NASHIRUDDIN ATH-THUSI

“Ilmuan Serba Bisa”

Nashiruddin Ath-Thusi dikenal sebagai  “Ilmuan serba bisa“ (Multi talented). Julukan itu rasanya amat pantas ia sandang karena sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern yang tak ternilai besarnya. Selama hidupnya, ilmuan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan berbagai ilmu, seperti astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.

       Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja seperti Thomas Aquinas, memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan  Nashiruddin Ath-Thusi. Ia lahir pada tanggal 18 Februari tahun 1201 M / 597 H, di kota Thus yang terletak di dekat Mashed, sebelah timur lautan Iran. Sebagai seorang Ilmuan yang amat kondang pada zamannya, Nashiruddin memiliki banyak nama, antara lain: Muhaqqiq, Ath-Thusi, Khuwaja Thusi, dan Khuwaja Nasir.

       Nashiruddin lahir pada awal abad ke 13 M, ketika itu dunia Islam telah mengalami masa-masa sulit. Pada saat itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis oleh tentara Mongol dengan sangat kejam. Hal itu dipertegas J.J.O’Connor dan E.F.Robertson, bahwa pada masa itu dunia diliputi kecemasan. Hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Nashiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nashiruddin digembleng ilmu oleh ayahnya yang beprofesi sebagai ahli hukum di sekolah Imam Kedua Belas.

       Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Ath-Thusi mempelajari Fiqih, Ushul, Hikmah dan Kalam, terutama Isyarat-nya Ibnu Sina, dari Mahdar Fariduddin Damad, dan Matematika dari Muhammad Hasib di Nishapur. Dia kemudian pergi ke Baghdad, di sana dia mempelajari ilmu pengobatan dan Filsafat dari Qutbuddin, Matematika dari Kamaluddin bin Yunus, dan Fiqih serta Ushul dari Salim bin Bardan.

       Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Thus dan kota kelahiran Nashiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Islamiyah ‘Abdurahim mengajak sang ilmuwan untuk bergabung. Tawaran itu tidak disia-siakannya, Nashiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat istana Islamiyah. Selama mengabdi di istana, Nashiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlaq-I Nasiri yang ditulisnya pada tahun 1232 M.

       Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan –cucu Chinggis Khan– pada tahun 1251 M akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluhlantakkannya. Nyawa Nashiruddin selamat karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Meski Hulagu dikenal bengis dan kejam, namun Nashiruddin diperlakukan dengan penuh hormat. Dia pun diangkat oleh Hulagu menjadi penasehat di bidang Ilmu Pengetahuan. Meskipun telah menjadi penasehat pasukan Mongol, Nashiruddin tidak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu  Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, yaitu kota Baghdad pada tahun 1258 M. Terlebih lagi di saat itu, dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta’sim yang lemah. Terbukti bahwa militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

       Meskipun tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nashiruddin bisa menyelamatkan diri dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. “Hulagu sangat bangga sekali karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuan terkemuka seperti Ath-Thusi bisa bergabung bersamanya” paparan O’Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang Sejarah Nashiruddin sebagaimana dalam tulisan Heri Ruslan.

       Hulagu sangat senang sekali ketika Nashiruddin mengungkapkan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan wilayah Malagha yang berada wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259 M. Nashiruddin pun mulai membangun Observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada dan dapat kita jumpai sampai sekarang ini.  Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan serjana dari Persia dibantu astronom dari Cina. Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan dari Nashiruddin. Salah satunya yakni Kuadran Azimuth. Selain itu juga, dia membangun perpustakaan di observatorium itu, koleksi buku-bukunya terbilang lengkap, yakni terdiri dari beragam Ilmu-ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nashiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja, dia pun turut mengembangkan filsafat dan matematika.

       Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nashiruddin Ath-Thusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin observatorium Maragha. Selain itu Nashiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya yang berjudul At-Tadhkira fi’ilm Al-hay’a (Memoar Astronomi). Nashiruddin mampu memodifikasi model semesta apisiklus Ptolomeus  dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Nashiruddin meningal dunia pada tahun 672 H/1274 M dikota Baghdad, yang pada saat itu dibawah pemerintahan Abaqa (Pengganti Hulagu) yang masih mendapat dukungan sampai akhir hayatnya.

 

       Integralitas Pemikiran

Abad 13 adalah masa kritis “kekhalifahan” Islam, sehingga sangat sedikit pemikiran politik yang berkembang. Bahkan sulit menemukan pemikir politik yang orisinal pada periode pasca-mongol tersebut. Akan tetapi kita mengenal Nashiruddin Ath-Thusi sebagai seorang pemikir cemerlang yang memainkan peran intelektual dan pemikiran pemerintahan pada masanya. Beliau mempelajari filsafat Yunani dan filsafat Islam, seperti karya-karya Aristoteles, Al Farabi, Ibn Sina dan sebagainya. Beliau juga dikenal ahli dalam bidang teologi dan fikih yang sangat berpengaruh di Nisapur, sebuah kota yang menjadi pusat peradaban berpengaruh.

Kecerdasannya sebagai seorang astrolog handal yang menguasai matematika menjadikannya tidak bebas. Ia dipaksa bekerja hampir dua puluh tahun sebagai astrolog di sebuah benteng Alamut di bawah kekuasaan dinasti Nizari-Ismailiyah. Menurut Antony Black, Ath-Thusi tidak pernah menjadi pengikut Ismailiyah, kendati ide-ide Ismailiyah muncul dalam karyanya, yang kelihatannya telah diedit sebagian dikemudian hari. Bisa jadi Ath-Thusi juga menulis sebuah ringkasan tentang ajaran-ajaran Nizari Ismailiyah yang berjudul ‘Rawdhah al Taslim’ atau Tashawurat.

Dalam pemikiran agama, Ath-Thusi mengadopsi ajaran-ajaran neo-Platonik Ibn Sina dan Suhrawardi, yang keduanya ia sebut, demi alasan-alasan taktis, “orang bijak” (hukuma) bukan sebagai Filsuf. Akan tetapi, berbeda dari Ibn Sina, ia berpendapat bahwa eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan, akan tetapi sebagaimana doktrin Syiah, manusia membutuhkan pengajaran yang otoritatif, sekaligus filsafat. Ini menunjukkan kecenderungan teologi mistisnya.

Nashiruddin At-Thusi bermaksud menyatukan filsafat dan fikih berdasarkan pemikiran bahwa perbuatan baik mungkin saja didasarkan atas fitrah atau adat. Fitrah memberikan manusia prinsip-prinsip baku yang dikenal sebagai pengetahuan batin dan kebijaksanaan. Sedangkan adat merujuk pada kebiasaan komunitas, atau diajarkan oleh seorang nabi atau imam, yaitu hukum Tuhan, dan ini merupakan pokok bahasan fikih. Keduanya dibagi lagi menjadi norma-norma untuk 1). Individu, 2). Keluarga, dan 3). Penduduk desa atau kota. Menurutnya filsafat mempunyai kebenaran-kebenaran yang tetap sedangkan fikih ataupun hukum Tuhan mungkin berubah karena revolusi atau keadaan, perbedaan zaman dan bangsa serta terjadinya peralihan dinasti.  Beliau menafsirkan Negara atau dinasti seperti dawlah menurut pandangan Ismailiyah, hal ini terlihat dari pandangannya tentang perubahan pada hukum Tuhan oleh nabi-nabi, penafsiran fuquha dan juga para imam. Sehingga At-Thusi menganggap syariat sebagai suatu tatanan hukum yang tidak mutlak dan final, sebagaimana diyakini kalangan Sunni.

 

Karya-karya Nashiruddin Ath-Thusi

       Benar kalau dikatakan bahwa Ath-Thusi adalah seorang ulama yang menguasai berbagai bidang Ilmu, bukan hanya seorang filsuf semata. Hal itu terlihat dari berbagai disiplin keilmuan yang ditulisnya dalam bentuk buku atau kitab.

       Meskipun Ath-Thusi pandai dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan namun ia bukan seorang ilmuwan/filsuf yang kreatif sebagaimana filsuf dari Timur. Ia bukan termasuk ahli pikir yang kreatif yang memberikan gagasan-gagasan murni yang cemerlang. Hal ini tampak pada kedudukan ia sebagai pengajar gerakan kebangkitan kembali dan dalam karya-karyanya kebanyakan bersifat eklektis yakni bersifat memilih dari berbagai sumber. Tetapi meskipun demikian, ia tetap memiliki ciri khas tersendiri dalam menyajikan bahan tulisannya. Kepandaiannya yang beragam sungguh mengagumkan. Minatnya yang banyak dan berjenis-jenis mencakup filsafat, matematika, astronomi, fisika, ilmu pengobatan, mineralogi, musik, sejarah, kesusastraan dan dogmatik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: