Pembunuhan Terhadap Ayah

Kisah dan Hikmah

{ ******** }

Menghormati orang lain dan satu sama lainnya merupakan salah satu dari ajaran-ajaran Al-Quran. Memberikan salam, menyanyangi dan memanggilnya dengan nama yang baik adalah juga merupakan bagian-bagian dari rasa saling menghormati satu sama lain yang perbuatan ini akan menyebabkan kedekatan hati seseorang terhadap yang lainnya dan akan tercipta kasih sayang dan persatuan di dalam masyarakat, dan sebaliknya Al-Quran menolak dengan keras terhadap penghinaan dan pelecehan serta berkata kasar kepada orang lain sesuai dengan ayat yang berbunyi: (Wa laa tanaabazuu bil alqaab) “Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”  Perbuatan ini akan menyebabkan ketidaksenangan dan kejengkelan di antara orang-orang dan api kebencian akan semakin menyala di dalam setiap hati. Cerita di bawah ini adalah sebuah contoh dari parahnya akibat yang di timbulkan dari perbuatan yang tidak terpuji ini:

 

Pembunuhan Terhadap Ayah

Mutawakkil Abbasi sangat memusuhi Imam Ali Kw dan selalu berusaha untuk lancang terhadap Imam Ali di dalam majelis-majelis umum dan khusus dan akan selalu mengatakan hal-hal yang tidak terpuji. Pada suatu hari seperti kebiasannya dia menghina Imam Ali. Anaknya Muntashar yang juga hadir pada waktu itu setelah mendengar perkataan ayahnya, wajahnya menjadi berubah  dan sangat geram. Mutawakkil merasakan bahwa anaknya menjadi marah dengan ucapannya, karena Muntashar pun tidak luput dari ucapan ayahnya di mana dia di hina dan diolok-olok di depan umum oleh ayahnya yang juga memusuhinya. Muntashar adalah merupakan pemegang khalifah setelah ayahnya dan dia anak muda yang baru berusia 25 tahun, dia tidak dapat menahan perbuatan tercela ayahnya dan pada saat itu juga api kebencian menyala di dalam hatinya dan berencana untuk membalas dendam terhadap ayahnya sendiri.

Atas dasar itu pada kesempatan pertama dia mengumpulkan sejumlah bawahannya di dalam kerajaan dengan janji-janji harta dan kedudukan serta bersama-sama membuat rancangan untuk membunuh ayahnya.

Pada suatu malam Mutawakkil sedang mabuk dan dia sibuk berpesta minuman keras bersama para pengawalnya. “Bagaau Shagir ” adalah kepala perayaan pesta di istana itu dengan serta merta meliburkan para tamu dan pengawal khalifah dan yang tinggal hanya Fath bin Khaqan di dekatnya yang merupakan orang terdekat dan pengawal Mutawakkil. Saat itulah para pengawal pemberani memasuki istana dengan sembunyi-sembunyi untuk menjalankan rencana pembunuhan terhadap Mutawakkil, mereka menyerbu ruangan Mutawakkil dengan pedang-pedang tajam.    

Fath bin Khaqan berteriak dengan keras setelah menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut dan berkata: Apakah kalian ingin membunuh khalifah muslimin?! Pada saat itulah dia menjatuhkan dirinya di dekat khalifah tetapi para pengawal tidak memberikan kesempatan dan keduanya pun terbunuh dan pada tengah malam itu semua pengawal kembali ke Muntashar lalu mengucapkan selamat atas derajat kekhalifaan kepadanya.

 

{ ********* }

Allah subhana wata’ala dalam kitabnya telah menentukan ganjaran atau balasan bagi seorang pencuri dan perampas harta orang lain: [Wassaariqu wassaariqatu faqtha’u aydiyahumaa jazaan bima kasaba nikaalan minallahi wallahu ‘azizun hakim] “Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

 

Peristiwa Delapan Pencuri

Harits bin Harishah berkata: Suatu hari saya melihat seorang lelaki Habasyi yang sedang mencuci tangannya di mana ke empat jari-jarinya telah terpotong. Dengan rasa heran saya bertanya: Peristiwa apa yang telah menimpa dirimu sehingga menyebabkan jari-jari tanganmu telah terpotong? Dia berkata: Orang yang paling baik Ali ibn Abi Thalib  yang telah memotong tanganku. Saya berkata: Untuk apa?

Dia menjawab: Dahulu kami adalah sebuah kelompok yang terdiri dari delapan orang  dan telah melakukan suatu pencurian pada masa pemerintahan Ali Kw. Setelah beberapa lama kami sibuk dengan profesi ini, pada akhirnya kami terperangkap juga. Kami pun di perhadapkan di depan Amirul Mukminin Ali Kw. Ditanyakan kepada kami: Apakah anda melalukan pencurian?!

Kami pun mengakuinya. Beliau berkata: Apakah anda tahu bahwa mencuri adalah perbuatan yang haram?! Kami menjawab: Iya kami tahu. Setelah tanya jawab ini Imam Ali Kw memerintahkan untuk memotong tangan-tangan kami.

Setelah perintah Imam Ali di laksanakan dengan memotong empat jari-jari tangan kanan kami dan jari jempol kami dan hanya telapak tangan saja yang tertinggal. Kemudian kami di kurung pada sebuah rumah dan dijamu dengan berbagai makanan yang lezat dan penuh energi dan madu serta minyak. Sampai luka tangan-tangan kami pulih kembali. Pada saat itu kami di bawa ke hadapan Amirul Mukminin Ali Kw.

Amirul Mukminin Ali Kw memberikan kepada kami beberapa pakaian yang baik dan bagus seraya berkata: “Jika kalian bertobat dan menjadi orang-orang yang saleh Allah akan membawa kalian ke dalam surganya dan jika tidak kalian akan di seret ke jahannam dengan jari-jari yang telah terpotong.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: