Cerita dari Al-Hurr…

“Demi Allah. Aku telah menyuruh hatiku untuk melakukan pilihan satu di antara dua: surga atau neraka. Dan hasilnya, aku tidak akan mengutamakan sesuatu yang lain di atas surga. Ya, walaupun untuk mendapatkan itu aku harus dicincang dan dibakar hidup-hidup …!”

Pada suatu pagi, ribuan tahun lalu di Karbala, Husain bin Ali mengatur barisan pasukannya yang berjumlah 77 orang (ada yang mengatakan 72 orang). Pasukan sekecil itu diaturnya sedemikian rapi hingga menyerupai sebuah laskar besar. Zuhair bin Qain mendapatkan tugas di bagian kanan, sedangkan Habib bin Madhahir ditempatkan di kiri. Bendera perang beliau serahkan kepada Abbas, adiknya.  Sedangkan Imam Husain sendiri berada di tengah barisan pasukan bersama sanak keluarganya.

Sebagai langkah awal pertahanan, pasukan suci itu membakar kayu-kayu yang ada di balik parit yang memisahkan mereka dengan pasukan musuh. Dengan cara itu mereka membuat sebuah kubu pertahanan yang kuat, sehingga tidak lagi disibukkan untuk menjaga perkemahan.

Tak lama kemudian, pasukan musuh mulai bergerak maju. Umar bin Saad dengan pasukannya yang berjumlah 30 ribu orang (ada yang bilang berjumlah 7 ribu orang) menempatkan Umar bin Hajjaj di bagian kanan dan Syimr bin Dzil Jausyan di bagian kiri. Komandan pasukan Ibnu Ziyad itu memerintahkan Azrah bin Qais untuk memimpin pasukan berkuda. Pasukan pejalan kaki dipimpin oleh Syabats bin Rab`i. Sedangkan bendera perang pasukan dipegang oleh Zubaib, budak Umar bin Saad. Serangan ke arah kamp Imam Husein  dilancarkan. Pasukan Ibnu Ziyad yang berencana menyerang dari belakang terpaksa mengurungkan niat karena berhadapan dengan api yang disulut oleh sahabat-sahabat Imam Husain.

Di antara para pasukan itu, ada seorang pemimpin pasukan yang bernama Al- Hurr. Dalam bahasa Arab, Al-Hurr berarti merdeka. Dia dan sejumlah pasukannya sebelumnya yang menggiring dan mengisolasi Imam Husein beserta rombongan di Karbala hingga mengalami kelaparan dan kehausan. Al-Hurr berdiri di sisi Umar bin Saad.

Dia melirik ke arah Ibnu Saad dan bertanya: “Apakah engkau memang berniat membantai Husain?”

“Ya,” jawab Umar. “Demi Allah aku akan menggempur kelompok itu, setidaknya aku bisa memenggal kepala dan memotong tangan Husein.”

Mendengar perkataan itu, Al-Hurr terguncang. Hati nuraninya tidak bisa menerima semua itu. Bagaimana mungkin ada seorang yang begitu tega membunuh cucu terkasih dari Rasulullah SAW? Al-Hurr tahu bahwa apa yang sedang diperjuangkan oleh Husain bin Ali adalah juga ditujukan bagi dirinya dan seluruh umat muslim. Hati Al-Hurr benar-benar hancur mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pasukannya kepada para orang suci ini.

Seketika itu juga Al-Hurr menghela kudanya menuju pasukan Imam Husain. Al-Hurr pun turun dan menghampiri Husain dengan berlinang air mata sambil berkata “Ya Allah, aku datang untuk menebus semua kesalahanku dan bertaubat kepada-Mu. Terimalah taubatku ini. Akulah yang telah melukai hati sanak keluarga Rasul.” Kepada Imam Husain, Al-Hurr berkata sambil berdoa, “Wahai cucunda Rasul, aku menyesali semua kesalahanku selama ini. Apakah taubatku bisa diterima? Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu.”

Imam Husain menjawab, “Ya, Allah menerima taubatmu. Semoga engkau menjadi apa yang telah orang tuamu sematkan pada namamu, orang yang merdeka.” Al-Hurr pun akhirnya syahid bersama dengan Imam Husain dan para pengikutnya di Padang Karbala.

Merekalah pemilik jiwa-jiwa yang merdeka dan memilih untuk mengikuti nuraninya.

Ya Rasulallah, kini, inilah kami…bukan Al-Hurr-mu, tapi kami punya tekad dan cinta seperti mereka. Bila mereka mencintaimu, kami mencintaimu dan mencintai jejak-jejak kaki keluargamu. Ah, bahagianya kami jika sebutir debu yang mereka pijak, hinggap melayang di hati kami.

(Diolah dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: