Jalan Pensucian Akhlak

Oleh: Ayatullah Amuli

Pensucian akhlak dapat digambarkan dengan salah satu dari tiga jalan berikut ini, dimana masing-masing jalan ini bagi setiap orang tidaklah mudah.

Jalan pertama: Adanya hubungan dengan seorang  ruhaniawan suci yang telah tersucikan jiwa dan akhlaknya. Dengan kekuatan jiwa dan bimbingan paripurna, ia akan menjauhkan seluruh sifat jelek dan akhlak buruk dari darinya. Dan hal ini tidak mungkin kecuali dengan inayah dan pertolongan jiwa suci Wali Ashr.

Jalan kedua: Yang mungkin bagi kita, meskipun berat dan sulit adalah sekali dalam sehari semalam atau sekali dalam  sepekan, kita duduk merenungi dan memikirkan nikmat-nikmat Tuhan yang ada disekitar kita, hingga dengan sendirinya(secara fitrawi) terbukti bahwa nikmat-nikmat Tuhan mustahil untuk dapat dihitung. Hal ini bisa menyebabkan munculnya usaha yang patut dan layak  dalam mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan. Namun, kesulitan pada bentuk ini adalah ketidak sucian jiwa yang menjadi penghalang manusia dalam mengikuti cara dan gagasan seperti ini, karena itu jalan ini pun adalah sulit.

Jalan ketiga: adalah dengan membentuk majelis-majelis nasehat dan akhlak serta dengan dukungan kehendak jiwa yang kuat sembari mengingat nikmat-nikmat Tuhan, kita kenalkan pendengaran hati kita pada hal-hal demikian ini. Dan kondisi-kondisi ini butuh kesinambungan, karena itu  jika pengadaannya hanya sekali dalam sebulan atau sekali dalam setahun saja maka tidak akan pernah mencapai hasil sebab jiwa kita mesti senantiasa di desak untuk mengulangi bahasan-bahasan ini hingga menjadi kesenangan baginya. Kesimpulannya, pemilik bashirah dapat mendapatkan nikmat agung ini melalui satu di antara tiga jalan tersebut.

Akan tetapi mereka yang ahli lalai, pekerjaan mereka pada bagian ini sangatlah sulit, dimana dengan berkumpul dan mengikuti majelis-majelis seperti ini tidak akan mengubah kondisi mereka dan juga tidak akan mengubah sikap dan perbuatan mereka. Jalan untuk menyembuhkan orang-orang ini adalah dengan mendesak mereka untuk memandang dan memperhatikan orang-orang di bawah mereka, sehingga dengan demikian perlahan-lahan akhlak mereka  bisa diperbaiki. Karena jika seseorang senantiasa melihat kepada orang-orang di bawah mereka maka dengan sendirinya mereka akan menjadi ridha dengan nikmat-nikmat Tuhan yang telah diberikan padanya. Oleh karena itu, orang-orang yang ingin mengambil faedah dari nikmat dalam kondisi senang adalah mereka yang selalu berkunjung ke kuburan-kuburan  dan merenungi kondisi orang-orang yang telah meninggal dan menggambil ibrah(pelajaran) darinya. Mereka masuk ke dalam taman kuburan serta tidur di dalamnya  atau mereka mendatangi dan mengunjungi orang-orang sakit yang tinggal di rumah-rumah dan yang ada  di pinggiran atau sudut-sudut jalan, dengan begitu mereka menjadi terbangun dan sadar. Atau dengan mendatangi majelis orang-orang yang sedang mendapat musibah, barulah mereka akan merasa senang dengan nikmat yang didapatkannya. Maka dari itu, keadaan orang-orang yang meninggal telah memudahkan  dan membantu kita untuk memikirkan  amal dan perbuatan kita, sehingga dengannya kita sadar untuk memperbaiki dan membersihkan akhlak diri kita masing-masing. Pada dasarnya, manusia harus memandang kepada sesuatu yang lebih tinggi darinya dalam urusan-urusan ukhrawi dan melihat kepada sesuatu yang lebih rendah dalam urusan-urusan duniawi. Sebab, jika dalam urusan-urusan ukhrawi ia melihat kepada yang lebih tinggi maka dengan sendirinya ia akan mengetahui(memahami) dirinya pada tingkat amal dan perbuatan sebagai orang yang lalai dan bersalah, dan hal ini bisa menjadi sebab kebaikan dan kebahagian bagi dirinya. Begitu juga sebaliknya, dengan ia melihat kepada yang lebih rendah dari dirinya dalam urusan-urusan duniawi maka ia akan merasa puas dan bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya, dan kondisi ini sendiri bisa menjadi sebab bertambahnya nikmat, sebagaimana dalam riwayat:

“Barang siapa yang dalam urusan dunia melihat kepada yang lebih rendah dari dirinya dan dalam urusan agama melihat kepada yang lebih tinggi, akan tertulis sebagai orang-orang yang bersabar dan juga dari orang-orang yang bersyukur. Dan barang siapa yang dalam urusan duniawi melihat kepada yang lebih tinggi darinya dan dalam urusan agama melihat kepada yang lebih rendah dari dirinya, tidak akan tercatat sebagai orang-orang yang bersabar dan  bersyukur (sebab ia selalu dalam keadaan sedih dan gelisah “mengapa kepunyaan mereka(orang lain) tidak saya miliki, mengapa kepribadian dan kesejahteraan mereka tidak saya punyai)”.

Oleh karena itu, ia tidak akan pernah ridha dengan nikmat yang dimilikinya serta tidak akan mensyukurinya dan juga tidak akan mampu bersabar, dan begitu pula dalam masalah agama, apabila ia telah mengerjakan ibadah yang sedikit, ia akan beranggapan bahwa ia sudah memperoleh saham dari surga. Sebab itu, ia bukan golongan orang yang sabar dan juga bukan golongan orang yang bersyukur.

Jika seseorang mengetahui, di antara hamba-hamba Tuhan terdapat wali Tuhan dan sedang merencanakan bentuk-bentuk  penyiksaan dan gangguan padanya maka betapa ia sangat merugi, karena Tuhan berfirman:

“Barang siapa yang menghina wali(Tuhan) maka dia telah menghina-Ku.”

Manusia dalam segala sesuatu memiliki dua kewajiban; satu kewajiban bersyukur dan satu kewajiban bersabar. Yang menjadi masalah adalah jika manusia bersabar, bagaimana ia tidak sedih dan  tidak gelisah serta merasa senang dengan nikmat-nikmat Tuhan, dan jika ia merasa senang dengan nikmat-nikmat Tuhan, bagaimana ia bersabar?

Oleh karena itu, perlu dijelaskan bagaimana kedua hal ini bisa dikumpulkan (dimiliki secara bersama). Untuk menjawab permasalahan tersebut bisa dikatakan seperti ini, bahwa mungkin saja seseorang dinisbahkan kepada sesuatu ia merasa senang dan juga merasa sedih. Misalnya, keberadaan pabrik roti yang berdekatan dengan rumah kita, dari sisi asap dan suara mesin pabrik yang selalu sampai ke mata dan memekakkan telinga kita,  membuat kita jengkel dan sedih, akan tetapi dari sisi kebutuhan kita dengan roti dan denganya kita terbebas dari lapar, kita menjadi senang dan gembira.

Contoh lain adalah seorang dokter ketika ingin menyembuhkan kita dari suatu penyakit, ia akan memberikan obat-obatan yang pahit dan berbau tidak sedap  dan pada saat meminumnya dikarenakan tidak cocok dengan kondisi natural kita, kita bersedih, akan tetapi dikarenakan dengan perantaraan itu penyakit akan hilang dari tubuh kita,maka kita akan merasa senang.

Pada akhirnya, nikmat dan musibah dalam tingkatan yang ada tidak akan sampai pada suatu tingkat dimana ia berhenti atau berakhir dan yang lebih tinggi dari itu tidak dapat dibayangkan, karena kekuasaan Tuhan tidak memiliki akhir.  Jika kita misalkan musibah itu mempunyai derajat atau tingkatan dan seseorang  sedang mengalami musibah tingkatan kesepuluh, dalam kondisi itu,  dari satu sisi akan menyenangkan dan dari sisi yang lain akan menyedihkan, menyedihkan karena ia telah terjangkiti dan mengalami  musibah, tetapi menyenangkan karena musibah yang dialami tidak lebih tinggi dari itu.

Paling kecilnya bala` dalam agama (dibandingkan) dari paling besarnya bencana dunia mempunyai derajat yang lebih penting sebab sebesar-besarnya bencana dunia pada akhirnya akan berhenti dan berlalu akan tetapi paling kecilnya bala` dalam agama baginya akan berkelanjutan. Sebagaimana dalam sebuah kisah, seseorang menukilkan bahwa seorang pencuri mendatangi rumahku dan membawa pergi seluruh harta yang ada, seseorang berkata kepadaku pergi dan bersyukurlah dimana syaitan tidak datang(masuk) ke dalam rumah hatimu dan membawa pergi imanmu, oleh karena itu bencana(musibah) ini juga menyebabkan rasa senang dan gembira. Juga dinukilkan  bahwa seseorang yang tidak mempunyai tangan dan mata dalam suatu kondisi dimana sekumpulan lebah sedang menyerang dan menyengat badannya yang luka,  dengan semua ini ia mensyukuri Tuhan dan berkata: Wahai Tuhanku sesuatu yang telah engkau berikan kepadaku, kepada siapa juga engkau berikan! Orang-orang bertanya: Apa sesuatu yang telah diberikan kepadamu dan kepada yang lain tidak diberikan-Nya? ia berkata: sesuatu itu adalah iman!

Rasulullah SAW bersabda: Terlaknatlah orang yang terlewatkan baginya  40 hari dan kepadanya tidak turun bala`(musibah),  para sahabat berkata: Wahai Rasulullah ,lalu mengapa bala` tidak sampai kepada kami? kemudian Nabi SAW berkata yang maknanya hampir seperti ini : “Meskipun hanya sebatas tusukan dari sebuah duri atau jarum  yang tertancap pada badan, adalah juga termasuk  bala`(musibah), oleh karena itu cepatnya siksaan itu sendiri merupakan suatu nikmat.”

Bala`(musibah) itu sendiri adalah sebuah jalan menuju Allah SWT. dan merupakan sumber kebahagiaan abadi. Dan yang di maksud dengan kebahagiaan adalah  sehatnya hati(kalbu) dalam merenung atau memikirkan Tuhan serta kesuciannya dari segala sesuatu selain-Nya dan hal ini tidak bisa dihasilkan kecuali dengan keikhlasan dalam niat dan amal. Dan oleh karena ia telah sampai pada tingkatan ini keadaannya menyerupai  keadaan sebuah emas dan perak yang ia cairkan dan kemudian memisahkan ayar-nya(bahan pembanding untuk mengetahui kadar kemurnian emas/perak–penj.) serta memurnikannya kembali dimana selain emas atau perak tidak ada lagi sesuatu yang lain yang tersimpan di dalam bute (suatu tempat khusus untuk menyimpan emas atau perak–penj.). Ikhlas dalam perbuatan dan amal adalah kosongnya amal dari syirik dan riya` dan hanya untuk Allah SWT. tidak untuk selain-Nya. Oleh karena itu segala bentuk ketidaknyamanan (hal-hal yang tidak sesuai dengan tabiat seseorang) menjadi baik sebab akan menyampaikan manusia kepada sebuah kebaikan dimana di dalamnya terdapat banyak manfaat dan semakin banyak manfaat di dalamnya, semakin banyak pula kesenangan atau kegembiraan. Dan mungkin  hal ini pula yang menjadi alasan dimana umumnya bagi  para Auliya Ilahi, prinsip atau azas  kehidupan mereka, kehidupan yang bermusibah (bala`i). Menghilangkan kebergantungan (rasa cinta mendalam) adalah ketika seseorang sedang mengalami suatu kesedihan mendalam namun pada saat yang sama seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Allah SWT sebagaimana Imam Husein  yang dalam kesyahidan putranya Ali Akbar Berkata :

علي الدنيا بعدك العفاء

Jika musibah (bala`) telah mengantarkan manusia pada maqam ini apakah masih ada sesuatu yang bisa di gambarkan lebih baik dari pada musibah? Tidak…! akan tetapi hal ini tidak dimaksudkan bahwa kita mencari dan menghendaki bala` dari Tuhan hingga di bawah bayang – bayang bala` tersebut kita mendekatkan diri kepada-Nya dan hal ini adalah salah dan bahkan merupakan suatu bentuk sikap mencampuri dihadapan Tuhan dimana kita meminta atau menginginkan bala` dari-Nya. Sebagaimana dalam kondisi (kehidupan) para Ma’shumin  tidak kita temukan hal seperti ini dimana mereka menghendaki bala` dari-Nya. Bahkan sebaliknya dengan bahasa dan kata-kata yang lembut mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan  dari-Tuhan, sebagaimana dalam “Zadul ma`ad” terdapat doa dimana Ma’shumin  setelah Tuhan dan seluruh malaikatnya dengan para Nabi dan Rasul bersumpah dan berkata :

” Wahai Tuhanku! janganlah membuatku berada dalam bencana(bala`), namun jika engkau menjadikannya bagiku maka jadikanlah aku orang yang bersabar dalam bencana tersebut akan tetapi jika engkau menyerahkannya padaku tentang apa yang aku inginkan dari-Mu akan kukatakan; keselamatan adalah lebih baik dari bencana (bala`).”

Sebagaimana halnya seorang Imam tidak pernah meminta bala`dari Tuhan apalagi mereka yang bukan Imam, akan tetapi sebahagian masyarakat dalam hal ini bersifat tidak sopan dimana hal itu hanya mengkhikayatkan kelalaian mereka, seperti seseorang yang berkata “Wahai Tuhanku  dalam mencintaimu sungguh aku rela engkau jadikan  jembatan jahannam dan seluruh makhluk berlalu di atasku dan kemudian aku terjatuh di dalamnya.”

Maka dari itu sifat ini adalah suatu kekurangan yang mana jika sifat tersebut adalah sebuah kesempurnaan maka tentu saja para Imam suci kita pun mesti memilikinya. Namun dalam kenyataannya mereka (para Imam) tidaklah seperti itu bahkan mereka senantiasa memohon keselamatan dari Tuhan ,dan alasan lainnya adalah kata-kata sejenis ini hanya terdapat pada bagian kecintaan yang besifat majazi dimana ketika pecinta berada dalam kondisi zyauq (sangat cinta) dan rela menjadi tumbal bagi yang dicintainya, kata-kata semacam ini tidak membingungkan sebab ketika ia menjadi sadar kondisi seperti itu akan hilang dan keadaan langka ini sangat jarang terjadi di masyarakat  dan mungkin sepanjang hidup seseorang hanya terjadi sekali saja, itu pun seperti arus listrik yang  menghentak dan kemudian berlalu dengan begitu cepat dan munculnya keadaan seperti itu bagi manusia adalah suatu sifat sempurna dan juga merupakan kekurangan, sempurna dari sisi bahwa kondisi itu adalah  keadaan yang paling baik dan merupakan derajat atau kenikmatan tertinggi dimana kelezatan yang lebih tinggi darinya tidak bisa di bayangkan tetapi kondisi itu juga merupakan suatu kekurangan dari sisi bahwa ia berlalu dengan begitu cepat dan kemudian menghilang. Dan setiap kali keadaan seseorang mencapai tingkatan ini maka apapun yang diungkapkannya ia katakan dengan lisan yang dicintainya,apapun yang didengarkannya  ia dengarkan dengan telinga yang dicintainya dan apapun yang dilakukannya ia lakukan dengan kehendak yang dicintainya bahkan segalanya hanyalah dia (yang dicintainya) dan tidak ada sesuatu selainnya. Inilah makna ketertarikan dan  fana` sebagaimana makna ini juga bisa terjadi pada hal-hal selain Tuhan,seperti halnya ketika di katakan:

“Di karenakan rusa sedang menyaksikan keagungan dan kewibawaan sang singa ia menjadi lupa dengan dirinya dan dengan kecepatan tinggi berlari kearahnya dan perginya ini tidak dengan ikhtiyar atau kehendaknya melainkan dalam kehendak sang singa seperti sebuah magnet dimana  ia ditarik kearahnya dan kemudian terkendalikan dengan kekuatannya.” Oleh sebab itu,karena ikhtiyar dan kehendak manusia senantiasa terbungkus dalam kehendak Tuhan maka pada saat itu perbuatan dan amal-amalnya menjadi perbuatan dan amal-amal Ilahiyah dan kondisi-kondisi seperti ini mendapatkan sumbernya dari cinta. Hasil dan kesimpulan dari mukadimah-mukadimah ini yaitu: bahwa dalam bagian suatu Musibah (bala`) atau perbuatan seseorang sangat mungkin adanya untuk sampai pada suatu maqam atau kondisi dimana tidak ada lagi kenikmatan yang lebih tinggi darinya.[]

(Di terjemahkan dari buku : Dars ha-e Akhlak)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: