkan agama-agama non-Ilahi dan maktab-maktab non-agama. Karena itu pluralisme agama dalam bentuk ini memestikan penurunan derajat agama Ilahi dan mensejajarkan maktab buatan manusia dengan agama yang diturunkan Tuhan serta melakukan distorsi terhadap ajaran agama yang sempurna dengan pengaburan menyandingkannya dengan  agama-agama yang  telah ternodai tahrif dan bahkan agama atau maktab buatan manusia sekalipun.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: