Filsafat Revolusi Husaini

Oleh: Muhammad Adlany

Setiap pergerakan dan  revolusi –baik yang bersifat religius maupun non religius- yang terjadi dalam lintasan sejarah manusia pastilah memiliki asas, landasan, motivasi, dan tujuan. Asas dan tujuan inilah yang akan mewarnai dan menafasi suatu pergerakan dan revolusi dari awal lahirnya hingga terwujudnya serta kelanggengannya.

Revolusi dan pergerakan Imam Husain melawan rezim Yazid bin Muawiyah yang berujung pada kesyahidan beliau, keluarganya, dan para sahabatnya tak terlepas juga dari asas, falsafah, dan tujuan pergerakan itu sendiri.

Sesungguhnya revolusi dan pergerakan Imam Husain adalah bersifat religius dan secara substansial tidak berbeda dengan pergerakan Rasulullah SAW dan para Nabi-nabi Ilahi sebelumnya. Pergerakan beliau tidak lain adalah perpanjangan dari pergerakan-pergerakan Ilahi yang dimotori oleh para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Tuhan yang terjadi pada masa-masa yang lampau.

Asas Revolusi

Asas revolusi atau pergerakan Imam Husain tidak lain adalah Al-Quran dan sunnah Rasulullah, Tujuan dan falsafah pergerakannya tidak lain ialah amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah segala kemungkaran) di dalam masyarakat. Beliau sendiri di awal kebangkitannya, di sepanjang jalan menuju Karbala, dan pada hari Asyura senantiasa menegaskan tentang hal ini. Menurut beliau inilah kewajiban yang sangat penting karena merupakan landasan fundamental bagi seluruh kewajiban syariat Islam yang lain.

Alasan mengapa Imam Husain tidak bangkit dan mengadakan revolusi pada masa pemerintahan Muawiyah yang juga bersifat diktator, korup, zalim, dan non Islami adalah karena secara lahiriah dia tidak menjadikan agama Islam sebagai barang permainannya dan tidak secara terang-terangan melakukan kemaksiatan, kezaliman, dan korupsi, yang walaupun dia juga memiliki rencana besar untuk merusak dan menghancurkan agama Islam dari dalam.

Ketika Muawiyah meninggal dunia, Yazid yang merupakan anak kandungnya sendiri menggantikannya secara paksa sebagai “khalifah” dan memegang tampuk kekuasaan Islam secara tidak sah. Di masa kekuasaan Yazid, dia tetap melanjutkan tradisi-tradisi bapaknya menjalankan dan menggunakan kekuasaannya itu, yakni dengan cara diktator, koruptor, dan melakukan kemaksiatan serta kezaliman. Perbedaannya dengan bapaknya adalah bahwa dia secara terang-terangan menjadikan Islam sebagai barang permainan dan menantang secara lahiriah hukum-hukum Islam dengan membuka secara resmi tempat-tempat bermain judi dan pelaksanaan segala bentuk kemaksiatan lainnya.

Yazid bin Muawiyah tidak hanya memperalat pemerintahan Islam yang direbutnya itu dan menolak hukum-hukum Islam, bahkan lebih jauh dia telah mengingkari Islam sebagai suatu agama Ilahi,  menafikan rukun-rukun Islam, mengingkari risalah Rasulullah SAW, menolak kenabian dan wahyu, dan memperkenalkan Bani Hasyim sebagai penguasa-penguasa yang cinta kekuasaan.

Menyaksikan realitas seperti itu, Imam Husain sebagai pewaris sah Rasulullah SAW segera melakukan bentuk-bentuk perlawanan dan pergerakan terhadap rezim Yazid untuk mempertahakan Islam, Al-Quran, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta mencegah kesesatan umat Islam. Imam Husain menegaskan kewajibannya itu dan terus bergerak serta tidak peduli apakah masyarakat saat itu akan membantunya.

Ketika Imam Husain menghadapi penguasa Madinah yang memintanya untuk berbait kepada Yazid beliau bersabda, “Kami adalah Ahlulbait Nabi dan mata air risalah Islam. Rumah kami tempat hadirnya para Malaikat. Tuhan telah menjadikan kami sebagai permulaan risalah-Nya dan sekaligus sebagai penutup agama-Nya. Yazid adalah seorang yang membunuhi kaum muslimin dan melakukan maksiat secara terang-terangan, dan saya mustahil memberikan baiatku kepada orang seperti dia. Akan tetapi, kamu akan segera menyaksikan dan kami juga akan melihat siapa orang yang lebih layak menjabat sebagai khalifah dan pengganti Rasulullah SAW.”

Apabila Imam Husain tidak melancarkan perlawanan dan revolusi menghadapi segala kesesatan, kemaksiatan, dan kezaliman yang terjadi saat itu serta lebih memilih diam dan tidak peduli dengan apa yang menimpa Islam dan masyarakatnya maka hal ini akan memberikan kesempatan emas bagi Yazid untuk lebih gencar menjalankan rencana-rencana setannya dalam rangka mencabut dan memusnahkan akar-akar suci Islam.

Revival of Islam

Dari aspek inilah substansi kebangkitan dan ruh pergerakan Imam Husain telah menyebabkan Islam itu kembali hidup (revival of Islam), kokoh, tegak, dan lestari hingga hari kiamat. Oleh karena itulah, berkenaan dengan Imam Husain Rasulullah SAW bersabda, “Husain dariku dan Aku dari Husain.” Ini bermakna bahwa Imam Husain adalah pelanjut jalan wahyu dan pelindung Islam dan Al-Quran.

Berkaitan dengan hal ini, Imam Khomeni Qs berkata, “Apabila Asyura dan kesetiaan keluarga suci Rasulullah itu tiada maka kenabiaan dan segala upaya Rasulullah akan musnah dan sirna di tangan rezim saat itu. Jika Asyura tiada maka akan tercapailah cita-cita Abu Sofyan yang menghendaki penghapusan wahyu dan kitab suci Al-Quran secara total. Yazid -yang merupakan pewaris masa kejahilan dan simbol bagi era kegelapan penyembahan berhala- menyangka bahwa dengan membunuh Imam Husain berharap akar-akar suci Islam akan tercabut dan kemudian menjadikan ungkapan ‘Tiada kabar Ilahi yang datang dan tiada wahyu suci yang turun’ sebagai syiar pemerintahannya. Kalau Asyura tiada maka kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengan Al-Quran dan Islam. Akan tetapi, Tuhan menghendaki Islam tetap tegak dan Al-Quran sebagai hidayah Ilahi terus lestari hingga hari kiamat, dan dengan darah para syuhada seperti putra suci Nabi-lah yang menjadi wasilah terjaganya Islam dari kepunahan. Imam Husain sebagai pewaris Wilayah Ilahi dipilih oleh Allah SWT untuk menjadikan dirinya sendiri dan keluarga serta para sahabatnya sebagai pelindung ajaran Islam, Al-Quran, dan umat Rasulullah SAW. Darah suci Imam Husain dan para syuhada Karbala-lah yang menyuburkan agama Tuhan itu dalam bentangan perjalanan Islam dan mempertahankan ajaran-ajaran wahyu Ilahi.”

Pada hari ke tujuh bulan Dzulhijjah, Imam Husain meninggalkan kota Mekkah dan mengubah hajinya menjadi umrah mufradah karena beliau ingin menjaga kehormatan Kabah dari pertumpahan darahnya. Sebelum keluar dari Mekkah, beliau berceramah di tengah masyarakat untuk memahamkan bahwa kebangkitan dan perlawanannya itu adalah karena Tuhan dan tidak sekalipun takut kepada kematian. Beliau menyatakan juga bahwa segera akan disaksikan darahnya dan darah para pengikutnya akan tumpah di padang Karbala, akan tetapi tiada jalan lain kecuali melakukan perlawanan dan pergerakan. Beliau menambahkan bahwa siapa yang ingin mengorbankan jiwanya di jalan Ahlulbait dan berdagang dengan Tuhan serta dibangkitkan di hari Kiamat dengan wajah yang putih maka bergabunglah dengan kami karena besok subuh akan berangkat safar. Di akhir ceramah, beliau menyatakan bahwa keridhaan Tuhan bergantung kepada keridhaan Ahlulbait suci Nabi.

Imam Husain di sepanjang jalan dari Mekkah menuju Karbala dan dimana saja beliau berhenti senantiasa mengabarkan tentang kezaliman pemerintahan Yazid dan menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar serta mengajak masyarakat untuk bangkit melawan pemerintahannya. Beliau senantiasa menyatakan, “Mati di jalan Tuhan adalah kebahagiaan dan hidup bersama orang-orang zalim adalah kesengsaraan dan penderitaan.”

Filsafat Kebangkitan

Berhubungan dengan falsafah kebangkitan dan revolusi Imam Husain beliau bersabda, “Wahai masyarakat! Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seorang Muslim menyaksikan penguasa zalim yang menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Tuhan, menghancurkan pesan-pesan-Nya, melawan sunnah-sunnah Nabi-Nya, dan menzalimi hamba-hamba Tuhan, serta mengambil hak-haknya, akan tetapi dia tidak bangkit dengan tindakan dan ucapan atau perkataan dan perbuatan maka niscaya Tuhan akan menggolongkan dan mengumpulkannya bersama dengan orang-orang zalim itu.” Wahai masyarakat! Mereka ini (Bani Umayyah) tidak kepada Tuhan, dan hanya mengikuti perintah-perintah setan, serta terang-terangan melakukan kezaliman, kemaksiatan, dan dosa. Mereka ini juga mengingkari keberadaan Tuhan, menggunakan baitul mal hanya untuk kepentinganya, menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Tuhan, dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh-Nya.”

Pada hari Asyura Imam Husain juga menyampaikan khutbahnya dan menasehatkan kepada mereka untuk tidak menumpahkan darahnya serta menegaskan tentang kezaliman Yazid bin Muawiyah. Pada hari itu dua caramah Imam Husain yang sangat penting dan salah satunya menitikberatkan tentang tujuan dan falsafah revolusinya. Beliau bersabda, “Anak ini (yakni Yazid) menawarkan kepada kami dua perkara, yakni menerima kehinaan atau terbunuh. Dan kami mustahil menerima kehinaan dan kerendahan itu. Kehinaan ini tidak dikehendaki oleh Tuhan, tidak dinginkan oleh rasul-Nya dan kaum mukminin serta tidak pula diterima oleh pangkuan-pangkuan suci yang telah membesarkan kami. Kami memandang bahwa kematian lebih mulia daripada ketaatan kepada orang-orang yang tidak berkepribadian. Kami akan bangkit dan melawan dengan keluarga kami sendiri dan sahabat-sahabat yang walaupun dengan jumlah sedikit. Kami bertawakkal kepada Tuhan dan sedikitpun tidak ada kekhawatiran tentang kesyahidan.”

Poin yang jelas adalah Imam Husain senantiasa menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar dalam perjalanan revolusi dan kebangkitannya. Dan tujuan amar ma’ruf nahi munkar ini tidak lain adalah meluruskan segala perkara yang berkaitan dengan masyarakat Islam. Dalam hal ini beliau bersabda, “Kebangkitan saya ini bukanlah tidak bermanfaat dan bersifat sia-sia, namun tujuan saya tidak lain adalah meluruskan dan memperbaiki umat kakek saya.” Akan tetapi, upaya perbaikan umat ini tidak akan terwujud kecuali dengan penumpahan darahnya, darah sahabatnya, dan bahkan darah keluarganya.

Kebangkitan Imam Husain pada hakikatnya berakar pada kesesatan-kesesatan fundamental dan prinsipil yang ada di tengah masyarakat Islam. Kesesatan-kesesatan ini bermula dari kesesatan asas pemerintahan Islam yang dikonstruksi di Saqifah dan pemerintahan-pemerintahan setelahnya. Pasca kesyahidan Imam Ali, pemerintahan jatuh ditangan keluarga Abu Sofyan dan Bani Umayyah yang anti Islam. Menurut laporan sejarah yang otentik, Bani Umayyah sama sekali tidak meyakini Islam dan rukun-rukunnya. Bani Umayyah memandang bahwa kekuasaan Islam yang berada di tangan Rasulullah tidak lain adalah hasil dari pergolakan besar yang terjadi di tubuh suku Quraisy, yakni antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Dengan makar dan tipu muslihat serta berkedok Islam, secara perlahan-lahan Bani Umayyah berhasil mencapai inti kekuasaan Islam pada tahun keempat Hijriyah di tangan Muawiyah bin Abi Sofyan. Dia berkuasa sekitar dua puluh tahun dan setelah kematiannya digantikan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah. Dan puncak kesesatan hakiki dan lahirnya masa kejahilan baru terjadi di zaman Yazid.

Imam Husain tidak bisa tinggal diam menyaksikan kesesatan yang nyata itu, dan beliau segera mengambil sikap untuk bangkit menghilangkan kesesatan Yazid dan menghilangkan kezalimannya. Sikap Imam ini juga mengungkapkan bahwa karakteristik-karakteristik yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin kaum muslimin adalah tidak terdapat pada Bani Umayyah, dan inti kesesatan pemerintahan Bani Umayyah adalah karena unsur-unsur yang tidak layak dan syarat-syarat yang tidak sah itu telah diletakkan sebagai landasan bagi legitimasi kekhalifaan Islam dan jabatan tertinggi Rasulullah, dan hal ini berujung pada kerusakan total bangunan Islam.

Pesan revolusi dan kebangkitan berdarah Imam Husain tidak hanya terbatas pada zaman itu, namun bersifat abadi dan menembus ruang dan waktu. Masyarakat manapun yang memiliki karakteristik-karakteristik seperti tidak menghormati hak-hak manusia, menolak kebenaran, menerima kebatilan, menghidupkan bid’ah, memerangi sunnah-sunnah Nabi, mengubah hukum-hukum Ilahi, dan para penguasa melakukan kezaliman kepada masyarakat, digolongkan sebagai masyarakat Yazid. Dan setiap pergerakan yang melawan tipe mayarakat seperti itu adalah suatu pergerakan Husaini.

Beberapa Poin Filsafat Kebangkitan Husaini

Tanpa ragu bahwa Imam Husain ialah simbol pergerakan Ilahi. Nah, dibawah ini secara ringkas dapat digambarkan beberapa tujuan dan falsafah pergerakan Imam Husain :

1. Pelaksanaan kewajiban Ilahi dan perolehan keridhaan Tuhan

Seseorang yang telah mencapai maqam penghambaan atau ubudiyyah dan memandang bahwa penghambaan kepada Tuhan adalah suatu kebanggaan yang tertinggi, maka dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali hanya melaksanakan kewajiban Ilahi dan meraih keridhaan-Nya. Segala program kehidupannya hanya didasarkan pada pemikiran tersebut. Hal inilah yang mendasari segala perbuatan dan tindakan Imam Husain dalam revolusi dan perlawanannya terhadap Yazid bin Muawiyah, yakni beliau semata-mata mengimplementasikan kehendak Ilahi dan keridhaan Tuhan.

2. Merekayasa kebahagiaan hakiki dan bertanggung jawab atas kondisi umat Islam

Salah satu kewajiban setiap muslim adalah bertanggung jawab atas keberlangsungan agama Tuhan dan kondisi sosial umat Islam, dan tidak hanya memikirkan kehidupan individunya dan kewajiban personalnya belaka. Setiap muslim harus menunjukkan sikap nyata yang tepat terhadap segala hal yang mengancam kebahagiaan  dan keutuhan umat Islam serta pemerintahan Islam. Berkaitan dengan kondisi yang yang terjadi pada zaman Imam Husain, Imam memandang bahwa pemerintahan Yazid telah keluar dari rel-rel Islam dan bahkan mengancam eksistensi Islam itu sendiri. Melihat keadaan Islam dan kaum muslimin saat itu, Imam yang memang merupakan sosok utama yang bertanggung jawab atas eksistensi Islam dan penerapan hukum-hukum Islam segera lansung bertindak untuk melakukan hal-hal praktis dan langkah-langkah taktis untuk memperbaiki dan menyelamatkan Islam dan kaum muslimin lainnya. Pertama-tama yang dilakukan adalah mangajak keluarganya sendiri, para sahabat terdekatnya, dan kaum muslimin lainnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap berbagai sikap, tindakan, dan kebijakan pemerintah Yazid berhubungan dengan kepentingan Islam secara global.

Sikap bertanggung jawab terhadap agama Islam dan eksistensinya adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, namun kewajiban ini sangatlah kental dan merupakan suatu karakteristik utama bagi seorang pemimpin dan Imam umat, terutama karena di sanalah segala perencanaan untuk mengarahkan masyarakat ke arah kebahagian hakiki.

3. Melawan penguasa yang zalim dan sesat

Pergulatan, perlawanan, dan perseteruan antara kebenaran dan kebatilan senantiasa terjadi di sepanjang sejarah manusia. Para penguasa yang zalim dengan memanfaatkan alat-alat kekuasaan berupaya dengan segenap cara untuk melemahkan ideologi masyarakat dan memanfaatkan dukungan masyarakat untuk kepentingan-kepentingannya serta memaksa mereka untuk taat kepadanya. Mereka dengan segala kelicikan berusaha supaya harta benda dan jiwa masyarakat berada dalam cakupan kekuasaannya.

Akan tetapi, para pemimpin Ilahi senantiasa mengajak manusia untuk menyembah dan taat kepada Tuhan serta menekankan manusia untuk istiqamah di jalan kebenaran. Dengan demikian, adalah suatu kepastian bahwa kedua realitas kekuasaan, dan corak kepemimpinan itu, serta metode bersikap terhadap masyarakat akan memunculkan suatu benturan dan peperangan. Para pemimpin Ilahi berupaya dengan segenap cara supaya menusia tidak menyembah kepada selain Tuhan, walaupun harus mengorbankan harta benda dan jiwa raga. Dari aspek inilah, kita dapat memahami tujuan revolusi dan falsafah pergerakan Imam Husain yang bangkit berperang dan berhadapan dengan para penguasa zalim lagi sesat seperti Yazid bin Muawiyyah.

4. Pembentukan pemerintahan Islam

Salah satu tujuan para pemimpin Ilahi ialah membentuk dan mengkonstruksi pemerintahan yang berpijak pada asas-asas agama Tuhan yang dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan positif manusia, menerapkan hukum-hukum Tuhan secara bertahap dan komprehensif, dan membudayakan nilai-nilai etika-religius serta menunjang segala perkara masyarakat untuk kesejahteraan duniawi dan kebahagian hakiki.

Lahirnya dukungan, penerimaan, dan sambutan rakyat Irak atas kepemimpinan dan kekuasaaan Imam Husain serta ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintahan Yazid pasca kematian Muawiyah adalah suatu kondisi yang sangat mendukung untuk membentuk dan membangun suatu pemerintahah Islam. Aspek inilah yang juga merupakan faktor utama mengapa Imam Husain  melakukan suatu perlawanan dan memobilisir rakyat untuk bangkit meruntuhkan kekuasaan Yazid bin Muawiyah.

Dari dimensi yang lain, Imam Husain adalah pewaris dan pemimpin yang sah bagi umat Islam, sedangkan Yazid merupakan sosok yang merampas kekuasaan dari pemiliknya yang sah. Kepemimpinan dalam Islam bukanlah ditentukan oleh masyarakat sebagaimana yang umumnya terjadi di dalam bangunan suatu negara, namun ditegaskan dan dipilih oleh Tuhan Yang Maha Kuasa Pemilik alam semesta ini. Nah, dalam hal ini Imam Husain adalah sosok yang ditunjuk oleh Allah SWT lewat lisan suci Rasulullah. Dialah salah satu pribadi yang dideklarasikan kepemimpinannya oleh Rasulullah di dalam ayat-ayat suci Al-Quran, di Ghadir Khum, dan juga termuat di dalam hadis-hadis shahih lainnya. Sementara Yazid sama sekali tidak memiliki sandaran Ilahi dan pijakan persetujuan masyarakat, bahkan dibenci oleh mayoritas muslim.

Walhasil, dengan adanya dukunyan dari rakyat dari satu sisi dan kepemimpinan sah Imam Husain  dari aspek lainnya, maka menjadi suatu hal yang mesti bagi Imam Husain untuk merancang suatu pergerakan dalam rangka membangun suatu pemerintahan yang Islami.

Perlu diketahui bahwa dua aspek tersebut di atas adalah syarat penting dan keduanya harus terwujud untuk merekayasa dan membagun suatu pemerintahan Ilahi.

5. Menghidupkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tak bisa disangkal bahwa “undang-undang” adalah batu pertama bagi suatu bangunan setiap negara, dan tanpa itu mustahil mencapai apa-apa yang didambakan. Namun, undang-undang semata tidaklah cukup dan mesti membutuhkan sosok eksekutif yang berilmu untuk mengimplementasikannya, dan individu adil yang bertugas mengawasi penerapan undang-undang tersebut. Dalam semua sistem politik, individu atau kelompok tertentulah yang bertugas menerapkan undang-undang dan yang mengawasi penerapannya. Sementara dalam sistem politik Islam, disamping ada penugasan khusus yang ditentukan oleh undang-undang kepada orang-orang yang tertentu, masyarakat secara keseluruhan juga turut andil dan bertanggung jawab dalam hal pengawasan dan penerapan undang-undang itu.

Pengawasan dan dukungan umum masyarakat Islam terhadap penerapan hukum-hukum, nilai-nilai keagamaan, keadilan, aspek-aspek kesempurnaan insani, dan sisi-sisi kebahagiaan hakiki dinamakan sebagai amar-ma’ruf nahi munkar.

Salah satu karakteristik umat Islam adalah sebagaimana yang tercermin dalam ayat suci al-Quran yang artinya, “Kalian adalah umat terbaik bagi manusia yang menyeru kepada kebaikan dan melarang keburukan (amar ma’ruf nahi munkar).”

Istilah amar dan nahi adalah bermakna memerintah dan melarang. Perlu dipahami bahwa tidak semua individu memiliki kelayakan untuk mengemban tugas berat ini, oleh karena itu yang hanya mungkin dilakukan oleh mayoritas orang hanya sebatas menasehati bukan memerintahkan suatu perbuatan atau melarang tindakan tertentu. Akan tetapi, pekerjaan berat ini sangat bernilai dan memiliki banyak keberkahan bagi umat manusia itu sendiri.

Dengan demikian, apabila terdapat seseorang yang mendapatkan posisi sosial yang strategis dan diterima oleh mayoritas masyarakat, maka dia memiliki kewajiban untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar di dalam masyarakat tersebut, karena kalau tidak dilakukannya maka niscaya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan.

Secara mendasar, dalam budaya wahyu Ilahi amar ma’ruf nahi munkar adalah suatu seni dalam dunia pendidikan dan sekaligus sangat efektif untuk mempertahankan eksistensi suatu agama. Menghidupkan kebaikan dan mencegah keburukan adalah tidak lain bertujuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan setiap individu masyarakat.

Untuk menghidupkan kewajiban yang sangat berat dan berharga ini, yakni amar ma’ruf nahi munkar, adalah sangat urgen melakukan pengkondisian-pengkondisian bagi perwujudan dan pengembangan suatu kebenaran dan kebaikan serta pengurangan nilai-nilai keburukan dan kemaksiatan di dalam masyarakat. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah bersifat teoritis dan praktis.

Beberapa hal negatif yang lahir dari meninggalkan nahi munkar dalam masyarakat Islam adalah perubahan budaya masyarakat secara menyeluruh, hadirnya kerusakan dan bermunculannya penguasa-penguasa yang zalim, tidak dikabulkannya doa, malapetaka sosial dan penderitaan, dan hilangnya keberkahan dalam masyarakat. Sementara menghidupkan amar ma’ruf akan berdampak pada kebahagiaan kaum mukmin, kekhawatiran orang-orang kafir, kelanggengan eksistensi agama, jaminan penerapan hukum-hukum Ilahi, dan hadirnya pemimpin adil dalam masyarakat.

Menghidupkan amar ma’ruf nahi munkar dan pola-pola pengajarannya kepada umat Islam adalah satu satu tujuan mendasar pergerakan Imam Husain, sebagaimana beliau sabdakan, “Sesungguhnya saya mencintai amar ma’ruf nahi munkar.” Ini adalah salah tugas yang diemban oleh beliau demi mempertahankan eksistensi Islam yang murni. Darah beliau, keluarga, dan para sahabatnya lah yang berhasil menjaga keberadaan agama Islam ini. Tanpa gerakan dan pengorbanan Husaini mustahil kemurnian Islam akan lestari, tegak, dan eksis di tengah masyarakat.

Setelah menganalisa beberapa faktor yang bisa dijadikan alasan fundamental lahirnya revolusi dan pergerakan Imam Husain, di bawah ini disebutkan beberapa faktor-faktor riil yang terdapat di dalam masyarakat Islam sebagai penyebab munculnya tragedi Karbala yang berujung pada pengorbanan Imam Husain, keluarga, dan para sahabatnya:

1.             Kurangnya pengetahuan terhadap Islam;

2.             Lemahnya iman dan merosotnya keyakinan keagamaan;

3.             Warna spiritualitas semakin pudar;

4.             Tiadanya emosi keagamaan;

5.             Kecenderungan kuat kepada dunia dan menjauhi kehidupan ukhrawi;

6.             Tersingkirnya dua pesan suci Nabi, Al-Quran dan Ahlulbait.

Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Maarif vol 1,  2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: