Karamah Sayyidah Fatimah

Abu Sai’d al-Khudri berkata: “Pada suatu hari Ali berkata bahwa beliau berasa amat lapar. Beliau kemudian meminta Fatimah menyediakan makanan. Fatimah bersumpah bahwa tidak ada makanan yang tinggal untuk menghilangkan kelaparan Ali. Imam Ali bertanya mengapa Fatimah tidak memberitahukan kepadanya bahwa di rumah mereka sudah tidak ada makanan lagi. Fatimah menyatakan bahwa dia merasa malu untuk menyatakan perkara itu, dan dia juga tidak mau menuntut apa-apa dari Imam Ali.

Imam Ali keluar dari rumah dengan rasa tawakkal kepada Allah SWT. Beliau meminjam uang sebanyak satu dinar dengan hasrat untuk membeli makanan untuk penghuni rumahnya. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu Miqdad ibn Aswad sedang terbaring di atas jalan pasir yang panas terik oleh sinar matahari yang membakar. Miqdad kelihatan sedih dan muram. Lalu Imam Ali bertanya kepadanya apa yang terjadi, tetapi dia enggan menyatakan perkara yang berlaku kepada Imam Ali. Tetapi akhirnya dia menyatakan juga rahasia itu dan berkata:

 

“Wahai Abul Hasan! Aku bersumpah bahwa ketika aku keluar rumah tadi, penghuni rumahku berada di dalam kelaparan yang amat sangat. Anak-anakku kelaparan dan aku tidak sanggup menonton keadaaan mereka menangis itu. Lalu aku meninggalkan mereka, dan berusaha mencari jalan untuk mengatasi masalah tersebut.”

 Air mata Ali jatuh bercucuran dan mengenai janggutnya apabila mendengar kisah tersebut. Ali berkata kepadanya:

 “Aku bersumpah bahwa aku juga mengalami keadaan yang sama seperti engkau.”

          Ali lalu menyerahkan uang yang dibawanya kepada Miqdad. Ali kemudian pergi ke masjid di mana pada ketika itu Nabi SAW sedang shalat. Ali bershalat di tempat suci itu, dan selepas selesai menunaikan kewajibannya, beliau menemui Nabi SAW di pintu masjid. Rasulullah SAW bertanya kepada Ali tentang makanan apa yang akan dia siapkan untuk makam malam karena Nabi SAW hendak ikut makan malam di tempat putrinya.

           Ali tunduk dan tidak berkata apa-apa. Beliau tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kelihatannya Rasulullah SAW tahu tentang kisah uang satu dinar itu. Telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa hendaklah beliau SAW bersama Ali pada petang itu.” Mengapa anda tidak berkata sesuatu?,” tanya Nabi Muhammad SAW. Ali menjawab:” Diriku di tanganmu.”

           Nabi Muhammad SAW memegang tangan Ali dan dua orang yang agung ini berjalan bersama-sama ke rumah Fatimah. Apabila sampai di sana, Fatimah baru selesai menunaikan kewajibannya (shalat), dan di atas tungku ada satu periuk masakan sedang di masak dan ketika ia sedang mendidih. Fatimah kemudian keluar apabila mendengar bunyi tapak kaki ayahnya datang dan menyambut kedatangan mereka. Nabi SAW mengucapkan salam dengan lembut.” Semoga Allah SWT memberi rahmat ke atas kamu berdua, dan semoga kamu dapat menyediakan kami hidangan makan malam!” sambung Rasulullah SAW.

           Fatimah  mengambil periuk tersebut dan meletakkan di hadapan ayahnya SAW dan suaminya, Ali Kw, yang terkejut dan bertanya pada isterinya tentang bau makanan yang lezat di dalam periuk itu. Fatimah berkata:” Adakah anda marah dengan memandangku dengan pandangan yang demikian! Adakah aku telah melakukan sesuatu yang salah menyebabkan aku layak menerima kemarahanmu!?”

           Ali berkata: ” Mengapa tidak? Semalam engkau bersumpah bahwa engkau tidak mempunyai sedikit makanan pun untuk kita hidup selama beberapa hari! Apa artinya ini semua?”

           Dengan memandang ke langit Fatimah menyambung:” Tuhanku yang berkuasa ke atas langit dan bumi akan menjadi saksi bahwa apa yang akan aku katakan ini adalah benar.”

          Ali menambah: ” Wahai Fatimah! Sudikah engkau menyatakan kepada kami kisah sebenarnya. Sudikah engkau dengan jujur menyatakan kepada kami siapakah yang mengantarkan hidangan yang lezat ini yang menjadi makanan kita!”

           Rasulullah SAW dengan lembut meletakkan tangannya ke atas bahu Ali dan berkata:” Wahai Ali! Semua ini adalah anugerah dari Allah SWT karena kemurahan yang kamu tunjukkan ketika memberikan uang dinar tersebut.

“…Sesungguhnya Allah memberikan (rezeki) apa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

(Ali-Imran:37)
“Dan apabila Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya,

 dia mendapati makanan di sisinya.”

(Ali-Imran:37).

 Kezuhudan Sayyidah Fatimah

Sayyidina Hasan meriwayatkan,” Aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan shalat dengan begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak.” Sayyidina Hasan juga meriwayatkan:

“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri shalat pada malam Jumat. Beliau meneruskan shalatnya dengan rukuk dan sujud hingga subuh. Aku mendengar beliau berdoa untuk kaum mukminin dan mukminah dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. “Ibu,” Aku bertanya kepada beliau. “Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?” Beliau menjawab, “Anakku, (berdoalah) untuk tetangga-tetanggamu karena hal itu diutamakan dan kemudian barulah dirimu sendiri.

 Asma’ binti Umays meriwayatkan:

“Pada suatu ketika aku sedang duduk-duduk bersama Fatimah apabila Nabi SAW datang. Beliau SAW melihat Fatimah memakai rantai di lehernya yang telah diberikan oleh Ali bin Abi Thalib dari bahagiannya yang diambil daripada harta rampasan perang.” Anakku”, beliau SAW berkata, “Janganlah tertipu dengan apa yang orang katakan. Anda adalah Fatimah puteri Muhammad, anda memakai barang perhiasan (yang menjadi kesukaan) orang-orang yang congkak.” Beliau serta-merta melucutkan rantainya pada ketika itu juga dan menjualnya. Dengan uang dari jualan tersebut, beliau membeli dan kemudian membebaskan seorang hamba lelaki. Di kala Rasulullah SAW mendengar apa yang beliau lakukan, beliau SAW merasa gembira dan mendoakan rahmat kepada Imam Ali.

 Sepuluh Keutamaan Ilmu dibanding Harta

Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw

  1. Ilmu adalah warisan Rasullulah, sedang harta adalah warisan Firaun. Sebab itu ilmu lebih baik dari harta.
  2.  Engkau harus menjaga hartamu, sedang ilmu menjagamu. Jadi,ilmu lebih utama.
  3. Seseorang yang berharta mempunyai banyak musuh,sedang orang yang berilmu mempunyai banyak kawan. Karenanya ilmu lebih bernilai.
  4. Ilmu lebih mulia dari harta, karena ilmu akan berkembang bila dibagi-bagikan,sedang harta akan susut bila dibagi-bagikan.
  5. Ilmu lebih baik sebab orang yang berilmu cenderung untuk menjadi dermawan, sedang orang berharta cenderung untuk menjadi kikir dan pelit.
  6. Ilmu lebih aman karena dia tidak dapat dicuri, sedang harta dapat dicuri.
  7. Ilmu lebih tahan lama karena tidak rusak oleh waktu atau sebab dipakai, sedang harta bisa rusak.
  8. Ilmu lebih bernilai karena tanpa batas, sedang harta terbatas dan bisa dihitung.
  9. Ilmu lebih bermutu karena dia dapat menerangi pikiran,sedang harta cenderung untuk membuat pikiran tidak fokus.

10. Ilmu lebih utama karena dia mengajak manusia untuk mengabdi kepada Tuhan mengingat makhluk-Nya yang lemah dan terbatas, sedang harta mendorong manusia menganggap dirinya sebagai Tuhan dengan memandang rendah orang-orang yang lebih miskin darinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: