KEUTAMAAN-KEUTAMAAN AL-QURAN

 Rasulullah SAW bersabda :

 “Keutamaan Al-Quran atas seluruh kalam (perkataan) seperti keutamaan Allah

            Atas makhluk-Nya.”

Imam Ali Kw berkata :

          “Aku wasiatkan kepada Anda Al-Quran, maka jadikanlah ia petunjuk dan  Pemimpinmu.”

Keutamaan Membaca Al-Quran

Rasulullah SAW bersabda :

          “Paling utamanya ibadah umatku adalah membaca Al-Quran.”

          “Ahli Al-Quran adalah hamba-hamba terbaik dan khusus Allah SWT.”

           “Jika salah seorang darimu suka berdialog dengan Tuhannya, maka bacalah Al-Quran.”

Imam Ali Kw berkata :

          “Membaca Al-Quran akan membuahkan iman.”

Imam Ja’far Shadiq berkata :

 “Barangsiapa membaca Al-Quran sedangkan dia adalah pemuda mukmin,

  Al-Quran akan mendarah-daging pada dirinya dan Allah menjadikannya

  bersama para nabi yang mulia dan penuh kebaikan.”

Keutamaan Mendengarkan Bacaan Al-Quran

Rasulullah SAW bersabda :

          “Ketahuilah bahwa orang yang rindu kepada Allah, hendaklah mendengarkan kalam Allah.”

          “Barangsiapa mendengarkan satu ayat dari kitab Allah, ditulis baginya kebaikan

            yang berlipat ganda, dan siapa yang membaca satu ayat dari kitab Allah, baginya

            sebuah cahaya di hari kiamat.”

Keutamaan Belajar – Mengajar Al-Quran

 Rasulullah SAW bersabda :

          “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah jamuan Allah, maka pelajarilah jamuan ini semampumu.”

          “Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.”

Perintah, Merenungkan (tadabbur) Al-Quran

Allah SWT berfirman :

          “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”

Imam Ali Kw berkata :

          “Tidaklah terdapat kebaikan dari suatu ilmu yang tidak dipahami dengan benar,

            tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak diringi dengan tadabbur, dan

            tidak ada kebaikan dalam suatu ibadah yang tidak diringi dengan pemahaman  yang benar.”

Imam Ali bin Husain berkata :

          “Ayat-ayat dalam Al-Quran merupakan gudang dari ilmu pengetahuan, setiap

            kali engkau membuka gudang tersebut hendaklah engkau mengambil pelajaran

            darinya.”

…KISAH & HIKMAH…

(1).

Jemaah haji dari Indonesia sekembalinya dari Mekah biasanya singgah di Ceylon (Srilanka) untuk menunggu musim barat selama1-3 bulan. Dalam kesempatan ini lah jemaah haji Tabarukan dan belajar kepada Syekh Yusuf. Selain itu juga disisipkan pesan-pesan Politik, agar tetap mengadakan perlawanan terhadap Belanda dan juga pesan-pesan agama supaya tetap bepegang teguh pada jalan Allah. Dititip pesan pada raja dan rakyat Banten dan Makassar lewat surat-suratnya:

Pertama, :  harus berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah,

Kedua,  : Harus berpegang pada Syariat dan Hakikat, Fiqih dan Tasauf, tarikat Muhammadiyah dan Suluk Ahmadiyah’

Ketiga,  : harus selalu berpikir dan mengharapkan diri pada Allah dengan sikap Khauf dan Raja’,

Keempat, :  harus selalu jujur, berkata dan berbuat benar dan baik, berbudi pekerti yang luhur dan Tawakal pada Allah,

Kelima, : menghormati ulama dan cerdik pandai serta mengasihi fakir-miskin,

Keenam, : jauhi sifat-sifat takabur, bangga diri dan angkuh,

Ketujuh, : usahakan selalu bertobat dan selalu berzikir pada Allah

Dan surat-surat kepada raja Banten dan Makassar kabarnya tercium oleh pemerintah Belanda di Batavia. Pemberontakan rakyat di Banten dan raja Gowa ke-19 menyebabkan Pemerintah Belanda mencari latar belakangnya, akhirnya ditarik kesimpulan bahwa pemberontakan ini erat kaitannya dengan Syekh Yusuf. Berupa risalah-risalah dan pesan-pesan yang menggunakan nama samaran.

Di Makassar “Kittakna Tuan LoEta (kitab tuan LoE ku) atau Pasanna Tuanta (pesan tuanku)” di Banten disebut Ngelmu Aji Karang atau Tuan She. Akhirnya diputuskan Syekh Yusuf dan 49 rombongannya untuk dipindahkan dari Ceylon ke Kaap (Afrika Selatan). Dan dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 1693 setelah 9 tahun beliau di Ceylon di usia 68 tahun, dengan menaiki kapal “Voetboeg”. Dan sampai di pantai Afrika pada tanggal 2 April 1694, selama 8 bulan 23 hari perjalanan.

Tapi api perjuangannya tidak pernah padam oleh ruang dan waktu beliau tetap mengobarkan semangat warga Afrika Selatan untuk merdeka dan membentuk komunitas muslim disana yang memang menjadi daerah buangan politik tempat itu sekarang dikenal dengan Macassar Faure

(2)

BISMILLAHI AR-RAHMANI AR-RAHIM
Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim sambil berkata:
Wahai Syekh, semoga Allah merahmatimu.
Jawab Ibrahim:
Saya ini seorang pencuri. Mendekatlah! Engkau akan mendapatkannya. Dan sesudah mereka, berbuatlah sekehendakmu.
Dengan heran laki-laki itu kembali bertanya [sehingga terjadilah semacam dialog]:
Mereka? Saya tidak paham mereka yang syekh maksudkan.

Syekh Ibrahim:
Pertama, jika engkau berniat melawan Tuhan, janganlah makan rezeki-Nya.

Laki-laki:
Demi Tuhan, itu sangat sulit. Jika rezeki-Nya semua di laut, di darat, di gunung dari mana saya makan untuk bertahan hidup?

Syekh Ibrahim:
Pantaskah makan rezeki-Nya dan melawan-Nya?

Laki-laki:
Tidak.

Syekh Ibrahim:
Kedua, jika kamu ingin melawan Allah, jangan bertempat tinggal di negeri-Nya.

Laki-laki
Demi Allah, itu lebih sulit dari yang pertama. Jika dunia ini kepunyaan-Nya, lantas di mana saya harus tinggal?

Syekh Ibrahin:
Pantaskah makan rezeki-Nya, tinggal di negeri-Nya dan melawan-Nya?

Laki-laki:
Tidak.

Syekh Ibrahim:
Ketiga, jika hendak melawan, lawanlah ditempat Ia tidak melihatmu.

Laki-laki:
Demi Allah, ini semakin sulit. Bagaimana mungkin, sedang Ia tahu semua yang tidak terlihat [gaib] dan yang tersimpan di dalam hati.

Syekh Ibrahim:
Pantaskah makan rezeki-Nya, bertempat tinggal di negeri-Nya dan melawan-Nya? Sedang Ia melihat engkau?

Laki-laki:
Tidak. Kalau begitu syekh, berikan saya yang keempat.

Syekh Ibrahim:
Jika datang Malaikat Maut menjemput dan mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, ‘Akhirilah kematian saya sampai saya bertaubat’. Malaikat berkata, ‘Enak saja. Jika engkau tahu, mengapa tidak bertaubat dari dulu.

Laki-laki itu belum puas dan karena itu masih meminta opsi kelima.

Baik kata Ibrahim:
Jika datang Mungkar dan Nakir, maka tolak dan usirlah keduanya.

Laki-laki:
Tidak ada kekuatan bagiku. Berilah opsi yang lain syekh.

Syekh Ibrahim:
Jika kamu berada di hadapan Allah Azza wa Jalla, sedangkan Allah memerintahkan memasukkan engkau ke neraka, berkatalah kepada Tuhan: Jangan perintahkan mereka.
Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu ya Allah.

kisah ini dikutip oleh Syekh Yusuf al-Makassari dari kitab Zaadatul Musafirin [Perbekalan para Pengembara] dalam salah satu risalahnya, An-Nafhatus-Sailaniah [Embusan dari Ceylon]. Syekh Yusuf menulis lebih dari 20 [dua puluh] tulisan terutama tentang tasawuf. Salah satunya dari Ceylon [Srilangka sekarang].
Di tulis memenuhi keinginan para jamaah dan sahabat, risalah ini memuat antara lain keharusan mempersatukan syari’at dan hakikat. Misalnya mengutip pendapat guru-guru tasawuf yang menyatakan, “Barangsiapa yang berilmu tetapi tidak bertasawuf, ia fasik. Barangsiapa yang bertasawuf namun tidak berfiqh, ia zindik.”
Begitulah Syekh Yusuf al-Makassari. Dia berdakwah [ceramah] dengan cara memberi contoh dan hikmah, sehingga jamaah yang hadir senang dan betah untuk tinggal mendengar dakwahnya [ceramahnya]. Karena itulah, tidak heran bila namanya begitu sangat terkenal sampai Cape Town, Afrika Selatan.

(3)

Dalam lontara versi Gowa disebutkan akan kedalaman dan penguasaan ilmu yang dimiliki Syekh Yusuf. Bagaikan: ”Tamparang tenaya sandakanna” [langit yang tak dapat di duga]. ”Langik tenaya birinna” [langit yang tak berpinggir]. ”Kappalak tenaya gulinna” [kapal yang tak berkemudi].

Kedalaman ilmu yang dimiliki terutama dalam bidang tasawuf, membuat Syekh Yusuf senantiasa berhati-hati berperilaku. Dalam hidup Syekh Yusuf menekankan pentingnya bagi setiap Muslim untuk menempuh jalan kesucian bathin dari segala bentuk kemaksiatan. Dorongan berbuat maksiat, menurutnya, dipengaruhi oleh kecenderungan untuk mengikuti keinginan hawa nafsu, yaitu keinginan untuk memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama seseorang berperilaku buruk.

Tahap pertama yang harus ditempuh seorang murid [salik] adalah, mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan pada kemewahan duniawi.

Syekh Yusuf juga dikenal sebagai ulama yang moderat, dalam mengajarkan proses penyucian bathin kepada murid-muridnya, dia tidak menginginkan murid-muridnya meninggalkan seluruh urusan duniawi, dan hanya mengejar negeri akhirat.

Menurut Syekh Yusuf, kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali, melainkan hidup ini harus dimamfaatkan untuk mengembara menuju perjumpaan dengan Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Hidup menurut pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi, namun kehidupan ini, harus diilhami cita-cita dan tujuan hidup untuk menuju kepada keridhaan Allah subhanahu wata’ala. Menurutnya, Allah subhanahu wata’ala adalah inti orientasi dan tujuan hidup seorang Muslim sejati. Sedangkan dunia ini hanyalah tempat persinggahan dalam perjalanan menuju negeri keabadian.

(4)

Syekh Yusuf-pun banyak menulis buku dalam bidang tasawuf. Buku-buku mengenai ajaran tasawuf ditulisnya ketika dalam perantauan dan pada saat menjalani pengasingan. Ketika menjalani pengasingan di Srilangka, salah seorang ulama besar dari India yang ia temui disana, Syekh Ibrahim Ibn Mi’an, meminta Syekh Yusuf menulis sebuah buku tentang tasawuf yang berjudul “Kayfiyat al-Tasawuf”. Begitu juga selama menetap di Banten, Syekh Yusuf menulis sejumlah karya, demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Indonesia. Salah satu bukunya “Al-Barakat al-Sailaniyyah” yang berisi nasehat mengenai cara dan bagaimana mengikuti jalan sufisme, seperti berdzikir, syahadat dan cara bagaimana mendekatkan diri kepada Allah [Muraqabah].

Pendapatnya dalam buku ini ada tiga cara mengingat Allah [dzikir] yakni melalui:

– Dzikral-nafi wa al-ithbat, dengan mengucapkan: “Laa Ilaha Illa Allah”.

– Dzikir al-Mujarrad wa al-Jalala, dengan mengucapkan: “Allah”

– Dzikir al-Ishara wa al-anfas, dengan mengucapkan: “Hu”.

Dalam karyanya yang lain, “Al-Fawa’il al-Yusufiyyah fi Bayan Tahqiq al-Sufiyyah” ditulis ketika dia menjawab pertanyaan orang yang mengenal beberapa masalah agama, ia menganjurkan orang untuk banyak membaca Al-Qur’an dan memperkuat tauhid, di samping mengamalkan kewajiban agama. Dalam buku ini, ia juga merekomendasikan kepada mereka untuk sabar, syukur dan jujur seperti halnya “Al-Fawa’il al-Yusufiyyah fi Bayan Tahqiq al-Sufiyyah”.

Dalam kitabnya “Hashiyyah” Syekh Yusuf juga menjelaskan makna syahadat, yang berarti kekuasaan apapun berasal dari Allah. Kitab Hashiyyah ini hampir sama dengan kitab, “Kayfiyat al-Munghghi wa al ithbat bi al-Hadits al-Qudsi” yang dia tulis di Srilangka. Kitab ini menjelaskan pentingnya mengingat Allah subhanahu wata’ala kapanpun dan dimanapun, sebagai mana dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam kitab ini juga dijelaskan cara-cara bertobat dan memperoleh ridha Allah subhanahu wata’ala.

Sementara kitabnya “Mathalib al-Salikin” sang ulama tasawuf menjelaskan keesaan Allah sebagai landasan untuk menjadi seorang Muslim. Menurut dia, seorang Muslim harus percaya konsep tauhid [keesaan Allah] dan ma’rifat [mengenal Allah] serta menjalankan ibadah. Urutannya dapat dilihat sebagaimana pohon, terdiri dari batang yang diibaratkan sebagai tauhid, cabang serta daun-daunnya yang diibaratkan sebagai ma’rifat, dan ibadah sebagai buahnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: