RISALAH PANDANGAN DUNIA (11)

Oleh : Muhammad Nur*

Materialisme

Kaum materialisme menerima persoalan keteraturan yang berlaku pada fenomena-fenomena alam termasuk persoalan sebab efisien. Akan tetapi kaum materialisme menolak sebab final. Mereka menolak keteraturan alam ini memiliki tujuan, bahkan mereka meyakini alam ini terjadi secara kebetulan. Tidak ada pengatur yang memiliki kesadaran yang meletakkan tiap-tiap bagian dari rangkaian ini pada tempatnya masing-masing dengan satu tujuan tertentu.

Analisa Teori ‘Kebetulan’

Jika kebetulan dimaknai sebagai munculnya akibat tanpa adanya sebab, maka kebetulan tersebut tertolak dengan jelas (badihi). Akan tetapi pada umumnya istilah kebetulan ini digunakan pada dua atau beberapa sebab efisien tanpa adanya maksud serta perkiraan sebelumnya yang memberikan tujuan tertentu, sehingga dikatakan ; secara kebetulan tujuan tersebut tercapai melalui sebab-sebab efisien. Contohnya terkadang orang buta mungkin saja tidak melihat angka halaman yang tertera pada buku namun dapat membuka halaman secara teratur, atau mungkin saja orang buta huruf dapat menyusun halamannya secara berurutan, nah dalam hal ini kita mengatakan secara kebutulan saja mereka menyusun halaman buku tersebut secara berurutan.

Berdasarkan probabillitas ini, setiap orang tersebut di atas memilih salah satu di antara dua  kertas yang berurutan, maka kemungkinannya memilih kertas dengan halaman yang berurutan adalah ½. Namun jika jumlah halamannya kita tambahkan maka kemungkinannya akan semakin kecil, misalnya jika jumlah halamannya menjadi 3 maka kemungkinan urutan 1, 2, 3 secara teratur menjadi 1/6. Begitupun selanjutnya setiap halamannya kita tambahkan maka kemungkinan yang akan didapatkan pun akan semakin kecil.

Dengan memperhatikan uraian di atas maka kita akan mempertanyakan asumsi yang diyakini oleh kaum materialisme bahwa bagaimana mungkin seluruh keberadaan alam yang tak terhingga ini  – tanpa adanya pengatur alam ini yang memiliki kesadaran – terdapat keteraturan yang begitu detail pada tempatnya masing-masing terjadi  dengan sendirinya, atau bagaimana mungkin materi yang tanpa memiliki kesadaran dan persepsi mampu membuat keteraturan yang begitu detail dan meletakkan bagian-bagian tersebut pada tempatnya?

Betul bahwa bagian-bagian alam eksistensi dari sisi jumlah secara logis terbatas dan berdasarkan hitungan kemungkinan-kemungkinan banyaknya probabilitas akan bagian-bagian ini tersusun secara kebetulan tidak akan sampai  pada bilangan nol, namun senantiasa bergerak ke arah nol. Akan tetapi harus diyakini bahwa karena bagian-bagian rangkapan ketaraturan eksistensi sangat banyak maka secara logis kemungkinan terciptanya keteraturan yang sangat detail seperti ini secara kebetulan sangatlah lemah dan dekat kepada nol. Oleh karena itu tidak satupun yang berakal sehat yang mampu menerima hal tersebut, meskipun akal kita mengatakan hal tersebut tidak mustahil terjadi. Disinilah dikatakan bahwa walaupun argumentasi keteraturan bukan murni argumentasi akal, akan tetapi terbilang sebagai argumentasi rasional. Berdasarkan hal tersebut dapat  menjadi perantara dan dapat digunakan dalam pembuktian Tuhan.

Sekarang kita dapat menyimpulkan di bawah ini apa yang telah kami sampaikan pada pembahasan  argumentasi keteraturan :

  1. tidak dapat diingkari bahwa keteraturan yang sangat rinci berlaku dalam seluruh alam eksistensi, dimana berdasarkan hal tersebut dan dengan meyakini keteraturan yang sangat rinci yang senantiasa berlangsung saat ini dapat menjadi landasan dalam memperkirakan sebagian besar kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena di masa yang akan datang.
  2. Keteraturan bagian-bagian alam itu sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keteraturan itu sendiri, bahkan merupakan perkara yang diabstraksikan dari qualitas hubungan kesesuaiannya dalam hubungannya dengan tujuan keseluruhan rangkaian bagian-bagian eksistensi.
  3. Keteraturan secara detail yang berlaku pada alam eksistensi ini menunjukkan akan keberadaan sang Khalik dan Pengatur yang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang telah menciptakan keteraturan ini di antara keberadaan-keberadaan alam semesta dengan tujuan dan maksud tertentu.
  4. Materi yang tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran tidak mungkin menciptakan keteraturan yang begitu detail ini di antara keberadaan-keberadaan yang ada.
  5. Keteraturan yang terjadi pada alam semesta ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan dan tidak seorang pun yang memiliki akal sehat menerima anggapan bahwa alam semesta ini terjadi dengan sendirinya.
  6. Pada akhirnya, dalam menjelaskan persoalan keteraturan yang berjalan pada alam semesta ini kita dapat mengatakan ; bahwa keberadaan non-materi yang memiliki kesadaran dan kemampuan dalam persepsi (idrak) dan pemahaman itulah yang menjadi Pencipta bagi fenomena-fenomena alam semesta ini yang biasa juga disebut dengan sebab efisien. Dialah yang menciptakan keteraturan yang begitu detail.

Argumentasi Huduts dan Mumkin

Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan persoalan kausalitas pada bab ‘timbangan kebutuhan akibat pada sebab’. Dikatakan bahwa sebagian teolog meyakini bahwa timbangan kebutuhan akibat terhadap sebab pada huduts. Mereka mengatakan bahwa alam semesta ini didahului oleh ketiadaan dan kemudian muncul menjadi ada (huduts), karena itu alam ini butuh pada Muhdits (yang mengeluarkan dia dari ketiadaan menjadi ada) yang menciptakan alam semesta tersebut.

Para Filosof berseberangan dengan pandangan teolog yang meyakini bahwa timbangan kebutuhan akibat terhadap sebab adalah pada kondisi wujudnya yang bergantung secara totalitas. Asumsi akan qadim zamani (keabadian secara waktu) akibat, juga tidak akan menafikan kebutuhan akibat terhadap sebab. Dalam kata lain, keabadian secara waktu akan alam semesta ini tetap saja membutuhkan Pencipta dan kebutuhannya kepada Pencipta tidak akan pernah hilang. Oleh karena itu kehudutsan alam semesta ini bukan menjadi syarat kebutuhan pada Pencipta, bahkan jika diasumsikan alam semesta ini dari sisi waktu adalah abadi, namun alam semesta ini tetap saja butuh pada sebab yang menciptakan dirinya. Alasannya karena timbangan kebutuhan  alam semesta pada sebab terletak pada keberadaan alam semesta ini yang bergantung secara totalitas pada Pencipta.

Dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan argumentasi ‘mumkinnya alam’ menurut para Filosof. Jika kita lihat secara universal keberadaan-keberadaan alam eksternal dan alam material , kita akan melihat beberapa karekteristik yang berlaku pada seluruh fenomena-fenomena alam materi. Diantaranya ;

  1. Dibatasi oleh Ruang dan Waktu

Apa yang didapatkan melalui persepsi indrawi, memiliki karekteristik ruang dan waktu tertentu. Maksudnya bahwa setiap wujud di alam materi senantiasa memenuhi ruang tertentu dan tentunya terjadi pada waktu tertentu. Sebagaimana pada pembahasan sebelumnya dijelaskan bahwa karekteristik ini menunjukkan kebutuhan dan kebergantungan keberadaan-keberadaan materi.

  1. Mengalami Perubahan

Tak diragukan lagi bahwa keberadaan-keberadaan alam materi tidak ada yang memiliki bentuk yang tetap dan sama sekali tidak akan pernah abadi. Bahkan seluruh keberadaan-keberadaan materi terkadang berubah dengan mengalami perkembangan atau berubah menuju kehancuran. Oleh karena itu perubahan merupakan salah satu karekteristik yang berlaku secara umum bagi keberadaan-keberadaan alam materi.

  1. Bergantung

Bergantung pada syarat-syarat merupakan salah satu karekteristik keberadaan-keberadaan materi. Sebagai contoh keberadaan seorang anak bergantung pada keberadaan orang  tua (ayah dan ibu). Keberadaan hujan bergantung pada keberadaan awan, dst. Jika kita cermati tiap-tiap dari alam materi maka kita akan melihat masing-masing dari keberadaan tersebut memiliki keterkaitan dengan syarat-syarat dan kondisi-kondisi tertentu. Keberadaan mereka tidak akan mewujud jika syarat-syarat itu pun tidak ada.

  1. Kebutuhan

karekteristik ke empat ini dihasilkan dari ketiga karekteristik sebelumnya. Karekteristik ini meliputi seluruh keberadaan alam semesta dan alam materi. Karekteristik kebutuhan  kepada faktor di luar dirinya menunjukkan dirinya butuh sesuatu di luar dirinya yang akan memenuhi kebutuhannya dan memberikan keberadaan padanya.

Dengan memperhatikan berbagai karekteristik di atas maka kita akan menyimpulkan bahwa seluruh keberadaan ini butuh pada sebab di luar dirinya yang akan memberikan keberadaan pada dirinya. Dalam kata lain semuanya adalah mumkin wujud. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya  bahwa seluruh rangkaian mumkin wujud ini akan berakhir pada Wajib Wujud sebagai sumber segala keberadaan. Wajib Wujud ini tidak memiliki karekteristik sebagaimana yang dimiliki oleh wujud mumkin dan keberadaan dirinya bersifat independen dan tidak butuh pada yang lain.

Argumentasi Eksperimentasi

‌‌Berdasarkan temuan-temuan yang dihasilkan oleh para ilmuan Saintis hari ini menunjukkan  bahwa unsur-unsur dapat berubah dari satu unsur kepada unsur lainnya. Perubahan ini terkadang terjadi secara alamiah dan juga terkadang melalui rekayasa yang biasa dilakukan di laboratorium.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada fenomena-fenomena ini menunjukkan bahwa tak satupun dari bentuk-bentuk unsur  tersebut yang berada dalam materi menjadi bagian zati (yang tak terpisahkan) bagi materi. Karena jika bentuk unsur menjadi zati bagi materi maka unsur  tersebut tidak mungkin dinafikan pada materi, karena mustahil menafikan zati dari zat dirinya.

Persoalan ini bahkan juga berlaku bagi sifat ke-materi-an. Maksudnya bahwa materi itu sendiri – sebagaimana yang telah dibuktikan dalam ilmu eksprementasi – dapat berubah menjadi energi dan energi pun dapat berubah menjadi materi. Hal ini menunjukkan bahwa sifat ke-materi-an itu sendiri  yang disebut sebagai materi oleh para ilmuan saintis pun diyakini bukan menjadi zati bagi materi, karena dapat dinafikan dan dipisahkan. Sebagaimana energi juga bukan zati bagi dirinya.  Oleh karena itu kedua sifat tersebut – kematerian dan ke-energi-an – tidak bersifat zati, sedangkan perkara yang bukan zati butuh pada sebab diluar zat dirinya yang akan memberikan sifat tersebut pada dirinya. Dari hal ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa materi dan energi juga butuh pada sebab yang  akan memberikan keberadaan pada dirinya dan juga tidak mungkin dia tercipta dengan sendirinya tanpa ada sebab, sebagaimana tidak mungkin juga dia memunculkan keberadaan dirinya melalui dirinya sendiri.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: