Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah

(Pembawa Panji – Panji Persatuan Islam)

“Para Ulama harus dekat dengan orang – orang Universitas, sebab jika mereka meninggalkan para akademisi, dalam waktu yang singkat Agama Islam akan menjadi barang yang kuno dan ditinggalkan orang. Kita akan berbicara seperti bicaranya orang – orang terdahulu.”

(Sayyid Husain Fadhlullah)

Dalam berbicara beliau selalu berbahasa arab yang fasih, dalam arti menggunakan kalimat – kalimat yang sederhana namun terdengar indah. Begitu memancarkan kesejukan sekaligus kewibawaan.  Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah lahir pada tahun 1354 H/1933 M di kota Najaf al-Asyraf. Ayahnya, Sayyid Abdul Rauf Fadhullah adalah salah seorang ulama besar di Najaf kurang lebih selama tiga puluh tahun. Datuknya bernama Najibuddin Fadhlullah, adalah salah seorang ulama ternama pada masanya.

Husain Fadhlullah melalui semua pengajian Muqaddimah dan Suthuh Hauzah di bawah bimbingan langsung ayahnya kecuali jilid kedua kitab Kifayatul Ushul yang ia pelajari dari Syeikh Mujtaba Lankarani. Manakala Bahtsul Kharij ia lalui di bawah bimbingan Sayyid Muhammad Ruhani. Setelah menyelesaikan paket penuh pelajaran Bahtsul Kharij di bawah bimbingannya, ia lalu dibimbing oleh Ayatullah Khu’i. Kumpulan pelajaran yang telah ditekuni oleh Husain Fadhlullah di bawah bimbingan Ayatullah Khu’i antara lain ialah; satu paket penuh ilmu Ushul Fiqh, bab Ba’i (jual beli) dan Khiyarat dari kitab al-Makasib, bab Taklid, bab Thaharah (bersuci), dan sebahagian bab Shalat. Di samping itu juga, ia juga pernah menghadiri pelajaran Syeikh Husain al-Hilli selama dua sampai tiga tahun, pelajaran Ayatullah Sayyid Mahmud Shahrudi selama dua tahun, dan pelajaran Ayatullah Hakim selama satu setengah tahun. Pelajaran Qawa’idul Fiqhiyah ia pelajari di bawah bimbingan Mirza Hasan Burujerdi pada hari-hari minggu.

Melihat kekosongan gerakan sosial yang ada di kalangan para pelajar Hauzah Najaf, Husain Fadhlullah memberanikan diri untuk membentuk sebuah kegiatan sosial dan media massa. Akhirnya, pada tahun 1379 H/1958 M, ia bekerja sama dengan Ayatullah Muhammad Baqir as-Shadr dan Ayatullah Syeikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dan didukung oleh Jama’atul Ulama yang berpusat di kota Najaf. Ketika itu, gerakan mereka berhasil menerbitkan majalah al-Adhwa’. Kajian utama majalah ini pada tahun pertama diisi oleh artikel-artikel yang ditulis oleh Syahid Muhammad Baqir as-Shadr dengan judul Risalatuna (misi kami) selama setahun, pada tahun kedua selama enam tahun diisi oleh Sayyid Husain Fadhlullah dengan judul Kalimatuna (pesan kami). Artikel-artikel kedua ini akhirnya dibukukan dengan judul Qadhayana ‘ala Dhau’il Islam.

Kerjasama antara Sayyid Muhammad Husain Fadhullah dan Syahid Muhammad Baqir as-Shadr ini tidak hanya terfokus pada bidang kebudayaan. Akan tetapi, hal ini juga meliputi bidang politik yang melahirkan sebuah partai revolusioner “Gerakan Islam Iraq” yang akhirnya berganti nama menjadi “Hizb ad-Da’wah al-Islamiyah”. Pada saat itu para pengikut revolusioner Iraq masih belum memiliki sebuah partai politik yang tersusun secara rapi.

Pada tahun 1387 H/ 1966 M, berdasarkan permintaan kebanyakan para pengikutnya di libanon dan perintah ayah beliau yang ketika itu adalah seorang Marja’ di sana, Husain Fadhlullah kembali ke Libanon. Hingga kemudian ia berhasil mendidik para kaum muda berdasarkan ajaran-ajaran Al-Quran yang mulia. Kegiatan-kegiatan-kegiatannya hingga kini telah meluas meliputi bidang-bidang politik, kebudayaan, pendidikan serta keagamaan. Ia termasuk salah seorang ulama yang terbilang paling aktif dalam menyebarkan agama Islam.

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah disamping memiliki kedudukan yang khusus di kalangan ulama para pemikir, ia tidak pernah lalai membimbing masyarakat umum dan tidak pernah lupa menjalankan etika-etika Islam di tengah kehidupan mereka. Yang perlu diperhatikan di sini adalah kaedah yang digunakannya dalam mendidik para generasi muda khususnya para muslimah sebagai penentu masa depan sebuah masyarakat. Husain Fadhlullah meyakini bahwa Islam harus diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat dalam bentuk teori pemikiran yang dapat mempengaruhi logika dan cara berpikir manusia. Disamping itu, ia juga diterjemahkan dalam bentuk perasaan, naluri dan cinta yang dapat menusuk kalbu. Dan ketika kita boleh melakukan semua itu, niscaya kita akan dapat merealisasikan  kedua faktor tersebut (faktor pemikiran dan naluri) di dalam kepribadian, perilaku dan kehidupan manusia. Dengan kata lain, teori pemikiran Islam itu dapat kita ubah ke dalam bentuk amalan.

Salah satu bentuk kecintaan beliau terhadap Islam dan tanda kecemburuan beliau terhadap non Islam yang sangat tinggi, dilihat pada fatwa terakhirnya sebelum meninggal dunia ialah peringatan kepada kaum muslimin tentang adanya judaisasi atau pengyahudian daerah – daerah Islam saat ini terutama di Palestina dia pun meminta perhatian penuh dari seluruh kaum muslimin tentang adanya proses judaisasi ini. Kecintaan beliau terhadap peninggalan – peninggalan Islam ini mulai tampak sejak masa kecil. 

Pada usia 12 tahun beliau mengikuti perlombaan menulis puisi tentang Imam Ali bin Abi Thalib kw yang melibatkan para penyair ulama di Najaf, Sayyid Husain Fadhlullah adalah an-Najafi, hampir seluruh ulama besar yang mempengaruhi dunia Islam saat ini ialah an-Najafi termasuk Ayatullah Khomeini. Dan di Najaf pada waktu itu Sayyid Husain Fadhlullah kecil mengungguli ulama – ulama penyair besar Najaf. Bahkan salah satu artikel di internet menjulukinya the “Prodigy of Najaf” atau anak ajaib nan jenius dari Najaf. Ketika beliau meninggalkan Najaf terkenal ucapan orang. “Setiap orang yang meninggalkan Najaf akan pergi dengan perasaan kehilangan Najaf namun saat beliau meninggalkan Najaf, Najaflah yang merasakan kehilangan.” 

Kemudian Beliau bergabung dengan Sayyid Mousa Sadr, beliau tumbuh besar dan berkembang dibawah bimbingan Sayyid Mousa Sadr namun kemudian tersiar kabar bahwa Sayyid Mousa Sadr menghilang di Libya, terakhir diberitakan bahwa seseorang mengakui perihal masih hidupnya Sayyid Mousa Sadr di dalam sebuah penjara di Libya. Kemudian Sayyid Husain Fadhlullah melanjutkan perjuangan Sayyid Mousa Sadr membidani dan melahirkan, serta menjadi tokoh spiritual dibalik perjuangan Hizbullah, walau berulang kali beliau menjelaskan pada khalayak bahwa ia bukanlah bagian dari Hizbullah. Belakangan Hizbullah sedikit membuat jarak dengan Sayyid Hussein Fadhlullah karena kedekatannya dengan Iran. Bahkan mengenai Hizbullah, 70% umat kristiani di Libanon memihak Hizbullah, dan 40% ummat Sunni di Libanon memihak Hizbullah, artinya lebih banyak umat kristiani yang memihak Hizbullah ketimbang orang – orang dari Ahlussunnah. Tapi banyak pecinta Sayyid Husain Fadhlullah dari kalangan Ahlussunnah sekalipun karena pandangannya yang tadi, “Pembawa panji – panji persatuan Islam,” selain “Pemimpin spiritual umat Islam” yang meninggalkan kepada kita jejak – jejaknya. “Jejak kakinya dalam pasiran masa.” Dan mudah – mudahan Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk dapat melangkahkan kaki kita pada jejak – jejak Sayyid Husain Fadhlullah yang beliau tinggalkan kepada kita.

Salah satu daripada program-program terpenting Husain Fadhlullah dalam bidang pendidikan adalah membangun sembilan pusat pendidikan progresif yang meliputi sekolah dan pusat-pusat sosial yang memiliki sekitar enam belas ribu pelajar. Sebahagian daripada lembaga tersebut telah dikhususkan untuk para pelajar wanita. Seperti sekolah Khadijah al-Kubra yang memiliki dua ribu pelajar. Sebahagian mereka adalah anak-anak yatim dan puteri-puteri para syuhada. Mereka tinggal di sekolah-sekolah tersebut secara kekal.

Di samping itu juga, Husain Fadhlullah dan gerakannya turut membangunkan enam pusat pendidikan secara cuma-cuma yang lengkap, bagi menampung dan mendidik anak-anak yatim. Pada tingkat sekolah dasar, Pusat pendidikan ini sebagaimana layaknya sebuah sekolah. Malah, Husain Fadhlullah turut mendirikan Markaz Besar Islam Beirut yang meliputi dua masjid Imam Hasan dan Imam Husain, serta sebuah balai pertemuan yang diberi nama Fathimah az-Zahra. Selain daripada itu, gerakan Husain Fadhlullah pernah membina pusat-pusat kebudayaan di berbagai penjuru kota Lubnan, seperti pusat kebudayaan Imam Hasan al-Askari, masjid Ahlul Bait di Biqa’ dan pusat kebudayaan Imam Ali di Jalala, serta pusat kebudayaan Ahlul Bait di Tripoli dan masjid Imam as-Shadiq di Hermel.

Memang, peranan politik Husain Fadhlullah dan pembelaannya terhadap Revolusi Islam memiliki pengaruh yang sangat besar di kawasan timur tengah, dan beliau selalu dikenang sebagai pemimpin ruhani Hizbullah. Bahkan, regim Zionisme telah melakukan tiga kali usaha untuk membunuhnya. Akan tetapi, dua kali mereka mengalami kegagalan dan selebihnya mereka hanya mampu mencederai kakinya. Bekas peluru tersebut hingga sekarang masih dapat dilihat dengan jelas.

Di kalangan masyarakat Islam, terutama di Lubnan kala itu, Ayatullah Sayyid Husain Fadhlullah, telah dianggap sebagai salah seorang marja’ taklid terbesar. Malah, beragamnya penulisan beliau telah membuktikan keutuhan keilmuan dan amalannya. Di antara buku yang pernah dihasilkannya ialah: Min Wahy al-Qur’an, tafsir al-Qur’an sebanyak 25 jilid, al-Hiwar fi Dhau’il Islam, al-Masyru’ al-Islami al-Hadhari., Fiqh al-Hayah, Rasalah fi ar-Radha’, al-Yamin wa al-’ahd wa Nadzr, dan banyak lagi.

Beliau pernah berdoa  sewaktu Iran sedang mengalami perang 9 tahun dan boikot dari Amerika dalam suasana yang sangat mendesak, lalu Sayyid Husain Fadhlullah berdoa dengan doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW pada perang Badar ketika sekelompok kecil sahabat Rasulullah SAW berhadapan dengan ribuan lawannya. Pada saat itu Rasulullah SAW sujud di padang Badar dan berkata, “Tuhanku, jika Engkau binasakan kelompok kecil ini.. Engkau tidak akan disembah lagi dibumi ini selama – lamanya.” Dan Sayyid Husain Fadhlullah pun berdoa, “Ya Tuhan, jika Engkau binasakan negeri Iran ini, Engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini selama – lamanya.” Dan setiap doa yang beliau panjatkan diucapkan begitu menyentuh. Semoga beliau dikumpulkan oleh Allah SWT bersama arwah para kakeknya yang suci.

Menurut kantor Berita FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam), Sayyid Husain Fadhlullah pernah menyatakan : Hari ini musuh-musuh Islam berusaha untuk menjadikan isu perselisihan dan perbedaan mazhab sebagai agenda utama mereka lalu mereka dengan seenaknya menguras aset dan kekayaan dunia Islam dan sumber daya manusianya. Ulama-ulama dunia Islam dapat kiranya bersatu sehingga mereka dapat berkhidmat kepada dunia Islam, Kita tidak boleh takut akan kesulitan. Sebab, setiap bertambah sulit maka tekad dan kemauan kita dalam mewujudkan tujuan kita pun semakin membara dan membaja, dan tekanan musuh tidak akan pernah mengendurkan semangat kita dan tidak pula membuat kita putus asa, tegas beliau.

Mengutip pernyataan dari Bapak Jalaluddin Rakhmat “Saya teringat ketika beliau dirawat di rumah sakit karena mata beliau yang lemah akibat terlalu banyak membaca, dalam sebuah artikel di Libanon disebutkan, “Marilah kita doakan mata yang senantiasa berlinang airmata di keheningan malam, serta selalu terbelalak ketika menyaksikan kezaliman.” Kata–kata itu pula yang saya sampaikan kepada keluarga Sayyid Husain Fadhlullah sekaligus mencatat salah satu ciri utama dari beliau yaitu matanya yang selalu khusyuk di keheningan malam, serta selalu terbelalak dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Bukankah Nabi SAW bersabda, “Ada dua pasang mata yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka, sepasang mata yang selalu menangis di keheningan malam, dan sepasang mata yang terus bangun dalam membela agama Allah.” Berbahagialah Sayyid Husain Fadhlullah karena kedua pasang mata itu telah beliau miliki.

Dan setiap kali ada Ulama besar yang meninggal dunia. Seperti ucapan Imam Khomeini dengan mengutip Hadis Nabi SAW, “Satu bongkah batu dari benteng Islam telah roboh, dan diperlukan seribu tahun lagi untuk menutup bongkah – bongkah yang telah roboh itu kembali.” Dan kita juga akan mengatakan hal yang sama setelah Sayyid Husain Fadhlullah meninggal dunia. Semoga Tuhan merahmati amalannya!

“Sekiranya tidak ada rasa damai bagi Islam dan kaum muslimin, maka jangan biarkan juga ada rasa damai bagi selain Islam.”

Beliau juga berkata, “Kepada musuh – musuh yang tidak memberikan rasa tenteram kepada kaum muslimin. Guncangkan bumi dibawah telapak kaki mereka.”

(Sayyid Husain Fadhlullah)

————————————–

Iklan
  1. Salam atas beliau. Semoga semangat dan cita-cita beliau ada penerusnya. Islam membutuhkan cahaya seperti beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: