BERLINDUNG KEPADA AL-QURAN

Oleh : Husain Mazhahiri

Salah satu kekuatan yang dapat membantu seorang Muslim dalam melakukan jihad akbar-nya adalah berlindung kepada kitab Allah, yaitu Al-Quran Al-Karim. Dengan memandang Al-Quran niscaya kita menmgetahui pentingnya berlindung kepadanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika berbagai fitnah – yang tidak ubahnya seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita – menyerangmu, maka kamu harus berpegang kepada Al-Quran. Karena, sesungguhnya dia adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan pembicara yang dipercaya pembicaraannya. Barangsiapa meletakkan Al-Quran di hadapannya maka Al-Quran akan menuntunnya menuju surga, dan barangsiapa meletakkan Al-Quran di belakangnya, maka Al-Quran akan mendorongnya masuk ke dalam neraka.”

Amirul Mukminin Ali kw berkata, “…..Sesungguhnya Al-Quran itu lahirnya indah, maknanya dalam, tidak akan pernah sirna keajaiban-keajaibannya, tidak akan berlalu keanehan-keanehannya dan tidak akan tersingkap kegelapan-kegelapan kecuali dengannya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan Al-Quran dengan manusia adalah seperti perumpamaan bumi dan hujan. Pada saat bumi mati, Allah SWT mengirimkan hujan yang lebat, sehingga bumi menjadi bergetar dan tumbuh. Lalu Allah SWT masih mengirimkan lembah, sehingga bumi tersemai, tumbuh dan berbunga pepohonannya. Kemudian Allah mengeluarkan apa-apa yang ada di dalam perut bumi, baik itu berupa perhiasan-perhiasannya, kebutuhan hidup manusia dan binatang-binatang ternak. Demikian juga yang dilakukan Al-Quran terhadap manusia.”

Sayyidina Ali berkata, “Pelajarilah Al-Quran olehmu, karena sesungguhnya dia adalah sebagus-bagusnya perkataan. Dan pahamilah apa-apa yang ada di dalamnya, karena dia adalah bunga hati. Carilah kesembuhan dengan cahayanya, karena sesungguhnya dia adalah penawar bagi apa yang ada di dalam dada. Serta perbaguslah bacaan Al-Quranmu, karena sesungguhnya dia adalah sebagus-bagusnya kisah.”

Sayyidina Ali kw juga berkata, “……Kamu harus berpegang kepada Kitab Allah. Karena, sesungguhnya dia adalah tali yang kuat, cahaya yang terang, obat penawar yang bermanfaat, air yang segar, keterjagaan (dari dosa) bagi yang berpegang kepadanya, dan keselamatan bagi yang bergantung kepadanya. Barangsiapa yang berkata dengannya maka niscaya perkataannya benar, dan barangsiapa yang berbuat dengannya maka niscaya dia mendahului.”

Adapun orang-orang yang tidak suka membaca Al-Quran, dan tidak melaksanakan apa-apa yang ada di dalamnya, maka niscaya Allah SWT akan membangkitkan mereka dalam keadaan buta, dikarenakan mereka telah melupakan ayat-ayat Allah, yang mana hukum-hukumnya telah Allah wajibkan menjadi jalan hidup mereka.

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha : 124-126)

Betapa besar musibah manakala seorang manusia dilupakan dan diabaikan. Tidak ada seorang pun yang menoleh kepadanya, dan tidak ada seorang pun yang mau berbicara dengannya. Ini semua adalah hasil dari apa yang telah dilakukannya. Ketika itu datanglah jawaban dari Rasul yang mengatakan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqan : 30)

Sungguh, pada kenyataannya Al-Quran adalah “penawar bagi apa yang ada didalam dada.” (QS. Yunus : 57)

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman, “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr : 21)

Apa yang dikatakan di dalam ayat yang mulia ini, mungkin dapat dihitung sebagai perumpamaan yang berupa teguran terhadap seorang manusia yang tidak khusyuk ketika membaca Al-Quran Al-Karim.

Sesungguhnya membaca Al-Quran adalah sebuah kelezatan spesial, dimana manusia merasakan Allah SWT bercakap-cakap dengannya di dalam kitab-Nya. “Wahai orang-orang yang beriman”, artinya ialah, Anda wahai pembaca Al-Quran. Betapa indahnya ucapan Allah kepada Anda, yang mana Dia menginginkan kemudahan bagi urusan Anda dan ingin menjauhkan Anda dari jalan hawa nafsu.

Allah SWT telah mengulang-ngulang kata-kata, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” di dalam surah Ar-Rahman, dan juga mengulang kata-kata, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” di dalam surah Al-Qamar.

Pengulangan ini merupakan bukti pasti yang mengingatkan manusia bahwa Al-Quran adalah salah satu dari nikmat-nikmat Allah SWT. Allah SWT telah memudahkannya. Akan tetapi sungguh disayangkan, tidaklah teringatkan kecuali orang-orang yang dikasihi oleh Tuhan.

Apa yang dapat dipahami oleh Allamah Thabathaba’i, penulis kitab tafsir al-Mizan, dari Al-Quran tentunya kita tidak bisa mengharapkan masyarakat umum dapat memahami sebagaimana yang dipahaminya. Membaca dan memahami Al-Quran mempunyai beberapa tingkatan. Tingkatan pertama ialah membaca secara umum,meskipun tanpa disertai tadabbur. Tingkatan yang kedua ialah tadabbur yang menyampaikan manusia kepada keadaan dapat merasakan secara langsung ucapan-ucapan Allah kepadanya. Adapun tingkatan yang ketiga ialah tingkatan dimana manusia telah berbuat sebagaimana jalan yang ditunjukkan Al-Quran, setelah sebelumnya terlebih dahulu dia membaca dan men-tadabburi-nya.

Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS. Al-Isra’ : 9)

          Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah : 16)

Oleh karena itu, barangsiapa menginginkan dunia, hendaklah dia membaca Al-Quran dan merenungi makna-makna yang terkandung di dalamnya. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah dia men-tadabburi Al-Quran dan kata-katanya. Barangsiapa yang mempunyai keresahan di dalam jiwanya maka jauhkanlah keresahan itu dengan membaca Al-Quran. Barangsiapa ingin menguasai dirinya maka hendaklah dia merujuk kepada Al-Quran. Barangsiapa mempunyai sifat-siafat yang rendah di dalam dirinya maka dia dapat menghilangkan sifat-sifat itu dengan Al-Quran. Dan barangsiapa menginginkan derajat yang tinggi di surga-Nya maka dia harus berpegang kepada Al-Quran.

Ya Allah, hapuskanlah seluruh keraguan dari jiwa kami dengan Al-Quran, cucilah seluruh kotoran hati kami dengan Al-Quran, himpunlah urusan-urusan kami yang berserakan dengan Al-Quran, anugrahkanlah kepada kami kelapangan hidup dan keluasan rezeki dengan Al-Quran, dan hindarkanlah dari kami tabiat yang tercela dan akhlak yang buruk dengan Al-Quran.

Ya Allah,. Jagalah kami dengan Al-Quran dari kekufuran dan kemunafikan, sehingga pada hari kiamat dia menjadi pemimpin bagi kami dalam menuju keridhaan-Mu dan surga-Mu, dan di dunia menjadi pelindung bagi kami dari kemurkaan-Mu.

Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: