Maulid: Buahkan Kecintaan Kepada Nabi (2)

Oleh : Almin Jawad Morteza

Kalau kita memerhatikan tradisi para sahabat dalam mengambil berkah dari apa saja yang pernah bersentuhan dengan Rasulullah, seakan-akan magic yang ada dan tersebar diseluruh dunia ini mempunyai pembenaran, bukan saja agama tapi juga sains. Perhatikanlah bagaimana obeng yang telah bersentuhan dengan magnet, obeng itu akan berubah menjadi magnet yang dapat menarik benda besi lainnya kepadanya. Melalui tradisi maulid, kita ingin menghidupkan jiwa kita yang telah mati dengan bershalawat dan mengucapkan salam kepada baginda Rasulullah. Dan jiwa kita hanya dapat bisa hidup jika disentuh oleh ruh Muhammad yang menghidupkan. Karena itulah Allah berfirman, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan untuk menebarkan kasih di seluruh penjuru alam semesta.” (QS. Al-Anbiya [21]:107). Dan kasih Nabi itu adalah kehidupan bagi mahluk Tuhan seluruhnya. Tanpa kasih itu, manusia dan mahluk seluruhnya tidak akan tercipta. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Sekiranya  bukan karena kecintaan-Ku kepadamu (Muhammad), Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini berserta isinya.

Untuk itu, beberapa saat setalah Rasulullah meninggal dunia, para sahabat mendatangi kuburan beliau dan mengambil tanah untuk diusapkan ke wajah mereka, karena mereka mengetahui bahwa tanah itu bersentuhan dengan tubuh Rasulullah yang mulia. Dari kecintaan itulah, mereka mengusapkan tanah itu; dan ini bukan termasuk kemusyrikan. Ini adalah ekspresi kecintaan yang menggelora pada Nabi, karena dengan begitu iman dan tubuh mereka menjadi hidup kembali. Kalau banyak jamaah haji yang mencium hajar aswad dengan tanpa sabar, bukan berarti mereka menuhankan hajar aswad. Begitu pula dengan orang Islam yang menjenguk kuburan Rasulullah dengan linangan air mata, ketahuilah bahwa itu timbul karena kecintaan mereka terhadap beliau; tidaklah dimaksudkan untuk menuhankan Rasulullah. Janganlah kita menuduh dengan prasangka orang-orang yang meluapkan cintanya kepada Rasulullah sebagai musyrik apa lagi kafir. Janganlah kita menyatakan sesuatu musyrik hanya karena kita belum punya pengetahuan tentang sesuatu itu. Hanya karena akal kita belum sampai pada maqam itu.

Dan coba banyangkan, bagaimana orang mencintai Michael Jackson bertemu dengannya. Mereka akan meneriakkan namanya, bahkan menjerit histeris sambil menangis. Bahkan, ketika dia datang ke Singapura, banyak di antara penggemarnya yang datang ke sana adalah orang-orang yang bukan dari Singapura sendiri. Mereka menjerit dengan jeritan yang sama dalam nada serentak, Michael Jackson!

Begitu juga ketika Zinedine Zidane, salah seorang mantan kapten yang memperkuat tim sepak bola asal Perancis, atau Julia Robert datang ke Bali untuk syuting film Eat, Pray and Love, ribuan orang datang untuk melihat Julia. Mereka ingin menyentuhnya, berfoto bersamanya, paling tidak, menyentuh bekas injakan kakinya. Itu semua disebabkan oleh kerinduan seseorang untuk mencintai seseorang.

Dan bukan tidak mungkin pula bahwa yang datang adalah kaum Muslim yang sudah kehilangan kecintaan mereka terhadap Rasulullah, karena kecintaan terhadap Rasulullah sudah direkayasa untuk disingkirkan dengan berbagai cara. Misalnya dengan menyebut bahwa hal itu sebagai bid’ah dan musyrik. Orang yang mengatakan bahwa mencintai Rasulullah adalah bid’ah dan musyrik bukanlah tokoh yang layak kita cintai dan bukan tokoh yang patut diberi kecintaan tulus kepadanya. Tapi, itulah yang banyak terjadi sekarang. Banyak orang Muslim sendiri yang ingin mengikis kecintaan Rasulullah dari hati orang-orang yang mencintainya.

Dalam sebuah seminar tentang Maulid, saya pernah dibid’ahkan hanya karena menganjurkan Maulid sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah. Menurut kawan saya yang ustadz itu, maulid merupakan kebiasaan jahiliah yang feodalistik. Waktu itu, saya hampir tidak melanjutkan pembicaraan. Tapi, segera saya mengurungkan niat saya itu. Saya lalu menunjukkan kepada dia bukti-bukti bahwa ulama yang ia kutip perkataannya – yang katanya membid’ahkan maulid – juga sebetulnya manganjurkan maulid. Jalaluddin As-Suyuti, misalnya, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyimpan perbendaharaan Sunnah Rasulullah kemudian dibukukan dalam bentuk prosa, puisi dan syair-syair pujian untuk Rasulullah dari orang-orang Anshar dan Muhajirin saat menyambut kedatangan Nabi di Madinah.

Di dalam shalawat juga, ada doa, misalnya dalam Shalawat Badriyah. Ada juga shalawat lain yang terkenal dan dianggap sangat mujarab untuk mengatasi berbagai kesulitan. Karena itu, shalawat itu disebut dengan shalawat untuk melepaskan kesulitan atau Shalawat Munfarijah. Dan dalam shalawat itu terkandung pujian berupa salam kepada Rasulullah. Jadi, kebiasaan melazimkan shalawat adalah salah satu upaya kaum Muslim untuk memelihara kemuliaan Rasulullah.

Dulu, sebenarnya orangtua kita sudah meninggalkan “warisan” tentang cara mencintai dan menghidupkan keimanan kita dengan banyak membaca shalawat kepada Rasulullah, dengan tata cara yang telah dirumuskan. Misalnya, ketika seorang anak lahir, diadakan akikah yang di dalam marhabanannya dibacakan shalawat kepada Nabi Muhammad. Dibacakannya juga Al-Barzanji yang berisikan kisah-kisah kehidupan Rasulullah. Setelah itu, dikelilingkan kepada yang hadir pada resepsi itu, kemudian di telinganya diperdengarkan shalawat dan salam dari orang disekitarnya. Sekarang sains dapat membuktikan bahwa telinga anak yang baru lahir sudah dapat merekam suara yang ada disekitarnya.

Demikian pula saat anak hendak dikhitan, sebelum dibawah ke rumah sakit, seorang anak diperdengarkan dahulu dengan gemuruh suara lantunan orang yang membacakan shalawat dan salam kepada Rasulullah. Sama halnya dalam pernikahan, bahkan dikampung saya, Buton, pengantin lelaki akan diantar menemui pengantin perempuan dengan iringan rebana dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad. Dan kalau orang itu meninggal dunia, dibacakan tahlil dan dalam tahlil itu dibacakan shawalat kepada Rasulullah untuk dimohonkan syafaatnya agar dapat menghidupkan keimanan yang meninggal dunia itu pada kebenaran di akhirat kelak.

Termasuk di antara cara mengikat atau menambah kecintaan kita kepada Rasulullah adalah mengkhususkan bulan kelahirannya dengan membacakan riwayat hidup beliau. Riwayat-riwayat yang ditulis para ulama itu disebut Maulid. Di Indonesia, peringatan hari kelahiran Nabi itulah yang disebut Maulid. Padahal, Maulid berarti tulisan-tulisan, baik prosa, puisi, syair dan sajak, maupun lain-lain yang menceritakan kisah Rasulullah dengan penuh kecintaan. Salah satu contohnya adalah Al-Barzanji yang sering dibaca oleh orang di nusantara. Jadi, peringatan Maulid adalah salah satu rekayasa atau usaha kaum Muslimin untuk menyiramkan kecintaan kepada Rasulullah dengan berbagai kegiatan. Jika kita tengok kesusasteraan dunia Islam, kita akan dapati bahwa puisi, prosa, banyak dihiasi oleh bacaan-bacaan shalawat. Contohnya, apa yang dilakukan oleh penyair Sana’i ketika ia bersenandung:

          Mengapa manusia, malaikat dan jin tak memujimu

          Padahal Allah SWT Sendiri telah memujimu

Atau dalam bait-bait sajak penulis Spanyol, Lisanuddin ibn Al-Khatib:

          Ayat-ayat Kitab Suci telah memujimu – bagaimana

          Bisa syair mudahku melukiskan kemuliaanmu.

Dalam tafsir Al-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin Al-Suyuti, disebutkan bahwa dampak dan pengaruh mencintai Allah, Rasulullah, dan keluarganya, diantaranya ialah perasaan tentram di dalam hati.

Ketika menjelaskan ayat, Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan zikir kepada Allah, hati menjadi tentram (QS. Al-Ra’d [13]:28), beberapa sahabat bertanya, “Siapakah yang tentram karena zikir kepada Allah?” Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang tentram adalah orang yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai keluargaku dengan kecintaan yang tulus; bukan kecintaan yang dusta.” (Al-Durr Al-Mantsur, di dalam Jalaluddin Rakhmat, 2009, h. 205).

Sa’di, penyair sufi dari Persia, dengan indah menyuguhkan kepada kita puisinya;

          Balagha al-‘ula bi kamalihi

          Kasyafa al-duja bi jamalihi

          Hasunat jami’u hishalihi

          Shallu ‘alayhi wa alihi

          Mencapai ketinggian dengan kesempurnaan

          Menyingkap kegelapan dengan keindahan

          Sungguh indah seluruh perilakunya

          Sampaikan salam padanya dan keluarganya

Begitu pokoknya kecintaan kepada Nabi, sehingga di dalam shalat, kita akhiri salat kita dengan mengucapkan salam kepadanya dan kepada semua hamba yang saleh, yang masih tetap hidup di sisi Allah. Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish Shalihin.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: