Pendeta Nasrani yang Membuat Hujan

Pada masa, Imam Hasan az-Zaki al-Askari musim kemarau melanda kota Baghdad. Orang-orang sangat risau dan kuatir terhadap keadaan ini. Mereka berdoa untuk turunnya hujan, akan tetapi hujan tidak kunjung turun. Lalu terjadilah sebuah kejadian yang aneh dan asing. Seorang pendeta Nasrani datang ke tempat itu dan berkata kepada kaum Muslimin bahwa ia mampu membuat hujan turun. Ia menengadahkan tangannya ke atas langit untuk berdoa, dan berkat doanya hujan turun dengan lebatnya.

Pada hari berikutnya, ia melakukan hal yang sama. Pendeta Nasrani itu kemudian berkata kepada orang-orang untuk mengikutinya dan meninggalkan Islam. Banyak orang berpikir bahwa apabila ia dengan kekuatan seperti ini, barangkali agamanya adalah agama yang benar. Kaum Muslimin menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka datang kepada Imam Hasan az-Zaki al-Askari  untuk meminta nasihat darinya. Imam Hasan al-Askari berkata kepada mereka bahwa pada kesempatan berikutnya apabila pendeta Nasrani itu mengumpulkan orang-orang, ia akan datang dan menolong mereka.

Pada pertemuan selanjutnya, Imam Hasan meminta kepada pendeta Nasrani itu untuk berdoa supaya turun hujan. Ketika pendeta Nasrani itu menengadahkan tangannya ke atas untuk berdoa hujan mulai turun. Imam Hasan meminta bahwa apa saja yang ada di tangan si pendeta itu harus diambil dan kemudian memintanya untuk berdoa supaya hujan turun lagi. Si pendeta itu mencoba dan mencoba akan tetapi ia tidak dapat membuat hujan turun. Ia merasa malu karena ketidakmampuan ini. Imam Hasan al-Askari kemudian menunjukkan kepada setiap orang apa yang telah dipegang oleh si pendeta di tangannya. Dalam genggaman si pendeta terdapat sepotong tulang kecil. Imam Hasan al-Askari memberi tahu kepada orang-orang bahwa tulang tersebut merupakan tulang salah seorang dari anbiya (para nabi) Allah. Salah satu keistimewaan tulang seperti ini adalah apabila ditengahdahkan ke langit, maka akan selalu menjadi sebab turunnya hujan. Kaum Muslimin menjadi sadar bahwa si pendeta Nasrani itu telah berupaya untuk mengelabui mereka. Lalu, Imam Hasan al-Askari berdoa untuk turunnya hujan dan turunlah hujan dengan lebat hingga musim kemarau berlalu.

Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Imam Hasan az-Zaki al Askari di atas adalah: Ketika sesuatu terjadi yang membuatmu bertanya-tanya tentang imanmu ingatlah bahwa engkau tidak mengerti dan mengetahui segala sesuatu.

 Orang yang Bakhil
Suatu waktu, pada masa Imam Hasan az-Zaki al-Askari, terdapat seseorang yang bernama Ismail, yang merupakan orang yang sangat pelit dan bakhil. Meskipun Ismail memiliki uang banyak yang ditabung, ia takut ihwal apa yang akan ia lakukan apabila uang itu telah habis digunakan. Ia kemudian memutuskan untuk menyembunyikan uang itu dengan menggali sebuah lubang di dalam tamannya dan menaruh uang dalam lubang tersebut.
Suatu hari, ia berada di Samarra’ ketika Imam Hasan al-Askari melintas di kota ini. Ismail berkata kepada Imam Hasan bahwa ia tidak memiliki uang dan meminta supaya Imam membantunya. Imam Hasan al-Askari segera menimpali, “Engkau telah mengubur uang sebanyak 200 Dinar, namun engkau masih saja mengaku tidak punya uang?” Ismail mengingkari pernyataan Imam dan berkata bahwa ia tidak melakukan hal tersebut. 
Imam Hasan al-Askari memberikan sejumlah uang kepadanya dan berkata kepadanya bahwa para Imam senantiasa membantu siapa saja yang meminta pertolongan dari mereka.  Ia kemudian berkata kepada Ismail bahwa ia tidak perlu berkata dusta kepadanya. Imam Hasan al-Askari melanjutkan bahwa setiap orang harus bersyukur dan berterima kasih atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Ketika Ismail hendak pergi, Imam Hasan mengabarkan kepadanya bahwa uang yang disembunyikannya itu tidak ada di tempat yang ia timbun ketika ia memerlukannya kelak. Kemudian, tatkala Ismail memerlukan uang yang lebih, ia pergi menggali uang yang telah disembunyikannya namun ia tidak menemukan uang tersebut. Uang yang dulu ditimbunnya kini telah raib hilang entah kemana. Belakang ketahuan bahwa anaknya mengetahui ihwal uang tersebut dan mengambilnya.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Imam Hasan az-Zaki al-Askari di atas adalah: Kalian harus berterima kasih dan bersyukur kepada Allah SWT apa pun yang telah diberikan-Nya kepadamu. Janganlah pernah berkata dusta, lantaran dustamu akan ketahuan orang. Bahkan apabila tidak ada orang yang mengetahuinya, maka ketahuilah Tuhan mengetahui dustamu itu.
Dalam Kandang Singa
Suatu ketika, di masa, Imam Ali al-Hadi an-Naqi, seorang wanita datang kepada Khalifah Mutawakkil. Wanita tersebut mengklaim sebagai Zainab al-Kubra, putri Hadrat Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah SAW.  
Khalifah Mutawakkil berkata kepadanya bahwa apa yang diklaimnya tersebut tidaklah benar lantaran beberapa puluh tahun telah berlalu semenjak masa Zainab al-Kubra hidup, dan wanita yang kini hadir di hadapannya terlihat sangat muda. Wanita itu menjawab bahwa ia sesungguhnya adalah Zainab al-Kubra dan adapun ia terlihat muda karena Nabi Muhammad SAW telah melintaskan tangannya di atas kepala wanita tersebut dan mendoakan baginya untuk tetap muda selamanya. Mutawakkil tidak tahu apa yang harus dilakukannya, maka dipanggillah seluruh orang pandai dan bijak untuk meminta dari mereka nasihat. Seluruh orang pandai yang dipanggil ini berkata bahwa wanita ini berkata dusta, akan tetapi tidak tahu harus berbuat apa untuk membuktikan hal ini.
Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memanggil Imam Ali al-Hadi dan bertanya kepadanya apa yang harus dilakukannya menghadapi klaim wanita ini. Imam Ali al-Hadi an-Naqi meminta Mutawakkil untuk meletakkan wanita tersebut dalam sebuah kandang singa dan apabila ia berkata benar, maka singa-singa tersebut tidak akan menerkamnya. Lantaran binatang-binatang buas tidak akan menyakiti putri Hadrat Sayyidah Fatimah. Wanita cerdik itu berkata bahwa Imam Hadi ingin membunuhnya dan apabila ia berkata benar maka ialah yang harus pergi pertama kalinya.
Imam Ali al-Hadi an-Naqi sepakat dan ia pergi memasuki kandang singa tersebut. Singa-singa yang ada dalam kandang itu tidak mencederai Imam Hadi sama sekali dan sebaliknya, mereka mengelus-ngelus Imam Hadi. Lalu, Imam Hadi keluar dari kandang tersebut dan meminta wanita itu bahwa kini telah tiba giilirannya untuk masuk ke dalam kandang singa.
Wanita itu mulai menangis dan meminta maaf. Ia berkata bahwa ia tidak bermaksud untuk berkata dusta, klaim yang diajukannya itu tidak lain kecuali sekedar sebuah lelucon. Akan tetapi Khalifah Mutawakkil tetap memerintahkan agar ia tetap masuk ke dalam kandang singa.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Imam Ali al-Hadi an-Naqi di atas adalah: Kalian jangan pernah berdusta (meskipun sekedar bercanda) karena suatu hari engkau akan dapat getahnya. Bahkan apabila kalian melakukan hal ini dan tidak ada yang mengetahuinya, maka ingatlah Allah SWT pasti mengetahui hal tersebut dan Dia merupakan tempatmu kembali untuk mendapatkan ganjaran atau azab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: