Wasiat Qurani Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar (2)

Oleh : Syaikh Jawadi Amuli

 

Memelihara Hubungan dengan Allah

Rasulullah SAW menyampaikan ayat, Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung, (QS. Ali Imran : 200). Ayat yang mulia ini mengandung banyak tafsiran. Namun tafsiran yang paling dekat adalah mendatangi markas-markas keagamaan dan mengakrabkan diri dengan ibadah-ibadah agama. Karena Rasulullah SAW mengatakan, Ribath (memperkuat diri, pertahanan diri) adalah dengan sering mengunjungi mesjid-mesjid.” Murabitha adalah kondisi seseorang yang tidak pernah merasa puas dengan shalat. Ia selalu menantikan shalat-shalat lain karena kerinduannya untuk menikmati ibadah serta munajat. Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Aku berbeda dengan orang lain dalam hal kerinduan kepada shalat. Aku lebih merindukan shalat daripada orang lain. Semakin aku merindukan shalat, semakin banyak aku bermunajat dengan Allah, maka kerinduan aku semakin besar lagi.”

Karunia maknawi berbeda dengan karunia materi. Kenikmatan-kenikmatan maknawi tidak mengandung kontradiksi, tidak saling mengganggu. Sementara karunia-karunia material memiliki wadah yang terbatas. Anugerah maknawi tidak akan menyempitkan wadahnya. Kapasitas kenikmatan-kenikmatan maknawi tergantung pada kualitas efek ekstensialnya. Karena itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Setiap wadah menjadi sempit dengan ditempati volumenya kecuali wadah ilmu maka volumenya akan membesar dengan dimasuki oleh ilmu.” Karena itu, Abu Dzar pernah meminta kepada Rasulullah SAW agar ditambah ilmunya, “Wahai Rasulullah, tambahilah aku ilmu!”

 Keuntungan di Akhirat

 Rasulullah SAW mengatakan, dengan menukil ayat, Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi ia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat (QS. Asy-Syura : 20). Yang dimaksud dengan harta (keuntungan) akhirat adalah amal saleh. Seseorang yang memiliki amal saleh akan dibantu oleh Allah SWT dengan menambal kelemahan-kelemahan mereka. Allah akan menerima amal-amal mereka dan mencurahkan rahmat-Nya, menerima kekurangan-kekurangan amal mereka dan memperbaiki dengan rahmat-Nya.

 Manusia yang Paling Dicintai Allah

Rasulullah SAW berkata, “Hai Abu Dzar, sesungguhnya manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang paling banyak berzikir kepada-Nya.” (Biharul Anwar, juz.74, hal.86). Sementara itu, Al-Quran mengatakan, Sesungguhnya manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujarat : 13)

Malakah Takwa

Simbol manusia bertakwa di dalam ayat-ayat Al-Quran diungkapkan dengan tanda-tanda yang melekat, abadi. Bagaimanapun, ada perbedaan antara orang yang bertakwa dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa (muttaqin) berada dalam tempat yang aman,” (QS. Ad-Dukhan : 51) dengan ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa (ittaqaw) bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf : 201)

Dalam ayat terakhir, orang yang bertakwa menggunakan kata kerja lampau (ittaqaw) (fi’il madhi, past tense) untuk menunjukkan suatu sikap dan kepribadian yang tidak berubah-ubah, yang beda dengan ayat pertama (muttaqin), yang ketakwaannya masih naik-turun.

Sifat-sifat takwa bagi pemiliknya telah menjadi malakah, sehingga ia selalu menjauhi hal-hal yang tidak penting, yang mungkin bagi orang lain dianggap hal-hal yang biasa saja. Karena itu, Rasulullah SAW mengatakan kepada Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, takutlah kepada Allah dan bertakwalah dari hal-hal yang mungkin bagi orang lain tidak perlu dijauhi lagi.” Menghindari hal-hal yang syubhat adalah tanda-tanda orang bertakwa. Karena itu orang yang bertakwa disuruh meninggalkan apa yang tidak penting dan meragukan.”

Takwa itu Ada di Hati

Kemudian Rasulullah SAW menunjukkan dadanya sambil menyatakan, “Takwa bersemayam di dalam hati.” Takwa adalah sifat hati yang memiliki karakter-karakter lahiriah. Sifat-sifat lahiriah adalah ciri-ciri ketakwaan. Karena itu pula Allah SWT mengatakan, “Siapa yang mengagung-agungkan syiar-syiar Allah tanda bagian dari ketakwaan hati,” (QS. Al-Hajj : 32). Takwa itu harus hidup dalam amal menjadi husni fi’l (kebaikan amal) dan juga dalam husni fa’ili (kebaikan pelaku). Amal-amal itu harus sesuai syariat agar bisa menjadi amal yang baik dan juga harus dilakukan agar menjadi pelaku yang baik.

Takwa sebagai Jalan Keluar

Rasul SAW bersabda, “Hai Abu Dzar, kalau semua orang mengamalkan ayat ini, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan menyukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu, (QS. Ath-Thalaq : 2-3). Masyarakat yang dihuni para ahli takwa tidak akan merasa resah dan ketakutan orang-orang yang bertakwa tidak akan merasa kesulitan menghadapi segala hal buruk yang terjadi di luar dirinya. Karena itu, rezeki mengalir kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Seseorang yang bertawakkal kepada Allah artinya menjadikan Tuhan sebagai wakil, pengayom, dan penjamin dirinya.

Allah telah menetapkan rezeki setiap orang dengan ukurannya masing-masing. Karena itu, setiap orang harus melakukan setiap aktivitasnya atas dasar ketakwaan. Setiap orang harus berusaha menyelesaikan problematika hidupnya dengan sikap yakin, optimis, dan menjalankan ketakwaan seraya mengharapkan rezeki yang baik baginya.

Amal dengan Takwa Akan Diterima

Kemudian nasihat beliau lagi, “Hai Abu Dzar, kalau kamu bertakwa maka amal-amalmu akan diterima, Sesungguhnya Allah akan menerima (amal-amal-peny.) orang-orang yang bertakwa, (QS. Al-Maidah : 27). Dan amalmu juga tidak akan berkurang karena amal-amal yang diterima oleh Allah SWT bukan amal yang sedikit.”

Al-Quran mengatakan, Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak mungkin, (QS. Al-Ahzab : 41). Menurut Imam Ali, zikir yang tulus adalah zikir yang banyak. Amal yang tulus adalah amal yang berlimpah karena diterima oleh Allah SWT. Tetapi orang-orang munafik, mereka berusaha menyedikitkan zikirnya, Mereka tidak berzikir kepada Allah kecuali sedikit saja. (QS. An-Nisa : 142)

Allah membocorkan rahasia bahwa orang-orang munafik itu hanya berzikir sedikit sekali. Padahal sebetulnya orang-orang munafik itu tidak pernah berzikir, “Mereka melupakan Allah maka Allah juga melupakan mereka.” (QS. Al-Hasyr : 19)

Orang-orang munafik melantunkan zikir agar menjadi popular dan terkenal. Mereka melantunkan dengan penuh riya. Zikir yang dilantunkan dengan riya adalah zikir yang memiliki kuantitas sedikit walaupun seperti banyak sekali. Orang-orang yang berzikir dengan sembunyi-sembunyi sebetulnya melakukan zikir yang banyak karena amal yang diterima itu adalah amal yang ikhlas.

(dikutip dari buku : Nabi SAW dalam Al-Quran, Jawadi Amuli)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: