PERLAWANAN RAKYAT PALESTINA : SEBUAH PILIHAN DAN KEMESTIAN

Oleh : Mohammad Jawodiy


Selama 60 tahun, orang-orang Palestina diusir

selama 60 tahun , mereka terus dibunuhi

selama 60 tahun, setiap hari mengalami konflik dan teror

selama 60 tahun, perempuan dan anak-anak tak berdosa

dihancurkan dan dibunuh oleh helikopter-helikopter

dan pesawat-pesawat tempur yang menghancurkan rumah-rumah mereka

selama 60 tahun, anak-anak sekolah dipenjarakan dan disiksa

selama 60 tahun, keamanan Timur tengah berada dalam bahaya

selama 60 tahun, slogan ekspansionisme “Dari Nil hingga Eufrat”

terus digemakan kelompok-kelompok tertentu.

(Mahmoud Ahmadinejad)


Beberapa waktu lalu, perhatian dan sorotan dunia kembali tertuju ke Jalur Gaza Palestina, disebabkan karena ulah tentara zionis Israel yang melakukan penyergapan serta penyerangan terhadap kapal-kapal sipil yang mengangkut bantuan dan relawan kemanusiaan. Peristiwa tersebut menyulut aksi protes dan unjuk rasa di berbagai negara atas tindakan brutal yang diperlihatkan untuk kesekian kalinya oleh rezim zionis Israel. Gerakan misi kemanusiaan yang dilakukan oleh para aktivis dari berbagai negara tersebut, adalah sebagai bentuk kampanye untuk menembus blokade Israel atas rakyat Palestina, yang bertujuan menentang segala bentuk penjajahan dan kolonialisasi serta ketidakadilan dan kezaliman yang tengah dialami oleh Palestina. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan konflik berkepanjangan yang terjadi di Palestina tersebut seolah tak pernah bisa berkesudahan? Persoalan inilah yang akan kita coba lihat lewat tulisan sederhana ini.


Ada Apa di Palestina?

Dalam memahami apa yang sedang terjadi di Palestina, maka ada baiknya kita telaah sebagian dari pidato Ahmadinejad, “Sekitar 60 tahun yang lalu, dengan program rumit (yang melibatkan) propaganda, politik dan militer, dan dengan persiapan pendahuluan, sebuah kelompok tanpa jati diri bernama Zionisme dipaksakan (untuk berdiri) di jantung kawasan Timur Tengah. Alasan pemaksaan ini ada dua : pertama, penderitaan yang dialami kelompok ini pada Perang Dunia II. Dikatakan bahwa kelompok ini (kaum Yahudi) dulu mengalami penjajahan dan sebagian dari mereka tewas. Untuk menghibur para korban yang masih hidup, mereka harus diberi tempat dan harus dilindungi sampai mereka nyaman (di tempat itu). Alasan yang kedua yang (baru) kemudian dikemukakan adalah bahwa nenek moyang mereka (Zionis) adalah orang-orang yang lebih dari 2500 tahun lalu pernah hidup di tanah itu (Palestina), karenanya mereka berhak untuk hidup di kawasan itu dan memiliki pemerintahan sendiri di sana. Kepada mereka (yang menyampaikan alasan ini) kami mengatakan dan telah kami katakan : jika kezaliman itu terjadi di Eropa, mengapa tebusannya harus diberikan oleh sebuah bangsa di Timur Tengah? Misalkan memang benar ada pihak yang melakukan kejahatan, mengapa bangsa-bangsa yang tidak ada urusan dengan Perang Dunia II harus mengganti kerugiannya? Selain itu, kalian mengatakan berniat memberikan tanah untuk para korban perang, lalu mengapa setelah itu, orang-orang tanpa jati diri dari berbagai penjuru dunia dikumpulkan dan diberikan tempat tinggal di Palestina? Mereka mengatakan bahwa nenek moyang kaum Zionis 2500 tahun yang lalu hidup di Palestina (dan karena itu Zionis berhak pula hidup di sana), namun, jika hukum seperti ini diamalkan di tempat lain, bukankah semua perbatasan (wilayah) politik hari ini juga akan musnah? Pertanyaan kami siapa yang hidup di Amerika Utara 250-300 tahun lalu? Klaim tentang (kehidupan) 2500 tahun lalu belum terbukti, tapi di Amerika Utara, orang-orang yang (dulu) hidup di sana, sampai sekarang pun masih ada.”

Tampaknya Ahmadinejad dalam pidatonya tersebut berusaha menjawab berbagai klaim yang dilakukan oleh pemerintahan Zionis Israel selama ini atas pendudukannya terhadap tanah Palestina. Klaim dalam bentuk yang lain, lewat pendekatan teologis atau religius misalnya pernah diutarakan oleh Moshe Dayan, mantan Menteri Perang Israel, seperti : “Jika seseorang memiliki Bible, jika seseorang menyatakan dirinya pengikut Bible, dia harus memilki tanah suci ini, yaitu tanah yang dimiliki Judge dan Patriarch, Jerusalem dan Hebron, Jericho dan yang lainnya.” Namun pernyataan tersebut dikomentari oleh Roger Garaudy dalam bukunya “The Founding Myths of Modern Israel” dengan menulis, “Ideologi Zionis berlandaskan satu postulat yang sederhana, yang tertulis di Kitab Genesis (XV, 18-21), “Tuhan telah membuat persekutuan dengan Abraham dalam hal ini: Aku akan memberikan negeri ini dari sungai di Mesir hingga ke sungai besar, sungai Eufrat.” Berdasarkan ayat ini, tanpa bertanya kepada diri sendiri siapa saja yang termasuk ke dalam ‘persekutuan’ itu, kepada siapa janji itu diberikan, atau apakah janji itu bersyarat atau tidak, para pemimpin Zionis – termasuk mereka yang agnostik dan atheis – memproklamasikan: Palestina telah diberikan kepada kami oleh Tuhan. Padahal statistik dari pemerintah Israel menunjukkan bahwa hanya 15% orang Israel yang religius, namun anehnya 90% dari mereka mengklaim bahwa tanah Palestina adalah hadiah dari Tuhan, Tuhan yang tidak mereka percayai.”

Mungkin kita akan bertanya, ada apa sehingga Israel begitu ngotot menginginkan Palestina? Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Republik Islam Iran ini, kembali melontarkan jawaban atas pertanyaan mendasar tersebut dengan mengatakan bahwa, “Kawasan Palestina adalah kawasan yang sangat penting, kawasan yang strategis dari sisi politik, budaya, ekonomi, kawasan yang memiliki keistimewaan yang tiada duanya. Menguasai Palestina artinya menguasai semua jalur utama politik dan ekonomi dunia. Penguasaan atas Palestina berarti menguasai seluruh kawasan (Timur Tengah) dan kawasan Islami. Menguasai Palestina berarti menguasai bridge-head di jantung dunia untuk menguasai semua bangsa. Dan tentu saja, penguasaan Palestina adalah cita-cita historis sebagian kekuatan-kekuatan Barat.”

Dalam kondisi seperti itulah, maka tidak begitu mengherankan kalau kemudian Israel sangat berkeinginan merebut dan menduduki Palestina, dengan mengerahkan segala kekuatan yang dimiliki dan melalui cara apapun agar tujuan mereka bisa tercapai.

Setelah melakukan berbagai manuver politik maupun militer ke wilayah Palestina sekian puluh tahun lamanya, maka sejak Juni 2007, Israel telah menutup gerbang-gerbang perbatasan yang menjadi tempat lalu-lalang orang-orang dan barang dari dan ke Jalur Gaza. Di beberapa gerbang, distribusi pangan dan bahan bakar masih dibolehkan keluar masuk. Tapi sejak Januari 2008, PM Israel Ehud Barak memerintahkan penutupan semua gerbang dan tidak membolehkan apa pun dan siapa pun untuk melewatinya, termasuk suplai bahan-bahan penting seperti makanan,obat-obatan dan bahan bakar. Akibat dari blokade ini, mayoritas penduduk di Jalur Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan, sehingga menyebabkan Gaza menjadi “penjara terbesar di dunia” (the biggest prison in the world). Situasi terakhir inilah yang kemudian memicu ketegangan di Gaza Palestina, mengakibatkan para aktivis kemanusiaan terpanggil untuk bergerak dan berupaya membuka blokade dan isolasi yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina.


Deretan Nestapa Rakyat Palestina

Berikut ini kami tuliskan sebagian dari rangkaian berbagai peristiwa yang menjadikan derita dan nestapa bagi rakyat Palestina.

1882 : Dimulailah aliya raya pertama atau imigrasi besar-besaran orang-orang yahudi ke Tanah Suci. Gelombang pertama imigran Zionis ini datang dari Eropa Timur sebanyak 25.000 orang.

1896 : Wartawan Austria Theodor Herzl, pendiri gerakan Zionisme, menerbitkan pamflet berjudul Der Judenstaat yang menyebutkan bahwa masalah Yahudi hanya dapat dipecahkan dengan mendirikan negara Yahudi di Palestina atau di tempat lain.

1897 : Kongres I Zionis di Basle, Swiss. Para peserta kongres sepakat perlu ada negeri sendiri, tetapi mereka belum tahu di mana negeri sendiri itu dan bagaimana mendapatkannya.

1904-1914 : Gelombang kedua Zionis datang sebanyak 40.000 orang, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 6% dari total penduduk.

1917 : Menlu Inggris Arthur J Balfour mengeluarkan sebuah deklarasi yang disebut Deklarasi Balfour yang mendukung perlunya ada negeri sendiri bagi bangsa Yahudi di Palestina.

1919-1923 : Gelombang ketiga imigran Zionis datang sebanyak lebih dari 35.000 orang, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 12% dengan kepemilikan tanah 3% dari luas total tanah.

1922 : Keluar apa yang disebut “buku putih” Inggris mengenai Palestina tentang pembagian wilayah. Bagian timur disebut Transjordania yang diserahkan penguasaannya pada Emir Hashemite Abdullah dan bagian barat boleh ditempati orang-orang Yahudi tetapi hanya di sebelah barat Lembah Yordan.

1924-1928 : Gelombang keempat imigran Zionis datang sebanyak 67.000 orang, lebih 50% datang dari polandia. Sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat menjadi 16% dengan kepemilikan tanah 4,2% dari total wilayah.

1929-1939 : Gelombang kelima imigran Zionis datang sebanyak 250.000 orang, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 30% dengan kepemilikan tanah 5,7% dari total wilayah.

1935 : November, Syeikh ‘Izz Al-Din Al-Qassam, ulama dari kota Haifa, memimpin perjuangan bersenjata pertama bangsa Palestina melawan pasukan Inggris dan Zionis. Beliau gugur syahid tanggal 19 November.

1936-1939 : Pecah pemberontakan rakyat Palestina untuk menentang perluasan pemukiman dan pendirian Negara Yahudi. Pemberontakan ini sudah mulai terjadi sejak tahun 1929. Di tengah terjadinya pemberontakan itu (1937) Komisi Peel mengusulkan pembagian Tanah Suci menjadi wilayah untuk orang Yahudi dan Arab.

1940-1945 : Kedatangan lebih dari 60.000 imigran Zionis, sehingga populasi Zionis menjadi 31% dan kepemilikan tanah menjadi 6,0%.

1947 : 18 Februari, Menlu Inggris Ernest Bevin, mengumumkan penyerahan masalah Palestina kepada PBB. 26 September, Inggris mengumumkan keputusan untuk mengakhiri masa Mandat Inggris. Pada bulan November, Majelis Umum PBB memutuskan membagi Palestina menjadi dua bagian; Yahudi dan Palestina. Orang-orang Yahudi menerima keputusan itu, tetapi Palestina dan Negara-negara Arab menolaknya.

1948 : David Ben Gurion memproklamasikan negara Israel disusul pecah perang. Yordania menduduki Tepi Barat dan Mesir menguasai Jalur Gaza.

1949 : Perang berakhir dimenangkan Israel dan dicapai gencatan senjata dengan Mesir, Lebanon, Yordania dan Suriah. Sedikitnya 700.000 orang Palestina menjadi pengungsi.

1967 : Israel menyerang Mesir, Suriah dan Yordania. Dan pecahlah Perang Enam Hari yang dimenangkan oleh Israel dengan menduduki Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Jalur Gaza dan Tepi Barat.

1969 : Yasser Arafat terpilih sebagai pemimpin PLO.

1973 : Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel yang menduduki Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Perang ini disebut perang Yom Kippur, karena terjadi persis pada hari suci menurut kalender Yahudi, Hari Yom Kippur. Inilah kekalahan pertama Israel.

1977 : Presiden Mesir Anwar Sadat terbang ke Yerusalem dan berpidato di depan parlemen Israel, Knesset. Ia menawarkan perdamaian penuh jika Israel bersedia mundur sepenuhnya dari Sinai.

1978 : Pada tanggal 17 September, tercapai kesepakatan damai antara Israel dan Mesir. Kesepakatan damai yang disponsori Presiden AS Jimmy Carter itu ditandatangani PM Anwar Sadat di Camp David AS, pada bulan Maret 1979.

1981 : Pada tanggal 6 Oktober, Presiden Anwar Sadat dibunuh saat menghadiri parade militer untuk memperingati perang 1973 melawan Israel.

1987 : Pecah Intifadah pertama di wilayah penduduk Israel.

1991 : 30 Oktober, Konferensi Perdamaian Timur Tengah di Madrid dengan kehadiran wakil Israel, Suriah, Yordania, Lebanon dan PLO. Konferensi ini disponsori Presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev dan Presiden AS George Bush, pertemuan ini tidak membawa banyak hasil. Konferensi Internasional untuk mendukung Intifadah Palestina digelar di Teheran, sebagai tandingan atas Konferensi Madrid.

1993 : Tercapai kesepakatan antara Israel dan PLO di Oslo, Norwegia. Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Pemimpin Palestina Yasser Arafat menandatangani “Deklarasi Prinsip-Prinsip” di Washington. Kesepakatan ini menggarisbawahi rencana otonomi Palestina di wilayah pendudukan.

1994 : 4 Mei, Israel dan PLO menandatangani kesepakatan yang memberikan otonomi pertama kepada Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki Israel sejak 1967. 11 Mei, Israel mulai mengalihkan kekuasaan ke PLO, menyerahkan pangkalan militer Jalur Gaza. 13 Mei, Israel menyerahkan Jericho ke polisi Palestina. 1 Juli, Arafat memasuki Gaza dalam rangka mendirikan otorita Palestina (Palestinian National Authority disingkat PNA).

1995 : 28 September, PLO dan Israel mencapai kesepakatan perluasan otonomi Palestina ke sebagian besar Tepi Barat. 5 November, Yitzhak Rabin ditembak mati dalam sebuah kampanye perdamaian di Tel Aviv oleh Yigal Amir, seorang pemuda Yahudi fanatik yang anti perdamaian.

1996 : 29 Januari, warga Palestina mengadakan pemilu pertama kali untuk memilih presiden dan anggota parlemen di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Yasser Arafat terpilih sebagai presiden. 29 Mei, Partai Likud pimpinan Benyamin Netanyahu memenangkan pemilu dengan program memperlambat proses otonomi untuk memperbaiki keamanan, memperluas pemukiman dan menolak pembentukan negara Palestina.

1997 : 15 Januari, Netanyahu dan Arafat mencapai kesepakatan selama KTT di Erez mengenai perluasan otonomi Hebron dan Tepi Barat. 17 Januari, Perjanjian Al-Khalil ditandatangani Israel-PNA. Isinya: 20% wilayah Al-Khalil tetap dikuasai Israel dan sisanya diserahkan kepada Palestinian National Authority atau PNA.

1998 : 23 Oktober, Perjanjian Maryland ditandatangani Israel-PNA. Isinya: Israel menyerahkan sebagian wilayah di Tepi Barat kepada PNA, dan sebagai imbalan PNA berjanji mengatasi masalah kekerasan. 12 Desember, Pertemuan Majelis Nasional Palestina digelar di Gaza. Pertemuan ini sudah didesain AS dan Israel, sehingga keputusannya: menghapus salah satu isi deklarasi nasional Palestina yang menyebut “penghapusan Israel”.

2000 : 22 Maret, Untuk pertama kalinya Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Tanah Suci. Paus dengan berapi-api membela perlunya tanah air bagi para pengungsi Palestina. 11 Juli, Presiden AS Bill Clinton ingin mengulangi keberhasilan pendahulunya Presiden Jimmy Carter dengan mengadakan KTT Camp David II, namun upaya ini gagal. 28 September, Intifadah II dimulai dengan pimpinan HAMAS. 29 September, Pecah kerusuhan brutal di Yerusalem setelah Ariel Sharon, pemimpin oposisi selama 45 menit masuk kompleks Haram al-Syarif, tempat di mana berdiri Masjid al-Aqsha. Tindakan ini memicu kerusuhan dan pertumpahan darah.

2001 : 6 Februari, Ariel Sharon, otak pembantaian Sabra Satilla, menjadi Perdana Menteri baru Israel. 17 Juli, Israel mengirim tank dan unit infanteri ke Tepi Barat sehari setelah seorang tentara Israel tewas dibunuh. 14 Agustus, Tank-tank Israel masuk kota Jenin tepi Barat dan menembaki kantor polisi. Ini aksi militer terbesar Israel di tepi Barat dan Jalur Gaza sejak 1994. 28 September, Ribuan orang Palestina memperingati ulang tahun Intifadah dengan pawai, berdoa serta mengheningkan cipta. 19 Oktober, Tank-tank dan tentara Israel masuk ke wilayah Tepi Barat. Tentera Israel merebut sebagian besar wilayah Bethlehem, Ramallah, Nablus dan Jenin. Aksi kerusuhan meningkat. 8 November, Tentara Israel menyerbu kamp pengungsi di Jalur Gaza dan Tepi Barat. 3 Desember, Helikopter tempur AS merudal wilayah dekat markas besar Yasser Arafat di kota Gaza disusul ancaman Ariel Sharon. Yasser Arafat menangkap lebih dari 110 anggota kelompok garis keras untuk memuaskan tuntutan Washington.

2002 : 15 Januari, Israel membunuh Raed al-Karmi pemimpin Brigade Al-Aqsha yang dituding bertanggung jawab atas 10 pembunuhan. 25 Januari, Israel mengerahkan pesawat tempur menggempur Tepi Barat dan Jalur Gaza. 8 Maret, Tentara Israel mengamuk di Tepi Barat dan Jalur Gaza sehingga menewaskan 40 orang Palestina. Ini merupakan pertempuran terburuk setelah Intifadah 18 bulan silam. 10 Maret, Israel menghancurkan markas besar Palestina di Jalur Gaza. 12 Maret, Untuk pertama kalinya PBB menyebut Negara Palestina Merdeka, dan Sekjen PBB Kofi Annan menuduh Israel melakukan “pendudukan tidak sah” atas tanah Palestina. 28 Maret, KTT Liga Arab sepakat untuk: menjanjikan perdamaian dengan Israel dan menjalin hubungan normal dan keamanan. Sebagai gantinya Israel harus menarik mundur pasukannya dari tanah pendudukan, penetapan negara Palestina dengan ibukota Yerusalem Timur, “penyelesaian yang adil” terhadap jutaan pengungsi Palestina. 29 Maret, Tank-tank dan buldoser Israel menggempur kompleks Ramallah tempat Yasser Arafat berkantor dan kemudian mengepungnya. Sejak itu situasi Timur Tengah makin panas. 1 April, Tank-tank Israel masuk Turkarem dan Bethlehem dan bahkan menembaki Gereja Kelahiran Kristus dan mengepung kota tua itu. Dunia mengecam aksi militer Israel itu, namun negara Yahudi sama sekali tidak mempedulikannya bahkan meningkatkan serangannya atas Bethlehem dan kota-kota di Tepi Barat lainnya. Hingga kini ratusan orang Palestina Syahid.

2004 : 22 Maret, Pemimpin Hamas, Syeikh Ahmad Yassin, gugur akibat serangan Israel. 17 April, Abdul Aziz Rantissi pemimpin Hamas (pengganti Syeikh Ahmad Yassin) gugur akibat serangan Israel. 9 Juli, Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan Tembok Pemisah Israel adalah illegal, namun ketetapan ini tidak dihiraukan Israel. Pembangunan tembok terus dilanjutkan sehingga membentuk sebuah penjara raksasa bagi banyak perkampungan Palestina. 26 Oktober, Gigihnya perjuangan Intifadah II membuat Israel kewalahan dan mengesahkan program penarikan mundur dari Jalur Gaza, sambil merancang konspirasi lain. 11 November, Yasser Arafat meninggal dunia karena sebab yang tidak jelas.

2005 : September, Dimulainya penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza. Inilah kemenangan para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun Israel terus memblokade, melancarkan serangan dan teror ke jalur Gaza.

2008-2009 : Desember-Januari, Israel melancarkan agresi di bawah panji “Operation Cast Lead” yang menewaskan lebih dari 1400 warga Palestina dan melukai lebih dari 5000 lainnya.(bersambung)

Perdamaian, Mungkinkah?

Dengan memperhatikan sejumlah fakta yang ada, maka selanjutnya tentu saja memunculkan pertanyaan dalam benak kita, masih mungkinkah ada jalan keluar lewat perdamaian dari konflik berkepanjangan tersebut? Dalam buku “Ahmadinejad on Palestine”, dijelaskan dengan cukup terperinci bahwa selama ini, Amerika Serikat sebagai pendukung utama Israel, berkali-kali telah memediasi perundingan perdamaian antara Palestina-Israel. Setidaknya ada dua perjanjian penting yang pernah ditandatangani kedua pihak, yaitu Perjanjain Oslo I dan Perjanjian Oslo II. Namun, kedua perjanjain ini tidak membawa perbaikan apa pun bagi Palestina karena satu alasan : ketidakadilan. Menurut Ahmadinejad, ‘keadilan’ adalah syarat utama untuk mewujudkan perdamaian di Palestina.

Dalam Perjanjian Oslo I atau disebut juga Perjanjian Gaza-Jericho, poin utamanya adalah Israel menyetujui pembentukan pemerintahan  otonomi (otoritas Palestina). Wilayah ‘pemerintahan’ yang diberikan hanya Gaza dan Jericho, dan secara bertahap dalam lima tahun Israel akan menarik mundur tentaranya dari Tepi Barat. Sebagai imbalannya, Otoritas Palestina bersedia; mengakui kedaulatan Israel dan menjaga keamanan orang-orang Israel dari serangan teroris. Tetapi yang terjadi melalui perjanjian ini, PLO yang menempatkan diri sebagai wakil bangsa Palestina seolah-olah telah ‘membeli’ posisi Otoritas Palestina dengan sepotong wilayah. Bahkan, dalam perjanjian ini, Otoritas Palestina telah dijadikan perpanjangan tangan Israel dalam menekan kelompok-kelompok pejuang Palestina seperti –  Hamas, Jihad Islam, dll – yang dalam perjanjian itu disebut sebagai ‘teroris’. Janji Israel untuk menarik mundur tentaranya juga tidak ditepati, bahkan aksi-aksi kekerasan dan pembangunan pemukiman Israel terus dilanjutkan di wilayah Palestina.

Sementara pada Perjanjian Oslo II atau Perjanjian Taba-Mesir 24 September 1995, berisikan: pembagian wilayah Tepi Barat ke dalam 3 Zona. Zona A yang hanya 3% dari wilayah Tepi Barat, secara penuh di bawah kontrol Otoritas Palestina, Zona C seluas 70% wilayah Tepi Barat berada di bawah kontrol militer Israel, dan sisanya, Zona B dikontrol bersama antara Palestina dan Israel. Perjanjian ini juga tidak membawa perbaikan apa pun, karena inti dari perjuangan rakyat Palestina, yaitu mengembalikan para pengungsi ke tanah/rumah mereka masing-masing, sama sekali tidak diakomodasi.

Mari kita tengok tanah air Palestina. Apakah manusia yang berakal sanggup menerima bahwa pembunuhan terhadap orang Yahudi di Barat, dijadikan alasan untuk menduduki tanah air yang dimiliki orang lain dan mendirikan sebuah negara baru di sana, dengan penduduk baru? Apakah tebusan bagi sebuah tragedi di Eropa – kalaupun itu memang terjadi – harus dilakukan di sebuah kawasan di Timur Tengah yang berjarak ribuan kilometer? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu saja mengusik kita bila upaya-upaya ke arah perundingan dan perdamaian akan ditempuh. Sebab, rakyat Palestina tidak melakukan kejahatan apapun. Mereka tidak punya andil dalam Perang Dunia II. Mereka hidup bersama masyarakat Yahudi dan Kristen secara damai pada masa tersebut. Mereka tidak mempunyai permasalahan. Dan hari ini pun, umat Yahudi, Kristen dan Muslim hidup bersaudara di seluruh dunia, di banyak benua. Mereka tidak memiliki permasalahan yang serius. Akan tetapi, apa sebabnya rakyat Palestina harus membayar semua ini, dengan terbunuhnya ribuan penduduk asli Palestina, dengan terusirnya jutaan orang dan menjadi pengungsi-pengungsi selama 60 tahun lamanya, bukankah ini sebuah kejahatan?

Pada konteks lain, perdamaian hanya akan diterima para pemimpin Zionis di Tel Aviv jika tidak berujung pada terbentuknya negara Palestina yang berdaulat, meskipun negara itu hanya memiliki wilayah yang kecil. Judea-Samaria (Tepi Barat) adalah “sakral” bagi Israel, terlebih Yerusalem Timur. Selain itu, hak kembali pengungsi Palestina merupakan bencana demografis bagi Israel, sekaligus dipandang sebagai upaya menghancurkan hak istimewa sebuah negara Yahudi. “Negara” Palestina hanya akan eksis sebatas sebuah pemerintahan kotapraja yang mengelola urusan administrasi orang-orang Arab saja di wilayahnya. Jadi, selama lebih dari enam dekade, dunia hanya menyaksikan kompromi besar berikut pengorbanan darah dan nyawa dari pihak Palestina. Sementara itu, Israel tidak pernah bergerak seujung kuku pun dari “ambisi-ambisi” fasisnya.

Dengan realitas seperti itu, mungkinkah perdamaian bisa diwujudkan? Oleh karenanya, sekali lagi Ahmadinejad menegaskan bahwa, “Perdamaian yang dicanangkan di atas kezaliman dan tidak didasarkan pada keimanan dan keadilan tidak akan abadi.” Kalimat yang hampir senada juga disampaikan oleh Pemimpin Spiritual Islam Iran Sayyed Ali Khamenei, “Perdamaian adalah kata yang indah, namun keadilan lebih penting dan indah.”


Muqawamah dan Perlawanan : Sebuah Pilihan dan Kemestian

Melihat situasi yang berkembang tersebut, lantas bagaimana sikap dari mayoritas rakyat Palestina, khususnya para pejuang Palestina berkaitan dengan upaya penyelesaian konflik? Bagi mereka, masa depan Palestina harus diperjuangkan sendiri oleh rakyat sipil Palestina melalui gerakan intifadah dan muqawamah. Karena sebagian besar para elit politik formal Palestina terbukti sangat permisif, enggan menjadikan semangat Islam sebagai basis dan bahkan berkolusi dengan Israel. Rezim Zionis ini tidak layak dijadikan lawan dalam dialog dan perundingan. Sebagai biang krisis, rezim ini harus dimusnahkan untuk kemudian ditampilkan pemerintahan yang dikehendaki rakyat Palestina sendiri.

Suara Palestina untuk Hamas, bisa diinterpretasikan sebagai pesan kepada Israel dan komunitas internasional bahwa inilah pilihan rakyat untuk melawan upaya-upaya eksternal yang ingin mengendalikan situasi Palestina. Sebuah sinyal protes melawan intervensi besar dalam proses pemilihan oleh pemerintah-pemerintah Barat dan Uni Eropa, yang berulang kali mengancam untuk membekukan bantuan ekonomi dan menolak dukungan politik apabila Hamas masuk ke dalam pemerintahan Otorita Palestina. Pilihan ini juga adalah pesan secara khusus kepada “kuartet perdamaian”, yang terdiri dari PBB, Amerika Serikat, Rusia dan Uni Eropa, bahwa bangsa Palestina tidak lagi ingin menerima pertunjukan-pertunjukan “perdamaian” yang menghambat reformasi internal Palestina, yang pada akhirnya tidak dapat mengakhiri pendudukan dan kolonisasi Israel. Seruan ini juga ditujukan kepada dunia untuk menghentikan kekebalan hukum Israel, yang sekaligus untuk menghormati dan melaksanakan hak-hak bangsa Palestina di bawah hukum internasional.

Rezim Zionis di tanah pendudukan Palestina adalah rezim rasialis. Ini adalah rezim yang diciptakan oleh kekuatan-kekauatan politik dan ekonomi dunia. Pada prinsipnya, rezim ini diciptakan untuk membendung persatuan dan kejayaan Dunia Islam. Mereka tidak menghendaki umat Islam membentuk kesatuan besar yang bakal membahayakan mereka. Untuk inilah rezim Zionis diciptakan. Karena itu, mana mungkin rezim ini bisa diharapkan berlaku adil. Polos sekali orang-orang yang beranggapan bisa berunding dengan rezim Zionis, karena bagi Israel setiap perundingan tak ubahnya dengan terbukanya satu kesempatan untuk melangkah maju. Bagi Sayyed Ali Khamenei, bagaimana mungkin sebuah bangsa telah diusir dari rumah, tanah air dan negeri mereka, sedangkan mereka yang tersisa di negeri tersebut dianggap asing. Namun perlu diketahui bahwa seandainya tidak ada satupun bangsa dan negara di dunia yang membantu bangsa Palestina, maka tetap merupakan ilusi kosong jika mereka berangan-angan menggantikan Palestina dengan satu bangsa buatan. Bangsa Palestina adalah bangsa yang berbudaya, bersejarah, memiliki latar belakang dan berperadaban. Sudah ribuan tahun mereka tinggal di Palestina, lalu kemudian terusir dari rumah, kampung halaman dan lembaran sejarah mereka, dan para agresor mendatangkan kaum imigran, orang-orang gelandangan dengan aneka ragam bangsa, dan orang-orang yang cuma mencari keuntungan untuk kemudian dijadikan sebuah bangsa.

Dan berkenaan dengan Palestina, tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang sanggup memadamkan cita-cita kebebasan dan kembalinya Palestina kepada para pemiliknya di hati umat bangsa-bangsa muslim, khususnya bangsa Palestina. Sebagian orang melihat masalah Timur Tengah sebagai krisis dunia dan mengatakan bahwa kita harus berusaha mengendalikan krisis tersebut. Tapi pertanyaannya, cara apakah yang dapat memadamkan krisis Timur Tengah? Hanya ada satu cara, dan itu adalah mematikan akar krisis. Apakah itu akarnya? Akarnya adalah rezim Zionis yang keberadaannya dipaksakan di Timur Tengah. Krisis tetap akan menyala selagi akarnya masih berwujud. Pada konteks ini, mungkin ada benarnya ungkapan Pemimpin Revolusi sekaligus Pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Ruhullah Khomeini yang pernah mengatakan bahwa, “Rezim penjajah Al-Quds harus lenyap dari lembaran waktu.” Atau dalam kalimat terjemahan secara bebas, “Israel must wiped off the map” Israel harus dihapuskan dari peta. Seorang aktivis Neturei-Karta – sebuah kelompok Yahudi Ortodoks yang menentang pendirian negara Israel – sekaligus Rabbi Yahudi  Yisroel D. Weiss, dalam Konferensi Holocaust di Teheran mengatakan, “Sangatlah jelas bahwa kaum Yahudi yang patuh kepada Taurat selalu menentang pembentukan negara Israel. Kami diperintahkan oleh Tuhan untuk tidak menciptakan eksistensi kami sendiri. Kami dalam pengasingan oleh Tuhan sampai penyelamatan terakhir, ketika semua manusia berdiri dengan damai serta melayani dan mengakui Tuhan Yang Esa.” Dan pada kesempatan yang lain beliau pun mengatakan, “Sebelum kami mengenal negara Israel, kami hidup bersama di tanah kaum Arab dan muslim selama ratusan tahun dalam damai.” Karena itu menurut Weiss, pendirian Israel adalah illegal, cacat dan salah.

Rezim yang menjajah Palestina pada beberapa waktu lalu kembali memperlihatkan kebejatan dan tiraninya dengan menyerang dan membunuhi puluhan relawan kemanusiaan yang tak bersenjata. Rezim ini mungkin berangan-angan bahwa mereka akan bisa memadamkan kobaran jihad untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebenaran yang tak kenal lelah, dan sekaligus mereka berpikir akan dapat melicinkan proses perdamaian serta memaksakan ambisinya secara lebih keras terhadap pihak yang pro-perdamaian. Namun, sebagaimana dahulu, kejahatan inipun tidak akan dibiarkan begitu saja. Praktik-praktik kotor dan khayalan-khayalan dalam benak rezim Zionis pasti akan sia-sia. Aksi-aksi tak berprikemanusiaan dan penuh kebencian ini sudah disusul dengan gelora protes warga muslim Palestina dan para pejuang serta demonstrasi masyarakat dan mahasiswa di pelbagai negara Islam sehingga gerakan intifadah  dan muqawamah menemukan spirit baru.

Umat Islam yang sadar dan waspada, menggelar demonstrasi besar-besaran yang penuh dengan gelora semangat untuk meneriakkan slogan-slogan kebenaran, dan mendesak pemerintah negara-negara Islam agar membuka jalan jihad dan mengizinkan warga muslim untuk menunaikan tugas ini sebagai satu-satunya jalan demi mengusir para penjajah dari tanah-tanah pendudukan serta memulangkan warga Palestina ke tanah air dan kampung halaman mereka. Gelombang kutukan terhadap rezim penjajah Palestina, sekarang kian merebak dan meredupkan proses perdamaian serta semakin memperjelas kesia-siaan proses tersebut di depan mata semua orang. Dukungan materi, spirit dan politik semakin tercurah kepada gerakan-gerakan jihad, intifadah dan muqawamah. Gembar-gembor mereka yang mengaku pembela hak asasi manusia sekarang sia-sia. Deru genderang skandal para penyokong Israel sudah terdengar sehingga sebagian besar dari mereka bahkan terpaksa turut mengutuk kejahatan rezim Zionis. Tragedi terkutuk ini dilakukan dengan tujuan memaksakan ambisi-ambisi kotor para penguasa Zionis terhadap pihak yang pro-perdamaian. Namun, bangsa Palestina yang pemberani mengecam perundingan damai. Bangsa ini akan menyempitkan ruang dari pihak-pihak yang pro-perdamaian. Perjuangan dengan janji-janji kemenangan dari Allah ini suatu hari pasti akan berhasil. Tanah-tanah yang terampas akan bebas dan modal harta kekayaan yang terjarah akan kembali kepada yang berhak. Semangat ini terus bergelora sebagai lanjutan atas perjuangan rakyat Palestina sebelumnya, dan sekarang dikobarkan oleh generasi muda yang tergodok oleh revolusi dan jihad dengan mengandalkan berbagai pengalaman berharga mereka. Ini menandakan bahwa generasi sekarang telah menemukan jalan yang benar untuk merebut kemenangan dan akan menempuhnya dengan tekad yang bulat.

Satu hal yang penting bahwa Palestina tidak boleh takluk kepada konspirasi musuh, karena yang ditargetkan rezim penjajah sekarang ini ialah perselisihan di tengah barisan bangsa Palestina, dan ini bahkan juga yang diinginkan oleh unsur-unsur pengkhianat Palestina yang berkolusi dengan musuh. Segenap elemen bangsa Palestina harus bersatu-padu dalam orientasi semua kalangan yang ikhlas, mukmin dan siap berkorban. Hati umat Islam saat ini menyanjung bangsa Palestina yang kini menjadi pusat perhatian Dunia Islam. Umat Islam berdoa untuk mereka, dan jika pintu bantuan sudah terbuka, maka sekarang juga bantuan itu akan mengalir, baik di saat pemerintahnya menghendaki bantuan itu atau tidak. Umat Islam tidak akan membiarkan bangsa Palestina begitu saja. Umat Islam tidak akan memandang para pemuda Palestina dengan sebelah mata.

Sedemikian agungnya gerakan ini sehingga pengorbanan-pengorbanan ini tidak terlihat begitu besar di mata mereka sendiri. Pengorbanan tidaklah tampak di mata mereka sendiri, namun dunia takjub menyaksikannya. Satu syahadah, seperti syahidnya seorang bocah dalam pelukan ayahnya, adalah badai yang menerjang hati bangsa-bangsa dunia dan ini semua sangat bernilai. Kita ucapkan selamat kepada seluruh bangsa Palestina yang teraniaya, khususnya yang menempuh jalan jihad, intifadah dan muqawamah, karena kebangkitan mereka kian hari kian mendapat sambutan dari umat Islam dan kaum revolusioner. Dan adapun para penjajah akan kembali ke tempat asal mereka, insya Allah.

  1. Kita Do’akan semoga peruangan jihad rakyat Palestina mendapatkan keredhaan dari Allah SWT dan dianugerahkan kemerdekaan kepada Bangsa Palestina untuk lepas dari pejajah zionis laknatullah israil.

  2. Iy Smangat Trus Pejuang Palestin.
    Allahu Akbar.
    Insya Allah Kehancuran & Azab Allah Slalu Mngikuti Zionis Isroil Nu Teu Hideung Jeung Teu Mikir Eta.
    Aamiin . .

  3. Cahaya aneh ?
    Laptop masa depan ?

    https://emboh1.wordpress.com

  4. apapun alasan nya, israel zionis anjing penjajah murtad bangsat harus nusnah,,, Allahu akbar…….

  5. tiada akan bs musnah tanah palestina walau diserang bak bagaikan hujan ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: