Krisis Suriah dan Standar Ganda PBB

Deputi Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengabaikan keberadaan teroris di Suriah.

Dia dalam artikelnya,  di harian al-Binaa cetakan Lebanon, menulis, “PBB – meskipun meratifikasi sejumlah resolusi dengan tema perang melawan terorisme – menutup mata atas kegiatan teroris di Suriah dan mereka telah menjadi alat kepentingan untuk beberapa kekuatan.”

Mekdad meminta organisasi internasional itu untuk mengadopsi sikap dan kebijakan yang adil dan bukan menerapkan standar ganda terhadap sejumlah negara. Menurutnya, kinerja dan pendekatan PBB perlu diperbaiki.

PBB – yang lahir setelah Perang Dunia II – dibentuk oleh kekuatan-kekuatan utama dunia untuk melindungi perdamaian dan keamanan global. Berdasarkan pasal satu Piagam PBB, misi utama lembaga dunia itu adalah menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Sejalan dengan pasal tersebut, PBB harus mengatasi krisis dan ancaman-ancaman terhadap perdamaian dengan cara damai dan sesuai dengan prinsip keadilan dan hukum internasional.

Sejumlah krisis yang pecah di dunia menunjukkan bahwa PBB tidak berhasil dalam menjalankan mandatnya sebagai lembaga penjaga perdamaian. Sebagai contoh, organisasi internasional itu menjalankan kebijakan standar ganda terhadap krisis di Suriah.

Suriah sejak Maret 2011 menghadapi sebuah krisis serius yang diciptakan oleh beberapa negara regional dan internasional. Krisis Suriah telah memasuki tahun ketiga dan pengiriman militan bersenjata dari berbagai penjuru dunia ke Suriah masih terus berlanjut. Menurut para pejabat Damaskus, teroris dari 80 negara dunia hadir di Suriah untuk bertempur.

Anasir-anasir teroris melakukan berbagai kejahatan sadis terhadap rakyat Suriah di bawah kebungkaman dan sikap pasif PBB. Standar ganda PBB di Suriah telah membuka jalan bagi pihak asing untuk mendukung kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di negara itu.

Padahal, pemerintah Damaskus berulang kali menyeru Dewan Keamanan dan Dewan HAM PBB untuk mengesampingkan standar ganda dan berkomitmen untuk memerangi terorisme. Namun anehnya, sejumlah negara termasuk beberapa anggota PBB justru menghalangi Dewan Keamanan untuk mengecam kekejaman yang dilakukan oleh militan di Suriah.

Damaskus juga meminta PBB untuk mengambil langkah-langkah serius dan bertanggung jawab terhadap terorisme di Suriah.

Kinerja lemah PBB terhadap krisis di Suriah dijalankan pada saat negara itu membangun kerjasama konstruktif dengan lembaga-lembaga internasional termasuk, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW). Pemerintah Damaskus sejalan dengan komitmennya untuk menyelesaikan krisis, telah menyerahkan senjata kimianya untuk dimusnahkan.

Sikap PBB mengenai rezim Zionis Israel berbeda jauh dengan perlakuan lembaga itu terhadap Suriah. Damaskus senantiasa menghormati keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan, tapi Tel Aviv – dengan lampu hijau Barat khususnya Amerika Serikat – selalu melanggar hukum internasional.

Berdasarkan pengakuan pejabat dari beberapa negara dunia, Israel dengan menyimpan sekitar 300-400 hulu ledak nuklir, merupakan ancaman serius terhadap keamanan kawasan dan dunia.

Sikap pasif PBB terhadap kegiatan teroris di Suriah kian menjauhkan organisasi internasional itu dari filosofi pencetusannya yaitu, menciptakan perdamaian dan keamanan dunia.

Polling: Israel Ancaman Terbesar dan Iran Negara Terkuat di Kawasan 

Hasil jajak pendapat terbaru lembaga menunjukkan bahwa mayoritas warga di 15 negara Timur Tengah menilai Israel sebagai ancaman terbesar bagi keamanan wilayah tersebut dan Iran sebagai negara terkuat di kawasan dari sisi kekuatan militer.

 Militer Irak akan Balas Aksi Penutupan Aliran Sungai Furat oleh DIIS 

Salah seorang wakil Koalisi Pemerintahan Hukum di Parlemen Irak mengatakan, terputusnya aliran sungai Furat bagi warga Provinsi Babil merupakan ancaman  yang berbahaya dan tidak akan dibiarkan.

Situs berita Irak, Al Masalah seperti dikutip Mehr News  mengabarkan, Ali Al Alaaq, Wakil Koalisi Pemerintahan Hukum di Parlemen Irak menegaskan, “Kami tidak akan membiarkan begitu saja masalah pemutusan aliran sungai Furat bagi warga Provinsi Babil oleh kelompok teroris, Daulah Islamiyah fi Iraq wa Syam (DIIS) dan militer Irak akan membalasnya.”

 Menurutnya langkah baru DIIS itu sangat berbahaya. “Kita membutuhkan sikap nasional guna mendukung militer Irak dalam pertempuran-pertempuran melawan teroris di Fallujah dan wilayah-wilayah lainnya,” tambah Al Alaaq.

Kelompok teroris DIIS baru-baru ini menutup katup bendungan Al Naimiya sehingga air sungai Furat meluap dan menenggelamkan sejumlah banyak lahan pertanian di Selatan dan Tengah Irak. Aksi ini juga mengakibatkan berkurangnya debit air sungai Furat yang merupakan sumber air minum dan pengairan bagi rakyat Irak.   

Nouri Al Maliki, Perdana Menteri Irak menyinggung aksi berbahaya yang dilakukan kelompok teroris DIIS itu. Ia mengatakan, “Dengan segenap upaya, kami akan memerangi kelompok teroris ini.”

 Resolusi Anti-Iran Baru Parlemen Eropa Tidak Bernilai 

Seorang pejabat senior Iran mengecam resolusi anti-Iran baru oleh Parlemen Eropa (EP), dan menekankan bahwa Republik Islam memandangnya “penilaian tak berdasar.”

Resolusi EP baru-baru ini hanya ditujukan untuk mengintensifkan tekanan politik terhadap Iran, kata Ali Akbar Velayati, penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

“Ini jenis penilaian yang tidak adil dan tidak beralasan dan tidak bernilai bagi bangsa Iran,” katanya.

Resolusi anti-Iran, yang ditetapkan pada 3 April itu, menyebutkan keprihatinan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Republik Islam.

Resolusi itu juga mengklaim bahwa pilpres Iran pada Juni 2013, yang ditandai dengan partisipasi pemilih yang tinggi dan berujung pada terpilihnya Presiden Hassan Rouhani, “tidak diselenggarakan sesuai dengan standar demokrasi yang diakui Uni Eropa.”

 Velayati lanjut menilai Parlemen Eropa telah menjadi sebagai “alat tekanan” bagi Amerika Serikat dan sekutunya untuk mencapai tujuan “tidak sah” mereka melawan negara-negara yang berusaha mandiri.

Menurutnya resolusi Parlemen Eropa bukan hal baru bagi Iran mengingat berbagai resolusi telah mereka rilis sejak kemenangan Revolusi Islam pada 1979.

Pengakuan AS atas Ketidakmampuan dalam Memajukan Pembicaraan Damai 

Kurang dari tiga pekan dari berakhirnya tenggat waktu selama sembilan bulan untuk babak baru perundingan kompromi antara Palestina dan rezim Zionis Israel, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat sebagai mediator negosiasi tersebut mengakui ketidakmampuan Washington untuk memajukan pembicaraan damai itu.

John Kerry, Menteri Luar Negeri AS dalam pernyataannya mengenai perundingan antara Palestina dan Israel,  mengatakan, mengingat adanya langkah-langkah yang tidak konstruktif dari kedua belah pihak yang berunding selama beberapa hari terakhir dan juga karena keterbatasan kemampuan AS untuk memajukan pembicaraan tersebut, maka ada kemungkinan upaya Washington dalam proses perundingan damai Timur Tengah akan terhenti.

Statemen tersebut dilontarkan Kerry sehari setelah Israel mengumumkan bahwa Tel Aviv telah memutuskan untuk membatalkan tahap ke-4 pembebasan tahanan Palestina. Keputusan tersebut diambil ketika sebelumnya Israel telah berkomitmen untuk membebaskan104 tahanan Palestina di tahap ke-4 pembebasan. Namun hingga kini, Israel hanya melaksanakan tiga tahap dari kesepakatan yang telah ditandatangani dengan Otorita Ramallah itu. Padahal, tahap ke-4 pembebasan tahanan Palestina seharusnya dilaksanakan pada akhir bulan Maret 2014.

Penundaan pembebasan tahanan Palestina dan tidak adanya perkembangan dalam perundingan telah menyebabkan Mahmoud Abbas, Ketua Otorita Ramallah secara resmi menandatangani tuntutan keanggotaan “pemerintah Palestina” di lembaga-lembaga internasional sebagai protes terhadap keputusan Israel.  

Transformasi terbaru di Palestina telah menyebabkan kunjungan Kerry sebagai sponsor dan penengah babak baru pembicaraan kompromi, ke Ramallah untuk bertemu dengan Abbas dibatalkan.  Sementara itu, tenggat waktu selama sembilan bulan akan segera berakhir pada akhir bulan April. Dengan demikian, pembicaraan yang tidak pernah mencapai hasil nyata itu telah diambang kegagalan.

Babak baru pembicaraan kompromi antara Otorita Ramallah dan rezim Zionis berlanjut sejak musim panas tahun lalu setelah terhenti selama tiga tahun. Pembicaraan tersebut dilanjutkan atas mediasi AS. Sejak awal, kebanyakan kelompok Palestina telah memperkirakan bahwa babak baru perundingan itu tidak akan mencapai hasil apapun seperti negosiasi-negosiasi sebelumnya. Sebab, Israel selama ini tidak pernah komitmen dengan janji-janjinya dan tidak melaksanakan pra-syarat termasuk penghentian pembangunan distrik-distrik Zionis di wilayah Palestina yang diduduki.

Kebuntuan perundingan damai tersebut menunjukkan bahwa diplomasi AS dalam menyelesaikan krisis Palestina yang dipusatkan pada proses pembicaraan kompromi dan kepentingan Israel telah gagal. Hal itu tampak jelas dalam kunjungan berturut-turut terutama kunjungan Menlu AS ke Palestina pendudukan (Israel) pada pekan lalu tanpa hasil apapun.

Kegagalan berturut-turut dari berbagai perundingan dan pembicaraan damai adalah bukti nyata bahwa langkah tersebut tidak mampu menyelesaikan krisis Palestina. Oleh karena itu, opini publik Palestina berharap Otorita Ramallah akan merevisi kebijakannya terkait perundingan kompromi dengan Israel dan mengambil langkah tepat untuk merealisasikan cita-cita bangsa Palestina.

Kelompok-kelompok Palestina termasuk Gerakan Muqawamah Islam Palestina (Hamas) dan Jihad Islam meyakini bahwa dalam kondisi saat ini kekompakan dan solidaritas di antara rakyat Palestina adalah langkah dan kinerja terbaik untuk menghadapi langkah-langkah rezim Zionis dan konspirasi para pendukungnya khususnya AS.

Menurut mereka, persatuan di antara kelompok-kelompok Palestina akan mampu membantu merealisasikan cita-cita bangsa Palestina untuk membentuk sebuah negara independen dengan Baitul Maqdis sebagai ibukotanya.

  

BEBERAPA RIWAYAT

SAYYIDAH FATIMAH AZ-ZAHRA 

 

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang

                                                        

 “Ketahuilah wahai hamba Allah! Bukti kebenaran-Nya yaitu

janji yang disajikan kepada kalian dan warisan yang ditinggalkan

bagi kalian adalah kitab Allah yang berbicara, Al-Quran yang benar,

cahaya yang bersinar dan berkilauan, terang bukti-buktinya, terungkap

segala rahasia yang dikandungnya, sangat jelas zahirnya dan orang

selalu iri akan keagungan para pengikutnya.”

 

 “(Ia adalah) kitab Allah…Mengikuti (tuntutannya) akan memandu ke jalan

keridhaan, mendengarnya akan menyampaikan (mengantar) ke arah keselamatan. 

Dengannya akan dapat diraih hujjah-hujjah (bukti) Allah yang terang benderang,

perintah-perintah-Nya yang jelas, larangan-Nya yang harus dijaga, keterangan-Nya

yang gamblang dan bukti-bukti-Nya yang memadai, sunnah yang dianjurkan,

keringanan yang diberikan dan syariat-syariat-Nya yang diwajibkan.”

 

 “Berkata Hasan bin Ali bin Abi Thalib : Di malam Jum’at aku melihat ibuku berada

di dalam mihrab sedang rukuk dan sujud hingga hampir datang waktu subuh dan

kudengar beliau berdoa untuk kaum mukminin dan mukminat dan menyebut nama-nama

mereka serta memperbanyak doa untuk mereka, namun tidak berdoa untuk dirinya sendiri,

lalu aku bertanya padanya: Wahai ibunda, mengapa tidak kudengar engkau berdoa untuk

dirimu sebagaimana untuk orang lain? Beliau menjawab: Wahai anakku, utamakan

tetangga terlebih dahulu baru diri kita (yang menghuni rumah).”

 

 “Nabi Muhammad SAW bertanya pada Fatimah Az-Zahra: “Apa yang terbaik

bagi wanita? Beliau menjawab: “Yaitu hendaknya ia tidak melihat lelaki lain

dan tidak dilihat lelaki lain.”

 

 Dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

          Ya Arhamar Rahimin

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: