Kakek Tua dan Anak-anak

Kisah dan Hikmah

 Sesuai dengan ajaran Al-Quran yang menganjurkan bahwa mereka yang jahil dan tidak tahu seharusnya diberi petunjuk dengan metode atau cara yang paling baik, lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan Allah subhana wata’ala menganjurkan dan mengingatkan bahwa langkah awal yang ditempuh untuk memberikan hidayah bagi orang-orang yang paling angkuh dan sombong adalah seperti yang di paparkan di atas di mana Allah SWT berkata kepada Nabi Musa as dan saudara laki-lakinya Harun as: (Faquulaa lahu qawlan layyinan fi dzikri)  “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

 

Kakek Tua dan Anak-anak

Suatu hari di masa kecilnya Imam Hasan dan saudara laki-laki tercintanya Imam Husain  melihat seorang kakek tua yang sedang mengambil air wudhu tetapi beliau tidak mengetahui cara berwudhu yang benar.

Imam Hasan bersama saudaranya Imam Husain ingin mengajarkan dan menunjukkan kepadanya cara wudhu yang benar. Tetapi apabila secara langsung mereka mengatakan kepada beliau dikhawatirkan akan tersinggung dan akan meninggalkan kenangan pahit tentang wudhunya yang salah dan terkucil serta patah semangat sampai akhir hayatnya. Dan kemungkinan besar beliau sama sekali tidak mau mengabulkannya. Sebab teguran kedua anak ini baginya merupakan sebuah penghinaan.

Mereka satu sama lain saling berdiskusi dan akhirnya membuat sebuah bentuk peragaan di mana kakek tua itu mendengar suara mereka, dan mereka berdua pun berkata: “Wudhu saya lebih baik dan lebih sempurna dari pada wudhu kamu.” Kemudian mereka sepakat untuk mengambil air wudhu di samping kakek tua itu dan menyerahkan kepada beliau untuk menilai wudhu mereka berdua.

Sesuai dengan perjanjian mereka bahwa keduanya akan melaksanakan wudhu yang baik dan benar di hadapan beliau. Kakek tua itu sewaktu melihat cara wudhu mereka, beliau sadar bahwa wudhu keduanya adalah benar dan akhirnya beliau berpikir dan mengerti tentang maksud yang sebenarnya dari kedua anak tersebut dan mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dari kasih sayang dan kepandaian serta kebesaran jiwa mereka.  

Dengan rendah hati beliau berkata: “Anak-anakku! Kedua wudhu kalian benar-benar shahih. Saya adalah seorang kakek tua yang tidak tahu dan masih juga tidak mengerti cara berwudhu yang baik dan dengan berkah kasih sayang yang kalian miliki bagi umat kakekmu, sekarang saya telah mendapatkan pelajaran dari kalian tentang wudhu yang shahih.”

 

{ ******** }

Terkadang ditemukan seseorang yang menyampaikan perintah-perintah agama Islam yang menghidupkan dan membahagiakan dalam waktu-waktu yang tidak sesuai dan metode-metode tidak cocok yang hanya menyiksa hati. Oleh karena itu terdapat sejumlah pembenci agama dan atau berprasangka buruk terhadap kebenaran akan keindahan agama Ilahi. Allah subhana wata’ala bersabda: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik!

Imam Shadiq menukil topik ini dengan sebuah cerita yang membangun dalam penjelasan di bawah ini :

 

Lelaki Muslim dan Tetangga Masihi

Lelaki muslim mempunyai seorang tetangga seorang masihi, dia berusaha mengajak tetangganya itu agar supaya memeluk agama Islam, sangat beruntung karena lelaki masihi itu terpengaruh dengan ucapan-ucapannya dan menerima agama Islam. Keesokan harinya sebelum azan subuh lelaki muslim ini dengan penuh suka dan cinta menghampiri dan mengetuk rumah tetangganya yang baru memeluk Islam itu mengajak untuk beribadah dan shalat di mesjid. Teman yang baru memeluk Islam itu juga memakai pakaian rapi, mengambil air wudhu lalu bersama-sama dengan dia berangkat ke mesjid.

Betapa mereka shalat di mesjid sampai waktu azan subuh dikumandangkan, kemudian shalat subuh di iqamah dan melaksanakan ta’qib-ta’qib. Ketika kawan yang baru muslim tersebut hendak berdiri dan ingin menuju ke rumahnya, temannya berkata: Kamu hendak kemana? Hari sudah siang dan juga jarak antara subuh dan dhuhur tidak terlalu panjang dan kawan yang baru muslim tersebut duduk kembali sampai dhuhur dengan mengerjakan shalat-shalat sunat dan membaca Al-Quran, doa dan juga sibuk beribadah.

Setelah melaksanakan shalat dhuhur dia bermaksud hendak ke rumah akan tetapi kawan muslimnya berkata: Jangan tergesa-gesa! Bersabarlah sedikit sampai kita bersama-sama melaksanakan shalat ashar dan dia pun duduk menahan diri sampai waktu azan magrib lalu berkata kepadanya: Jika kamu berselera dan sedikit bersabar tidak lebih dari satu shalat lagi yang tertinggal dan setelah shalat isya di iqamah kita bersama-sama kembali ke rumah masing-masing.

Esok harinya ketika lelaki muslim tersebut menghampiri rumah kawannya yang baru muslim itu untuk mengajaknya shalat subuh seperti hari sebelumnya dia menyarankan kepadanya untuk mengambil air wudhu, memakai pakaian bersih agar bersama-sama berangkat ke mesjid untuk shalat, kawan yang baru muslim itu menyeru di balik pintu: Wahai kawanku yang mulia! Agamamu ini hanya cocok bagi orang yang pengangguran, pergilah kamu mencari orang yang tidak mempunyai pekerjaan dalam kehidupannya. Saya adalah seorang yang butuh dan mempunyai keluarga!     

Imam Shadiq di akhir cerita ini berkata: Dia telah bersusah payah menunjukkan jalan kepada orang tersebut dan menjadikannya seorang muslim, akan tetapi dengan memakai metode yang salah dan penggambaran yang sangat ketat dan melelahkan pada akhirnya beliau kembali lagi ke agamanya semula setelah memeluk agama Islam.

 

{ ******** }

Al-Quran berbunyi: (walaw basathallahu arrizqa li’ibaadihi labaghaw fil ardhi) “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi.” Oleh karena itu Tuhan pencipta alam semesta ini akan memberikan rezekinya kepada setiap orang yang pantas menerimanya dan dia akan di uji dalam hal ini.

 

Orang Yang Layak

Pada suatu hari, di pertengahan jalan Nabi Musa as menyaksikan seorang lelaki fakir yang hidup dalam keadaan menderita. Ketika mata lelaki fakir itu tertuju kepada Nabi Musa as, dia berkata: Wahai Musa! Doakanlah agar supaya Tuhan memberikan keluasan dalam kehidupanku dan saya lepas serta terbebas dari kefakiran. Nabi Musa as  mengabulkan permohonannya dan pada akhirnya kehidupan lelaki fakir tersebut sampai pada kehidupan yang baik.

Setelah beberapa waktu Nabi Musa as lewat di sebuah jalan di mana matanya tertuju kepada masyarakat yang sedang berkumpul dan mengerumuni seseorang. Nabi Musa as pergi mendekat dan dengan penuh keheranan beliau melihat lelaki fakir itu yang baru saja mencapai kekayaannya di mana dia ditangkap dan dibawa oleh para pengawas kenegaraan. Ketika Nabi Musa as menanyakan penyebabnya, masyarakat menjawab bahwa dia telah meminum khamar dan membunuh seseorang yang tidak berdosa, sekarang dia ditangkap untuk mendapatkan qishas. Benar:

Kucing miskin jika punya sayap

       Telur burung gereja dari dunia kau ambil

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: