MADRASAH RAMADHAN : MENEMPA DIRI, MENGASAH KEPEDULIAN

Oleh : Mohammad Jawodiy Khomeini

 Bulan Ramadhan adalah bulan Allah SWT. Bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran Al-Karim, sebagaimana Allah SWT berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran.” (QS. Al-Baqarah : 185) Oleh karena itu bulan ini menjadi agung bukan dikarenakan puasanya, melainkan karena di dalamnya diturunkan Al-Quran. Al-Quran memiliki hukum dan hikmah, di antaranya adalah hukum puasa. Pada bulan ini pula manusia menjadi tamu-tamu Allah SWT, dan Allah SWT telah menyajikan hidangan bagi para tamu-Nya berupa Al-Quran Al-Karim.

Ayatullah Jawadi Amuli dalam bukunya Asrar al-Ibadah, menyebutkan bahwa perhitungan awal perjalanan manusia menuju Allah SWT dimulai pada bulan Ramadhan. Sebab itu, bagi seorang salik, bulan Ramadhan berikutnya akan dia mulai untuk menghitung tingkatan yang telah ditempuhnya.

Dikarenakan Ramadhan merupakan titik awal dihitungnya perjalanan manusia menuju Allah SWT, maka momentum bulan Ramadhan menjadi sangat tepat untuk kita semua yang sadar akan kembali pada Tuhan, untuk melakukan evaluasi, introspeksi serta koreksi total dan menyeluruh atas apa saja tindakan, perbuatan dan perilaku yang telah kita jalani dalam waktu-waktu yang lampau. Untuk melakukan proses pembenahan diri, tentu saja tidak dapat dilakukan tanpa memahami apa dan bagaimana diri (nafs) manusia sesungguhnya.

Pengenalan “Diri Manusia”

Ada berbagai riwayat yang telah masyhur berkaitan dengan pembahasan kita, di antaranya disebutkan bahwa, “Barangsiapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya” dan “Orang yang paling mengenal dirinya di antara kalian adalah yang paling banyak mengenal Tuhan kalian.” Barangsiapa tidak mengenal Tuhannya dan tidak mengetahui hakikat tauhid, maka tidak mungkin mengenal apa yang mendekatkannya kepada-Nya dan tidak pula mengenal yang menjauhkannya dari-Nya. Berkenaan dengan hal ini telah ditunjukkan oleh Imam Ali kw dalam ucapannya : “Awal dari agama adalah mengenal-Nya.” Sebab, pengamalan tanpa pengenalan atau makrifat tidak membuat seseorang – walaupun memperpanjang dan mempercepat langkah – selain bertambah jauh dari al-Haq. Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang perbuatan mereka dalam kehidupan ini telah sia-sia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (QS. Al-Kahfi : 103-104). Itulah sebabnya pengenalan “diri manusia” adalah menjadi sangat penting, karena diri inilah yang ingin kita perbaiki, kita sucikan dan mengantarkannya ke maqam Kedekatan Ilahi.

Allah SWT telah berkehendak secara azali untuk menciptakan berbagai maujud di alam semesta ini. Dia menjadikan sebagiannya memiliki akal tanpa syahwat dan ghadhab yang disebut ‘malaikat’, sebagian lagi memiliki syahwat dan ghadhab tanpa akal yakni binatang, serta sebagian yang lain memiliki akal, syahwat, dan ghadhab, yang merupakan kekhususan bagi manusia, karena padanya terdapat tiga kekuatan sekaligus.

Para ulama menyebutkan empat kekuatan dalam diri manusia, seperti juga yang dibahas oleh Sayyid Kamal Haidari dalam bukunya At-Tarbiyyah ar-Ruhiyyah: Buhuts fi Jihad an-Nafs sebagai berikut :

Pertama, Kekuatan Syahwat (al-quwwah asy-syahwiyyah) yang disebut juga kekuatan bahimiyyah adalah kekuatan yang tidak muncul darinya selain perbuatan-perbuatan kebinatangan, berupa penyembahan pada kelamin dan perut, serta keinginan kuat pada hubungan biologis dan makan.

Kedua, Kekuatan Ghadhab (al-quwwah al-ghadhabiyyah) disebut juga kekuatan sabu’iyyah adalah kekuatan yang menjadi sumber kemunculan perbuatan-perbuatan binatang buas, seperti marah dan benci. Berbagai bentuk gangguan yang ditimpakan kepada orang lain biasanya dari jenis kekuatan ini.

Ketiga, Kekuatan Wahmiyyah (al-quwwah al-wahmiyyah) yang disebut juga kekuatan syaithaniyyah adalah merupakan kekuatan jiwa yang paling penting, karena kekuatan inilah yang membantu di jalan yang benar atau jalan yang keliru sehingga mendapatkan berbagai cara untuk merealisasikan apa yang diinginkan dan dipilihnya. Bila kekuatan ini menghamba kepada kekuatan ghadhab, maka seseorang akan menjadi tiran di muka bumi sehingga ia akan bersikap sewenang-wenang, menebarkan kerusakan, mengingkari segala kebaikan dan mengerjakan segala bentuk kejahatan. Apabila kekuatan wahm ini menghamba pada kekuatan syahwat, maka ia akan menyiapkan segala wahana bagi kekuatan tersebut untuk mengantarkan pada tujuannya. Akan tetapi, jika kekuatan ini tunduk pada kekuatan akal, maka ia akan mencarikan cara untuk mengantarkannya pada Kedekatan Ilahi serta jalan-jalan naik ke tingkatan-tingkatan kesempurnaan.

Keempat, Kekuatan Akal (al-quwwah al-‘aqliyyah) atau dinamai juga kekuatan al-malakiyyah, karena ia membawa manusia naik ke alam para malaikat, kesucian dan alam kedekatan Ilahi. Berkenaan dengan kekuatan ini Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang dikaruniakan Allah kepada para hamba yang lebih utama daripada akal. Tidur orang berakal lebih utama daripada terjaganya orang bodoh. Tinggalnya orang berakal lebih utama daripada kepergian orang bodoh. Allah SWT tidak mengutus seorang nabi dan tidak pula seorang rasul sebelum menyempurnakan akal, dan akalnya lebih utama daripada semua akal umatnya.”

Pertanyaannya, apa sesungguhnya akal itu? Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq bahwa beliau ditanya, apa akal itu. Beliau menjawab, “(Yaitu sesuatu) yang dengannya ar-Rahman disembah dan surga diraih.” Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah SAW berpesan kepada Abu ad-Darda’, “Kuatkanlah akal maka kamu akan bertambah dekat kepada Tuhanmu.” Abu ad-Darda’ bertanya, “Demi aku, engkau dan ibuku. Apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hal tersebut?” Beliau SAW menjawab, “Jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah dan laksanakanlah hal-hal difardhukan Allah maka kamu akan menjadi orang berakal. Lakukanlah perbuatan-perbuatan saleh maka ketinggian dan kemuliaanmu akan bertambah di dunia ini dan kamu akan memperoleh kedekatan dan kemuliaan dari Tuhanmu.” Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang berakal adalah orang yang beriman kepada Allah, mempercayai para rasul-Nya, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”

Setelah tampak jelas kepada kita bahwa tiga kekuatan, yaitu kekuatan syahwat, kekuatan ghadhab dan kekuatan wahmiyyah, tidak dapat membedakan kerusakan dari kebaikan, kehalalan dari keharaman, maka tentunya seseorang membutuhkan sesuatu yang menjadi tumpuan dalam menentukan perjalanannya. Oleh karena itu, Allah SWT menciptakan kekuatan akal di dalam diri manusia dan kepadanya Dia menyerahkan pelaksanaan peranan penting ini dalam perjalanan hidup manusia menuju al-Haq SWT.

Dengan adanya gambaran seperti di atas, maka manusia bisa lebih mampu untuk menempa dan menata kualitas dirinya setahap demi setahap dalam rangka menyempurnakan hidupnya.  Dan di bulan Ramadhan inilah kesempatan yang sangat baik untuk melatih diri, memperbaiki diri demi mencapai tujuan tersebut.

Mengasah Kepedulian Lewat Pesan Moral Ibadah

Setelah proses pembenahan diri secara internal kita lakukan, maka dimensi lain yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana menerjemahkan sistem nilai dan ibadah yang ada di bulan Ramadhan bisa terimplementasi pada dimensi sosial kemasyarakatan.

Jalaluddin Rakhmat dalam ‘Renungan-Renungan Sufistiknya’ menuliskan bahwa, setiap ibadah, baik ibadah puasa atau ibadah lain, di dalamnya terkandung apa yang kita sebut sebagai pesan moral. Bahkan begitu mulianya pesan moral ini, sampai Rasulullah SAW menilai suatu ibadah itu, dinilai dari sejauh mana kita menjalankan pesan moralnya. Apabila ibadah itu tidak meningkatkan akhlak kita, Rasulullah menganggap bahwa ibadah itu tidak bermakna. Dengan kata lain kita tidak melaksanakan pesan moral ibadah itu.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa pada bulan Ramadhan, ada seorang wanita sedang mencaci maki pembantunya. Dan Rasulullah SAW mendengarnya. Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan daan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah makanan ini.” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa ya Rasulullah.” Rasul yang mulia bersabda  lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa pada hal kamu mencaci maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang shaum dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.” Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.” Seseorang bisa saja melakukan ibadah puasa. Dia sanggup mematuhi seluruh ketentuan fiqih, tetapi dia tidak sanggup mewujudkan pesan moral puasa itu.

Semua ajaran Islam memang mengandung pesan moral. Dan pesan moral itulah yang dipandang sangat penting di dalam Islam. Mengapa Islam menekankan prinsip moral itu? Karena kedatangan Rasulullah SAW yang mulia, secara tegas mengatakan bahwa misinya ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Lalu, apa yang menjadi pesan moral ibadah shaum yang akan kita lakukan? Salah satu pesan moral ibadah shaum yang utama ialah kita dilarang memakan makanan yang haram, supaya kita menjaga diri jangan sembarang mamakan makanan. Sayyidina Ali kw pernah berkata, “Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan hewan.”

Pesan moral Ramadhan yang lain adalah jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan rakyat kecil. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut Anda. Itulah pesan moral puasa yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ketika kita dikejar-kejar oleh konsumtivisme (senang berfoya-foya dan berbelanja barang yang tidak bermanfaat) dan dikejar-kejar untuk meningkatkan status sosial. Kita tidak jarang berani memakan hak orang lain. Kita sering jadi omnivore (binatang pemakan segala) tanpa memperhatikan halal dan haram. Sayyidina Ali kw sejak awal telah mengingatkan dengan ucapannya, “Aku tidak pernah  melihat ada orang yang memperoleh harta yang berlimpah padanya, kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang disia-siakan.”

Saya akhiri tulisan ini dengan menukil sebagian dari doa yang dibaca pada bulan Ramadhan setiap selesai menunaikan shalat fardhu, yang menurut kami di dalamnya mengandung pesan moral.

Ya Allah masukkanlah rasa bahagia kepada penghuni kubur

Ya Allah kayakanlah semua orang-orang yang miskin

Ya Allah kenyangkan orang-orang yang lapar

Ya Allah berilah pakaian orang-orang yang telanjang

Ya Allah bayarkan utang orang-orang yang berutang

Ya Allah bebaskan kesulitan orang yang mendapat kesulitan.

Bingkisan Ramadhan

KADO DARI LANGIT

Oleh : Muhammad Ray Syahri

Bulan Ramadhan memiliki keunikan penting karena merupakan sumber berbagai berkah agung yang menjadi dasar dari bermacam kenikmatan yang tidak terbatas. Keagungan dan kemuliaan serta berkah maknawi dan duniawi dari bulan ini yang tercurah kepada kaum mukmin adalah hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya digambarkan dalam hadis-hadis, dan jika kaum Muslim mengetahui dengan pasti berkah-berkah yang disebarkan sepanjang bulan agung ini serta memahami keagungan karunianya, niscaya mereka akan sangat berharap bulan Ramadhan berlangsung terus sepanjang tahun.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Keagungan dan Kemuliaan Ramadhan

  • Rasulullah SAW bersabda, ketika bulan Ramadhan menjelang “Mahasuci Allah! Apa yang menyambut kalian? Dan apa yang kalian sambut?”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Ramadhan tidak sama dengan bulan-bulan lainnya. Di sisi Allah, bulan Ramadhan memiliki kehormatan dan keutamaan atas seluruh bulan.”

Bulan Allah

  • Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulanku dan bulan Ramadhan adalah bulan Allah.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Ramadhan adalah bulan Allah, dia adalah musim semi kaum fakir.”

Bulan Jamuan Allah dan Penghulu Bulan

  • Rasulullah SAW bersabda, ketika menjelaskan bulan Ramadhan, “Dia adalah bulan saat kalian diundang kepada jamuan Allah dan kalian dijadikan termasuk para tamu kehormatan Allah.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Ramadhan adalah penghulu bulan.”

Awal Tahun Baru

  • Imam Ali kw berkata, “Sesungguhnya awal setiap tahun adalah hari pertama bulan Ramadhan.”
  • Imam Ali kw berkata, ketika bulan Ramadhan menjelang, “Telah datang bulan Ramadhan kepada kalian, dia adalah penghulu bulan dan awal tahun baru.”
  • Imam Ja’far Shadiq berkata, “Ketika Ramadhan selamat maka selamat setahun. Pemimpin tahun adalah bulan Ramadhan.”

Malam Lailatul Qadar dan Malam Nuzulul Quran

  • Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang bulan Ramadhan kepada kalian, bulan penuh berkah,. Di dalamnya terdapat lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang tercegah darinya, maka dia terlah tercegah.”
  • Imam Ja’far Shadiq berkata, “Al-Quran diturunkan pada 23 bulan Ramadhan.”
  • Imam Ali Ridha berkata, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Allah menurunkan Al-Quran, di dalamnya dibedakan antara hak dan batil, sebagaimana firman Allah SWT: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda.”

Bulan Pengampunan dan Keterbebasan

  • Rasulullah SAW bersabda, “Kenapa dinamakan Ramadhan, karena dia menghapuskan dosa.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Sesiapa yang berpuasa Ramadhan, serta mengetahui hukumnya, menjaga yang seharusnya dijaga pada bulan itu, niscaya akan ditutup dosa yang sebelumnya.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Dinamai bulan Ramadhan karena dia adalah bulan keterbebasan. Setiap malam dan siangnya, Allah membebaskan enam ratus orang, dan pada akhirnya Allah membebaskan orang dalam jumlah seperti sebelumnya.”

Mengetahui Jamuan Ilahi

Kewajiban Puasa

  • Hai orang-orangyang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 183)
  • Imam Ali Zainal Abidin bersabda, “Allah telah mewajibkan lima hal dan Dia tidak pernah mewajibkan kecuali yang baik dan indah ; shalat, zakat, haji, puasa dan berwilayah kepada Ahlul Bait kami.”

Hikmah puasa

  • Imam Ali kw bersabda, “Allah menjaga hamba-hambanya yang Mukmin dengan shalat, zakat dan bersungguh-sungguh puasa di hari-hari yang telah ditentukan, untuk menenangkan anggota tubuh mereka, mengontrol kedua mata mereka, menundukkan jiwa-jiwa mereka, menjaga hati-hati mereka dan menyucikan fisik mereka. Ibadah puasa akan menambah kewibawaan wajah, dengan tanahnya akan menambah ketawadhukan, dengan menempelkan anggota-anggota tubuh ke bumi akan menambah kerendahan hati, dan dengan mengempiskan perut melalui puasa akan menambah kesadaran atas kehinaan diri.”
  • Imam Ali kw bersabda, “Allah mewajibkan puasa sebagai ujian bagi keikhlasan makhluk.”

Keutamaan Puasa

  • Rasulullah SAW bersabda, “Berkata kekasihku Jibril as, ‘Sesungguhnya perumpamaan agama ini seperti pohon yang kokoh; iman adalah akarnya, shalat adalah batangnya, zakat adalah airnya dan puasa adalah pelepahnya.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang memberi pahalanya.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan. Sepuluh kebaikan yang sama akan digandakan menjadi tujuh puluh kali lipat. Allah berfirman, Kecuali puasa karena dia itu milik-Ku, Aku yang akan menjadi ganjaran kepadanya, dia menahan syahwat dan makannya karena-Ku.

Nilai Puasa

  • Rasulullah SAW bersabda, “Allah memiliki jamuan yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat didengar oleh telinga, tidak terlintas dalam lubuk hati manusia, hanya orang-orang yang berpuasa yang dapat duduk di dalamnya.”
  • Imam Ja’far Shadiq bersabda, “Sesiapa yang pada siang hari menyengat panas berpuasa karena Allah sehingga kehausan, Allah akan mewakilkan seribu malaikat untuk mengusap wajahnya dan memberikan kabar gembira kepadanya, sehingga ketika dia berbuka, Allah SWT berfirman, ‘Betapa harumnya aroma tubuh dan jiwamu! Malaikat-malaikat-Ku, saksikan oleh kalian bahwa Aku mengampuninya.”

Doa Malaikat Bagi Yang Berpuasa

  • Imam Ja’far Shadiq dari ayah-ayahnya, dari Nabi SAW yang bersabda, “Sesungguhnya Allah mewakilkan para malaikat-Nya agar mendoakan orang-orang yang berpuasa.’ Beliau bersabda, ‘Jibril as memberitahukan kepadaku dari Tuhannya, bahwasanya Allah SWT memberitahukan kepadaku dari Tuhannya, bahwasanya Allah SWT berfirman, ‘Tidak pernak Aku perintahkan malaikat-Ku untuk mendoakan salah satu dari makhluk-Ku kecuali Aku akan mengabulkan doanya.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Orang berpuasa yang masuk kedalam sebuah kelompok yang sedang makan-makan (tetapi tetap berpuasa), maka semua anggota tubuhnya akan bertasbih kepadanya, dan malaikat bershalawat kepadanya, dan shalawat mereka adalah permohonan ampunan baginya.”
  • Imam Ja’far Shadiq bersabda, “Sungguh, orang yang berpuasa di antara kalian akan hidup senang di taman surga, sementara para malaikat berdoa untuk mereka hingga berbuka puasa.”

Berkah dan Hikmah Perjamuan Ilahi

  • Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah tameng dan penjaga dari api neraka.”
  • Rasulullah SAW bersabda, Kalian harus berpuasa, karena puasa itu akan memutus syahwat dan menghilangkan kesombongan.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah kalian maka kalian akan sehat.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mewahyukan kepada salah seorang nabi Bani Israil, ‘Kabarkan kepada kaummu bahwa setiap hamba yang berpuasa satu hari karena mengharap bertemu dengan-Ku maka Aku pasti akan menyehatkan tubuhnya dan memperbesar pahalanya.”
  • Imam Ja’far Shadiq bersabda, “Jika musibah berat turun kepada seseorang maka berpuasalah karena Allah SWT berfirman, Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar, yaitu dengan puasa.”
  • Imam Ali kw, bersabda-mengenai hadis Mikraj, “Nabi SAW bertanya kepada Tuhannya pada malam Mikraj. Beliau SAW berkata, ‘Ya Allah, apakah warisan puasa?’ Puasa itu mewarisklan hikmah, hikmah mewariskan makrifat, dan makrifat mewariskan keyakinan. Ketika sudah menjadi yakin, seseorang tidak akan peduli bagaimana dirinya di pagi hari, apakah dalam keadaan susah atau senang.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Doa orang yang berpuasa tidak akan ditolak.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Puasa dan Al-Quran, kedua-duanya adalah pemberi syafaat pada hari kiamat. Puasa berkata – yaitu Allah, aku melarangnya makan dan minum pada siang hari, maka aku memberi syafaat karenanya. Al-Quran berkata – yaitu Allah, aku melarangnya tidur pada malam hari, maka aku memberinya syafaat karenanya.”

Derajat-Derajat Jamuan Ilahi

  • Rasulullah SAW bersabda, “Yang paling mudah dari yang diwajibkan Allah kepada seorang yang berpuasa dalam puasanya adalah meninggalkan makan danm minum.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Puasa jiwa adalah menahan diri dan panca indera dari berbagai hal seraya mengosongkan hati dari berbagai sebab-sebab kejahatan.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Puasa jiwa adalah menahan diri dari berbagai kelezatan dunia, dan itu adalah puasa yang lebih bermanfaat.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hati dari berbagai pemikiran dosa adalah puasa yang lebih utama dari puasa perut terhadap makanan.”
  • Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hati lebih baik daripada puasa lisan, dan puasa lisan lebih baik daripada puasa perut.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: