Iran dan Kritik “Amerikanisasi” Bank Dunia

Tendensi politik organisasi keuangan seperti IMF dan Bank Dunia menuai kritik banyak kalangan. Kelompok 24 dalam deklarasi yang disampaikan di akhir pertemuan yang berlangsung di Washington mengkhawatirkan pengaruh kepentingan politik pihak tertentu terhadap program pembangunan Bank Dunia. Dalam pertemuan kelompok 24, selain para menteri negara anggota juga dihadiri Presiden Bank Dunia, Direktur Dana Moneter internasional (IMF) dan pimpinan sejumlah lembaga finansial internasional.

Kelompok 24 dalam statemennya menyampaikan kekhawatiran penghentian aktivitas kelompok Bank Dunia oleh sejumlah anggotanya. Selain itu, mereka juga menegaskan urgensi partisipasi Bank Dunia demi mendukung seluruh anggota berdasarkan prinsip dan parameter pembangunan  negara masing-masing yang jauh dari pertimbangan politis.

Butir pernyataan ini disusun berdasarkan usulan Iran kepada Bank Dunia yang menjadi agenda pembahasan dalam pertemuan. Menkeu Iran, Ali Tayebnia dan Gubernur Bank Sentral Iran, Valiollah Seif yang hadir dalam pertemuan tersebut mengkritik tendensi politis Bank Dunia terhadap sejumlah negara. Tayebnia mengatakan, “Dalam surat yang dilayangkan bulan lalu kepada pemimpin kelompok 24, saya telah menyerukan kepada kelompok ini untuk mengkaji masalah kerjasama antara Iran dan Bank Dunia yang dihentikan selama beberapa tahun lalu karena alasan non-teknis.”

Bank Dunia yang memiliki pengaruh besar di tingkat makro terhadap perekonomian dunia hingga kini menjadi variabel yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia. Bank Dunia memulai aktivitasnya sejak tahun 1944, ketika perang dunia kedua mencapai puncaknya. Saat itu, pemerintah AS mengundang para ahli dari berbagai negara untuk berkumpul di Bretton Woods, New Hampshire guna membentuk sebuah sistem finansial global baru di tingkat dunia. Hasil dari pertemuan ini dibentuklah dua lembaga keuangan internasional baru yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan finansialnya, dua lembaga internasional ini bertumpu pada pasar investasi global. Untuk itulah, seiring dimulainya Marshall Plan yang dimulai sejak April 1948, Bank Dunia dan IMF menjalankan perannya sebagai lembaga keuangan internasional yang mengamini kepentingan ekonomi politik AS.

Ketidakmandirian IMF dan Bank Dunia dari kepentingan Washington memicu kecaman keras dari para ahli terhadap dua organisasi keuangan internasional tersebut. Selama ini Bank Dunia dan IMF cenderung mengikuti dikte kepentingan politik dan ekonomi negara adidaya. AS yang merupakan pemilik saham terbesar Bank Dunia memanfaatkan posisinya sebagai tuan rumah kantor pusatnya, dengan mendikte organisasi finansial itu supaya tidak memberikan pinjaman kepada negara-negara yang bertentangan secara politik dengan Gedung Putih, dan sebaliknya mengucurkan bantuan sebesar-besarnya kepada negara yang mengamini kepentingan Washington di dunia.

Inilah sebabnya, mengapa AS senantiasa mendikte siapa yang akan menjadi presiden Bank Dunia. “Amerikanisasi” Bank Dunia merupakan cara Washington selama bertahun-tahun untuk menekan negara-negara lain melalui organisasi keuangan internasional tersebut. Statemen kelompok 24 mengenai kekhawatiran intervensi faktor politik kepentingan tertentu terhadap program pembangunan Bank Dunia bisa dicermati dari kacamata ini.

 Kelompok Bersenjata Yaman Tembak Mati Seorang Tentara Saudi 

Sekelompok orang bersenjata tak dikenal Yaman, membunuh seorang penjaga perbatasan Arab Saudi dan melukai seorang lainnya.

Reuters seperti dikutip IRNA  melaporkan, situs-situs berita Saudi mengabarkan, hari ini sekitar pukul 3 dini hari waktu setempat, para penjaga perbatasan Saudi di wilayah pegunungan di Provinsi Jizan, di Barat Daya negara itu menjadi sasaran serangan dari dalam wilayah Yaman.  

Salah satu situs berita lokal lainnya menyebut serangan ini sebagai kontak senjata antara pasukan penjaga perbatasan Saudi dengan para penyelundup, akan tetapi tidak menjelaskan rinciannya.


Seorang pajabat pemerintah Saudi membenarkan bahwa terjadi insiden penyerangan di wilayah perbatasan negara itu, namun tidak berkomentar lebih banyak.

Ini adalah serangan kedua yang dilakukan dari dalam wilayah Yaman sejak lima hari lalu. Kamis lalu dua penjaga perbatasan Saudi tewas ditembak oleh sekelompok orang bersenjata Yaman di Provinsi Asir yang bersebelahan dengan Jizan.

Saudi sebagai negara eksportir minyak terbesar di dunia, sejak tahun 2003 memperketat penjagaan di wilayah perbatasannya dengan Yaman untuk mencegah penyelundupan, masuknya imigran secara ilegal dan lalu lalangnya milisi bersenjata. Menurut pengakuan pemerintah Saudi proses ini berjalan lambat karena kurangnya koordinasi setiap wilayah.

Saudi menilai wilayah perbatasannya dengan Yaman merupakan ancaman keamanan serius. Saat ini Yaman telah berubah menjadi markas sayap-sayap organisasi teroris Al-Qaeda yang dibiayai oleh warga kedua negara tersebut. Anggota sayap Al-Qaeda bersumpah untuk menggulingkan keluarga Al Saud dari tampuk kekuasaannya di Saudi.

Selain itu, pasukan pemerintah Saudi pada tahun 2009 dan 2010 bertempur dengan kelompok Haouthi, Yaman.

Hizbullah Kuasai 30 Pintu Perbatasan Maut Suriah-Lebanon 

Pasukan pemerintah Suriah dan Hizbullah, Lebanon menguasai sepenuhnya kontrol bukit Ras Al Hawa dan wilayah taman nasional perlindungan burung, juga dataran tinggi Timur yang bertetangga dengan gurun Rankous dekat perbatasan Suriah-Lebanon. Mereka juga menutup 30 pintu perbatasan di wilayah ini.

Surat kabar Al Akhbar, Lebanon seperti dikutip Fars News  melaporkan, militer Suriah saat ini bertempur sengit dengan kelompok bersenjata di Al Qalamoun dan Ghouta Timur, di Rif, Damaskus.

 

Militer Suriah dan Hizbullah meraih kemajuan signifikan di dataran tinggi Timur yang bertetangga dengan gurun Rankous dan wilayah-wilayah dekat perbatasan Suriah-Lebanon.

Sebagian komandan militer Suriah menganggap transformasi yang terjadi di Suriah dan kemajuan yang dicapai militer Lebanon dan Suriah di wilayah-wilayah dataran tinggi dekat perbatasan dua negara sebagai keberhasilan besar.

Mereka menegaskan, kemajuan ini dibarengi dengan ditutupnya pintu-pintu perbatasan di wilayah-wilayah tersebut untuk mencegah masuknya para teroris, dan itu diharapkan dapat membantu mempercepat selesainya pertempuran di Al Qalamoun sehingga wilayah tersebut dapat dibersihkan dari anasir teroris.

Al Akhbar menyebut pintu-pintu perbatasan itu sebagai pintu perbatasan maut. “Dikuasainya pintu-pintu perbatasan ini oleh militer Suriah dan Hizbullah pada kenyataannya menunjukkan bahwa delapan pintu perbatasan lain di perbatasan Suriah-Lebanon sudah ditutup. Seluruh pintu perbatasan ini adalah cabang-cabang dari gurun Rankous,” tulisnya.

Surat kabar Lebanon itu menambahkan, “Oleh karena itu dengan ditutupnya pintu-pintu perbatasan ini, 30 pintu perbatasan maut yang biasa digunakan kelompok teroris untuk memasukkan kendaraan-kendaraan yang sudah dipasangi bom ke Lebanon, dikuasai sepenuhnya oleh Hizbullah.”

Nasib Pengungsi Suriah dan Janji Manis Negara Donor 

Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) mengumumkan bahwa dunia tidak melaksanakan komitmennya mengenai pengungsi Suriah.

Konflik berkepanjangan di Suriah telah menghancurkan negara itu dan menciptakan krisis baru, dimana setiap bulannya, 120 ribu warga Suriah terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka dan mencari tempat pengungsian.

 

Lonjakan jumlah pengungsi Suriah juga menciptakan kekacauan di negara-negara Timur Tengah, yang menampung mereka. Kondisi tragis pengungsi memaksa PBB untuk memikirkan solusi terhadap masalah tersebut.

Menurut UNHCR, lebih dari tiga juta pengungsi Suriah tersebar di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Lebanon, Irak, Yordania, Mesir, dan Turki. Para pengungsi juga ada yang memilih melarikan diri ke Eropa atau Afrika dan mereka tidak terdata di PBB.

Sebelumnya, PBB menyatakan keprihatinan atas minimnya fasilitas kesehatan untuk pengungsi Suriah dan mengatakan bahwa akses ke fasilitas pengobatan dan pelayanan kesehatan semakin sulit dengan meningkatnya jumlah pengungsi.

Pada Januari lalu, Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi, Antonio Guterres mengatakan, Suriah telah menjadi bencana kemanusiaan yang memalukan dengan penderitaan dan arus pengungsian yang tak tertandingi dalam sejarah. Mereka sangat memerlukan dukungan internasional besar-besaran untuk membantu menangani krisis.

Laporan terbaru UNHCR menyebutkan bahwa jumlah pengungsi Suriah yang berada di bawah naungan PBB hampir mencapai 1,5 juta orang, dimana satu juta dari mereka membutuhkan pelayanan medis dan pengobatan akibat kondisi buruk yang berhubungan dengan perang.

Laporan tersebut mengkaji kondisi pengungsi Suriah yang tersebar di kamp-kamp pengungsian di Irak, Turki, dan Lebanon. UNHCR menegaskan bahwa kondisi orang-orang yang mengidap penyakit khusus seperti diabetes, jauh lebih tragis.

PBB selama beberapa bulan lalu telah memperingatkan tentang minimnya bantuan yang disalurkan kepada para korban perang Suriah dan dampak-dampak kemanusiaannya.

Bulan lalu, PBB menginformasikan keberadaan 2,5 juta warga yang kelaparan di Suriah dan menyerukan pengalokasian 81 juta dolar dana darurat untuk disalurkan kepada mereka. Menurut keterangan para pejabat Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, kekurangan anggaran membuat badan ini gagal merangkul lebih banyak pengungsi dan terpaksa menghentikan program-programnya untuk memperluas operasi kemanusiaan di negara itu.

PBB juga mengkritik beberapa negara Arab di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi yang tidak menunaikan komitmen mereka menyangkut pengungsi Suriah. Sekjen PBB Ban Ki-moon berharap negara-negara tersebut mencairkan dana bantuannya untuk disalurkan kepada pengungsi.

Selama konferensi untuk membantu pengungsi Suriah di Kuwait beberapa waktu lalu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab – sebagai pendukung utama militan dan kelompok Takfiri di Suriah – berjanji akan memberikan ratusan juta dolar untuk membantu pengungsi. Akan tetapi, Riyadh dan Abu Dhabi tidak melaksanakan komitmennya dan mencabut kembali janji mereka kepada PBB.

Sementara di Eropa, Inggris dan Italia sama sekali tidak bersedia untuk membuka kamp-kamp pengungsian bagi pengungsi Suriah. Menurut sejumlah laporan, negara-negara Eropa membatasi akses lintas perbatasan untuk mencegah masuknya pengungsi Suriah ke benua itu.

Fenomena itu telah mendorong PBB untuk memperingatkan dampak-dampak pelanggaran komitmen tersebut terhadap pengungsi Suriah.

 

AS Paling Dibenci di Lima Negara Dunia 

Survei terbaru oleh lembaga Gallup dan Meridian menunjukkan bahwa warga Palestina, Lebanon, Mesir, Yaman dan Pakistan paling menentang kebijakan Amerika Serikat.

Menurut laporan IRNA, warga dari 130 negara yang disurvei oleh Gallup memperlihatkan bahwa 25 persen menolak kinerja pemerintahan Obama. Namun, ada beberapa bagian dunia di mana warga memiliki kesan yang jauh lebih buruk terhadap AS.

Di tujuh negara, lebih dari 60 persen dari mereka yang disurvei tidak setuju dengan pemerintahan Amerika saat ini. Warga di negara-negara seperti, Slovakia juga tidak setuju dengan kepemimpinan AS dan 57 persen dari mereka menentang kebijakan Washington.

Di Pakistan, jumlah itu hampir 83 persen, di Palestina mencapai 80 persen, di  Lebanon sekitar 71 persen, di Yaman 69 persen, dan di Irak 67 persen.

Di antara faktor utama yang merusak citra AS di kawasan adalah “perang melawan teror” yang meliputi invasi ke Irak dan Afghanistan serta serangan militer ke Pakistan untuk membunuh Osama bin Laden.

 Kedekatan AS dengan Israel juga telah mendorong ketegangan hubungan antara Washington dan negara-negara regional.

 Polling: Israel Ancaman Terbesar dan Iran Negara Terkuat di Kawasan 

Hasil jajak pendapat terbaru lembaga menunjukkan bahwa mayoritas warga di 15 negara Timur Tengah menilai Israel sebagai ancaman terbesar bagi keamanan wilayah tersebut dan Iran sebagai negara terkuat di kawasan dari sisi kekuatan militer.

 

 

BEBERAPA RIWAYAT TENTANG PEMIMPIN 

 

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

               Rasulullah SAW bersabda, “Pemimpin kaum adalah pelayan mereka (kaum) itu.”

 

Imam Ali bin Abi Thalib Kw berkata, “Sanggup menanggung beban niscaya

akan mengantarkan (seseorang) menjadi pemimpin.”

 

Imam Ali Kw berkata, “Orang mulia yang bebar-benar mulia itu adalah

orang yang ilmunya memuliakannya. Dan seorang pemimpin yang benar-benar

pemimpin itu adalah orang yang bertakwa kepada Allah, Tuhannya.”

 

 Imam Ali bin Abi Thalib Kw berkata, “Keutamaan para pemimpin itu

adalah keunggulan dalam Ibadah.”

 

 Imam Ali bin Abi Thalib Kw berkata, “Empat perangai akan menjadikan seseorang

sebagai pemimpin,yaitu kesucian, adab, kedermawanan dan akal (kepandaian).”

 

 Imam Ja’far Shadiq berkata, “Janganlah sekali-kali orang yang terus menerus

melakukan dosa kecil ingin menjadi seorang pemimpin, dan demikian pula

orang yang sedikit pengalamannya lagi sombong, dia tidak mungkin

menjadi seorang pemimpin.”

 

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Barangsiapa yang meminta (posisi)

kepemimpinan, dia pasti akan binasa.”

 

Dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

          Ya Arhamar Rahimin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: