MENUJU GERBANG TAKWA (2)

Oleh : MUHAMMAD NUR

Dalam edisi sebelumnya, kami telah memaparkan persoalan–persoalan yang kita hadapi dalam proses pembersihan jiwa. Dalam edisi kali ini, kami mencoba memberikan solusi dari persoalan tersebut. Dalam proses pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs, yang pertama kali yang harus kita ketahui adalah persoalan–persoalan yang menghambat proses pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs. Setelah kita mengetahuinya dengan baik persoalan tersebut, kemudian kita bisa mendapatkan solusi yang tepat dalam menghadapi persoalan tersebut.

Solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur’an yang pertama adalah “menjaga diri” dan yang kedua adalah “mengingat Allah SWT”. Manusia di tahap awal dia harus mampu menjaga dan memperhatikan pertemuan – pertemuan yang dia datangi, buku – buku yang dia baca, apa saja yang dia dengarkan, apa yang dia makan dan pakaian apa yang dipakai. Dia harus bisa menyimak dan memperhatikan apa yang dia dengar dan apa yang telah dia ucapkan, dia harus mengetahui apakah makanan yang dia makan halal atau haram? begitu juga dengan pakaian yang dia pakai, selain dia memperhatikan halal–haramnya, dia harus memperhatikan juga apakah pakaian yang dia pakai bisa mengundang perhatian orang lain? sebab terkadang kita ingin memakai pakaian karena kita berharap orang lain memperhatikan kita, dan sikap tersebut sebenarnya menunjukkan sikap keegoisan yang dia miliki.

Kita harus bisa memperhatikan pertemuan – pertemuan dan diskusi – diskusi yang kita datangi atau yang kita sampaikan. Jangan sampai kita mengeluarkan perkataan yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT dan tidak bermanfaat untuk masyarakat Islam. Jika manusia bisa menjaga perkataannya, maka secara perlahan-lahan hatinya bisa mengingat Allah SWT dan jika hatinya senantiasa mengingat Allah SWT, maka hal–hal yang baiklah yang akan senantiasa hadir dalam pikiran–pikiran serta gambaran–gambaran dalam benaknya. Inilah sebabnya Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa berzikir kepada Allah SWT untuk menghindari kelalaian dan untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Masing–masing dari ibadah memiliki batasan dan ukuran tertentu, tapi mengingat Allah SWT tidak memiliki batasan dan ukuran tertentu. Sebagaiman dalam surah ; 41 “Hai orang – orang yang beriman, ingatlah Allah sebanyak–banyaknya.” Mereka yang banyak mengingat Allah SWT maka pengingatan tersebut akan menjadi malakah baginya, dan setelah menjadi malakah tentunya akhlaknya akan berubah menjadi Akhlak Ilahi. Jika manusia sudah mampu sampai pada tingkatan ini, bukan saja ketika beribadah dia akan memahami kepada siapakah saat ini dia berhadapan, tapi diluar ibadah pun dia senantiasa mengingat Allah SWT. Disinilah letak perbedaan dia dengan orang lain, orang lain ketika shalat jiwanya tidak tertuju kepada Allah SWT, tidak tertuju kepada qiamat juga tidak tertuju pada pengetahuan–pengetahuan yang ada di dalam shalat. Tapi dirinya, diluar shalat pun dia senantiasa mengingat Allah SWT.

Mengingat Allah SWT adalah sebuah kebaikan. Siapa saja yang melangkahkan kakinya dan berjuang dalam kebaikan ini maka dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Dalam surah An-Naml; 89 Allah SWT Berfirman “Barang siapa yang membawa kebaikan maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik darinya, sedang mereka itu adalah orang yang aman tentram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu.” Dalam surah Al-An’am; 160 Allah SWT Berfirman; “Barang siapa yang mengerjakan amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa yang melakukan perbuatan yang jahat, maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dizalimi (dirugikan).” Siapa saja yang berjuang selama satu jam dalam menjaga dirinya maka ada puluhan jam yang telah ia jaga, dan jika hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya dia akan mendapatkan pertolongan dan dia akan mudah untuk menghadirkan dirinya dalam shalat.

Keluar dari Kelalaian

Mereka yang telah lebih dulu melangkahkan kakinya dalam proses tazkiyatun nafs dari kita, mengajarkan kepada kita bahwa langkah pertama yang harus kita lakukan adalah kesadaran atau bangkit. Manusia yang tidur tentunya tidak berdiri, juga tidak berjalan. Jika gempa datang, rumahnya akan roboh dan menindihnya. Jika banjir datang, jasadnya akan ditemukan mengapung diatas air. Manusia yang sadar tentunya dia mampu merasakan musibah yang akan menimpanya.

Mereka yang lalai adalah mereka yang tertidur. Rasulullah SAW bersabda; “Kebanyakan manusia tertidur, mereka bangkit atau sadar setelah mereka mati.” Sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib; “Saya berlindung kepada Allah SWT dari tidur dan meliburkan akal.” Akal manusia akan libur pada sesuatu yang dia tidak pahami, dan begitu juga jika dia memahaminya namun tidak berbuat maka ia akan mematikan akalnya. Akal manusia harus aktual, baik yang bersifat akal teoritis maupun akal praktis. Jika manusia sadar dan kesadaran ini dibarengi dengan gerak, tentunya ia mampu bangkit dari tidurnya. Setelah dia bangkit barulah dia mencoba mulai berjalan. Jalan untuk keluar dari kelalaian adalah dengan “zikir“. Al-Qur’an dan sunnah telah menetapkan zikir–zikir tertentu dalam bentuk do’a dan ibadah, gunanya untuk menolong manusia dari kelalaian. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita apa yang harus dibaca pada waktu subuh, siang hari, malam hari, sebelum tidur, bangun dari tidur, sebelum makan, setelah makan, pada saat mengunjungi orang sakit, pada saat sembuh dari sakit, termasuk zikir harian, mingguan bahkan zikir yang dibaca pada jam–jam tertentu. Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa disetiap memulai pekerjaan hendaknya diawali dengan basmalah agar pekerjaan tersebut tidak sia–sia.

Namun shalat yang kita lakukan lima kali dalam sehari adalah ibadah yang paling penting. Shalat adalah zikir yang penting dalam menghindari kelalaian. Sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Thaha; 14 ; “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku” . Ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, pada hakekatnya kita sedang bermunajah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, selayaknyalah kita memakai pakaian yang paling bersih dan wangi dalam melaksanakan shalat, dan setelah kita melaksanakan shalat kita disunnahkan untuk berzikir dan kemudian berdo’a kepada Allah SWT.

Shadruddin Qunawi dalam kitab “Jamiul Ushul” yang dinukilkan oleh Ibn Atsir, beliau mengatakan bahwa disaat Rasulullah SAW bersama pasukannya menaiki sebuah bukit beliau mengucapkan “Allahu Akbar“, dan disaat menuruni bukit beliau mengucapkan “Subhanallah“ . Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa bacaan yang ada dalam shalat juga diatur berdasarkan hal diatas. Disaat kita shalat, ketika posisi kita dalam keadaan tegak kita mengucapkan “Allahu Akbar”, namun ketika posisi kita menunduk atau ruku juga sujud kita mengucapkan “Subhanalla”. Abu Al-mu’ali dalam mengomentari hadits tersebut beliau mengatakan bahwa dalam surah Al-hadid ; 8 Allah SWT Berfirman; “… dan dia bersamamu dimana saja kamu berada …” Juga dalam surah Al-mujadilah; 7 Allah SWT Berfirman; “… tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah yang keempat. Dan tidak (ada pula pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang ke enam. Dan tidak ada (pula) pembicaraan antara jumlah yang lebih sedikit atau lebih banyak dari itu, melainkan Dia bersama mereka dimanapun mereka berada …” Oleh karena itu, berdasarkan prinsip ini, Allah SWT senantiasa bersama kita dalam seluruh kondisi. Mungkin terbercik dalam dalam benak kita bahwa ketika kita menaiki sebuah bukit kita sedang bersekutu dalam kebesaran Allah SWT. Oleh karena itu untuk menghilangkan sangkaan ini kita mengucapkan “Allahu Akbar”. Takbir ini bermakna bahwa Allah SWT Maha Suci dari segala sesuatu yang menyamai kebesaran-Nya. Begitu juga ketika kita menuruni bukit, seolah–olah Allah SWT juga ikut turun ke bawah,, untuk menghilangkan sangkaan ini kita mengucapkan “Subhanallah”. Dalam hal ini kita ingin memahamkan pada diri kita bahwa Allah SWT Maha Suci dari segala sifat kerendahan.

Kita akan menyaksikan Keagungan dan Kebesaran Allah SWT dengan jelas ketika kita berada di puncak gedung yang tinggi atau dipuncak gunung, atau disaat kita mengangkat kepala kita dari ruku dan sujud. “Allahu Akbar” bermakna walaupun Allah SWT bersama kita dalam segala kondisi, akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa ketika kita mengangkat kepala kita dari ruku ataupun sujud, Allah SWT juga mengangkat kepalanya, Nauzubillah ! Allah SWT Maha Suci dari seluruh persangkaan yang kita sifatkan pada-Nya. Dari hal diatas jelaslah bahwa orang lain ketika mereka shalat mereka dalam keadaan lalai, akan tetapi RasulullahSAW diluar shalatnya pun, beliau tetap dalam kondisi shalat.

Kondisi yang paling baik yang dimiliki manusia adalah ketika dia bermunajah kepada Allah SWT. Shalat adalah manifestasi dari munajah ini. Jika orang yang sholat mengetahui bahwa ia bermunajah dengan Allah SWT dan bermunajah kepada-Nya adalah kenikmatan dan keabadian, tentunya dia tidak akan pernah meninggalkan sholatnya. Sebagaimana jika kita bercerita dengan kawan kita, tentunya akan memberikan kenikmatan, dan karena inilah kita tidak pernah merasakah kelelahan sama sekali walaupun pembicaraan kita dengan kawan kita ini berlangsung lama.

Zikir dan Makrifat

Zikir–zikir yang ada dalam tuntunan Islam, fungsinya selain menjauhkan kelalaian tapi juga mengajarkan pada kita makrifat Ilahi. Zikir itu sendiri sebenarnya memiliki muatan makrifat karena didalamnya terdapat unsur Ilahiyah. Zikir senantiasa mengajak manusia menuju Allah SWT. Salah satu zikir yang diajarkan Rasulullah SAW pada kita adalah “la haulawala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.” Imam Baqir as menafsirkan zikir ini sebagai berikut bahwa; “disaat anda menggunakan kekuatan yang dengan kekuatan tersebut anda gunakan untuk taat kepada Allah swt, maka kekuatan ini yang digunakan untuk ketaatan datangnya dari Allah SWT, dan ketika anda tidak berbuat maksiat ketahuilah bahwa terdapat Inayah Ilahi yang datang pada anda yang dengannya anda tidak melakukan maksiyat tersebut.” Terkadang manusia diajak untuk melakukan dosa, tapi kemudian muncul penghalang sehingga dia tidak melakukannya. Ia tidak mengetahui bahwa jalan yang akan dia tuju adalah dosa, dan dia juga tidak mengetahui mengapa jalan menuju arah dosa tersebut tertutup. Nanti kemudian dia mengetahui bahwa sebenarnya dia telah diajak pada tempat maksiat namun jalan menuju kesana tertutup.

Dalam Islam kita diajarkan bahwa jika kita telah melakukan sebuah keburukan, maka bergegaslah untuk berbuat kebaikan yang dengannya perbuatan buruk tersebut akan tertutupi. Sebab jika keburukan bertumpuk, maka keburukan tersebut akan menjadi ulat dalam jiwa manusia dan akan berakibat membuat dirinya tidak bisa lagi melihat dan mendengar sebuah kebenaran. Oleh karena itu, kita senantiasa diperintahkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah SWT.

Sebagaimana yang kita jelaskan sebelumnya, bahwa terdapat zikir yang telah diatur dan ditentukan batasan–batasannya, namun ada juga zikir yang tidak ditentukan jumlah dan batasannya, mengingat Allah SWT adalah zikir yang diperintahkan kepada kita untuk dilakukan sebanyak–banyaknya. Allah SWT menyuruh kita mengingatnya secara terus menerus. Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah SAW berjalan melewati kebun, kemudian beliau mendapati orang dikebun sedang menanam tumbuhan. Lalu kemudian beliau berkata kepada mereka; “maukah kalian aku ajarkan bertanam yang lebih menguntungkan?” mereka berkata; “ia, wahai Rasulullah” Rasulullah SAW menjawab; “tumbuhan yang kalian tanam buahnya hanya sementara, namun jika setiap pagi dan malam kalian membaca; Subhanallah walhamdulillah wa lailahaillallah wallahu akbar, maka Allah SWT akan memberimu pohon disurga disetiap tasbih yang kamu ucapkan, dimana pohon tersebut akan mengeluarkan buah setiap saat dan tak habis-habisnya.”

Derajat Kesadaran

Manusia yang sadar tentunya memiliki faktor yang kemudian menjadikannya sadar. Derajat kesadaran manusia berbeda–beda. Boleh jadi manusia sadar karena takut akan api neraka, boleh jadi karena menginginkan surga dan boleh jadi dikarenakan rindu akan surga pertemuan yaitu bertemu dengan Allah SWT. Dalam munajah Sya’baniyah terdapat do’a “Ya Allah, Engkau telah menyadarkan aku dengan cinta-Mu.” Dalam do’a ini kesadaran itu muncul bukan karena takut pada neraka dan juga bukan rindu pada surga. Bangun dari tidur juga demikian halnya, terkadang kita bangun shalat subuh karena takut neraka, karena menginginkan surga dan boleh jadi karena rindu untuk bertemu dengan Allah SWT.

Manusia yang senantiasa berbuat maksiat atau yang senantiasa lalai mengingat Allah SWT mereka sebenarnya adalah tertidur. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ; “kebanyakan manusia tertidur, mereka bangkit setelah mereka mati.” Hal ini bertentangan dengan perkataan sebagian orang yang mengatakan bahwa kuburan adalah tempat peristirahatan. Tapi Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa mati adalah awalnya kebangkitan. Dalam surah yasin; 52 Allah SWT Berfirman “Mereka berkata; aduh celakalah kami ! siapakah yang membagkitkan kami dari tidur kami?”

Ala kulli hal, sebagaimana faktor yang membangkitkan kesadaran manusia berbeda–beda, maka derajat kesadaran manusia juga berbeda – beda. Oleh karena itu, bekal yang dia persiapkan untuk melakukan safar setelah bangkit dan sadar juga berbeda–beda, bergantung kepada tingkat derajat kesadaran masing–masing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: