Penistaan Atas Nama Kebebasan Berekspresi

Beberapa waktu lalu, seorang warga Amerika Serikat berdarah Mesir, Nakoula Basseley Nakoula atau Sam Bacile memproduksi film Innocence of Muslims, yang menghina Nabi Muhammad SAW dan Islam. Film itu mendapat dukungan dan promosi dari pendeta Terry Jones, yang mendadak terkenal lewat aksi gilanya membakar kitab suci Al-Quran. Film Innocence of Muslims, yang diluncurkan di jejaring virtual YouTube, menggambarkan Muslim tidak bermoral dan memuja kekerasan. Dengan penggambaran kehidupan Nabi SAW, film ini menyentuh tema pedofilia dan homoseksualitas serta memicu kemarahan Muslim di seluruh dunia.

 Tidak hanya menghina Nabi SAW, film tersebut juga berusaha menggambarkan wahyu ilahi sebagai sebuah kehobongan dan agama Islam berbahaya bagi masyarakat dunia. Di tengah maraknya aksi protes atas film Innocence of Muslims, majalah Perancis, Charlie Hebdo mempublikasikan kartun Nabi Muhammad SAW. Langkah yang semakin memperkeruh situasi. Sampul majalah mingguan itu menerbitkan karikatur yang menunjukkan seorang Yahudi Ortodoks tengah mendorong tokoh yang menggunakan sorban dan kursi roda.

 Karikatur tokoh di kursi roda ini dihiasi dengan tulisan, ‘Anda tidak boleh mengejek’ dengan judul ‘Tidak Tersentuh 2’, untuk mengacu pada film Perancis tentang orang kaya kulit putih dan asistennya yang berkulit hitam. Kartun lain di halaman belakang majalah itu memperlihatkan Muhammad yang bersorban tanpa busana dan sedang menunjukkan bagian belakangnya kepada seorang sutradara film. Sebuah adegan yang terinspirasi oleh film 1963 yang dibintangi oleh bintang film Perancis Brigitte Bardot.

 Majalah Charlie Hebdo menerbitkan empat karikatur Nabi Muhammad SAW, dan dua di antaranya menunjukkan nabi dalam keadaan telanjang. Kantor majalah Charlie Hebdo di Paris diserang dengan bom molotov November lalu setelah menerbitkan karikatur nabi. Pada tahun 2005, karikatur nabi yang diterbitkan di Denmark memicu protes di banyak negara dan menewaskan paling tidak 50 orang.

 Kali ini, reaksi mendadak jutaan umat Islam telah melumpuhkan perwakilan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat di banyak negara Muslim. Namun, Barat tetap menolak memproses para penghina sakralitas agama dengan alasan kebebasan berekspresi dan bahkan meminta maaf kepada Muslim dunia. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan, “Kami tidak bisa menghentikan warga negara untuk berpendapat, betapa pun menjijikkan pendapat itu.”

 Kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat tanpa memperhatikan sensitivitas keyakinan akan selalu mengundang reaksi keras. Tidak tertutup kemungkinan menimbulkan konflik baru yang tidak perlu terjadi sebenarnya. Perlu diperhatikan bahwa kebebasan itu bukan berarti mengekspresikan semua hasrat di tengah publik tanpa memperhatikan nilai-nilai yang disakralkan oleh kelompok lain atau merendahkan pihak lain dengan alasan kebebasan berpendapat.

 Di semua sistem hukum dunia, kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat tidak bebas secara mutlak. Di setiap negara, pembatasan terhadap kebebasan berekspresi ditetapkan sesuai dengan bentuk ideologi dan tingkat komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip moral. Seorang filosof dan politikus Inggris, John Stuart Mill mengatakan, “Tidak ada yang mengatakan bahwa tindakan harus sama bebasnya dengan kebebasan berkeyakinan. Sebaliknya, kebebasan berkeyakinan juga akan kehilangan sakralitasnya ketika mencederai kepentingan legal orang lain.”

 Seorang penulis Jerman, Franz Neumann mengatakan, “Tidak ada sistem politik yang menerima kebebasan individu secara mutlak dan tanpa syarat.” Sementara pasal 4 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB menyebutkan, “Kebebasan adalah kemampuan untuk melakukan semua tindakan yang tidak merugikan orang lain.” Dalam teks Deklarasi HAM Perancis juga membatasi kebebasan dengan undang-undang. Pasal 13 Konvensi HAM 1969 tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi, mendukung kebebasan berekspresi, tapi menolak kemutlakannya. Pasal itu membatasi kebebasan jika merusak ketertiban, moralitas publik, dan kehormatan individu.

 Oleh karena itu, undang-undang Barat juga membatasi kebebasan berekspresi. Di antara syarat itu adalah kebebasan berekspresi tidak boleh bertentangan dengan penghormatan terhadap hak-hak, privasi, dan moralitas publik.

 Hukum Islam juga menerima kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Dalam surat Az-Zumar ayat 17 dan 18, Allah SWT berfirman, “… Sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” Ayat ini mengajak manusia untuk mendengar semua pendapat, tapi mengikuti yang terbaik di antaranya.

 Pada dasarnya, ayat tersebut memberi kesempatan kepada umat manusia untuk bertukar pandangan dan mengemukakan beragam pendapat. Memilih pendapat yang terbaik akan dimungkinkan selama ada ruang untuk kebebasan berekspresi dan setiap individu juga bebas mengutarakan pandangan yang berbeda.

 Menurut pandangan Islam, semua pihak bebas mengutarakan keyakinannya selama tidak bertentangan dengan kemaslahatan umat manusia. Maslahat di sini juga mencakup maslahat material dan spiritual. Kehendak dan kebebasan manusia akan tergolong mulia selama itu selaras dengan potensi-potensi yang tertanam dalam dirinya dan membantunya untuk menapaki jalan kesempurnaan. Namun, kebebasan tersebut akan kehilangan nilai mulia jika menyeret manusia dalam kerendahan dan kehinaan serta memusnahkan potensi-potensi luhurnya.

 Pada dasarnya, parameter kemuliaan kebebasan manusia adalah melangkah pada jalur kemanusiaan dan kemuliaan itu sendiri. Kebebasan berekspresi hanya sebuah nilai dasar dari sekumpulan nilai-nilai kemanusiaan. Kemuliaan manusia sebagai salah satu nilai lain tidak boleh dilecehkan dengan alasan kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Dalam Islam, tidak ada yang berhak menginjak-injak martabat orang lain dengan dalih kebebasan berekspresi.

 Agama langit menganggap penistaan terhadap satu agama tauhid sebagai pelecehan terhadap semua agama suci ini. Bangunan-bangunan yang dijadikan sebagai tempat ibadah oleh sekelompok orang wajib dihormati baik itu masjid, gereja, ataupun kuil. Muslim bahkan tidak membenarkan aksi pelecehan terhadap ajaran kaum musyrik. Dalam surat Al-An’am ayat 108, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

Perasaan 1,5 miliar Muslim dunia kembali terluka akibat pelecehan terhadap Rasul SAW. Ironisnya, para pemimpin Barat menganggap pelecehan tersebut sebagai kebebasan berekspresi, akan tetapi penelitian terhadap mitos Holocaust dilarang dan ilegal. Ada banyak pemikir dan peneliti senior yang dihukum karena meneliti peristiwa Holocaust seperti, Roger Garaudy, Robert Faurisson, dan David Irving. Sebenarnya, para pemikir tersebut merupakan simbol atas pelanggaran nyata terhadap kebebasan berekspresi di Barat. Sebuah kebebasan yang hanya diperbolehkan selama sejalan dengan tujuan-tujuan sistem kapitalis.

 Contoh lain kebijakan standar ganda Barat dalam ranah kebebasan berekspresi adalah pelarangan publikasi foto-foto topless Kate Middleton. Menyusul pengaduan yang dibuat oleh Kerajaan Inggris, pengadilan Perancis melarang perilisan foto-foto tersebut. Namun, tidak ada pemerintah dan pengadilan Barat yang melarang penyebarluasan film dan karikatur yang menghina sakralitas agama Islam. Kontradiksi Barat terkait kebebasan berekspresi mengindikasikan bahwa kebebasan di Barat hanya alat untuk melecehkan Muslim dan Islam.

Penistaan Agama, Kebebasan Berpendapat atau Pelecehan?

Pasca rutuhnya Uni Soviet, Barat menganggap Islam sebagai ancaman serius bagi mereka. Oleh karena itu, Barat, Amerika Serikat dan tak ketinggalan rezim Zionis Israel menggalakkan proyek Islamphobia khususnya pasca serangan terhadap gedung kembar World Trade Center New York pada tanggal 11 September 2001.

Sementara itu, dunia Islam memulai periode barunya setelah meletusnya Kebangkitan Islam di Timur Tengah dan Afrka Utara. Tumbangnya para diktator yang telah berkuasa puluhan tahun memberikan harapan baru atas kemenangan besar bagi dunia Islam.

Meluasnya Islam di berbagai belahan dunia menyulut kemarahan musuh-musuh agama suci ini. Mereka berupaya merendahkan Islam dengan cara-cara yang menjijikkan seperti pelecehan dan penistaan terhadap Al-Quran dan kesucian Nabi Muhammad SAW. Contoh terbaru dari tindakan musuh-musuh Islam adalah produksi dan penayangan film berjudul “Innocence of Muslims”.

Nama Terry Jones tidak asing lagi bagi umat Islam. Ia seorang pastor dari Florida Amerika Serikat yang telah sering menyakiti  hati umat Islam dengan aksi tercelanya. Tahun lalu, ia bersama 50 orang lainnya menggelar aksi pembakaran kitab suci Al-Quran untuk memperingati peristiwa 11 September. Kini namanya kembali mencuat setelah ia terlibat dalam publikasi film Innocence of Muslims”. Dalam film yang berdurasi dua jam ini, pribadi suci Rasulullah SAW dihina sedemikian rupa dan beliau digambarkan sebagai manusia yang dilumuri dosa.

 Sam Bacile alias Nakoula Basseley yang disebut-sebut sebagai penulis dan sutradara film ini adalah seorang Yahudi Amerika yang berasal dari California.Sementara Terry Jones bertugas mempublikasikan film tersebut. Bacile kepada Wall Street Journal mengatakan, lebih dari 100 Yahudi menyuplai dana sebesar lima juta dolar untuk membantu memproduksi filmnya. Menurut Bacile, film anti-Islam itu dibuat selama tiga bulan dengan 60 aktor dan 45 kru lainnya. Film tersebut pertama diputar di sebuah ruangan kosong di Hollywood dan menurut rencana akan ditayangkan di gereja Terry Jones  untuk memperingati peristiwa 11 September. Namun, rencana itu kemudian dibatalkan.

 Meski penayangan resmi film yang menghina kesucian Nabi Muhammad SAW itu dibatalkan, namun sebagian dari film tersebut telah dipublikasikan melalui Youtube. Publikasi film itu di internet dilakukan oleh sejumlah Koptik imigran Mesir sehingga warga Mesir menjadi pihak pertama yang mereaksi keras tindakan itu kemudian disusul oleh umat Islam di Libya, Yaman dan negara-negara Islam lainya.

 Ketika pemerintah Amerika Serikat menjadi sasaran kemarahan umat Islam, Washington berupaya menjustifikasi aksi penistaan itu dengan mengeluarkan berbagai alasan. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan, pemerintah Amerika tidak pernah membatasi hak warganya untuk mengungkapkan pandangan mereka. Pernyatan Clinton ini menunjukkan bahwa Washington mendukung produksi dan publikasi film Innocence of Muslims. Dengan demikian pembuatan film nista seperti ini dan langkah-langkah Islamphobia lainnya dilakukan dengan restu para pejabat Gedung Putih.

 Sejarah membuktikan fakta ini bahwa orang-orang musyrik jahiliyah di masa Rasulullah SAW karena takut Islam mereka melakukan tindakan-tindakan bodoh untuk membendung meluasnya ajaran Islam. Dan saat ini masa jahiliyah baru telah dimulai. Musuh-musuh Islam dengan mengusung slogan-slogan indah dan bersahabat seperti kebebasan dan membela hak asasi manusia melakukan tindakan tercela untuk memerangi Islam.

 Kebebasan berpendapat yang menjadi salah satu slogan agama Islam telah menjadi alat bagi Barat untuk menistakan agama Samawi ini. Kini muncul pertanyaan, apakah aksi-aksi pelecehan tersebut termasuk kebebasan berpendapat dan berekspresi atau kebebasan pelecehan? Pertanyaan berikutnya adalah apakah kebebasan berpendapat adalah hak yang tanpa batas? Apakah dengan alasan kebebasan berpendapat, seseorang dapat melakukan pelecehan? Jika demikian, mengapa para cendekiawan Barat yang mepersoalkan kebenaran peristiwa Holocaust, mereka dihukum dan dianiaya?

Kebebasan berkeyakinan bermakna bahwa setiap orang dapat memilih dengan bebas terhadap setiap pemikiran politik, sosial dan agama yang ia anggap benar tanpa pemaksaan. Kebebasan berpendapat juga refleksi dari  kebebasan berkeyakinan yaitu bermakna mengungkapkan pemikiran dan keyakinan secara bebas. Hak ini adalah salah satu hak yang ditegaskan dalam deklarasi hak asasi manusia dan di lindungi oleh berbagai undang-undang di hampir semua negara.

 Dalam pasal 19 Deklarasi Universal HAM disebutkan bahwa setiap orang memiliki kebebasan berkeyakinan dan berpendapat. Hak-hak ini termasuk memiliki keyakinan tanpa rasa takut, bebas dalam mendapatkan informasi, pemikiran,  dan menyebarkannya dengan semua fasilitas yang mungkin dilakukan.

 Dalam pasal 19 kesepakatan internasional terkait hak-hak sipil dan politik disebutkan bahwa; pertama, tak seorangpun dapat diganggu karena keyakinannya. Kedua, setiap orang memiliki kebebasan berpendapat dan kebebasan ini meliputi kebebasan dalam mencari dan meneliti, belajar dan menyebarkan pengetahuan dan pemikiran tanpa pembatasan, baik dengan lisan dan tulisan, cetak, seni atau dengan cara-cara lain.

 Namun dalam pasal 19 butir tiga perjanjian internasional terkait hak-hak sipil dan politik disebutkan bahwa tindakan-tindakan tersebut (kebebasan berpendapat) mempunyai hak dan tanggung jawab serta batas-batas tertentu. Pertama, dalam kebebasan berpendapat tetap harus menghormati martabat dan hak-hak orang lain. Kedua, keamanan, ketertiban atau keselamatan dan moral publik harus dijaga. Sementara dalam pasal 13 konvensi Amerika terkait HAM yang ditetapkan bulan November 1969 disinggung pula bahwa kebebasan berpendapat tidaklah mutlak dan jika mengganggu ketertiban dan moral publik serta martabat orang lain maka hal itu akan dibatasi.

 Dengan demikian, meski hukum internasional menerima kebebasan berpendapat sebagai hak dasar setiap manusia, namun hal itu memiliki batasan-batasan tertentu. Oleh karena itu, dengan dalih kebebasan berpendapat seseorang tidak dapat memproduksi sebuah film yang menghina kesucian sebuah agama besar seperti Islam dan hal itu lebih tepat disebut dengan “kebebasan pelecehan”.

 Dari sisi lain, partisipasi Zionis dalam memproduksi film Innocence of Muslims menunjukkan kebencian mendalam Zionis terhadap umat Islam dan tindakan tersebut juga membuktikan bahwa perkembangan Islam saat ini telah menimbulkan kemarahan musuh-musuh agama suci ini.

 Dewasa ini, kebencian Barat terhadap Islam semakin tampak jelas. Islam adalah agama logika dan pemikiran. Agama ini mengajak semua pihak untuk berdialog berdasarkan argumentasi yang rasional. Namun sayangnya Barat tidak menjawab seruan damai itu secara argumentatif, mereka justru terus memilih tindakan-tindakan hina untuk memerangi Islam. Pelecehan terhadap kesucian Rasulullah SAW yang merupakan dasar keyakinan umat Islam menunjukkan proses keruntuhan peradaban Barat dan juga tanda semakin dekatnya kehancuran rezim Zionis Israel.

                     

Poin penting yang terlupakan oleh para pejabat AS dan Israel adalah aksi penistaan itu dari satu sisi akan berdampak positif bagi umat Islam. Mereka lupa bahwa aksi-aksi ini justru akan mempersatukan umat Islam dan menguatkan persatuan mereka. Meski umat Islam terdiri dari berbagai mazhab namun mereka mempunyai banyak kesamaan seperti iman kepada Tuhan yang Maha Esa, Al-Quran dan Nabi Muhammad SAEW. Hal itu dapat kita saksikan saat ini bahwa Muslim Syiah dan Sunni bersama-sama memprotes aksi penistaan terhadap kesucian Islam di berbagai penjuru dunia.

 Amerika dan Israel kian hari dibenci oleh masyarakat internasional khususnya umat Islam yang berjumlah satu miliar lebih. Umat Islam juga menuntut PBB dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk menindak pelecehan terhadap Islam. Tak diragukan bahwa para pemikir dan cendekiawan dari agama apapun akan menyesalkan aksi pelecehan tersebut, sebab fitrah manusia yang selalu ingin mengenal Tuhan tidak pernah dapat dicegah atau dipadamkan.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa meski ada perbedaan ras, bahasa dan budaya,namun fitrah manusia memiliki kemiripan yaitu menyerukan kesucian, keadilan, kebaikan, solidaritas dan kerjasama.

Menlu Tunisia: Iran Berhak Mengembangkan Energi Nuklir

Menteri Luar Negeri Tunisia mengatakan, Tehran memiliki hak untuk mengembangkan program energi nuklir karena Iran adalah anggota dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Dalam pertemuan dengan Duta Besar baru Iran untuk Tunisia, Peyman Jebeli, Rafik Abdessalem menyampaikan dukungan Tunis terhadap program nuklir Tehran dan menyoroti hak Republik Islam dalam mamanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan sipil.

Abdessalem menandaskan, negara-negara pemilik senjata nuklir adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dan keamanan global.

Dia memuji budaya dan peradaban Iran serta menekankan perlunya perluasan hubungan antara kedua negara di berbagai bidang.

Sementara itu, Dubes baru Iran mengucapkan selamat kepada bangsa Tunisia atas ulang tahun pertama revolusi, yang menggulingkan mantan diktator Zine el-Abidine Ben Ali setelah 23 tahun berkuasa. Dia juga menyatakan kesiapan Iran untuk mentransfer kemampuan dan keahlian ke Tunisia.         

Mengintip Friksi Israel dan AS Soal Nuklir Iran

Rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai pihak yang paling getol memaksa untuk menerapkan opsi militer terhadap instalasi nuklir Republik Islam Iran. Namun kini setelah Iran berhasil mempertahankan hak legalnya di bidang pemanfaatan energi nuklir damai dan hasil positif perundingan Istanbul 2 maka mulai muncul keraguan atas klaim-klaim sebelum ini.

 Sikap kontradiktif dan terkadang aneh yang disertai dengan emosi oleh petinggi Amerika serta Israel dalam beberapa hari terakhir pasca perundingan Iran dan Kelompok 5+1 sepertinya menjadi isu biasa. Sepertinya Israel dan Barat berusaha mencari jalan mundur pasca perundingan Istanbul dengan menyebar keraguan terkait klaim mereka sebelum ini soal program nuklir damai Iran.

 Babak terbaru perundingan antara Iran dan Kelompok 5+1 digelar di Istanbul pada beberapa waktu lalu. Menurut mayoritas diplomat Barat yang hadir, perundingan tersebut cukup positif dan berhasil meraih kemajuan. Hal ini juga ditekankan Catherine Ashton, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa yang memimpin delegasi Barat dan Saeed Jalili, juru runding nuklir Iran yang juga ketua delegasi Iran di perundingan Istanbul 2.

 Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi pada saat diwawancarai televisi Iran juga menilai perundingan Istanbul 2 berhasil. “Kami sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa dalam perundingan kali ini kami akan selangkah lebih maju,” tandas Salehi.

 Sementara itu, petinggi AS di reaksi pertamanya atas perundingan Istanbul 2 menyebutnya sebagai langkah positif pertama. Oleh karena itu, keberhasilan perundingan Istanbul dan optimisme kedua pihak untuk melanjutkan perundingan ini di Baghdad pada  mendatang sempat memicu reaksi beragam. Petinggi Israel dalam berbagai statemennya terlihat kecewa dengan keberhasilan perundingan Istanbul dan sikap lunak Barat khususnya Amerika Serikat dalam dialog tersebut.

 Media-media internasional melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu saat bertemu dengan senator AS, Joseph Lieberman tak lama setelah perundingan Istanbul menandaskan,”Opini pertama saya adalah kalian telah memberi hadiah besar kepada Iran. Kalian memberi kesempatan lima pekan kepada negara ini untuk melanjutkan pengayaan uraniumnya dengan bebas.”

 Petinggi Israel khususnya Netanyahu dan Menteri Peperangan, Ehud Barak berulangkali merilis statemen anti Iran serta menuding Barat memilih sikap lunak terhadap Tehran.

 Pernyataan Anti Zionis Oleh Petinggi Israel

Letjen. Benny Gantz, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel saat diwawancarai Koran Haaretz  menandaskan, kepemimpinan Iran sangat rasional dan tidak akan membuat keputusan seperti itu. Ia menambahkan,”Saya pikir Iran tidak berencana membuat senjata pemusnah massal.” Menurut Gantz, militer Israel juga meyakini bahwa Iran saat ini belum memikirkan senjata nuklir.

 Komentar Gantz mengekspresikan penilaian 16 badan intelijen AS yang menyatakan bahwa Tehran tidak berusaha untuk membangun senjata nuklir. Laporan yang diterbitkan oleh Los Angeles Times pada Februari, telah disebarkan di kalangan pembuat kebijakan AS awal tahun lalu.

 Sementara itu, statemen Gantz ini menuai reaksi keras dari petinggi Israel lainnya. Benyamin Netanyahu menegaskan dirinya tidak memperhitungkan sikap rasional Iran. Sedangkan Ehud Barak mengatakan bahwa menurut Barat sikap Iran tidak rasional.

 Di sisi lain pendapat Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta ternyata jauh berbeda dengan Netanyahu dan Barak. Ia berharap pernyataan Benny Gantz terkait Iran benar adanya. “Saya berharap pernyataan Gantz benar dan ia mengetahui lebih besar dari saya,” ungkap Panetta. Ia mengaku tidak memiliki data akurat terkait kemungkinan Iran memproduksi senjata nuklir.

 Tak lama setelah Gantz, kini giliran Mantan Ketua Badan Keamanan Internal Rezim Zionis Israel, Yuval Diskin mengkritik sikap para pejabat Tel Aviv, khususnya opsi militer ke Iran dan memperingatkan dampak serangan tersebut. Menurut laporan The Independent, “Yuval Diskin menuding para pejabat Israel membesar-besarkan dampak aksi militer ke Iran.” 

 Koran tersebut menegaskan bahwa statemen Diskin itu menunjukkan seberapa jauh tingkat perselisihan di antara para pejabat Tel Aviv dalam menyikapi program nuklir Iran. Diskin mengatakan, kesimpulan Benyamin Netanyahu dan Ehud Barak terkait masa depan perang terhadap Iran tidak akurat. Oleh sebab itu, tidak dapat dipercaya. Diskin meyakini bahwa aksi militer terhadap Iran justru mempercepat program nuklir negara itu 

 Seraya mengisyaratkan kepada Netanyahu dan Barak, ia menandaskan,”Mereka bersikap seolah-olah jika Israel tidak menyerang Iran maka Tehran akan memiliki senjata nuklir.”

 Pernyataan Diskin menggusarkan petinggi Israel lainnya. Zvi Hauser, sekretaris kabinet Israel mengatakan bahwa komentar Diskin itu adalah merusak. “PM bekerja siang dan malam untuk membentuk front internasional guna melawan Iran. Langkah ini adalah perjuangan utama Israel hari ini, tapi sayangnya ada pihak yang mengeluarkan pernyataan tidak bertanggung jawab dan memalukan,” katanya.

 Di tengah-tengah friksi internal di antara petinggi Israel terkait program nuklir damai Iran, Koran Los Angeles Times  dalam sebuah pemberitaannya memungkinkan  Amerika akan mengijinkan Iran melanjutkan pengayaan uraniumnya. Berita ini mungkin akan membuat Israel semakin gusar.

                                      

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: