Kenabian dan Kesempurnaan Manusia (2)

Oleh : Ruhullah Syams

Pengetahuan Tentang Manusia

Tidak bisa dipungkiri semua manusia menginginkan kebahagiaan dan keabadian, dan sebaliknya manusia membenci kesengsaraan dan kemusnahan. Permasalahannya adalah apakah kebahagiaan itu hanya  ada dan tersedia di dunia? Bukankah kita menyaksikan kesenangan dunia ini bercampur dengan kesedihan? Dan bukankah manusia akan mati dan jasadnya akan hancur? Yakni dunia ini bukan tempat keabadian dan kebahagiaan hakiki bagi manusia. Lantas adakah alam lain untuk meraih itu semua? Jika ada dimensi yang mana dari bagian manusia yang dapat bersamanya dan merasakannya?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dibutuhkan jawaban dan kajian yang mendalam tentang diri manusia dan dimensi-dimensi yang menyusun diri manusia. Siapakah aku? Apakah aku ini terbatas atas susunan materi saja, ataukah ada hal lain yang menyusun aku yang bukan materi? Yang jelas untuk mendapatkan jalan ke alam yang tidak fana tersebut tidak mungkin dengan jasad ini, sebab sebagaimana kita saksikan jasad ini hancur dan fana. Oleh karena itu dibutuhkan dimensi lain dari diri ini untuk menuju ke alam sana . Dari sini muncul pertanyaan lain apakah benar manusia tersusun dari ruh dan jasad? Dan apakah ruh itu? Serta benarkah bahwa jika manusia ingin meraih kebahagiaan hakiki tidak cukup hanya menfasilitasi kebutuhan-kebutuhan fisik yang materi ini, tetapi kebutuhan-kebutuhan maknawi juga sangat dibutuhkan, bahkan kebutuhan maknawi ini lebih prinsipal dibanding kebutuhan fisik, karena inilah yang akan menjadi bekal pada perjalanan manusia ke alam abadi? Pertanyaan-pertanyaan ini, dan pertanyaan-pertanyaan semisalnya yang berhubungan dengan hakikat manusia mempunyai arti yang sangat penting dan bernilai dalam masalah pandangan dunia, dan memecahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat darurat untuk suatu pandangan dunia, sebab ini nantinya akan berakhir pada masalah ma’ad (eskatologi) yang merupakan salah satu yang sangat asas dalam pandangan dunia agama.      

 

Pengetahuan Tentang Jalan Benar

Pertanyaan lain yang berhubungan dengan fitrah manusia yang menginginkan kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki adalah jalan apa yang dapat menyampaikan manusia pada kesempurnaan dan kebahagiaan tersebut? Dan sistem serta aturan-aturan kehidupan yang bagaimana yang benar yang pada akhirnya menyampaikan manusia pada tujuan hakikinya? Pertanyaan-pertanyaan ini juga sama dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya memiliki nilai dan arti yang sangat penting untuk dijawab, dengan syarat masalah yang  kedua dari pandangan dunia sudah dibuktikan keberadaan dan kebenarannya. Yakni kebahagiaan hakiki dan abadi manusia dapat terjadi di alam lain dan dunia ini hanya sarana mendapatkan bekal untuk alam tersebut. Oleh sebab itu di dunia ini dibutuhkan suatu sistem dan jadwal kehidupan yang benar yang mampu mengarahkan dan memberi petunjuk  manusia selama manusia hidup di dunia ini. Di sini menjadi jelaslah kebutuhan dan kedarurian  masalah pengetahuan terhadap jalan benar (jalan lurus) sebagai salah satu masalah yang fundamen dalam suatu pandangan dunia.

Pembahasan tentang pengetahuan tentang jalan ini juga memiliki arti penting sebagai penghubung antara mabda dan maad manusia (dari mana  dan hendak kemana manusia). Yakni berkenaan sejauh mana Tuhan pencipta memberikan hidayah dan bimbingan pada manusia dalam mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan. Dari pembahasan ini juga dapat ditentukan apakah manusia untuk mencapai tujuannya membutuhkan sistem dan undang-undang dari Tuhan atau cukup manusia sendiri yang membuatnya? Dan dari memecahkan masalah pengetahuan tentang jalan inilah  yang akan menghubungkan rantai pandangan dunia   dan ideologi, sebab dari masalah ini membawa kita pada kebutuhan terhadap Rasul Tuhan dan Nabi Tuhan yang membawa sistem dan undang-undang yang berisi apa yang harus dan tidak boleh manusia lakukan dalam kehidupan di alam dunia ini.

 

Jalan Nubuwah

Nubuwah (kenabian) adalah pemberian dan karunia Ilahi kepada hamba-Nya yang telah mencapai insan kamil secara akal nazari (teoritis) dan akal amali (praktis) . Dan tugas dari seorang Nabi memberi petunjuk pada manusia ke jalan Ilahi dengan mengangkat mereka dari alam kegelapan dan kebodohan kepada jalan cahaya dan akal makrifat.

Dalam kitab-kitab kalam dan filsafat Islam senantiasa dimuat argumen-argumen kedarurian kenabian dalam bentuk rumusan argumen yang bermacam-macam, yang pada intinya membuktikan keniscayaan adanya Nabi yang diutus Tuhan untuk membimbing umat manusia dalam meraih kesempurnaan hakikat insaniahnya.

Tidak diragukan bahwa fitrah manusia mencintai keteraturan dan keharmonisan. Tapi manusia disamping sebagai makhluk individu juga  sebagai makhluk masyarakat yang  di dalamnya tersusun individu-individu lainnya. Dan dalam masyarakat ini terdapat bermacam-macam perbedaan kecenderungan, kebutuhan, dan kepentingan di antara anggota-anggotanya, yang mana perbedaan tersebut dapat menjadi penyebab  ketidakteraturan didalam sistem masyarakat. Untuk terciptanya keteraturan dan keharmonisan dalam masyarakat, sebagaimana masyarakat membutuhkan individu-individu sebagai bangunan fisiknya, ia juga membutuhkan undang-undang sebagai perekat dan bentuk bagi bangunan tersebut, bahkan ia juga membutuhkan pembuat undang-undang yang merumuskan bentuk aturan yang paling tepat untuk masyarakat. Sebab undang-undang yang tepat bagi manusia adalah undang-undang yang memenuhi seluruh dimensi kebutuhan dan kepentingannya secara sempurna dalam menjaga keharmonisan wujud individunya dan wujud masyarakatnya, maka undang-undang tersebut haruslah dibuat oleh wujud yang mengetahui seluruh aspek dan dimensi kebutuhan serta kepentingan manusia. Singkat kata harus datang dari pencipta manusia yang mengetahui seluk beluk hakikat dan esensialitas manusia, dan yang terjaga dari kesalahan keberpihakan pada salah satu anggota individu atau golongan masyarakat. Sebab jika manusia yang membuat undang-undang untuk seluruh manusia, maka selain mereka tidak mengetahui hakikat dan esensialitas manusia secara sempurna, mereka juga tidak terjaga dari kesalahan keberpihakan pada salah satu kepentingan atau kebutuhan yang terdapat pada masyarakat manusia, sehingga natijahnya/kesimpulannya mereka tidak akan pernah dapat melahirkan aturan yang berlaku adil bagi seluruh masyarakat manusia. Oleh sebab itu undang-undang harus datang dari Tuhan dalam bentuk wahyu Tuhan, dan wahyu tersebut harus ada yang menerimanya yang secara hakikat mempunyai kesinkhiyatan (kesesuaian) dengan wahyu Tuhan tersebut, dan itu adalah Nabi dan Rasul Tuhan (manusia sempurna pilihan) yang diutus-Nya untuk membimbing dan menyampaikan manusia dalam meraih kesempurnaan wujud individunya dan kesempurnaan wujud masyarakatnya (yakni terciptanya keteraturan, keharmonisan, dan keadilan dalam masyarakat).    

Ayatullah Jawad Amuli dalam kitab Intizâr-e Basyar az Din dalam menguraikan pembuktian kedarurian (keniscayaan) turunnya wahyu Tuhan dan pengutusan Nabi untuk menyampaikan manusia pada kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan hakiki menyebutkannya dalam bentuk kaidah logikal sebagai berikut:

  1. Pencipta manusia adalah Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Bijak, di mana manusia diciptakan-Nya untuk tujuan tinggi dan mulia;
  2. Manusia adalah suatu hakikat yang abadi dan ia harus bergerak di jalan “Shirat Mustaqim” menuju keabadian, sehingga dengan  jalan ini ia dapat menjamin kebahagiaan abadinya, dan jika di jalan ini ia melakukan kesalahan (memilih jalan yang salah) maka ia terpaksa mendapatkan penderitaan dan tidak mendapatkan bagian dari kebahagiaan abadi; 
  3. Manusia adalah ciptaan Tuhan, karena itu hanya Dia yang mengetahui secara sempurna hakikat manusia dan dimensi-dimensi eksistensinya serta kebutuhan-kebutuhannya, dan kecuali Dia tidak ada yang mengetahui hakikat manusia, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan penantian-penantian riilnya;
  4. Sebab hanya Tuhan yang mengetahui hakikat manusia dan dimensi-dimensi eksistensinya serta kebutuhan-kebutuhannya, dan tidak ada satupun maujud kecuali Dia yang sanggup memenuhi penantian-penantian manusia, dan jikapun manusia ingin di jalan ini merealisasikannya, karena ia tidak maksum (terpelihara dari kesalahan) maka ia pasti tergelincir dan terjatuh pada kesalahan, dan dengan menyediakan medan-medan kejatuhan  bagi manusia yang menjadi penyebab ia tidak dapat meraih bagian kebahagiaan abadi, dan kejatuhan serta tidak dapat memperoleh bagian kebahagiaan abadi bagi manusia tidak sesuai dengan inayah dan hikmah Tuhan, karena itu Tuhan sendiri  yang menyusun program hidayah manusia dengan mengutus pembawa wahyu yang maksum supaya kitab suci tersebut berada dalam ikhtiar manusia (dengan selamat dan sempurna), dan manusia dengan menjalankan program Ilahi tersebut dapat terjaga dari bentuk kelalaian, kelupaan, dan kesalahan  hidup, sehingga dengan demikian ia dapat sampai pada kebahagiaan hakiki dan tujuan akhir, yakni pertemuan dengan Tuhan dalam kondisi pertemuan dengan-Nya dipenuhi kebahagiaan abadi.

Dari paparan dan argumen di atas maka jelaslah bahwa manusia dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki, tidak terlepas dari makrifat iman, amal dan perbuatan yang benar (amal saleh), sebab terdapat hubungan antara makrifat iman dan amal perbuatan manusia dalam kehidupannya dengan kebahagiaan abadinya. Oleh karena itu manusia yang benar cara hidupnya, yang ingin mencapai kesempurnaan insaniahnya dan kebahagiaan hakikinya adalah manusia yang mengikuti program Ilahi dengan perantaraan kitab suci-Nya , sunnah dan sirah Nabi-Nya, yang semuanya itu diajarkan dan dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya, serta Nabi dan Rasul-Nya terakhir Muhammad SAW. Firman Allah SWT : “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-kitab dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah : 151) , “Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan nyata.” (QS. Al-Jum’ah : 2)  

Menukil dari kitab Tajalli A’azam disebutkan bahwa Shainuddin Ali Turkah (Ibnu Turkah) berkata: Dalam sair suluk shuri dan maknawi, setiap Nabi as dinisbahkan pada kaumnya adalah  pembimbing dan penunjuk jalan bagi pesuluk dan pencari hakikat, tetapi Rasulullah SAW dikarenakan beliau jam’iyyat (terhimpun seluruh sifat dan asma Tuhan secara sempurna dan harmoni) dan khatamiyyat (Nabi dan Rasul penutup dan terakhir) maka beliau adalah pemimpin dan pembimbing mutlak, tidak terkhususkan untuk satu kaum: “Dan  Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya”(QS. Saba :28), dan beliau ditinjau dari dimensi sebagai tujuan akhir dalam sistem eksistensi maka beliau adalah tingkatan dan urutan pertama: “Sekiranya bukan karena kamu (Muhammad SAW), niscaya tidaklah Aku ciptakan aflâk” (hadits), dan ditinjau dari segi lahir (badan materi) maka ia adalah Nabi Pamungkas, yakni kedatangannya sesudah Nabi-Nabi lain dan tidak ada lagi Nabi sesudahnya (laa Nabiy ba’dî).

Rasulullah Muhammad SAW adalah pemimpin seluruh kafilah suluk dan penapak qalbu. Seluruh qalbu dan jiwa semuanya dalam adab-adab merealisasikan  syariat, thariqat, dan hakikat, mesti mengikutinya. Sebab syariat, tariqat, dan hakikat secara asalah (asas dan prinsip) adalah terkhususkan baginya, sebagaimana dia bersabda: “Syariat adalah ucapan-ucapanku,  dan tariqat adalah keadaan-keadaanku, serta hakikat adalah kondisiku”. Dan untuk meninjau betapa sempurna dan tingginya kedudukan beliau di sisi Tuhan, bisa kita lihat lewat ketinggian tingkatan mikrajnya, yakni maqam jam’ul jam’i, di mana maqam ini adalah puncak tingkatan kemanusiaan yang tidak ada satupun Nabi dan Rasul  mendapat jalan sampai pada maqam tersebut. Dan tingkatan ini adalah akhir kenaikan manusia yang tidak ada lagi di atasnya dan di akhirnya. Tingkatan ini juga disebut maqam mahmud, di mana merupakan mikraj  maknawi dan wusul hakiki, yang juga perjalanan maqam au adnaa, sebagaimana firman Allah SWT: “Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS. An-Najm : 7-9)  

Dengan demikian, manusia dalam rangka mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan hakikinya, supaya tidak terjebak pada eksprimen hidup yang memerlukan waktu sangat lama dan pengorbanan kesalahan yang sangat besar (yang mana kesalahan ini hasilnya adalah kesengsaraan abadi di alam akhirat) maka sesuai akal, wahyu, dan irfan, mereka mesti mengikuti jalan para Nabi dan Rasul Tuhan yang merupakan manusia sempurna pilihan Allah SWT. Oleh karena itu, Tuhan demi menyampaikan  manusia pada kesempurnaan dan kebahagiaan abadinya maka sesuai hikmah-Nya memberikan program hidayah kepada mereka lewat perantara para Nabi dan Rasul-Nya, dan ini adalah bentuk karunia terbesar Tuhan bagi manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: