Sayyidina Hamzah

Pahlawan perang Badar dan Uhud

Hamzah, penghulu para syuhada adalah teladan dalam hal keimanan, pengorbanan dan keberanian. Kecintaannya kepada Rasulullah dan jasanya yang besar terhadap Islam membuat namanya abadi dan akan terus hidup sepanjang sejarah.

Hamzah Bin Abdul Mutholib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat dia termasuk tokoh Quraish yang di segani. Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, seorang paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian, Ia Ikut Hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar, dan meninggal pada saat perang Uhud, Rasulullah menjulukinya dengan “Asadullah” (Singa Allah) dan menamainya sebagai “Sayidus Syuhada”.

Beliau adalah putra Abdul Muthalib dan paman Rasulullah SAW. Beliau lahir pada tahun keempat sebelum peristiwa pasukan gajah (Tahun Gajah) di kota Mekkah. Di tengah masa Jahilah dan tersebarnya akidah syirik pada penduduk Hijaz, beliau tetap berpegang pada ajaran lurus Nabi Ibrahim dan dikenal sebagai pemuda yang senantiasa memberikan perlindungan kepada orang-orang lemah. Ayahnya adalah Abdul Muthalib dan ibunya anak perempuan dari Amru bin Zaid bin Lubaid yang bernama Salmi.

Hamzah sangat dekat dengan Nabi SAW. Kedekatan ini tidak hanya dari sisi spiritual namun juga dari sisi material. Tsubah, budak Abu Lahab pernah menyusui Hamzah dan sewaktu menyusui anaknya yang bernama Masruh, ia juga menyusui Nabi SAW selama beberapa hari. Sehingga dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Hamzah dan Nabi adalah saudara sepersusuan.

Hamzah senantiasa berada di sisi kemenakannya sendiri, Nabi Muhammad SAW dan di saat tersulit pun ia selalu setia membela risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Pemimpin dan pembesar Quraisy takut dan khawatir akan keberanian beliau. Dan ketakutan itu membuat mereka tidak punya nyali untuk mencegah laju dakwah Rasulullah SAW. Sehingga bisa dikatakan, Hamzah memainkan peran penting dalam mempertahankan dan menjaga Islam serta membela Nabi demi keberlangsungan dan keabadian ajaran suci Islam.

Perkembangan dakwah Islam yang pesat membuat kaum Quraisy semakin murka dan semakin meningkatkan penyiksaan dan permusuhan mereka terhadap umat Islam. Pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah terjadi perang antara kaum Muslimin dengan kaum kuffar Quraisy yang dikenal dengan nama perang Badar. Sewaktu Rasulullah SAW merapikan barisan kaum Muslimin, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan angin kencang ini bertiup berulang sampai beberapa kali. Angin kencang ini sebagai pertanda kedatangan para malaikat. Yang pertama, Malaikat Jibril dengan seribu malaikat lainnya datang menghadap Rasulullah SAW, yang kedua Malaikat Mikail dengan seribu malaikat di sebelah kanan Rasulullah SAW dan yang ketiga Malaikat Israfil dengan seribu malaikat disisi kiri Rasulullah SAW. Kesemua malaikat ini mengenakan sorban yang terbuat dari cahaya yang berwarna hijau, kuning dan merah yang menggelantung sampai di pundak mereka, dan mereka menggantungkan bulu dan rambut di dahi unta-unta mereka. Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat-sahabatnya, bahwa mereka adalah malaikat-malaikat yang akan memberikan bantuan dan dukungan kepada kaum Muslimin. Para malaikat telah menandai diri mereka, maka kalian pun hendaklah melakukan hal yang sama. Lalu para sahabat mendandai topi besi yang dikenakan di kepala mereka dengan bulu onta.

Orang yang pertama kali tiba di medan pertempuran dari kaum Muslimin adalah Muhajja` (budak yang dimerdekakan oleh Umar bin Khattab). Kaum musyrikin berteriak dengan keras, “Hai Muhammad, siapa saja yang punya hubungan dengan kami, kirimlah dia untuk berperang dengan kami.” Nabi Muhammad SAW berkata kepada Bani Hasyim, “Bangkitlah! Berperanglah demi kebenaran yang dengannya Nabi kalian diutus dan mereka datang untuk memadamkan cahaya kebenaran itu.!!!”

Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dn Ubaidah bin Harits bin Muthalib keluar dari barisan dan menuju mereka. Karena ketiga orang tersebut mengenakan penutup kepala sehingga sulit untuk dikenali. Utbah berkata, “Berbicaralah sehingga kami dapat mengenali suara kalian!” Hamzah berkata, “Sayalah Hamzah, putra Abdul Muthalib, singa Allah dan singa Rasul-Nya.” Utbah berkata, “Ya, kamu adalah pembesar, lantas siapa dua orang bersamamu ini?” Hamzah menjawab, “Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah bin Harits”. Utbah berkata, “Dua orang bersamamu juga adalah juga orang-orang besar”.

Waktu itu Ali bin Abi Thalib berhadapan dengan Walid bin Utbah dan berhasil membunuhnya. Sementara Hamzah berduel dengan Utbah dan juga berhasil membunuhnya dengan hanya dua pukulan. Dan Ubaidah bin Harits sahabat Nabi yang paling muda saat itu berdiri menghadapi Syaibah. Syaibah memukulkan pedangnya pada kaki Ubaidah dan membuat pergelangan kaki Ubaidah terpotong. Melihat itu Hamzah, singa Allah dan Rasul-Nya bersama Ali segera menyerang Syaibah dan mereka berhasil membunuhnya.

Dalam perang ini, Abdurrahman bin Auf dan Bilal Habasyi berhasil menawan Umayyah bin Khalf dan anaknya. Bilal berkata, ”Waktu itu saya berada diantara Umayyah dan anaknya, kemudian saya menangkap mereka. Umayyah bertanya kepada saya, “Siapa diantara kalian yang menandai dadanya dengan bulu onta?”. Saya menjawab, “Hamzah bin Abdul Muthalib.” Ia berkata, “Hamzah membawa malapetaka atas diri kami.”

Pertengahan Syawal tahun kedua Hijriyah. Kabilah Bani Qainuqa’, kelompok yang paling berani diantara kelompok kaum Yahudi yang berprofesi sebagai pandai besi memiliki ikatan perjanjian dengan Abdullah bin Ubay dan juga Rasulullah SAW. Ketika terjadi perang Badar, kebencian dan rasa dengki membuat mereka memutuskan untuk membatalkan perjanjian. Allah SWT menurunkan surah Al-Anfal ayat 58 kepada Rasulullah SAW, “Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berkhianat.”

Dengan turunnnya ayat ini, Rasulullah menjadi waspada terhadap Bani Qainuqa’. Beliau menyerahkan bendera ke tangan Hamzah dan memerintahkannya dengan beberapa pasukan untuk menghadapi mereka. Bani Qainuqa’ adalah kelompok Yahudi yang pertama kali melakukan pengkhianatan kepada Islam. Ketika Rasulullah saw baru melakukan pengepungan, kontan saja mereka merasa ketakutan, sehingga mereka pun menyerah kepada kaum Muslimin dan menyerahkan harta-harta mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Bebaskan mereka, Allah SWT telah melaknat mereka dan Abdullah bin Ubay”.

Perang Uhud: Akhir Syawal tahun kedua Hijriyah menjelang terjadinya perang Uhud. Hamzah, sebagai panglima perang. Di malam hari perang Uhud, Rasulullah SAW tahu bahwa tidak lama lagi pamannya akan gugur sebagai syahid. Beliau pun berbincang dengan Hamzah dan menanyakan kembali keyakinannya mengenai ketauhidan dan kenabian serta risalah yang dibawanya. Hamzah kemudian menjawab dengan tegas dan kembali mengucapkan syahadat dengan lidahnya. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Hamzah adalah pemimpin para syuhada, singa Allah dan singa Rasul-Nya dan paman Nabi.” Sabda Nabi ini menebar aroma kesyahidan dan membuat dada Hamzah bergemuruh. Hamzah pun meneteskan air mata kebahagiaan. Rasulullah SAW berdoa agar pamannya tetap tegar berdiri di jalan tauhid dan segala keraguan di dalam hatinya segera sirna.

Menjelang Perang Uhud, Hamzah berkata kepada Nabi SAW, “Saya bersumpah atas nama Allah, tidak akan sedikitpun menyentuh makanan sebelum mengeluarkan semua musuh dari kota Madinah.”

Kaum Muslimin berbaris dengan rapi di kaki gunung Uhud di bagian utara Madinah. Setelah perang satu lawan satu, maka dimulailah perang secara terbuka. Hamzah bertempur dengan gagah berani dan penuh dengan keimanan yang meluap-luap. Dengan dua pedang di tangannya, ia menyerang dengan penuh keberanian sambil berteriak, “Saya adalah singanya Allah.”

Thalhah bin Abi Thalhah pembawa bendera kaum Musyrikin berteriak sambil menantang, “Siapakah yang berani berhadapan denganku?” Ali bin Abi Thalib bergegas mendekatinya dan menebaskan pedang ke arah kepalanya. Tebasan itu membuatnya keningnya terbelah dan mengucurkan darah sehingga akhirnya ia pun terjatuh dan terkulai ke tanah. Melihat itu, Rasulullah SAW tersenyum seraya mengumandangkan takbir. Kaum Muslimin pun serentak mengumandangkan takbir yang sama. Bendera kaum musyrikin tersebut kemudian beralih ke tangan Utsman bin Abi Thalhah. Hamzah segera berlari ke arahnya, dan mengayungkan pedang ke bahunya. Tebasan pedang Hamzah mematahkan tangan dan bahunya, pedangnya terlepas dan paru-parunya terburai keluar. Hamzah kemudian kembali sembari mengumandangkan syair, “Saya putra pemberi minum jamaah haji.”

Rasulullah SAW memberikan gelar kepada Hamzah, Sayyidul Syuhada (penghulu para syuhada). Rasulullah SAW begitu memuliakan kesyahidan Hamzah. Sewaktu meninggalkan bukit Uhud ingin kembali ke kota Madinah, Rasulullah SAW menangis dan juga memerintahkan kepada keluarga kaum Anshar untuk pergi ke rumah Hamzah guna menangis dan meratap di sana. Kepada kaum Muslimin Rasulullah saw bersabda, “Pergilah kalian berziarah ke makam Hamzah”. Rasulullah SAW pun selalu berkunjung dan menziarahi para syuhada Uhud, khususnya di makam Hamzah dan beliau selalu menyampaikan salam kepadanya.

Sewaktu kaum musyrikin meninggalkan gunung Uhud, Rasulullah SAW mendekati para syuhada. Beliau tidak memandikan jenazah Hamzah dan juga para syuhada lainnya. Beliau SAW bersabda, “Kuburkanlah mereka bersama dengan darah-darah mereka tanpa harus dimandikan. Saya yang akan menjadi saksi mereka.” Jenazah Hamzah adalah jenazah yang pertama kali Rasulullah SAW mengumandangkan takbir empat kali atasnya. Setelah itu, beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk meletakkan jenazah para syuhada lainnya di sebelah Hamzah. Rasulullah SAW melakukan sholat untuk setiap syuhada. Dan khusus untuk Hamzah, Rasulullah melakukan shalat sampai tujuh puluh kali. Atas perintah Rasulullah SAW, Hamzah bersama Abdullah bin Jahasy, syuhada Uhud yang juga dimutilasi dimana telinga dan hidungnya terpotong dikuburkan dalam satu makam.

Salam atasmu wahai paman Rasulullah dan salam Allah pula atasmu. Salam atasmu wahai yang telah gugur di jalan Allah!. Salam atasmu wahai Singa Allah dan singa Rasul-Nya! Kami bersaksi bahwa engkau telah berjihad di atas agama Allah dan telah mempersembahkan jiwa ragamu dalam membantu perjuangan Rasulullah. Semoga engkau mendapat kemuliaan di sisi Allah Swt.

———-***—

 

 

Oleh karena itu, baik wujud sebab dan juga wujud akibat, keduanya adalah wujud. Akan tetapi perbandingan yang pertama terhadap yang kedua adalah kaya dan sempurna,  dan yang kedua adalah faqir dan tidak sempurna. Berdasarkan hal ini, kita akan menyimpulkan bahwa antara kefaqiran wujud dan kekurangan wujud, dan juga antara kayanya wujud dan kesempurnaan wujud, terdapat relasi kelaziman. Maksudnya, setiap wujud yang faqir dan bergantung, tentunya tidak sempurna, dan juga di sisi lain, jika wujud itu kaya dan independen, tentunya sempurna. Kemudian, kefaqiran dan kebergantungan, merupakan ciri-ciri wujud akibat, sebagaimana yang telah kami paparkan pada pembahasan sebelumnya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa antara kefakiran, kekurangan, dan akibat terdapat kelaziman yang jelas, sehingga dimana saja ada kefakiran dan kekurangan, maka pasti ada akibat.

Setelah memahami dengan baik apa yang telah kami paparkan, kami ingin mengatakan; jika kita mengasumsikan terdapat lebih dari satu wajibul wujud, maka akan melazimkan ‘dualitas’ diantaranya sehingga yang satu lebih unggul dari yang lainnya. Sebab jika tidak demikian, maka penggambaran akan dualitas adalah penggambaran yang tidak benar.

Keunggulan dua wajib yang diasumsikan, bisa digambarkan dalam dua bentuk; pertama, salah satu dari keduanya adalah kesempurnaan mutlak dan yang lainnya tidak sempurna jika dibandingkan dengan yang pertama. Kedua, salah satu dari keduanya merupakan bagian dari kesempurnaan dimana apa yang dimiliki yang lain dia tidak memilikinya. Pada bentuk yang pertama, jelas bahwa yang menempati posisi wajibul wujud secara hakiki adalah kesempurnaan mutlak, sedangkan yang lainnya adalah fakir, tidak sempurna, dan akibat (sebagaimana yang kami katakan bahwa terdapat kelaziman satu sama lain diantara ketiganya) sehingga mustahil menempati posisi wajibul wujud. Oleh karena itu, hanya ada satu wajibul wujud, dan hal ini bertentangan dengan asumsi pertama mengenai dua wajib.

Adapun bentuk yang kedua, bahwa kesalahan asumsi tersebut lebih jelas karena konsekwensi dari asumsi ini adalah kekurangan, kefakiran, dan akibat sehingga keduanya tidak mungkin menempati posisi wajib. Karena itu tidak betul asumsi wajibul wujud pada bentuk kedua ini.

Kritik; mungkin ada yang mengatakan seperti ini, mengapa kita harus membatasi asumsi perbedaan antara dua wajib tersebut hanya pada kedua bentuk diatas, bahkan mungkin saja diasumsikan seperti ini, kedua wajibul wujud tersebut – dalam segala aspek – sempurna, kaya, dan independen. Namun perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya disebabkan oleh faktor non-eksistensi. Dalam kata lain, kita berasumsi bahwa kedua wajibul wujud tersebut sama-sama memiliki seluruh kesempurnaan-kesempurnaan wujud, namun  salah satu dari keduanya atau kedua-duanya memiliki sebuah faktor non-eksistensi yang tak dimiliki oleh yang lainnya. Oleh karena itu, asumsi dualitas terhadap kedua wajib tersebut akan melazimkan kekurangan wujud atas salah satu dari keduanya dan atau keduanya.

Jawab; jika memperhatikan pada pendahuluan pertama argumentasi ini bahwa yang menjadi wadah akan realitas eksternal adalah wujud [ishâlat al-wujud], dan sesuatu selain dari wujud di alam eksternal pada hakekatnya hanya iktibar saja [tidak hakiki], maka akan terlihat dengan jelas bahwa kritikan di atas tidak tepat. Jika kita menerima bahwa selain wujud tidak memiliki realitas hakiki, maka kita tidak dapat menilai aspek perbedaan dua wajibul wujud tersebut dengan sebuah faktor non-eksistensi.

Pokok penting; hal yang perlu ditekankan pada pembahasan ini bahwa, berdasarkan pada pembahasan diatas maka akan disimpulkan bahwa wujud wajib dari sisi derajat kesempurnaan adalah tak terbatas dan tak terhingga. Maksudnya, setiap kesempurnaan wujud yang diasumsikan pasti dimiliki oleh wajibul wujud, sebab jika tidak demikian maka dirinya adalah wujud yang tak sempurna, dan kelaziman dari wujud tak sempurna dan fakir adalah akibat sehingga bertentangan dengan asumsi ‘kewajibul wujudan’. Oleh karena itu, tidak dapat diasumsikan adanya batasan wujud tertentu bagi wajibul wujud, maksudnya apa saja kesempurnaan-kesempurnaan yang diasumsikan pada mumkin wujud, pasti ada pada wujud wajib.

Kita dapat memanfaatkan pembahasan diatas berkenaan dengan persoalan tauhid, yaitu karena wujud wajib adalah wujud yang tak terhingga, maka tidak mungkin untuk mengasumsikan adanya wujud yang lain selain wujud tersebut dimana dirinya juga sebagai wajibul wujud yang ‘tak terhingga’. Karena kelaziman akan terjadinya dualitas adalah adanya batasan sebagai pemisah dimana hal ini bertentangan dengan ketidakterbatasan zat wujud wajib. Oleh karena itu, jika diasumsikan wujud wajibul wujud dan ketidakterbatasan, maka jangan lagi diasumsikan adanya wujud wajib kedua dan ketidakterbatasan yang lain.

Contoh; agar pembahasan di atas nampak lebih jelas dan dipahami dengan baik, sebagai contoh, perhatikan sebuah benda yang mengisi seluruh ruang pada sebuah ruangan. Dengan asumsi ini, tidak mungkin diasumsikan adanya benda lain yang mengisi pada ruang yang sama, karena asumsi benda kedua bertentangan dengan benda pertama yang telah mengisi seluruh ruang pada ruangan tersebut.

Argumentasi Kedua (burhan tamânu‘ / argument from mutual hindering)

Dalam menjelaskan argumentasi kedua ini, kami akan menjelaskan dua mukaddimah terlebih dahulu:

Pertama; wajibul wujud secara esensi (bizzât) adalah wajibul wujud dalam seluruh aspek kesempurnaan. Maksud dari perkataan ini, jika terdapat sebuah keberadaan yang secara esensi wajibul wujud, maka dalam setiap aspek dan kondisi lainnya yang diasumsikan padanya, juga niscaya adalah wajib, dan secara esensi berasal darinya serta tidak diperoleh pada tempat yang lain.

Misalnya jika sifat-sifat dan karekteristik-karekteristik seperti ilmu, kudrah, hidup, dan sifat yang lainnya ada pada Tuhan, maka seluruh sifat-sifat ini juga niscaya wajib bagi zat Tuhan. Dalam kata lain, sebagaimana Tuhan itu secara esensi adalah wajibul wujud, maka secara esensi juga wajibul ilmu, wajibul qudrah, dan wajibul hayat [ilmunya niscaya wajib, kudrahnya niscaya wajib, dan hidupnya niscaya wajib].

Dalam argumentasi kedua ini, kami akan lebih banyak menjelaskan sifat ‘wajibul faydh’ (emanasinya niscaya wajib) zat wajibul wujud. Konsekwensi akan sifat ini, bahwa segala sesuatu yang layak untuk mewujud dan mumkin untuk menerima wujud, maka wajibul wujud dengan emanasi mutlaknya meniscayakan memberikan wujud padanya karena hal ini adalah kelaziman dari ‘wajibul faydh-nya’ Tuhan, dan jika diasumsikan terdapat mumkin wujud dimana mumkin wujud tersebut siap untuk menerima wujud, namun wajibul wujud tidak memberikan wujud padanya, maka hal ini akan melazimkan kemustahilan dan bertentangan dengan ‘wajibul faydh-nya’ Tuhan.

Kedua; akibat adalah kebergantungan itu sendiri kepada sebab, dan akibat tidak memiliki ke-independen-an sama sekali di dalam dirinya. Jika sebab sempurna ada, maka akibat juga niscaya ada. Jika diasumsikan sebab sempurnanya akan sesuatu itu telah ada akan tetapi akibat tidak ada, maka tentunya asumsi ini mustahil terjadi dan secara akal ditolak. Kami akan menjelaskan hal ini lebih jauh lagi pada pembahasan kausalitas dengan tema ta‘âshur.                              

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: