KEANGKUHAN (3)

Oleh : Syaikh MT. Mishbah Yazdi

Pengaruh Keangkuhan pada Perilaku Manusia

Setelah kita mengetahui sebab timbulnya penyakit angkuh di bidang ilmu dari cermin ucapan Imam Ali, kini tiba saatnya bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat ulama dari lisan beliau. Menurut Imam Ali, ulama terbagi menjadi dua kelompok, yakni orang-orang yang bergelut di bidang ilmu, mempunyai dua karakter, sifat, sikap, dan kepribadian. Karena mereka memandang ilmu dari dua sudut pandang yang berbeda, maka sebagai konsekuensinya munculllah dua metode dan sikap yang berbeda pula. Kelompok pertama adalah mereka yang dalam menyifatinya Imam Ali berkata, “Orang-orang yang melihat hal-hal yang sudah diketahui jauh lebih sedikit dibandingkan hal-hal yang belum diketahui.” Beliau menegaskan, “Fa inna al-‘alima man ‘arafa anna ma ya’lamu fi ma la ya’lamu qaliil. Sesungguhnya orang yang alim adalah orang yang menyadari bahwa apa yang dia ketahui sangatlah sedikit dibandingkan apa yang tidak dia ketahui.” Dengan kata lain, dia mempunyai pengetahuan Qurani berkaitan dengan ilmunya. Karena telah ditegaskan dalam Al-Quran tentang ilmu manusia, Wa utiitum minal ‘ilmi illa qaliilan. Dan tidak diberikan kepada kalian ilmu melainkan hanya sedikit saja. Dia sepenuhnya sadar bahwa pengetahuannya sangat sedikit bila dibandingkan dengan hal-hal yang tidak dia ketahui, dan apa yang dia ketahui jauh lebih sedikit dibandingkan pengetahuannya. Karena dia memandang ilmu dan pengetahuannya dengan cara pandang yang seperti ini, bahwa yang tidak dia ketahui jauh lebih banyak daripada yang diketahui sehingga ilmunya tidak pernah tampak besar, maka ilmunya tidak  dapat menimbulkan keangkuhan serta kesombongan diri. Dengan keterangan lain, ketika dia menyaksikan kegelapan ketidaktahuan jauh lebih dominan dan hanya ada beberapa titik di sana-sini yang memancarkan cahaya sedikit pengetahuan, maka dia tidak dapat menyombongkannya.

Lebih daripada itu, karena dia melihat ketidaktahuannya dan menyifati dirinya sebagai seorang yang jahil, maka iapun memiliki sikap, perilaku, dan cara hidup tertentu yang (sesuai dengan sikap realistisnya). Sebagai misal, dia akan terus bersemangat dan berusaha menambah ilmu serta pengetahuannya dan tidak pernah merasa bahwa dirinya tidak lagi perlu belajar, hal ini disebabkan dia melihat dirinya sebagai orang jahil. Orang yang seperti ini akan selalu membuka lembaran-lembaran kitab ketidaktahuannya dan akan berkata pada dirinya, “Betapa banyak hal yang masih harus aku pelajari dan ketahui.” Dengan pengetahuan yang benar  akan perbandingan antara ketidaktahuan dan yang diketahuai pada diri, maka dia menyadari dengan penuh keyakinan bahwa pengetahuannya sangat sedikit. Dengan begitu, usaha dan keinginannya untuk menambah ilmu terus bertambah dari hari ke hari hingga setiap saat dia berusaha mendapatkan ilmu baru.

Imam Ali berkata, “Fa ma yazalu lil ‘ilmi thaliban wa fihi raghiban wa lahu mustafidan.” Karena dia merasa bodoh dan haus akan pengetahuan, maka dia senantiasa bersemangat untuk mencari ilmu dan tidak pernah merasa puas dari mata air pengetahuan yang berlimpah. Dia selalu merasakan dirinya haus dan dahaga akan ilmu pengetahuan.

Pengaruh lain dari pandangan yang seperti ini adalah, ketika dia berjumpa dengan ahli ilmu yang lain, maka dia akan selalu bersikap rendah hati dan menghormati dan tidak akan pernah bersikap sombong dan angkuh. Ketika seseorang memandang dirinya jahil, sudah barang tentu dia akan menunjukkan sikap tunduk dan rendah hati dihadapan para ulama. Karena dalam dirinya dia berkata, “Mereka para ulama mengetahui hal-hal yang tidak aku ketahui, oleh sebab itu aku akan bersikap rendah hati dan hormat kepada mereka.” Imam Ali Kw berkata, “Orang-orang semacam ini akan tunduk dan takzim terhadap ahli ilmu (wa li ahlihi khasyi’an).” Perlu kita ketahui, bahwa (secara lughawi) kata Khusyu lebih tinggi artinya dibandingkan dengan kata Khudhu’. Khudhu’ lebih banyak digunakan untuk gerakan-gerakan fisik seperti menunduk dan bentuk-bentuk penghormatan secara zahir lainnya, sementara kata khusyu’ lebih berarti ketundukan hati, yakni di dalam hati seseorang memandang kecil dirinya di hadapan ulama. Dia menghormati ulama tidak hanya dari gerak fisiknya saja, namun dari dalam hatinya.

Pengaruh Ketiga dari cara Berpikir yang seperti ini adalah orang-orang semacam ini tidak terlalu memberikan nialai yang berlebihan atau bersikukuh pada pendapatnya sendiri. Bahkan dia tidak mau bersandar pada pendapat-pendapat zhanniy dirinya (tanpa mempertimbangkan pendapat yang lain). Kata Imam Ali Kw, “wa li ra’yihi muttahiman. Dia selalu bersikap curiga dan sangsi pada pendapatnya sendiri dan mengatakan bahwa mungkin pendapatku salah.” Alangkah luar biasanya, apabila seseorang setelah ribuan kali berusaha dan bekerja keras selama bertahun-tahun, serta menempuh perjalanan yang panjang dalam menuntut ilmu, lalu setelah dia menyimpulkan sesuatu, dia tidak berkata, “Inilah pendapat yang benar, “bahkan dia masih berpikir, “mungkin pendapatku ini salah.”

Contoh yang sangat menonjol dari orang-orang yang seperti ini adalah almarhum Allamah Thabathaba’i rahimahullah. Setiap kali dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padanya, beliau berkata, “Aku tidak tahu!” Padahal dia adalah seorang guru yang telah menekuni ilmunya selama lebih dari lima puluh tahun dan menjadi pakar serta ahli di bidangnya. Akan tetapi, di awal setiap jawaban yang hendak beliau sampaikan, dengan lantang beliau berkata, “aku tidak tahu.” Setelah itu berulah beliau sedikit merenung dan berkata, “bisa dikatakan seperti ini” atau “coba pikirkan, mungkin bisa dijawab seperti ini.” Mentalitas dan hati khusuk yang dimiliki oleh Allamah Thabathaba’i coba bandingkan dengan orang yang tidak pernah mengucapkan kalimat “tidak tahu” pada lisannya, atau dengan orang yang tidak berilmu, namun dengan penuh keberanian bersedia memberikan jawaban, sehingga kita bisa memahami dan mengerti akan betapa tingginya nilai perilaku terpuji ini.

Seorang Alim dan Ilmuwan sejati sadar bahwa sebagian besar dari ilmunya bersifat zhanni dan sangat mungkin pendapat yang telah disimpulkan adalah salah dan tidak benar. Oleh sebab itu, dia selalu curiga dan tidak bersikap apriori atas pendapat dan kesimpulannya. Salah satu sikap terpuji dan perilaku indah dari orang-orang semacam ini adalah mereka lebih banyak mengambil sikap diam, yakni, mereka bukan hanya tidak memberikan pendapat yang pasti (qath’i), tetapi mereka berusaha tidak banyak mengemukakan pendapat dan mereka lebih bersemangat untuk melakukan koreksi atas pandangannya sendiri. Imam Ali Kw menegaskan, “ Wa lishsamti laziman, walil khathai jahidan, wa minhu mustahyiyan. Mereka merasa malu apabila bersalah dan menganggap itu sebagai aib bagi diri mereka. Berbeda dengan mereka yang baru mengenal ilmu, sok tahu dan banyak bicara. Orang-orang yang di setiap kesempatan mengemukakan pendapat dan memberikan kesimpulan yang bersifat qath’i pada setiap masalah. Apabila pendapat mereka kemudian terbukti salah dan keliru, dengan tanpa malu mereka berkata, “itu adalah pendapat kami yang kemarin, namun sekarang inilah pendapat baru kami.” Akan tetapi, bila mana seseorang mengeluarkan pendapat dan kesimpulan dengan pemikiran serta perhitungan yang matang, bila kemudian terbukti tidak tepat, maka dia akan merasa sangat malu sekali. Apabila dihadapkan padanya pendapat yang baru, dia tidak serta merta menolak dan mengingkarinya; apabila ditujukan padanya sebuah pertanyaan dia tidak mengetahui jawabannya, dia tidak berusaha lari dan berkelit dari persoalan dengan berkata, “oh, tidak seperti itu” atau “itu salah”, tetapi dengan tegas dia akan mengatakan. “Aku tidak tahu!”

Karena seorang Alim dan Ilmuwan sejati lebih banyak memerhatikan kejahilan diri dan menganggap dirinya sebagai orang jahil, maka dia tidak memiliki sesuatu yang bisa ditunjukkan dan dijadikan sarana untuk menonjolkan serta membesarkan diri; dia juga tidak akan tergesa-gesa menolak atau mengingkari pendapat orang lain. Namun sebaliknya seseorang yang menganggap dirinya banyak ilmu, pada hakikatnya dia adalah orang jahil yang mempunyai sikap dan perilaku yang sepenuhnya berlawanan dengan alim sejati. Imam Ali Kw menegaskan, bahwa orang-orang yang menyombongkan ilmunya, pada hakikatnya adalah orang bodoh. Beliau berkata, “Innal jahila man’adda nafsahu bima jahila min ma’rifat al-‘Ilmi aliman. Sesungguhnya orang yang jahil adalah orang yang menganggap dirinya tahu atas perkara yang sebenarnya tidak dia ketahui.” Mereka adalah orang-orang yang sejatinya jahil, karena meski mereka mengetahui bahwa ilmunya sedikit, namun mereka tetap saja menilai diri mereka sebagai alim dan memasukkan diri mereka dalam kalangan ulama dan ahli ilmu. Ketika mereka meyakini sesuatu, mereka merasa puas dengannya dan sama sekali tidak merasa perlu pada belajar, mengkaji, meneliti dan seterusnya. Mereka cenderung bersikap apriori dan mengatakan, “Inilah kebenaran; kebenaran adalah apa yang sesuai dengan pemahaman kami.”

Menurut mereka, seorang Alim adalah orang yang tidak lagi membutuhkan ulama dan bertanya kepada mereka. Oleh sebab itu, mereka menjauhi para ulama dan apabila melihat sedikit kesalahan dari ulama, mereka langsung menyalahkan dan membesar-besarkannya (wa liman khalafahu mukhaththian). Dari sisi lain, karena mereka mengira telah mengetahui banyak hal yang sebenarnya belum mereka ketahui, mereka telah menjadikan diri mereka sebagai sarana yang dapat menyesatkan diri mereka sendiri. Mereka berani berdusta atas apa-apa yang tidak mereka ketahui. Dengan penuh kebodohan dan lisan yang meremehkan, mereka berkata “masalah apa lagi ini” ? Dan, dengan sombong berkata, “Dari sekian banyak telaah yang aku lakukan, aku belum pernah melihat masalah yang seperti ini, karenanya menurutku hal ini tidaklah demikian. “Pada hakikatnya, karena dia telah mempunyai jawaban, dia berusaha berkelit dengan cara seperti itu (tanpa sudi mengakui ketidaktahuannya). Bahkan terkadang mereka berani melangkah lebih dari itu dan berkata, “Apabila hal itu memang benar adanya, tentu kami sudah mengetahuinya; dan karena kami tidak tahu, maka sudah pasti hal tersebut tidak benar.” Berbicara dengan kalimat yang seperti itu menunjukkan bahwa mereka bahkan tidak menyadari kejahilannya. Sebagai akibatnya, mereka bersikeras pada pendapatnya dan tidak mau menghormati pendapat orang lain. Mereka tidak lagi berusaha menambah ilmu. Ketika masalah yang benar disodorkan padanya, karena tidak tahu, mereka pun berani mengingkarinya.

 (Diketik ulang dari Buku “22 Nasihat Abadi Penghalus Budi”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: