Ayatullah Al-Uzhma Syeikh Muhammad Taqi Bahjat Fumani

(Beliau termasuk seorang ulama dan faqih terkenal kota Qom yang semasa hidupnya mengajar pada jenjang Bahtsul Kharij fiqih di Hauzah Ilmiah Qom. Beliau adalah ulama yang terkenal karena kezuhudan dan irfannya.)

Umat Islam di dunia khususnya mazhab Ahlul Bait dalam mengamalkan hukum Islam harus merujuk pada seorang Mujtahid. Para mujtahid ini dikenal sebagai Marja’. Salah seorang marja’ yang berpengaruh itu adalah Ayatullah Uzma Muhammad Taqi Bahjat.

Wiladah (Kelahiran)

Ayatullah Bahjat lahir pada 1915 M (1334 H) di kota Fuman daerah Gilan Iran. Ayahnya, Karbala Muhammad Bahjat adalah seorang pribadi yang jujur dan dipercaya dan terkenal dengan sifat penolongnya di daerah itu. Hal ini memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan Ayatullah Bahjat kemudian.

Tahshilat (Studi)

Ayatullah Bahjat merampungkan pelajaran-pelajaran tingkat ibtida’iyahnya dari keluarganya sendiri, kemudian ia meneruskan pelajaran agamanya dan adabiyat Arab di kota kelahirannya (Fuman). Ayatulah Bahjat menyelesaikan sekolah dasarnya di tempat kelahirannya tersebut, dan di sini pula ia mendapatkan pendidikan dasar agama hingga tahun 1922. Kemudian Ayatullah Bahjat melanjutkan ke kota suci Qum setelah menyelesaikan pelajaran bahasa Arab. Ayatullah Bahjat hanya tinggal sebentar di Qum, kemudian ia pindah ke kota suci Karbala di Irak dan menghadiri kuliah-kuliah yang diberikan Sayyid Abul Qasim al-Khu’i. Pada 1933, Ayatulllah Bahjat pergi ke Najaf untuk menyelesaikan pelajarannya, Ayatullah Bahjat mengikuti kuliah-kuliah Akhund Khurasani. Sesudah menyelesaikan kuliah Ayatullah Dia’ al-Iraqi dan Ayatullah Mirza Na’ini, Di samping mendalami ilmu-ilmu agama ia pun menyibukkan dirinya dengan Tazkiyatu al-Nafs-nya. Dan pada tahun 1352 HQ ia pindah ke kota Najaf Asyraf, Irak. Di kota ini ia menekuni pelajaran-pelajaran tingkat tinggi hauzah kepada guru-guru besar yang terkenal pada masa itu. Ayatullah Bahjat kemudian belajar pada Ayatullah Hajj Syaikh Muhammad Husayn al-Gharawi. Dari kuliah-kuliah di Najaf ini, Ayatullah Bahjat mendapatkan manfaat yang besar dari kuliah Ayatullah Uzma Hajj Sayyid Abul Hasan al-Isfahani dan Hajj Syaikh Muhammad Kazim Shirazi. Selain mempelajari ilmu fiqh dan ushul fiqh, Ayatullah Bahjat mempelajari juga buku “al-Isharat” karya Ibnu Sina dan al-Asfar al-Arba’a karya Mulla Shadra Shirazi dibawah bimbingan Sayyid Husain al-Baadkoube’i. Pada 1944, Ayatullah Bahjat kembali ke Iran dan menjadi murid Ayatullah Uzma al-Kouhkamar’i, disamping mengikuti kuliah fiqh dan ushul fiqh pada Ayatullah Boroujerdi.

Semangat Belajar

Ayatullah Bahjat adalah murid yang rajin, serius dan penuh semangat dalam belajar.Ia tidak mempunyai kesibukan lain selain belajar dan muthala’ah. Kitab hadits “Safinatul Bihar” yang terdiri dari beberapa jilid besar adalah hasil karyanya yang bekerja sama dengan rekannya al-Marhum H.Syaikh Abbas al-Qummi Qs (penulis kitab doa Mafatihul Jinan). Dalam pelajaran Ushul Fiqh (Kifayah), ia banyak mengisykal (menyanggah) penjelasan-penjelasan gurunya; Ayatullah Syahrudi, yaitu murid al-Marhum Syaikh Ahmad al-Khurasani. Pernah terjadi pada suatu hari, Ayatullah Bahjat mengisykal dan menyanggah keterangan gurunya tersebut. Pada malam harinya sang guru itu mengkaji kembali catatan-catatan yang ia tulis sewaktu ia belajar pada Ayatullah Ahmad al-Khurasani tersebut sembari mempelajari isykalan-isykalan yang dilontarkan olehnya (Ayatullah Bahjat). Akhirnya ia pun memahami dan mengakui bahwa sebenarnya kebenaran itu berada pada Ayatullah Bahjat. Keesokan harinya, murid-murid dan teman-temannya yang memang belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya mencemoohnya karena keberaniannya mengisykal sang guru besar dan mereka menganggap hal semacam itu adalah perbuatan lancang dan dinilai tidak beradab. Lagi pula ketika itu Ayatullah Bahjat Hf adalah murid yang paling muda. Ketika sang guru memasuki kelas yang berupa masjid, ia melihat murid-muridnya sedang merendahkannya. Ketika itulah ia berkata: “Diamlah kalian semua dan tenanglah. Janganlah kalian mengejek dan mengganggu Agha. Perhatikanlah, saya akan menjelaskan masalahnya!”. Dengan serta merta seluruh murid-murid dalam ruangan masjid itu diam dengan penuh tanda tanya. Sang guru besar itu pun mulai melanjutkan ucapannya dan berkisah: “Tadi malam saya mengkaji kembali catatan-catatan pelajaran saya yang pernah saya pelajari pada al-Marhum Syaikh Ahmad al-Khurasani, ternyata memang kebenaran itu berada pada teman kalian ini (Syaikh Bahjat).” Setelah peristiwa dan kejadian tersebut sang guru pun memuji kesungguhan dan kecerdasannya dan semua teman-teman sekelas menjadi segan padanya.

Tazkiyatun Nafs

Ayatullah al-‘Uzma al-‘Arif Syaikh Bahjat senantiasa melazimkan dan menyibukkan diri dengan pensucian jiwa dan masalah-masalah ruhaniah. Di sisi lain ia pun amat disiplin dan kuat dalam melakukan tahajjud dan beribadah, seakan-akan ia tidak mempunyai kegiatan lainnya selain beribadah dan dzikir.

Tidak Ternodai

Ayatullah al-‘Uzma Syaikh Muhammad Taqi Bahjat memang tidaklah diragukan lagi. Ayatullah Bahjat adalah merupakan pribadi zahid yang sangat menonjol yang dikenal dengan kedalaman ilmu, kemulian, kearifan dan keutamaannya. Ia mempunyai daya tarik maknawiyah dan hakikat batiniah yang luar biasa. Sebesar atom pun ia tidak ternodai oleh materi dan gemerlap dunia. Bukan hanya dalam benak, pikiran dan ucapan, bahkan dalam sikap dan amal perbuatan sehari-harinya tidak ternodai sama sekali dengan gemerlapnya godaan dunia. Ia hidup dalam keadaan yang sangat sederhana, baik dalam makan, pakaian dan lainnya. Bahkan hingga wafatnya ia masih tetap tinggal di rumahnya yang sudah tua dan sangat sederhana, yaitu di salah satu jalan, gang buntu di kawasan Qum. Banyak simpatisannya yang menawarkan rumah yang lebih bagus dan layak untuk tempat tinggalnya sebagai seorang Ulama dan Marja’. Akan tetapi ia menolaknya dan merasa cukup dengan apa yang ada. Salah seorang mujtahid besar berkata tentang kebesarannya: “Ayatullah Bahjat, tidak bisa dikatakan sebagai manusia yang penuh takwa. Akan tetapi ia adalah “esensi takwa” itu sendiri.”

Ibadat

Hubungan kokoh kepada Allah SWT, zikirnya yang terus menerus, nawafil dan melek malamnya sangat mempunyai pengaruh dan banyak memberikan pelajaran buat kita semua. Jamaah shalat Ayatullah Bahjat sepanjang tahun adalah merupakan jamaah yang cukup menarik perhatian, semarak dan penuh kekhusyu’an. Banyak pelajar luar negeri dan tentara sukarelawan (basiji) di samping juga masyarakat kota Qum dan luar Qum yang ikut serta melakukan shalat jamaah di masjidnya. Shalat jamaah yang penuh dengan maknawiah dan ruhaniah itu kadang kala diselingi oleh suara isak tangis dan aliran air mata kesedihan serta lengkingan suara dukanya yang sangat mengharukan jamaahnya dan merupakan ciri khas tersendiri baginya dan jamaahnya. Ruh-ruh sebagian jamaah shalatnya pun ikut naik terbang ke angkasa maknawiah mengikuti sang imam. Tidaklah berlebihan kalau kita katakan bahwa acara shalat berjamaah semacam ini hampir tidak kita dapati di tempat-tempat lainnya.

Hubungan Dengan Imam Khomeini

Imam Khomeini mempunyai perhatian khusus terhadapnya. Ketika serombongan jamaah Majlis Khubaro’ (tim ahli) berkunjung ke rumah Imam Khomeini untuk meminta saran-saran, nasihat dan bimbingan yang bersifat akhlaki kepada Imam, maka Hadhrat Imam menyarankan mereka agar mengunjungi rumah Ayatullah Bahjat. Pergilah rombongan itu menuju ke rumahnya. Pada mulanya Ayatullah Bahjat menolak permintaan mereka, namun karena mereka mendesak terus akhirnya terpaksa ia menerimanya juga. Kisah lainnya yang bersumber dari salah seorang murid Imam Khomeini mengatakan bahwa: ketika Hadhrat Imam telah dibebaskan dari penjara oleh rezim Pahlevi, ia memasuki kota suci Qum, yaitu pada tahun 1341 Hsy. Ketika itu hampir semua rumah di kota Qum merayakan bebasnya Imam dengan acara bersyukur kepada Allah SWT. Pada waktu itu, rumah Imam setiap hari tidak pernah sepi dari jamaah yang ingin bersilaturrahmi dan bertabarruk kepadanya. Tidak ketinggalan pula bahwa Ayatullah Bahjat turut serta bersama jamaah lainnya yang sering berkunjung ke rumah Imam tersebut. Seperti biasanya -ketika itu- Ayatullah Bahjat selalu berdiri di depan pintu salah satu kamar Imam demi menghormati orang-orang yang masuk. Ketika ada yang mengatakan kepadanya: “Sebaiknya Antum masuk saja ke dalam dan duduk di sana, karena tidak layak orang mulia seperti Antum ini berdiri menghormati orang-orang di sini”, ia menjawab: “Demi menghormati Hadhrat Imam sudah seharusnya aku berdiri di sini untuk beberapa saat lamanya selama beberapa hari, barulah setelah itu aku akan kembali.” Hal ini menunjukkan, betapa nampak sifat tawadhunya kepada Imam. Salah satu ucapan Imam tentang ketinggian dan kemuliaan derajat Ayatullah Bahjat adalah: “Dia (yaitu Ayatullah Bahjat) telah mampu menjalani maut ikhtiyari, yaitu satu kekuatan yang tinggi di mana ia mampu melepaskan ruhnya dari jasadnya kapan saja ia kehendaki lalu mengembalikannya lagi jika ia menginginkannya.” Inilah ciri dan sifat seorang ulama yang senantiasa mengikuti jejak langkah Imam Ali.

Hubungan dengan Pemimpin Islam Ayatullah al-‘Uzma Sayyid ‘Ali Khamene’i Hf

Kehadiran Pemimpin Revolusi Islam dan para petinggi lainnya di rumah Ayatullah Syaikh Muhammad Taqi Bahjat dan hubungan mereka dengannya yang terus berlangsung adalah merupakan ikatan maknawi yang begitu kokoh dan penting serta berharga. Hal ini pun menunjukkan betapa Hadhrat Ayatullah Sayyid Ali Khamene’i menaruh perhatian besar kepadanya sebagaimana gurunya Imam Khomeini. Semoga kiranya Yang Maha Kuasa senantiasa mencurahkan rahmat dan inayah-Nya kepadanya dan orang-orang yang berusaha mengikuti jejak langkahnya.

Ayatullah Misbah Yazdi mengatakan:

Terkadang Ayatullah Bahjat menyampaikan cerita sambil mengutip satu hadis yang membuat kami terheran-heran. Mengapa beliau begitu bersikeras menyampaikan masalah yang sudah jelas dan gamblang bagi kami seperti masalah keimamahan Imam Ali yang sering diingatkan beliau sebelum memulai kuliah. Kami benar-benar heran dan bertanya-tanya apakah kami meragukan keimamahan Imam Ali sehingga beliau begitu bersikeras menyampaikan pelbagai argumen keimamahan Imam ali kepada kami. Kami sedikit tidak puas dengan apa yang beliau lakukan. Karena kami berpikiran, mengapa beliau tidak menjelaskan akhlak dan spiritual yang benar-benar kami butuhkan.

Namun ketika kami menginjak usia 50 atau 60 tahun barulah kami pahami sejumlah poin yang beliau sampaikan sekitar 40 tahun lalu mengenai keimamahan Imam Ali dan hal ini sangat membantu kami. Seakan-akan pada waktu itu akan ada masalah yang bakal terjadi di masa depan yang bakal dilalaikan atau diragukan orang. Seandainya beliau tidak memperhatikan masalah ini, kami tidak punya motifasi untuk mempelajarinya, bahkan poin-poin yang disampaikan oleh beliau sekitar 40 tahun lalu dalam catatan yang saya miliki mengenai masalah akidah atau lainnya masih sering saya manfaatkan.

Ayatullah Sayyid Mohammad Hossein Tehrani dalam buku Anwar Al-Malakut menulis:

Ayatullah Meshkini mengatakan, Ayatullah Bahjat dari sisi keilmuan (baik dalam bidang fiqih dan ushul fiqih) berada dalam posisi yang tinggi di antara fuqaha Syiah. Hujjatul Islam Wal muslimin Amjad mengatakan, Beliau dalam tingkat keilmuan berada dalam posisi yang sangat tinggi. Seorang faqih yang sangat besar dan saya percaya semestinya para mujtahid mengikuti kuliah beliau agar memahami sejumlah masalah dan memahaminya. Memang benar demikian adanya bahwa pelajaran kharij harus disampaikan seperti yang dilakukan oleh Ayatullah Bahjat tidak seperti mereka yang hanya pandai mengutip pendapat ulama dan merasa cukup dengan itu

Mengajar dan Karya-Karya

Sudah lebih dari puluh tahun ia aktif mengajar Fiqih dan Ushul Fiqih untuk tingkat tinggi (Bahtsul Kharij). Banyak para mujtahid yang hidup pada saat ini (tahun 2003 M) adalah murid-muridnya. Kini, telah lebih dari lima puluh tahun beliau mengajar pada jenjang tinggi ilmu fiqih dan ushul. Beliau yang dikenal zahid dan arif ini lebih memilih untuk mengajar di rumah sendiri demi menghindari ketenaran yang dapat merusak keikhlasan seseorang. Karya-karyanya berupa buku dan artikel telah banyak ditulis dalam bahasa Arab dan Persia. Ayatullah Al-Uzhma Muhammad Taqi Bahjat termasuk salah seorang marja’ taqlid zaman ini. Demikianlah Ayatullah Bahjat, seorang alim besar dan wali Islam, yang kehadirannya memberikan dimensi spiritual bagi orang yang bertemu dengannya.

Guru-guru:

1. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Sayyid Abul Hasan al-Isfahani.

2. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Syaikh Diya’uddin al-Iraqi.

3. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Syaikh Mirza al-Na’ini.

4. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Syaikh Muh. Husein al-Ghurawi.

5. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Syaikh Muh. Kazim al-Syirazi.

6. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Syaikh Mirza Ali Qadhi al-Tabrizi.

7. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Sayyid Muh. Hujjat Kuhkamari.

8. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Sayyid Husein Badkube’i.

9. Ayatullah al-‘Uzma Agha H.Sayyid Husein al-Thabathaba’i (Semoga rahmat Ilahi  atas mereka semua).

Berikut ini adalah sebagain dari tulisan-tulisan dan karyanya, antara lain:

1. Satu paket kitab Ushul Fiqh.

2. Ulasan (syarah) kitab al-Makasib Syaikh al-Anshari.

3. Kitab al-Thaharah.

4. Satu paket kitab al-Shalat.

5. Syarah kitab Dzakhiratu al-‘Uqba al-Marhum Kumfani.

6. Satu paket kitab Fiqih 10 jilid (berbahasa Farsi).

7. Ulasan (syarah) kitab Manasik al-Haj Syaikh al-Anshari.


Syekh Ahmad Ismail Yasin (Tokoh Hamas)

“Syahid pada saat sedang puasa sunnah Senin- Kamis, hari Senin, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004 M karena dihantam rudal penjajah Zonis Israel setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza”

Syekh Yasin, nama lengkapnya Syekh Ahmad Ismail Yasin lahir tahun 1938 di desa Al-Jura, sebelah selatan kota Gaza, yang dibangun di reruntuhan kota Ashkelon yang bersejarah yang berada di Majdal Tengah ke arah utara dari Jalur Gaza sekitar dua puluh kilometer. Di tingkat SD beliau belajar di sekolah El Gorah, sekolah dasar dan terus belajar sampai tingkat kelima.  Sejak “nakbah” -malapetaka dahsyat- menimpa rakyat Palestina di tahun 1948 berupa diproklamirkan berdirinya negara Israel, Ahmad Yasin terpaksa berhijrah bersama keluarganya ke Jalur Gaza dan menetap di kamp pengungsi Shati’ di pantai Jalur Gaza. Selama tinggal di permukiman, beliau putus studi sampai tahun 1950, karena sibuk memberikan kontribusi keberlangsungan hidup keluarganya yang terdiri dari tujuh orang, dengan bekerja di sebuah restoran di Gaza City. Kemudian beliau melanjutkan studinya di sekolah kamp pengungsi dan menyelesaikan studinya di Tingkat Dasar dan Persiapan tahun 1955, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Palestina yang merupakan sekolah paling bergengsi di Jalur Gaza. Suasana politik di Jalur Gaza secara umum sedang bergejolak, terutama di sekolah tempatnya belajar.

Di masa remajanya beliau mengalami kecelakaan yang mengakibatkan lumpuhnya seluruh anggota badan. Meski demikian Syekh Yasin terus bertekad untuk meneruskan studinya. setelah tamat dari sekolah menengah umum beliau sempat bekerja sebagai guru bahasa arab. Keinginannya untuk meneruskan studi akademis akhirnya tercapai juga. Beliau kuliah di jurusan bahasa inggris Universitas Ainus Syam Mesir. Tapi sayang, tuntutan kondisi dan situasi ketika itu tak mengizinkannya untuk menyelesaikan studi S1 nya. Beliau mengajar bahasa Arab dan Tarbiyah Islamiyah. Beliau juga seorang penceramah ulung di masjid-masjid di Gaza, bahkan paling popular di sana karena hujjahnya yang kuat. Ia juga dipilih menjadi pengurus Majma’ Islami di Gaza.

Beliau ditangkap oleh Zionis Israel tahun 1984, karena Israel merekayasa rumahnya sebagai gudang senjata yang dibeli oleh Syekh dari seorang agen Israel. Ia pernah divonis penjara 13 tahun, kemudian keluar dalam proses pertukaran tawanan Tahun 1985. Pada 17 November 1987 gerakan Islam di bawah kepemimpinannya mengeluarkan keputusan untuk memulai “aksi militer” melawan entitas penjajah Israel. 8 Desember 1987 meletus aksi Intifadhah, beliau sebagai motor penggeraknya, dan sepekan setelah itu, merintis dideklarasikannya Gerakan Perlawanan Islam “Hamas” (Harakah Muqawamah Islamiyah), dan pernyataan resmi pertamanya dikeluarkan 14 Desember 1987 M.

Hamas telah berupaya untuk mengeluarkan beliau melalui sejumlah aksi penyanderaan tentara-tentara Israel, namun akhirnya Syekh dibebaskan pada hari rabu tanggal satu Oktober 1997 sesuai kesepakatan antara Yordania dan Israel yang melakukan pertukaran tawanan. Beliau ditebus dengan dua orang anggota mossad yang gagal melakukan upaya pembunuhan Khaled Misyal (pemimpin politik Hamas di Yordania). Sejak itu pula untuk kesekian kalinya Syekh Yasin kembali turun ke dunia politik bersama ribuan bahkan puluhan ribu prajurit kebenaran dan kemerdekaan, para pejuang Hamas. Bersama masa tua dan penyakit lumpuhnya yang tak berhasil memadamkan semangat juang yang terus berkobar didadanya. Jeruji besi dan intimidasi tak mampu menghalangi kebulatan tekadnya. Bukan untuk meraih tahta dan jabatan atau gelimang harta dan kekayaan apalagi hanya ingin dikenang sebagai seorang pejuang. Yang membuatnya sebegitu kokoh untuk terus berjuang adalah kerinduannya kepada Allah, cita dan harapannya agar panji Islam berkobar di negerinya, Palestina dan juga negeri-negeri islam lainnya.

Syekh Ahmad Yasin merupakan tokoh spiritual gerakan Hamas, Qiyadah/ pemimpin bagi pejuang dan rakyat Palestina melawan penjajah Zionis Israel. Walaupun usianya uzur, kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki, setiap hari harus menggunakan kursi roda, tidak menghalangi beliau untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, rakyat Palestina khususnya di Gaza. Beliau memiliki ‘izzah/kemuliaan sehingga disegani dan dicintai kawan, ditakuti lawan dalam hal ini penjajah Zionis Israel. Sebagai tokoh spiritual dan qiyadah dalam perjuangan, Syekh Ahmad Yasin banyak memberikan keteladanan bagi pengikutnya dan rakyat Palestina, juga bagi umat Islam yang rindu syahid di jalan Allah.

Dalam suatu khutbahnya, Syekh Ahmad Yasin pernah berkata: Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemmpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, prilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilih Allah atau binasa! “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. Al-Imran, 3:26).

Kesaksian Orang Terdekat

Suatu ketika ada seorang penganut Kristen di kota Ramallah, Tepi Barat, Bassam Hana Rabbah namanya. Dia datang menemui Syekh Ahmad Yasin untuk mengadukan permasalahannya karena ada seseorang di Gaza melakukan penipuan terhadap dirinya. Syekh Ahmad Yasin yang juga pimpinan Dewan Ishlah (perdamaian) dengan bijaksana mampu mendamaikan antara Bassam Hana Rabbah seorang Kristen dengan seseorang yang telah melakukan penipuan. Syekh meresponnya dengan serius, bahkan mampu bersikap adil terhadapku. Hak-hak saya pun bisa kembali saya nikmati. Sebagai tanda terima kasih, sebagian hartaku diberikan kepada Dewan Ishlah, tutur Hana Rabbah. Sebagai seorang Qiyadah/pemimpin, Syekh Ahmad Yasin tidak cinta dunia, tidak gila harta, bahkan kehidupannya sangat sederhana.

Mariyam Ahmad Yasin menceritakan tentang sikap hidup ayahnya:

Rumah ayah terdiri dari 3 kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Ini fakta bahwa ayahku tak cinta dunia, namun cinta akhirat. Banyak yang menawari beliau untuk memiliki rumah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya. Bahkan pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza, . Namun Tawaran itu pun di tolak, ia tidak peduli dengan berbagai ragam bentuk kesenangan duniawi. Rumah ini sangat sempit. Tidak ada lantai, dapur pun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Namun jika musim panas tiba, kami pun kepanasan. Ayah sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumah di akhiratnya. Adapun kondisi psikis, Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surga-NYa nanti. Untuk itulah kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau. Jika Syekh Ahmad Yasin ingin kaya, harta menumpuk, rumah mewah bertingkat, mobil mengkilat lebih dari empat, makanannya serba lezat, semuanya bisa saja beliau dapatkan, bukankah beliau mempunyai pengikut yang taat, kedukukan yang memikat, akan tetapi semuanya itu tidak beliau lakukan untuk memperkaya diri di tengah pengikut dan rakyatnya yang sedang sengsara dan menderita, akibat penjajah, sekali lagi tidak! Syekh Ahmad Yasin memiliki iman dan perasaan yang tinggi, beliau sangat cinta dan peduli kepada umat yang pada hakekatnya adalah umat Nabi Muhammad SAW. “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS:An Nisa,4:69).

Dr. Asy-Syahid Abdul Aziz ar-Rantisi mengatakan:

“Syeikh Ahmad Yasin ketika masih hidup menjadi simbol Islam yang sangat besar. Dengan syahidnya beliau, beliau menjadi guru unik dan paling menonjol dalam sepanjang sejarah umat. Tidak ada sejarah seperti yang diukir Syekh Yasin, di mana pemimpin yang lemah (karena cacat fisik) mampu mengubah menjadi kekuatan. Ia adalah pemimpin yang tidak pernah percaya dengan kelemahan mutlak atau kekuatan mutlak selama ia masih bernama makhluk manusia.” Rantisi yang gugur syahid sebulan setelahnya menegaskan bahwa Syekh Yasin lah yang menggerakkan rakyat Palestina yang tidak berdaya untuk melawan Israel dengan batu dan pisau, kemudian dengan bom, kemudian dengan roket-roket Al-Qassam. Syekh Yasin telah merubah kelemahan rakyat menjadi kekuatan yang kini tidak bisa diremehkan Israel dan Amerika. Rantisi menegaskan bahwa Israel salah ketika membunuh Syekh Yasin, sebab Israel tidak pernah belajar dari masa lalu. Mereka membunuh para nabi, namun mereka gagal memadamkan cahaya yang mereka bawa. Israel tidak akan bisa mematikan cahaya dari jasad Syekh Ahmad Yasin.

Sementara Khalid Misyal, Ketua Biro Politk Hamas menegaskan:

“Darah Syeikh Ahmad Yasin memberikan pesan kepada bangsa Palestina untuk bersatu dan merapikan barisan. Ia menyatakan, para pejuang Palestina sudah memberikan ruh mereka untuk Allah, kemudian untuk membebaskan Palestina. Gugurnya Syekh Ahmad Yasin akan semakin menjadikan gerakan perlawanan semakin kuat.” Ia menegaskan bahwa Israel harus tahu bahwa upaya mereka untuk mematahkan semangat rakyat Palestina akan gagal. Tindakan Israel membunuh Syekh Yasin menegaskan bahwa mereka hanya berfikir bagaimana melakukan kejahatan. Karenanya, Misyal menyerukan agar rakyat Palestina bersatu di belakang perlawanan Palestina.

Hamas terus melawan

Sementara itu, Mahmod Zehar menegaskan bahwa kejahatan pembunuhan Syekh Ahmad Yasin sebelumnya sudah diprediksi. Namun itu tidak akan menyimpangkan HAMAS dan pimpinannya dari program perlawanan terhadap Israel. ia menegaskan bahwa Israel menegaskan Syeikh Yasin layak mati karena keberadaannya mengancam eksistensi mereka di kawasan. “Namun kami mengatakan bahwa Syeikh syahid di sisi Allah, ia hidup dan mendapatkan rezeki, yang mati adalah Israel dan para pemimpinnya yang melakukan kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat Palestina,” tegas Zehar. Syahidnya Syekh Ahmad Yasin meningkatkan dukungan besar kepada gerakan Hamas, bukan hanya di Palestina,  bahkan dukungan bangsa Arab dan Islam semuanya. Sejak saat itu, semua orang bertanya tentang Hamas, gerakan yang mengguncang bangunan Israel, gerakan ini mulai menyebar secara drastis hingga mayoritas Palestina berafiliasi kepadanya, mereka mendukungnya atau simpati kepada gerakan perlawanan dan ketegaran mereka dalam memperjuangkan prinsip-prinsip dasar Palestina dan menolak perundingan damai dengan Israel. Syahidnya Syekh Yasin juga mengundang reaksi, yang justru mengatakan bahwa darah beliau akan menjadi “bahan bakar baru” bagi perlawanan. Pembunuhan terhadap Syekh Ahmad Yasin beberapa tahun lalu bukan peristiwa sepintas. Peristiwa itu menjadi pusat perenungan bagi seluruh pejuang kebebasan di dunia dan mengingatkan bangsa Arab dan umat Islam akan bahaya hakiki Israel di Palestina.

Apakah kita semua telah meneladani beliau yang hidup sebagaimana kehidupan Rasul SAW dan para shahabatnya yang terpilih? Yang lebih mencintai akhirat ketimbang kehidupan dunia yang murah dan menipu? Yang lebih menyukai debu-debu jihad daripada mobil-mobil mewah mengkilat? Di manakah kita sekarang?

Dan kini dunia telah menyaksikan kejujuran azamnya. Syaikhun qa’id aiqadzal Ummah wa naalas syahaadah, famataa yataharrak shahiihul badan dhaiiful himmah (Lelaki yang tua renta lagi lumpuh itu telah berhasil membangkitkan nyali umat dan ia pun meraih cita-citanya menggapai syahadah, lalu sampai kapan orang-orang yang segar bugar tapi lemah semangat itu akan bergerak?!)

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (Al-Ahzab:23)

  1. Assalamualaikum…tolong infolbh lanjut ttg syeikh ahmad yasin min

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: