RISALAH PANDANGAN DUNIA (8)

Oleh : Muhammad Nur

 

Filsafat Ketuhanan

Muqaddimah

Penemuan historis manusia beserta jejak-jejak peninggalan manusia sebelumnya menunjukkan bahwa manusia senantiasa ingin mengetahui dan mencari asal mula keberadaan dirinya. Mungkin, salah satu pertanyaan yang paling penting dan primer dalam persoalan ontologi adalah dari manakah asal mula keberadaan dirinya? Demikian juga berkenaan dengan pembahasan tentang Tuhan senantiasa menjadi perhatian yang terus menerus eksis dalam pemikiran manusia. Pembahasan tentang Tuhan yang merupakan salah satu pembahasan penting pandangan dunia ini tidak pernah surut untuk dibahas. Namun tidak diragukan juga terkadang manusia lalai terhadap persoalan tersebut dikarenakan mereka terperosok pada dunia materi dan menyibukkan dirinya pada hal-hal yang bersifat hewaniah. Akan tetapi pada umumnya yang kita temukan pada sejarah pemikiran manusia sejak awal keberadaannya menunjukkan bahwa berdasarkan tabiat manusia yang ada dalam dirinya senantiasa ingin mencari jawaban atau sebab akan hakikat dirinya. Hal ini meniscayakan bahwa dirinya senantiasa ingin mengungkap sebab keberadaan dirinya. Tidak pernah terjadi dalam sejarah dimana pembahasan mengenai keberadaan Tuhan hilang dalam kehidupan pemikiran manusia.

Hal di atas menunjukkan bahwa jika prinsip kepercayaan kepada Tuhan bagi manusia tidak dianggap sebagai suatu hal yang bersifat fitrawi, namun minimal pembahasan akan wujud yaitu wujud Tuhan sebagai sesuatu yang bersifat intuitif dan bersifat zati dalam diri manusia. Oleh karena itu teori-teori yang dilontarkan oleh para ahli sosiologi yang mengatakan bahwa faktor-faktor penyebab keyakinan manusia terhadap Tuhan adalah kejahilan, takut, ekonomi, dst, tidak memiliki pondasi pemikiran yang benar.

Berdasarkan hal di atas pada kesempatan kali ini kami akan membahas persoalan ketuhanan sebagai pembahasan yang sangat penting dalam pembahasan ontologi. Kami akan menjelaskan prinsip ini sebagai hal yang sangat fundamental dalam pandangan dunia Islam.

Menjelaskan Beberapa Prinsip Penting

Sebelum masuk pada inti pembahasan serta menjelaskan beberapa argumentasi penting dalam membuktikan wujud Tuhan, kami akan menjelaskan terlebih dahulu pondasi pemikirannya. Yang dimaksud dalam hal ini dengan Tuhan adalah sebuah eksistensi yang independen, tidak bergantung pada apapun, dan merupakan sumber keberadaan bagi seluruh kesempurnaan eksistensi. Sebuah keberadaan dimana keberadaan dirinya tidak membutuhkan pada apapun. Namun selain diri-Nya membutuhkan keberadaan-Nya. Dalam istilah filsafat, Tuhan adalah wajibul wujud. Segala wujud selain diri-Nya adalah mumkin wujud dimana keberadaannya berasal dari Dia. Oleh karena itu Tuhan adalah sebab pertama sedangkan keberadaan lainnya adalah akibat.

Sekarang kami akan menjelaskan tiga persoalan yaitu ‘wajib dan mumkin’, ‘sebab dan akibat’ serta ‘kemustahilan daur dan tasalsul’ :

A.Wajib dan Mumkin

Yang dimaksud dengan ‘wajibul wujud’ adalah sebuah keberadaan dimana dalam keberadaan dirinya tidak bergantung pada apapun dan juga keberadaan dirinya tidak diambil dari yang lain. Wujud seperti ini disebut dengan wajibul wujud atau dalam bahasa agama  biasanya disebut dengan Tuhan. Di sisi lain mumkin wujud bermakna kefakiran wujud atau wujud yang bergantung pada yang lain. Oleh karena itu mumkin wujud adalah sebuah keberadaan dimana secara zati atau substansi membutuhkan pada yang lain. Hal ini meniscayakan keberadaan dirinya didapatkan dari sumber lainnya.

Oleh karena itu kita dapat membagi secara garis besar keberadaan alam pada dua bagian ; mumkin wujud dan wajibul wujud (perlu kami ingatkan bahwa berkenaan dengan pembahasan ke-esa-an wujud akan kami bahas dalam bab tauhid).

B.Sebab dan Akibat

Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan-keberadaan alam eksistensi satu sama lain saling berhubungan. Salah satu hubungan yang bisa diasumsikan di antara dua wujud mumkin adalah hubungan eksistensial. Maksudnya bahwa sebuah keberadaan dalam inti keberadaannya bergantung kepada wujud lainnya. Berbeda dengan hubungan yang terjadi misalnya antara kertas dengan pena, tentunya hubungan yang terjadi padanya bukanlah hubungan eksistensi. Dalam kata lain keberadaan sebuah kertas dalam kewujudan dirinya tidak butuh pada pena atau penulis. Begitupun juga jika ada hubungan antara pena dan penulis tentunya hubungan tersebut bukanlah hubungan eksistensi dan dalam penciptaannya membutuhkan kepada yang lainnya. Selain hubungan di antara dua wujud yang dijelaskan sebelumnya ada hubungan lain yang bisa kita asumsikan dalam kaitannya dengan hubungan eksistensi dan wujudi. Dalam artian bahwa salah satu dari dua sisi hubungan tersebut dalam inti keberadaannya membutuhkan kepada yang lainnya. Untuk menjelaskan persoalan ini anda bisa perhatikan contoh berikut ini :

Ketika anda menggambarkan dalam benak anda seekor burung yang besar dengan panjang sayapnya hingga dua meter, tanpa diragukan gambaran yang ada dalam benak anda tentunya sangat berhubungan dengan diri anda. Jika diperhatikan dengan seksama, anda akan mengetahui bahwa hubungan ini tidak seperti dengan hubungan anda dengan buku, pena, dan sesuatu lainnya. Karena hubungan antara anda dengan konsep yang ada dalam benak anda adalah bersifat zati, jika anda tidak menginginkan menciptakannya – dalam hal ini mempersepsinya –  maka gambaran tersebut tidak akan pernah wujud. Dalam kata lain bahwa gambaran tersebut pada prinsip keberadaannya bergantung pada anda dan iradah anda. Keberadaan gambaran tersebut di alam mental sejak awal, bergantung pada anda dalam keberlangsungannya. Juga bergantung sepenuhnya pada anda dan iradah anda. Kapan saja anda menginginkan jawaban tersebut jauh dari benak anda, maka akan sirna dengan sekejap. Penjelasan lebih jauh bahwa keberadaan gambaran dalam benak anda bahwa kapan saja anda tidak menginginkannya untuk eksis maka niscaya gambaran tersebut tidak akan pernah muncul.

Hubungan kausalitas di antara dua wujud adalah sebagaimana yang kami isyaratkan di atas. Dari gambaran tersebut kita bisa melihat perbedaan yang sangat esensi dengan beragam kategori pembagian hubungan-hubungan di antara dua wujud. Di sini tepat kiranya jika mengisyaratkan suatu hal bahwa hubungan kausalitas yang dibahas dalam kesempatan ini lebih spesifik dari konsep kausalitas yang biasanya dipahami oleh masyarakat umum, karena biasanya masyarakat umum memahami bahwa kausalitas adalah hubungan antara dua sesuatu secara kebergantungan walaupun hubungan tersebut tidak memiliki hubungan secara eksistensi dan karena itu asumsi ini hanya asumsi awam saja. Bahkan terkadang anggapan ini semakin diperluas hingga istilah kausalitas ini juga meliputi hal-hal yang bersifat i’tibari. Sebagai contoh terkadang dikatakan ; ‘melanggar rambu-rambu lalu lintas dan mengendarai mengakibatkan adanya pembayaran denda’. Menurut tinjauan filsafat, penggunaan kalimat kausalitas dalam hal ini tidak benar, karena hubungan kausalitas hanya berkaitan dengan hubungan eksistensial di antara dua wujud di mana salah satu dari dua wujud tersebut dalam inti keberadaannya bergantung pada yang lainnya (akibat). Di sisi lain wujud lainnya dalam inti keberadaannya tidak membutuhkan pada akibat tersebut walaupun mungkin saja dirinya disebabkan oleh yang lain dan butuh pada yang lain.

Pembagian Sebab

Para Filosof membagi sebab tersebut pada empat pembagian :

  1. Sebab efisien : adalah sebab dimana akan keluar darinya aktual dan akibat.
  2. Sebab materi : adalah sebab dimana aktual dilakukan berdasarkan atasnya dan tempat bernaungnya akibat.
  3. Sebab formal : adalah sebab dimana aktualitas akibat bergantung padanya dan jika hal tersebut tidak ada maka akibat tidak memiliki bentuk yang nyata.
  4. Sebab final : adalah sebab dimana akibat dikarenakan sebab tersebut keluar agen (subjek) darinya.

Untuk menjelaskan pembagian tersebut perhatikanlah contoh berikut ini ; untuk membuat sebuah meja, pertama: sebagai seorang tukang kayu yang akan membuat meja tersebut, hal yang dia butuhkan adalah desain dimana desain tersebut disebut sebagai sebab efisien. Kedua: kayu dan materi-materi lainnya yang memerankan sebagai sebab materi dalam membuat meja. Ketiga: bentuk tertentu dimana jika hal tersebut berubah maka meja tersebut tidak akan jadi, oleh karena itu bentuk tersebut dianggap sebagai sebab yang memberikan kesempurnaan pada meja. Keempat: jika tidak ada tujuan dalam pikiran seorang tukang kayu dalam membuat meja maka dia tidak akan pernah menyentuh bahan-bahan tersebut dalam membuat sebuah meja, oleh karena itu tujuan adalah salah satu sebab dalam membuat sebuah meja.

Oleh karena itu berdasarkan contoh di atas harus diperhatikan bahwa jika seluruh keempat sebab-sebab tersebut telah merealitas maka ‘sebab sempurna’ pun telah merealitas juga. Jika hanya salah satu, atau dua, atau tiga dari keempat sebab tersebut dalam menghasilkan sebuah akibat maka bisa dikatakan ‘sebab tak sempurna’ telah merealitas.

Harus diketahui bahwa hubungan eksistensi di antara wujud-wujud yang ada yang disebut dengan sebab, pada hakikatnya sebab tersebut adalah sebab efisien yang memberikan wujud kepada akibatnya di mana sebab yang memberikan wujud ini adalah wajibul wujud. Di sisi lain apa yang disebut dengan ‘sebab penyiap’ atau ‘sebab syarat’ dalam pandangan Filosof adalah sebab materi dan sebab bentuk.

Tolak Ukur Kebutuhan Akibat kepada Sebab

Sekarang, setelah kita membagi keberadaan kepada wujud kaya dan wujud miskin atau wujud independen dan wujud bergantung, atau dalam kata lain sebab dan akibat, pembahasan selanjutnya berkenaan dengan tolak ukur kebutuhan wujud akibat kepada sebab. Pembahasan ini adalah salah satu pembahasan penting dalam pembasahan sebab dan akibat dan banyak pandangan berkenaan dengan pembahasan tersebut.

Sebagian materialisme tidak dapat menemukan rahasia dibalik pembahasan tersebut. Mereka meyakini bahwa tolak ukur kebutuhan akibat kepada sebab adalah wujud itu sendiri. Maksudnya bahwa setiap wujud dari sisi kewujudannya butuh kepada sebab. Kesalahan besar mereka adalah karena mereka tidak bisa memahami dengan baik pembagian besar wujud kepada wujud kaya dan wujud faqir! Setelah kami menjelaskan pembahasan ini bahwa wujud tersebut kami bagi menjadi dua pembagian besar yaitu wujud kaya dan wujud miskin, kami ingin mengatakan bahwa tidaklah demikian halnya setiap wujud dari sisi kewujudannya membutuhkan sebab, namun hanya wujud-wujud faqir saja yang bergantung dan membutuhkan sebab. Akan tetapi wujud yang independen dan kaya sama sekali tidak butuh kepada sesuatu di luar dirinya.

Oleh karena itu pertanyaan tentang  siapakah yang menciptakan Tuhan? Sebuah pertanyaan yang tidak benar. Dikarenakan Tuhan adalah wujud yang Maha kaya, independen dan wajibul wujud dan sama sekali tidak bisa diasumsikan tentang tolak ukur kebutuhan akibat terhadap sebab padanya.

Kaum Teolog meyakini bahwa tolak ukur kebutuhan akibat kepada sebab adalah ‘huduts’ (baru). Berdasarkan hal ini kesimpulannya adalah bahwa jika wujud tersebut adalah wujud qadim (lama) maka wujud tersebut tidak lagi membutuhkan sebab, dan juga setiap wujud akibat niscaya didahului oleh ketiadaan di mana pada waktu tertentu wujud tersebut menjadi huduts.

Pandangan yang benar menurut kami berkaitan dengan pembahasan ini adalah bahwa tolak ukur kebutuhan akibat kepada sebab adalah kefakiran wujud, maksudnya bahwa ‘wujud faqir’ dari sisi  bahwa secara substansi adalah faqir senantiasa membutuhkan sebab, baik itu wujud tersebut qadim ataupun huduts sebagaimana yang dipahami oleh kaum Teolog. Pandangan ini mengatakan bahwa dikarenakan kefakiran secara substansi pada wujud akibat maka niscaya membutuhkan sebab, walaupun wujud tersebut qadim zamani maka tetap membutuhkan kepada sebab qadim. Dalam artian bahwa keqadiman wujud akibat sama sekali tidak bermakna bahwa wujud tersebut menjadi kaya. Keqadiman wujud akibat juga tidak bertentangan akan kebutuhan dia kepada sebab pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu rahasia kebutuhan akibat terhadap sebab bukan hanya terbatas kepada kewujudannya dan begitu juga pada huduts, akan tetapi tolak ukur yang paling fundamental adalah kefakiran wujud dan kefakiran substansial akibat kepada sebab.

  1. Mitsal tidak saja menjadi media yang menyampaikan pengetahuan2 baru tapi juga menjadi buku diantara banyak buku di perpustakaan yang dapat membantu kami untuk menjadi rujukan atau refensi pengetahuan. Terimakasih Mitsal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: