JENDERAL SOEDIRMAN

Soedirman tumbuh dari persemaian

muslim yang taat, berkembang sebagai seorang guru sekolahan,

guru masyarakat, dan guru militer yang handal,”

 

Namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Sosok pemimpin yang menjadi inspirasi dan patut diteladani ketika kita kering dengan kehadiran pemimpin yaitu Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia adalah panglima TNI yang pertama, tokoh agama, pendidik, tokoh Muhammadiyah sekaligus pelopor perang gerilya di Indonesia. Jenderal Soedirman juga salah satu jenderal bintang lima di Indonesia. Beliau lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 24 Januari 1916 dan meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun karena penyakit tuberkulosis dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.

Sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman patut menjadi contoh bagi kalangan muda bangsa ini. Selain memiliki rasa nasionalisme yang kuat, ia memiliki keimanan yang tinggi. Sebelum masuk ke dunia militer, Soedirman adalah guru bagi temannya dan menjadi teladan di kalangan anak muda karena pernah aktif dan menjadi guru di Kepanduan Muhammadiyah Hizboel Wathon (Pembela tanah air), kemudian menjadi guru serta kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah di Cilacap.

Selain menjadi guru, Soedirman adalah seorang muslim yang taat, pernah menjadi muballigh-juru dakwah. Ia dikenal sebagai juru dakwah yang mengedepankan pendekatan kultural dan persuasif yang rajin berkeliling di pedesaan dan perkotaan, dan bahkan juga mendirikan pusat dakwah. Pada saat telah menjadi Panglima pun Soedirman tetap suka mengaji di Pengajian PP Muhammadiyah di gedung Pesantren Kauman Yogyakarta serta tetap tidak melupakan kegiatan dakwah di lingkungannya,

Pengalaman aktif di Kepanduan Hizboel Wathon merupakan modal bagi Soedirman memasuki dunia kemiliteran. Karir kemiliteranya dimulai dari menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) yaitu kesatuan militer yang dibentuk dan dilatih jepang.

Dalam buku Soedirman dan Sudirman terbitan Pusat Sejarah TNI (2004). Beliau digambarkan sebagai : Pemimpin yang sederhana. Kesederhanaan yang polos memancar dari jiwa beliau, kesederhanaan yang tidak dibuat-buat baik dalam gaya hidup maupun sikap dan perilaku. Kesederhanaan beliau mampu membangkitkan kepercayaan seluruh anak buahnya bila mereka dipimpin oleh jenderal yang jujur dan memiliki solidaritas terhadap nasib semuanya serta tidak mencari kepentingan diri sendiri.

 

Pemimpin dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Semangat ini merupakan penghayatan suara hati nurani, kepekaan jiwa terhadap nasib rakyat Indonesia yang sekian lama menjadi rakyat jajahan. Pengamatan yang cermat dan tepat dalam memahami situasi pada waktu itu melahirkan semangat nasionalisme kebangsaan. Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin yang sangat cerdas dan bijaksana.

Pemimpin yang demokratis. Soedirman memiliki kepekaan nurani, yang tumbuh dari suatu lingkungan masyarakat dalam suasana kerakyatan, kegotongroyongan, kebersamaan, dan kuatnya solidaritas kehidupan. Memahami manfaat keakraban hubungan dengan rakyat, selalu tampil dengan figur yang memiliki kesadaran terhadap pentingnya arti kebersamaan dalam suatu perjuangan yang kekuatannya dilandasi oleh keberhasilan dalam menggalang kekuatan rakyat.

Pemimpin dengan pendirian yang teguh. 19 Desember 1948 ketika Belanda menyerang Yogyakarta secara mendadak, para pemimpin RI memutuskan untuk tetap tinggal di Yogya dengan konsekuensi ditawan Belanda. Tetapi Soedirman memutuskan tetap bersama prajurit dan rakyat melanjutkan perjuangan melalui perang gerilya meskipun kondisi badannya lemah karena hanya satu paru-parunya yang berfungsi. Pendirian yang teguh ini ditopang oleh nilai-nilai keagamaan dan demokrasi yang kuat. Nilai keagamaan berkeyakinan bahwa kebenaran tidak akan pernah kalah, dan berjuang untuk tanah air adalah kebenaran. Sementara nilai demokrasi berkeyakinan bahwa rakyat adalah sumber kekuatan yang tidak akan pernah habis. Sebagai seorang guru sejati, Soedirman berhasil menanamkan keyakinan-keyakinan tersebut dengan sabar dan konsisten yang dilandasi ketulusan hati kepada seluruh anak buahnya. Hal ini menjadikan Sudirman sebagai salah satu contoh terbaik seorang pemimpin yang menjalankan prinsip satunya kata dengan perbuatan.

pandangan beberapa tokoh yang mengenal dekat Jenderal Soedirman.

Jenderal Abdul Haris Nasution :“Jenderal Soedirman sangat bijaksana karena selalu mengajak para panglima untuk bermusyawarah. Dengan demikian terpelihara kekompakan seluruh TNI dan kesejahteraan seluruh anak buahnya.”

Dr. Ruslan Abdulgani :“Kesederhanaan hidup dan ucapan beliau mencerminkan jiwa manunggalnya dengan rakyat. Kharisma beliau bukan semata-mata pada ilmu kemiliterannya, melainkan karena cara hidup dan watak kepribadiannya.”

Kolonel Gatot Subroto : “Bapak Soedirman dipandang sebagai pemimpin yang jujur, memberi contoh dan dorongan yang kuat ke arah persatuan masyarakat, ke arah pengorbanan suci terhadap perikemanusiaan dan perikeTuhanan.”

 

 

Jelaslah bahwa Jenderal Soedirman seorang pemimpin yang berkarakter. Jiwa kepemimpinan yang dibangun dari pandangan hidup dan kepekaan terhadap lingkungan kehidupan merupakan syarat utama yang harus ada dalam karakter diri seorang pemimpin. Bagaimana dengan pemimpin “kita” saat ini? Apakah nilai-nilai keadilan, kejujuran, kebersamaan, kesederhanaan, dan nilai lainnya yang diteladankan oleh sosok guru SD Jenderal Soedirman telah diusahakan tegak di bangsa kita ini?

Jenderal Soedirman lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem, adalan keturunan Wedana Rembang. Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem.

Pengetahuan militernya diperoleh dari pasukan Jepang melalui pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR). Soedirman dikenal memiliki pribadi yang teguh pada prinsip dan keyakinan, Ia selalu mengutamakan kepentingan orang banyak banyak dan bangsanya di atas kepentingan pribadinya, bahkan kepentingan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.Pada masa pendudukan Jepang ini, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu. Momen tersebut digunakan Soekarno untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Soedirman dan pasukannya bertempur di Banyumas, Jawa Tengah melawan Jepang dan berhasil merebut senjata dan amunisi. Saat itu pasukan Jepang posisinya masih kuat di Indonesia. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi Nasional Indonesia.

Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberkulosis, namun dia tetap terjun dalam beberapa perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali setelah Jepang menyerah.

Perang besar pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945. Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden Soekarno. Soedirman memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya.

Jendral Soedirman tetap terjun ke medan perang saat terjadi agresi militer Belanda II di Ibukota Yogyakarta. Saat itu Ibukota RI dipindahkan ke Yogya karena Jakarta sudah dikuasai Belanda. Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut, Kondisi kesehatan Jenderal Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949.Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Soedirman pulang dari gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda. Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: