UMMU KULTSUM BINTI ALI BIN ABI THALIB

Beliau adalah Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak kecil, memiliki kedudukan yang tinggi dan posisi yang luhur di sisi Rasulullah SAW. Begitu juga putri Khalifah Rasyidin yang keempat. Kakeknya adalah penghulu anak Adam. Ibu beliau adalah ratu perempuan ahli surga, Fatimah binti Rasulullah, sedangkan kedua saudaranya adalah pemimpin pemuda ahli surga dan penghibur hati Rasulullah .

Dalam lingkungan yang mulia seperti pada zaman Rasulullah SAW, Ummu Kultsum dilahirkan, tumbuh, berkembang, dan terdidik. Beliau adalah teladan bagi para gadis muslimah yang tumbuh di atas din, keutamaan, dan rasa malu. Ummu Kultsum lahir pada tahun ke-7 H. Ummu Kultsum menjadi piatu sedari kecil karena sang Ibunda telah wafat menyusul kakeknya. Meskipun hanya bertemu sebentar dengan kakeknya, Rasulullah SAW, ia sempat merasakan curahan kasih sayang dari Rasulullah. Pendidikan agama yang kuat dari keluarganya tertanam padanya sejak kecil. Hal inilah yang membuatnya tumbuh menjadi sosok muslimah yang taat beribadah dan cerdas. Wajahnya yang manis dihiasi dengan akhlak yang mulia. Lengkap sudah gambaran Ummu Kultsum yang menjadikannnya sosok muslimah teladan pada masanya. 

Umar bin Khatthab Al-Faruq, Khalifah yang kedua mendatangi ayahnya untuk meminang beliau. Akan tetapi, mulanya, Imam Ali bin Abi Thalib meminta pernikahan itu ditunda karena Ummu Kultsum masih kecil. Umar berkata, “Nikahkanlah aku dengannya, wahai Abu Hasan, karena aku telah memperhatikan kemuliaannya yang tidak aku dapatkan pada orang lain.” Maka Ali meridhainya dan menikahkan Umar dengan putrinya pada bulan Zulqaidah tahun 17 Hijriah, dan hidup bersama hingga terbunuhnya Umar. Dari pernikahannya, beliau mendapatkan dua anak, yaitu Zaid bin Umar Al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar.

Ada sebuah kisah menarik tentang Ummu Kultsum, Beliau pernah menolong persalinan seorang badui di malam hari. Inilah kisahnya! 

 

Suatu malam, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab berkeliling melihat kehidupan rakyat dari dekat. Beliau melihat seorang badui tengah cemas di depan tendanya. Umar pun bertanya ada apa gerangan yang membuat badui itu cemas. Awalnya badui tersebut enggan menceritakan perihal keresahannya terlebih lagi dia tidak mengetahui bahwa orang yang bertanya padanya adalah seorang Khalifah. Namun setelah didesak ia pun bercerita bahwa istrinya hendak melahirkan namun tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong. 

 

Umar pun bergegas pulang dan menemui istrinya, Ummu Kultsum. Umar bertanya,”Apakah engkau mau menjemput pahala yang berlimpah dari Allah?” Ummu Kultsum menjawab,”Pahala apa wahai Umar?” Keluarlah cerita dari Umar tentang pertemuannya dengan keluarga badui tersebut. Ummu Kultsum bersedia membantu persalinan badui tersebut dan segera menyiapkan peralatan persalinan. Sedangkan Umar membawa gandum dan minyak samin. 

 

Sesampainya di tenda milik badui tersebut, Ummu Kultsum bergegas masuk ke dalam tenda dan membantu kelahiran bayi. Sedangkan Umar sibuk memasak di luar tenda. Setelah bayi lahir dengan selamat Ummu Kultsum pun berseru pada suaminya “Wahai Amirul Mukminin, katakan padanya bahwa ia telah dikaruniai seorang putra.” Badui tersebut dan istrinya terkejut bukan kepalang mendengar seruan Ummu Kultsum. Mereka baru mengetahui bahwa yang telah memasak makanan untuk mereka adalah seorang khalifah dan yang membantu kelahiran adalah istrinya. Tentu saja Ummu Kultsum tidak menyadari bahwa ia telah memanggil suaminya dengan sebutan Amirul Mukminin. Dan terhadap si lelaki yang tampak terkejut, ia berkata, “Tidak mengapa wahai Saudara, janganlah kedudukanku ini membebani perasaanmu. Datanglah besok menemuiku, aku akan mencoba menolongmu!” Setelah semuanya selesai, Umar dan Ummu Kultsum berpamitan.   

 

Sepeninggal Umar, Ummu Kultsum dinikahkan oleh ayahnya dengan saudara sepupunya yaitu ‘Aun bin Ja’far. Setelah ‘Aun wafat, ia menikah dengan saudara sepupunya yang lain yang sekaligus saudara mendiang suaminya Muhammad bin Ja’far. Suaminya yang ketiga ini pun wafat dan akhirnya ia menikah lagi dengan saudara mendiang suaminya yang lain yaitu Abdullah bin Ja’far sampai ia wafat. Ummu Kultsum wafat bersama putranya Zaid saat terjadi kerusuhan di tengah-tengah bani Addi bin Ka’ab. Putranya tengah berusaha mendamaikan kerusuhan namun malah dibunuh oleh sekelompok orang tersebut. Ummu Kultsum mendekap jasad putranya dan meninggal karena juga dibunuh. Ummu Kultsum wafat pada tahun 75 H. 

 

Pelajaran dari Kisah Ummu Kultsum binti Ali 

  • Lingkungan keluarga yang baik akan melahirkan generasi yang baik. Karena dibesarkan di lingkungan yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip agama, Ummu Kultsum tumbuh menjadi muslimah cerdas, taat beribadah dan berakhlak mulia. 
  • Pentingnya peran perempuan dalam kehidupan terutama di aspek dan tempat-tempat yang sudah selayaknya dimainkan oleh perempuan. Seperti yang dilakukan oleh Ummu Kultsum yang bertindak sebagai bidan yang membantu persalinan. Dan sudah selayaknyalah perempuan yang menolong kelahiran bayi. 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: