Iran – Afghanistan Bertekad Perkuat Kerjasama untuk Perangi Terorisme

Presiden Republik Islam Iran mengatakan, Iran dan Afghanistan dengan tegas bertekad untuk memperkuat kerjasama guna menghadapi ancaman ekstremisme dan terorisme di seluruh kawasan.
Hassan Rouhani mengemukakan hal itu dalam pertemuan dengan mitranya dari Afghanistan, Mohammad Ashraf Ghani, di Tehran ibukota Iran.

Ia menambahkan, isu-isu keamanan dan aksi teror di kawasan adalah di antara keprihatinan bersama antara Iran dan Afghanistan.
Rouhani menuturkan, kawasan saat ini sedang dihadapkan dengan banyak masalah dalam hal ini (terorisme) dan kami sangat sedih dan prihatin atas pembunuhan orang-orang tak bersalah oleh teroris. 
Menurutnya, Iran dan Afghanistan menyerukan terbentuknya perdamaian dan stabilitas di seluruh kawasan dan yakin bahwa masalah di negara-negara regional termasuk Yaman tidak dapat diselesaikan secara militer.

Ketika menyinggung transformasi Yaman, Presiden Iran mengatakan, pesawat-pesawat tempur dan pemboman tidak akan membuahkan hasil apapun. Rakyat dan kelompok-kelompok politik di Yaman, lanjutnya, harus melakukan dialog nasional untuk memecahkan masalah mereka, sementara negara-negara lain dan negara tetangga hanya harus mempersiapkan ruang untuk pembicaraan tersebut.
Presiden Iran lebih lanjut menekankan pentingnya untuk mengakhiri serangan udara terhadap Yaman dan membantu kelompok-kelompok di negara itu untuk berdialog guna memulihkan keamanan, stabilitas dan perdamaian. 

Di bagian lain pernyataannya, Rouhani mengatakan, penanaman opium dan perdagangan narkoba mengancam Iran dan Afghanistan.

Ia menyatakan kesiapan Iran untuk meningkatkan kerjasama dengan Afghanistan dalam upaya untuk memerangi penyelundup narkoba.
Presiden Iran juga memuji kesatuan nasional di Afghanistan dan mengatakan, saling percaya antara rakyat dan pemerintah Afghanistan akan mendorong stabilitas, keamanan dan pembangunan yang menguntungkan Afghanistan dan negara-negara regional.

Sementara itu, presiden Afghanistan mengatakan bahwa negaranya bertekad untuk memanfaatkan semua peluang untuk mempromosikan perdamaian, kesejahteraan dan stabilitas di kedua negara.
Ghani menyerukan kerjasama dengan Iran untuk serius memerangi semua kelompok teroris yang beroperasi di Afghanistan dan seluruh kawasan.

Pemimpin Al-Houthi: AS Sponsori Agresi Militer ke Yaman

Pemimpin Gerakan al-Houthi mengecam agresi militer Arab Saudi ke Yaman, dan mengatakan bahwa Amerika Serikat mensponsori dan mengarahkan serangan terhadap negaranya.
Abdul-Malik al-Houthi mengatakan hal itu dalam pidato televisi,  sebagai reaksi atas serangan mematikan Arab Saudi yang menarget warga sipil Yaman.
“AS mensponsori serangan. AS mengarahkan serangan terhadap Yaman,” ujarnya seperti dikutip Press TV.

Ia menambahkan, AS telah memberikan wewenang kepada “tangan-tangan kriminalnya” untuk membunuh warga sipil Yaman. 
Pemimpin Gerakan al-Houthi lebih lanjut menggambarkan langkah Arab Saudi untuk menargetkan rakyat Yaman sebagai “konyol dan tidak bisa diterima.”

Al-Houthi menuturkan, para agresor: Arab Saudi, AS dan rezim Zionis Israel, sedang membunuh warga Yaman yang tak berdosa dan menarget infrastruktur negara ini dengan menghancurkan masjid, sekolah, pasar, dan tempat-tempat lain.
Ia menilai klaim bahwa agresi ini untuk kepentingan rakyat Yaman sebagai konyol dan tidak masuk akal. Menurutnya, serangan tersebut adalah “pembenaran” untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa.
Al-Houthi menegaskan, alasan di balik agresi ini adalah AS dan rezim Israel menginginkan serangan tersebut. 
Di bagian lain pidatonya, al-Houthi menuturkan, AS dan  Israel adalah pihak yang paling diuntungkan dari agresi Arab Saudi ke Yaman, dan klaim bahwa agresi Arab Saudi bertujuan untuk melindungi dua tempat suci di negara itu merupakan penghinaan terhadap Islam.

Ia menegaskan bahwa Israel sendiri adalah satu-satunya ancaman bagi tempat suci-tempat suci itu.

Agresi militer Arab Saudi ke Yaman yang dimulai sejak tanggal 26 Maret telah merenggut nyawa ribuan orang dan melukai ribuan lainnya.

Al-Saud Bersekongkol dengan Para Teroris di Yaman

Dalam laporan utama koran Jomhuri-e Eslami, terbitan Tehran, disebutkan, para penguasa rezim al-Saud sekarang dalam pembantian rakyat Yaman juga bersekongkol dengan al-Qaeda dan ISIS serta berbagai kelompok Takfiri, atas instruksi dan persetujuan Amerika Serikat.

Serangan Arab Saudi ke Yaman dan berbagai kejahatan yang dilakukan militer al-Saud ke Yaman, membuktikan bahwa umat Muslim sudah tidak dapat mempercayai rezim al-Saud.

Ditegaskan kembali bahwa Arab Saudi tidak akan pernah dapat mencapai tujuan ilegalnya di Yaman, dan kemenangan akhir akan dicapai rakyat Yaman. Adapun yang tersisa dari agresi ke Yaman bagi para penguasa Arab Saudi adalah kebencian umat Muslim di kawasan.

Setelah kegagalan semua opsi dan politiknya di Yaman, Arab Saudi memilih opsi militer dan melancarkan serangan udara ke Yaman pada 26 Maret, dengan alasan mengembalikan kekuasaan sah mantan presiden Yaman yang berstatus buron, Abd Rabbuh Mansur al-Hadi.

Al-Hadi, mengajukan surat pengunduran dirinya kepada parlemen Yaman pada 21 Januari 2015, dan segera disetujui parlemen. Namun al-Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya pada 3 Maret 2015, setelah melarikan diri dari Sanaa menuju Aden dan mengumumkan pembentukan pemerintahan di Yaman selatan.

Militer dan Pasukan Relawan Yaman Usir Al Qaeda dari Dua Distrik di Abyan

Sumber-sumber Yaman mengabarkan kesusksesan operasi militer dan pasukan relawan negara itu dalam memerangi teroris al-Qaeda di Provinsi Abyan, Yaman selatan.

Seperti dilansir Tasnim News, pasukan militer dan komite-komite rakyat Yaman telah berhasil mengembalikan keamanan di daerah al-Wadea dan Ahwar di Provinsi Abyan setelah mengusir para teroris al-Qaeda.

Sementara itu, jet-jet tempur Arab Saudi membombardir wilayah Lawdar dan Mudiyah di Provinsi Abyan.

Pesawat-pesawat tempur rezim Al Saud juga menarget gedung Departemen Kesehatan Yaman di Jahlan, wilayah Sirwah di Provinsi Ma`rib dan menghancurkan gedung tersebut.

Agresi militer Arab Saudi ke Yaman sejak 26 Maret telah merenggut nyawa ribuan orang termasuk perempuan dan anak-anak, dan melukai ribuan lainnya.

Al-Saud Bersekongkol dengan Para Teroris di Yaman

Rezim al-Saud bekerjasama dengan para teroris dalam pembantaian rakyat tak berdosa Yaman.

Dalam laporan utama koran Jomhuri-e Eslami, terbitan Tehran, disebutkan, para penguasa rezim al-Saud sekarang dalam pembantian rakyat Yaman juga bersekongkol dengan al-Qaeda dan ISIS serta berbagai kelompok Takfiri, atas instruksi dan persetujuan Amerika Serikat.

Serangan Arab Saudi ke Yaman dan berbagai kejahatan yang dilakukan militer al-Saud ke Yaman, membuktikan bahwa umat Muslim sudah tidak dapat mempercayai rezim al-Saud.

Ditegaskan kembali bahwa Arab Saudi tidak akan pernah dapat mencapai tujuan ilegalnya di Yaman, dan kemenangan akhir akan dicapai rakyat Yaman. Adapun yang tersisa dari agresi ke Yaman bagi para penguasa Arab Saudi adalah kebencian umat Muslim di kawasan.

Setelah kegagalan semua opsi dan politiknya di Yaman, Arab Saudi memilih opsi militer dan melancarkan serangan udara ke Yaman pada 26 Maret, dengan alasan mengembalikan kekuasaan sah mantan presiden Yaman yang berstatus buron, Abd Rabbuh Mansur al-Hadi.

Al-Hadi, mengajukan surat pengunduran dirinya kepada parlemen Yaman pada 21 Januari 2015, dan segera disetujui parlemen. Namun al-Hadi menyatakan menarik kembali pengunduran dirinya pada 3 Maret 2015, setelah melarikan diri dari Sanaa menuju Aden dan mengumumkan pembentukan pemerintahan di Yaman selatan.

Sheikh Qassem: Kegagalan Arab Saudi di Yaman, Satu Hal yang Pasti

Wakil Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawamah Islam Lebanon (Hizbullah) menilai kegagalan Arab Saudi dalam agresinya ke Yaman sebagai hal yang pasti.

Seperti dilansir Al-Alam,  Syeikh Naim Qassem mengatakan, dunia hari ini menyaksikan kekalahan memalukan Arab Saudi, dan gerakan rakyat Ansarullah dan militer Yaman mengontrol sebagian besar utara dan selatan negara ini meskipun mendapat berbagai tekanan.

Ia menambahkan, semakin lama perang ini berlangsung, maka kekalahan Arab Saudi kian hari semakin besar.

Menurutnya, Arab Saudi yang telah mengumumkan penghentian operasi “Badai Mematikan” pada dasarnya telah menerima kekalahannya di Yaman, dan sekarang dengan memulai operasi “Pemulihan Harapan,” berupa untuk menerapkan agresi baru dengan cara yang  berbeda.

Wakil Sekjen Hizbullah menilai solusi tepat dan benar untuk krisis Yaman adalah melalui jalur politik.

Syeikh Qassem menuturkan, agresi militer rezim Al Saud ke Yaman sama seperti agresi rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza, bahkan tidak ada perbedaan di antara dua agresi ini.

Pada 21 April, Arab Saudi mengumumkan penghentian agresi militer ke Yaman setelah membombardir negara ini selama 27 hari. Namun selang dua jam pasca pengumuman tersebut, jet-jet tempur rezim Al Saud membombardir berbagai wilayah Yaman termasuk Sanaa.

TV Mesir: Saudi Takut Kirim Pasukan Darat ke Yaman

Stasiun televisi Al Faraeen, Mesir mengabarkan tentang alasan Arab Saudi tidak mengirim pasukan darat ke Yaman.

Situs berita Al Ahed, mengutip Al Faraeen melaporkan, militer Saudi batal mengerahkan pasukan daratnya ke Yaman untuk memerangi kelompok Houthi, pasalnya mereka tidak punya pengalaman dan kemampuan bertempur di negara seperti Yaman.  

Menurut Al Faraeen, kondisi wilayah darat Yaman tidak memungkinkan bagi pasukan manapun, kecuali orang Yaman sendiri, untuk bertempur di sana. Oleh karena itu jika Saudi mengirim pasukan darat ke Yaman, maka Riyadh harus siap menunggu kabar kematian mereka.

Sekalipun telah mengumumkan penghentian serangan udara ke Yaman, namun Saudi terus melanjutkan agresinya ke negara itu. Saudi juga tetap melarang pesawat atau kapal pembawa bantuan kemanusiaan mendekati zona udara dan laut Yaman.

Pengakuan Mengejutkan Pangeran Saudi Soal Perang Yaman

Salah satu pangeran Arab Saudi mengungkapkan, Riyadh menggunakan pilot-pilot asing untuk membombardir Yaman.

Talal bin Abdul Aziz, saudara Raja Saudi, dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Jerman, Fox membocorkan informasi soal serangan jet-jet tempur Saudi ke Yaman. Menurut keterangannya, para pilot yang membombardir Yaman adalah warga asing dan sejumlah besar anggaran nasional Saudi tersedot untuk membayar gaji mereka.

Talal bin Abdul Aziz menjelaskan, “Pilot-pilot bayaran yang berasal dari Pakistan, India, Perancis, Amerika Serikat dan Mesir itu, setiap satu kali terbang menerima bayaran 7.500 dolar AS.”

Pangeran Saudi tersebut mengatakan bahwa Saudi menyesal telah melakukan agresi militer ke Yaman. “Pemerintah Saudi baru menyadari bahwa dirinya sudah mengambil keputusan-keputusan yang keliru. Riyadh siap menerima kesepakatan yang ditolaknya sebelum agresi dimulai,” paparnya.

Saudara Raja Saudi itu juga menyinggung ketidakloyalan sekutu Riyadh dalam serangan ke Yaman dan menuturkan, “Sekutu Saudi dalam perang Yaman berkhianat, pasalnya mereka tahu Yaman adalah kuburan bagi para agresor.”

Talal menyebut staf komando militer Saudi penakut. “Mereka ketakutan untuk terjun ke dalam perang darat, dan sebagian tentara Saudi melarikan diri setelah mendengar sekutu Riyadh tidak akan ikut serta dalam perang darat di Yaman,” ujarnya.

Rezim Al Saud dengan bantuan sekutu-sekutunya, 26 Maret lalu mulai menyerang Yaman dengan dalih memberi dukungan kepada Abd Rabbuh Mansour Hadi, Presiden terguling dan buron negara itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: