Taklid Buta

Kisah dan Hikmah

      Allah subhanahu wata’ala dalam ayat 33 pada surah Al-Furqan berkata: “Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat darinya.”

Menurut ayat ini manusia-manusia adalah jahil seperti halnya hewan berkaki empat di mana mereka tidak berpikir tentang nilai dan norma-norma. Tanpa berpikir mereka bertindak pada sebagian pekerjaan-pekerjaannya yang tidak membuahkan hasil, dan mereka senantiasa dalam azab dan penderitaan yang tidak menyenangkan.

Taklid Buta

Seorang laki-laki musafir yang bertelinga panjang gesit dan cekatan, di tengah perjalanan malamnya dia sampai pada sebuah pondok penginapan. Dia menuju kesana untuk beristirahat dan menitipkan keledainya pada pembantu penginapan tersebut. Pada malam itu terdapat beberapa orang penipu yang lapar dan tidak memiliki makanan untuk  di santap malam mereka menggunakan kesempatan dan segera menjual keledai milik orang yang baru saja memasuki pondok penginapan itu dan hasil dari penjualan keledai itu di jadikan sebagai santapan malam dan mereka juga mengundang pemilik keledai untuk bersama-sama bersantap malam dengan mereka. Salah satu di antara mereka bertangan lentik dan menghentakkan kaki memasuki acara tersebut dan dengan suara tinggi memulai tariannya dan berjoget. Dia berjoget dan melantunkan syair keledai pergi, keledai pergi dan keledai pergi.

Laki-laki musafir yang tidak mengetahui akan peristiwa itu, juga ikut hadir dalam acara santapan malam mereka dan dengan jalan taklid dia juga mulai bersenandung dan dengan suka ria dia mengulang-ulang syair: Keledai pergi, keledai pergi dan keledai pergi.

Ketika pagi telah tiba setiap orang telah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan begitu pula dengan laki-laki musafir itu yang hendak keluar meninggalkan kamarnya dan menghampiri keledainya, tetapi dia tidak menemukannya. Dia menanyakan kepada pembantu pondok penginapan itu yang mana pembantu tersebut adalah seorang manusia yang berhati bersih, pembantu mengatakan: Bukankah kamu tidak tahu bahwa semalam keledaimu telah terjual dan mereka memakainya dalam sebuah acara sebagai santapan malam dan bersenang-senang?! Laki-laki musafir risau dan berkata: Dahulu saya menitipkan hewan itu kepadamu, mengapa kamu tidak menjaganya dan atau minimal kamu mengabarkannya kepadakau?

Pembantu berkata:

Demi Tuhan saya datang berkali-kali

Supaya kamu saya hentikan dari semua pekerjaan

Kamu berkata demikian bahwa keledai pergi wahai putra

Dari semua yang berkata dengan kesukariaan

Pada saat inilah lelaki musafir yang berlempeng sederhana itu tersadar dari tidur lalainya dan berkata: Semalam semua berkata dengan kalimat ini dan sayapun datang dengan suka ria dan saya juga bersenandung bersama mereka.

Ciptaan taklid mereka melayang

Wahai dua seratus laknat atas taklid ini

{ ******** }

 

Allah subhana wata’ala berfirman menegaskan tentang batas-batas berkawan: “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.

Batasan-batas Berkawan

Umar bin Nu’man Ja’fiy berkata: Imam Shadiq  mempunyai seorang kawan di mana kawan tersebut tidak pernah melepaskan Imam  kemana pun beliau pergi, dan dia tidak pernah terpisah darinya. Suatu hari dia bersama Imam pergi ke pasar tempat para penjahit sepatu, dan mencari pembantunya yang mana adalah seorang anak haram, tak disangka pembantu itu sudah berada di belakang punggungnya yang telah beberapa kali dicari tapi tidak terlihat sampai pada panggilan ketiga dia pun tidak nampak, kali ini panggilan yang ke empat dan dia pun terlihat kemudian dijitak dan berkata: Wahai anak haram kamu tadi kemana?

Hadhrat Shadiq  mengangkat tangan dan memukul jidatnya sendiri lalu berkata: Subhanallah! Kamu menuduh ibunya sebagai seorang penzina? Saya sangka kamu adalah seorang yang bersih dan suci, akan tetapi sekarang saya melihat bahwa kamu adalah orang yang tidak bertakwa dan tidak suci?

Dia (kawan) itu berkata : Saya mohon maaf, ibunya adalah seorang wanita penzina dan musyrik? Imam  berkata : Bukankah kamu tidak tahu bahwa setiap bangsa mempunyai tradisi pernikahan tersendiri, sekarang menjauhlah dariku!

Umar bin Nu’man (perawi hadis) berkata : Saya tidak pernah melihat dia lagi berjalan bersama imam  sampai kematian memisahkan mereka berdua.

Haji Aqa Husain Qummi juga adalah seorang ilmuan. Dari beberapa ilmuan yang dalam pertemanannya dan berkawan shahib, sangat luar biasa ketatnya dimana beliau berkawan sampai pada batasan-batasan yang dianjurkan oleh agama Islam, dan tidak akan pernah bersedia menyepelekan aturan-aturan syar’i hanya dikarenakan berkawan. Beberapa kali beliau berkata bahwa : Saya akan berkawan dan berteman dengan seseorang sampai pada pintu neraka akan tetapi saya tidak akan memasuki neraka hanya dikarenakan berkawan.  

 (Diterjemahkan oleh Ummu Jausyan)

  1. Mari kita tes!

    1. Kalau lihat ada yang kritis terhadap partai, maka dikatakan sebagai kader tidak tsiqoh dan tidak taat

    2. Kalau ada berita apapun yang tidak enak langsung disebut fitnah

    3. Lalu kalau ternyata benar, disebut ghibah, kemudian dilabeli membongkar aib

    4. Setelah itu, kalau ia masih terus gencar bertanya, maka ia disebut sebagai kader yang hasad dan barisan sakit hati karena tdk diberi jabatan

    5. Kalau masih bertanya juga, maka kita menyebutkan bahwa jamaah ini bukan jamaah malaikat tapi jamaah manusia. Lalu memaklumi kemaksiatan/penyimpangan yang terjadi dalam tubuh jamaah.

    6. Kalau dia masih mengkritik lagi, maka akan ditanyakan kepada sang pengkritik SUDAH HAFAL BERAPA JUZ? SUDAH BERAMAL APA DIBANDINGKAN JAMAAH KAMI? SIAPA SIH KAMU DIBANDINGKAN PETINGGI-PETINGGI KAMI YANG LULUSAN UNIV ISLAM TERKEMUKA?

    7. Kalau masih mengkritik habis-habisan, maka akan menyerang pribadi sang pengkritik, bukan membantah argumen yg dijadikan bahan kritikan..

    8. Jika sudah tidak ada alasan untuk berkilah, maka berbagai peristiwa yang dikritik, dianggap sebagai jebakan atau konspirasi untuk menghancurkan jamaah.

    Jika anda seperti itu, apapun yang ingin anda katakan, saya katakan kepada anda, bahwa anda adalah orang yang TAKLID BUTA..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: