Akal dalam Cahaya Wahyu dan Hadis Maksumin As

Oleh: Syamsunar

www.telaga hikmah.org

Akal juga dalam riwayat merupakan maujud yang paling dicintai Tuhan dan menjadi parameter untuk pahala dan dosa anak-anak Adam, serta merupakan hujjah bathin bagi manusia. Abu Abdillah As berkata: “Ketika Tuhan menciptakan akal, Tuhan berkata padanya: menghadaplah, maka akal menghadap, kemudian berkata padanya: membelakanglah, maka akal membelakang, kemudian Tuhan berkata: “Demi kemuliaanku dan keagunganku, tidak aku ciptakan makhluk yang lebih aku cintai darimu, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi, dan denganmu Aku mengumpulkan (membangkitkan).”

Kitab Al-Quran adalah suatu kitab suci yang sangat memberi penekanan dan kontribusi besar bagi akal dalam berbagai lapangan pengetahuan dan kehidupan.

Dalam agama islam menerima keyakinan agama harus lewat pemikiran dan perenungan akal, dan Al-Qur’an dalam hal ini senantiasa mengajak untuk berpikir, bertadabbur, dan menjauhi taqlid buta dalam berbagai masalah akidah dan keyakinan, serta memandang sangat buruk orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (Q.S : Yunus :100).

Akal juga dalam riwayat merupakan maujud yang paling dicintai Tuhan dan menjadi parameter untuk pahala dan dosa anak-anak Adam, serta merupakan hujjah bathin bagi manusia. Abu Abdillah As berkata: “Ketika Tuhan menciptakan akal, Tuhan berkata padanya: menghadaplah, maka akal menghadap, kemudian berkata padanya: membelakanglah, maka akal membelakang, kemudian Tuhan berkata: “Demi kemuliaanku dan keagunganku, tidak aku ciptakan makhluk yang lebih aku cintai darimu, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi, dan denganmu Aku mengumpulkan (membangkitkan) (Bihâr al-Anwâr Juz 1\96)

Demikian pentingnya fungsi akal bagi manusia, maka Al-Qur’an menekankan pada manusia untuk memanpaatkan nikmat besar Tuhan ini dengan cara mengajak manusia menghilangkan dan menghancurkan berhala-berhala yang menjadi penghalang penggunaan  akal supaya akal mampu mengutarakan argumen-argumen  rasional.

Adapun hal-hal yang bisa menghalangi manusia menggunakan akal rasionalnya menurut Al-Qur’an :

  1. Berpandangan empirisme;
  2. Taqlid buta;
  3. Mengikuti hawa nafsu.

1. Berpandangan empirisisme

Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang berbicara tentang masalah-masalah ini seperti: “Dan berkata orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (hari akhirat), mengapa tidak diturunkan atas kami malaikat atau kami melihat (dengan mata lahiriah) Tuhan kami…”(Q.S: Al-Furqan :21). Dan ayat yang serupa dalam (Q.S : Al-Baqarah :55) : “Dan ingatlah ketika kamu (Bani Israil) berkata wahai Musa! kami tidak akan beriman padamu hingga kami melihat Allah secara jelas(dengan mata lahiriah)…”. Jadi orang-orang seperti ini berpandangan empirisme, menolak pandangan-pandangan yang tidak dijangkau oleh panca indera dan pengalaman empirik, yakni mereka tidak meyakini adanya wujud-wujud non materi dan gaib dari panca indera.

Dunia kita dewasa ini dipenuhi orang-orang yang berpandangan seperti ini, terutama peradaban barat yang dikuasai pandangan dunia materialisme dan filsafat materialisme, serta orang-orang timur (termasuk kaum muslimin) yang dipengaruhi oleh pandangan barat dan kebarat-baratan (Westernisasi).

2. Taqlid buta

Dan adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenan mencela taqlid buta dan melarang manusia dari perbuatan tersebut seperti: “Atau Kami mendatangkan kitab pada mereka sebelumnya dan mereka berpegang? Bahkan mereka berkata sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami dalam satu ummah (tradisi, budaya, kepercayaan), dan sesungguhnya kami juga mendapat petunjuk untuk mengikuti mereka. Dan demikian tidak Kami mengutus dari sebelum kamu dalam suatu Qaryah (daerah) dari seorang pengingat kecuali berkata orang-orang kaya diantara mereka sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami dalam suatu ummah dan sesungguhnya kami melaksanakan (melanjutkan) peninggalan-peninggalan mereka. (Nabi-nabi mereka) berkata : apakah jika aku membawa petunjuk yang lebih memberi hidayah padamu dari apa yang kamu dapati dari bapak-bapak kamu (kamu juga akan tetap mengingkari)? Mereka berkata (ya!) sesungguhnya kami dengan apa yang kamu diutus dengannya adalah kafir” (Q.S As-Zukhruf : 21-24). Orang-orang seperti ini tidak lagi menggunakan logika dan rasio akalnya, tetapi mereka hanya mencukupkan diri dengan apa yang mereka dapatkan dalam bentuk budaya, tradisi,  dan kepercayaan dari nenek-nenek moyang mereka, meskipun pada dasarnya tradisi dan budaya tersebut sangat bertolak belakang dengan akal sehat mereka.

Tapi perlu juga kami kemukakan di sini bahwa taqlid yang dicela oleh agama adalah taqlid buta yang tak berdasar, yang tak memiliki manpaat memperbaiki kehidupan individu dan masyarakat. Sebab tak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan kita, taqlid itu sendiri banyak memiliki peran dalam menyelesaikan berbagai masalah. Dan merupakan tabiat manusia bahwa taqlid dari orang jahil kepada orang berilmu merupakan keharusan, dan sesuai dengan logika serta akal. Misalnya taqlid orang sakit pada dokter, taqlid orang yang membutuhkan bangunan rumah pada arsitektur, dan dalam konteks agama taqlid orang-orang yang tak belajar fiqhi secara khusus dan mendalam (sampai maqam mujtahid) pada marja taqlid (fuqaha). Model dan cara taqlid seperti ini tidak dicela oleh akal, bahkan akal menjadi dasar logis bertaqlid dalam konteks tersebut.

3. Mengikuti hawa nafsu

Al-Qur’an juga melarang manusia mengikuti hawa nafsu, sebab dengan mengikutinya akal dan rasio menjadi tertutup. Ayat-ayat yang berkenan masalah ini seperti: ” Tapi orang-orang dzalim dengan tanpa ilmu  mengikuti hawa nafsu mereka, maka siapa yang dapat memberi petunjuk pada orang yang Allah telah sesatkan? Dan bagi mereka tidak ada lagi penolong” (Q.S Ar-Rum :29). Dan ayat: “Maka jika mereka tidak mengijabah  kamu  (menerima usulan kamu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak menerima petunjuk dan hidayah Tuhan? Dan sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk pada orang-orang dzalim” (Q.S : Al-Qishas :50). Pada dasarnya sangat banyak orang-orang yang dengan pikiran dan akalnya mengetahui prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan yang dibawa oleh para Nabi-nabi Tuhan as, tetapi karena kepentingan dan kecenderungan mereka untuk mengikuti hawa nafsu mereka, maka kebenaran dan kebaikan yang cahayanya seterang mentari disiang hari yang tak bermega ini ditolak dan diabaikan.

Dan adapun pekerjaan akal dalam hal kemampuan berargumen dan berdalil, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an dalam masalah-masalah tersebut, misalnya kemampuan akal memberi pendekatan yang sipatnya rasio dengan sipat yang inderawi dengan permisalan dan penganalogian. Ayat yang berkenan hal ini seperti: “Kemudian hati-hati kamu sesudah itu keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi, sebab sesungguhnya sebagian dari pada batu, ada yang terbelah dan darinya mengalir sungai-sungai, dan sesungguhnya sebagian lagi dari pada batu, ada yang terpecah dan keluar darinya air, dan sebagian lagi terjatuh dan terjerembab karena takutnya pada Tuhan , (dan adapun hati-hati kamu sama sekali tidak pernah bergetar karena takut pada Tuhan, dan juga tidak pernah menjadi sumber ilmu, pengetahuan dan kasih sayang kemanusiaan), dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kamu lakukan” (Q.S : Al-Baqarah: 74).

Juga terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak berdalil dan berargumen akal dengan cara memperlihatkan kelemahan dan kekurangan apa yang diperbuat manusia dalam masalah dan subyek tersebut. Seperti ayat: “Katakanlah siapakah Tuhan langit dan bumi? Katakanlah Allah! (kemudian) Katakanlah apakah kamu mengambil auliya (wali-wali atau tuhan-tuhan) selain Tuhan, yang mana mereka itu tidak memiliki manpaat dan darar (mudharat) bagi diri mereka sendiri (sehingga bagaimana hal itu bisa sampai padamu?!) Katakanlah apakah sama orang buta dengan orang melihat? Ataukah sama kegelapan dan cahaya? Apakah mereka menjadikan untuk Allah sekutu-sekutu dikarenakan mereka (sekutu-sekutu tersebut) seperti Tuhan mempunyai suatu ciptaan, dan ciptaan ini serupa mereka?! Katakanlah Allah pencipta segala sesuatu dan Dia adalah Esa serta maha menang” (Q.S : Ar-Ra’d:16). Dan mari kita simak ayat lain yang serupa tentang hal ini dalam kisah nabi Ibrahim As: ” Berkata mereka siapa yang melakukan ini pada tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia niscaya orang-orang zalim. Kami dengar seorang pemuda yang dia menyebut tentang berhala-berhala, disebut padanya (namanya) Ibrahim. Berkata mereka datangkanlah dia disaksikan masyarakat, sehingga mereka menyaksikan. Berkata mereka apakah engkau yang melakukan ini pada tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim? Berkata(nabi Ibrahim a.s)  yang melakukannya adalah yang paling besar diantara mereka ini, maka bertanyalah kamu pada mereka jika mereka  berbicara? Maka merujuk mereka dalam diri mereka, maka berkata mereka sesungguhnya kamu orang-orang zalim. Kemudian mereka berbalik atas kepala-kepala mereka (menarik kembali pendapatnya, dan melupakan secara keseluruhan  kata hatinya ) pada hakikatnya kamu tahu bahwa mereka ini tidak berbicara. Baerkata (Ibrahim a.s) apakah kamu menyembah selain Allah yang tidak memberi manpaat pada kamu sedikitpun dan juga tidak memberi mudharat pada kamu? Uffi atas kamu, dan mengapa kamu menyembah selain Allah, apakah kamu tidak berakal? (Q.S: Al-Anbiyaa:59-67). Yakni apa yang diperbuat manusia dalam masalah ini tidak lain karena akal dan logika sehat mereka tidak bekerja dan berfungsi, sehingga mengambil sekutu untuk Tuhan yang mana sekutu tersebut sendiri tidak mampu memberikan manpaat pada diri mereka sendiri dan juga tidak mampu membuat mudharat pada diri mereka sendiri, apatah lagi pada manusia dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya.

Dan salah satu diantaranya lagi cara Al-Qur’an untuk membangunkan akal manusia supaya befungsi dan berpikir logis serta berargumen untuk menundukkan pihak lawan adalah menukar dalil sebelumnya dengan dalil lainnya  sesuai starata pihak yang dihadapi, dan cara ini   dapat kita saksikan contohnya dalam ayat: “Apakah tidak kamu lihat kepada orang yang berhujjah (Namrud) dengan nabi Ibrahim tentang Tuhannya? Sebab Tuhan telah memberikan padanya mulk (kekuasaan) (dan karenanya dia menjadi congkak dan takabbur), ketika berkata Ibrahim as Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan, berkata (Namrud) aku menghidupkan dan mematikan ( dan untuk membuktikan ucapannya dia memerintahkan pada pengawalnya untuk mengeluarkan dua orang narapidananya, satu diantaranya dia bebaskan dan biarkan hidup dan satu lagi dia tidak biarkan hidup dan dibunuhnya), Nabi Ibrahim as berkata sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari ufuk Timur (dan jika benar apa yang kamu katakana bahwa kamu adalah hakim alam eksistensi dan Tuhan), maka terbitkanlah kamu matahari itu dari ufuk Barat, (dalam keadaan ini) Namrud yang kafir tersebut tinggal dalam keadaan terperanjat, dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang dzalim” (Q.S:Al-Baqarah:258). Tapi meskipun ayat-ayat Al-Qur’an telah memberikan hidayahnya dan petunjuknya pada akal manusia, namun jika manusianya itu sendiri tidak mau menuruti dan mengikuti pikiran dan renungan akalnya, dia selamanya akan tetap dalam kegelapan dan kedzaliman, sebab manusia sendiri yang mempunyai kemampuan untuk merubah nasibnya dengan ikhtiyar dan pilihannya.

Masih banyak masalah-masalah dimana ayat Al-Qur’an mencahayai akal manusia supaya manusia mau mengikuti akal dan rasio sehatnya yang dapat membawanya pada kebenaran hakiki dan kesempurnaan akhir. Namun tentu pembahasan ini tidak akan sedemikian luasnya, sebab pembahasan kita ini terbatas dan bukan proporsi bahasan seluas masalah-masalah tersebut.

Dan diakhir pembahasan ini kami membawakan beberapa hadits ma’sumin berkenan tentang akal dan kebaikannya. Seseorang bertanya pada Abu Abdillah a.s, dia berkata:” Aku berkata padanya (Abu Abdillah a.s) apakah akal itu”? Beliau menjawab: “Apa yang dengannya Rahman (Tuhan maha Rahman) disembah dan apa yang dengannya jinan (jamaknya surga) diusahakan” (Al-Kâfi, 1\11) Dan juga hadits dari Nabi saww. beliau bersabda: “Tegaknya seseorang adalah akalnya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal” (Bihâr al-Anwâr, juz 1\94). Barkata imam Shadiq as: “Barang siapa yang berakal maka baginya agama, dan barang siapa punya agama maka masuk surga” (Bihâr al-Anwâr, 1\91).

Dari cahaya sabda dan perkataan ma’sumin a.s tersebut di atas, maka dapat kita pahami bahwa dasar dan landasan untuk menerima agama dan parameter kebenaran suatu keyakinan dan akidah agama, tidak lain adalah akal yang merupakan anugerah termulia Tuhan pada manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: