Hermeneutik Irfani; Menembus Batas Eksoterik Teks (2)

Oleh : Akmal Kamil

Irfan dan Hermeneutik

Tafsir irfani terkadang digunakan sebagai metode penafsiran simbolik dan bahkan isyarah di samping tafsir filosofis. Kedua pendekatan ini merupakan upaya yang dilakukan oleh para penafsir Islam dalam memahami teks-teks revelasional yang coraknya berbeda dengan kebanyakan penafsiran secara resmi dan umum. Kedua model penafsiran ini tidak mengurangi nilai penafsiran, melainkan sebuah pendekatan yang berbeda ketika berhadapan dengan al-Qur’an. Dalam sebuah ungkapan para urafa dan filosof merupakan para pendahulu yang melakukan pendekatan esoterik atau penafsiran non-official terhadap al-Qur’an.  Irfan dan hermeneutik adalah dua hal yang berkembang dan melaju secara progressif dalam pemikiran Islam.

Berbicara tentang irfan dan hermeneutik maka kita akan banyak membincangkan Ibnu Arabi tokoh kaliber dalam dunia ini. Tokoh yang acap-kali dituding kafir karena praktik takwil yang dilakukannya.

Terkait dengan masalah takwil, Ibnu Arabi pada awal-awal kitab tafsirnya (yang konon dinisbahkan kepadanya) menulis: “Barang siapa yang menafsirkan berdasarkan pendapatnya (tafsir birra’y) maka ia telah kafir. Adapun takwil, ia tidak (dapat) ditinggalkan lantaran takwil berbeda dan beragam sesuai dengan kondisi pendengar dan masanya yang ia habiskan untuk suluk dan berbeda derajatnya. Setiap saat ia menanjak (menyempurna) dari tingkatannya maka akan dibukakan baginya pemahaman baru dan dikabarkan kepadanya sublimitas makna baru.

Dari poin ini kita dapat melihat makna takwil dalam pandangan Ibnu Arabi. Ia menggunakan redaksi bahwa “kapan saja ia menanjak (menyempurna) dari tingkatannya maka akan dibukakan baginya pemahaman baru, sublimitas baru atas makna. Posisi takwil optimistik dalam lisan Ibnu Arabi merupakan ilham dari hadis tujuh tingkatan batin firman Ilahi yang disebutkan.

Pandangan Ibnu ‘Arabi ihwal ayat-ayat dan khususnya kisah-kisah para nabi berpijak pada simbol oleh karena itu melalui media takwil simbol-simbol tersebut dapat diurai. Ia meyakini bahwa kisah-kisah para nabi di samping bentuk lahir dan pengertian lafaz eksoteriknya, terpendam pengertian simbolik dan maknawi.

Ibnu ‘Arabi dalam Fushusul Hikam berupaya menakwilkan secara irfani (gnostically) kisah-kisah para nabi sebagiamana yang ia lakukan pada kisah penciptaan Hawa dari Adam bukan dari sisi bentuk penciptaannya, melainkan takwil ruhani atas wahdatul wujud (kemanunggalan wujud).

“Dan darinya (nafs Adam) Allah menciptakan istrinya (Hawa).”  Adam tidak menikah kecuali dengan dirinya. Kemudian darinya (Adam) istri dan anak, dan perkara (penciptaan) ini merupakan perkara yang satu dalam bilangan. Lalu siapakah tabiat itu? Dan siapakah yang tampak darinya? Dan kami tidak melihatnya mengurangi dari apa yang tampak darinya, dan tidak menambah ketiadaan dari apa yang tampak.”

Qaishari dalam memberikan ulasan dari penuturan Syaikh Akbar ini, berkata: “Artinya, sekiranya perkara merupakan perkara yang satu lalu siapakah yang disebut thabiat selain wujud Tuhan, dan siapakah yang tampak dari tabiat kecuali individu-individu dari entitas-entitas (a’yyân),  dan tidak terkurangi darinya dengan penampakan (zhuhur) dan tidak bertambah dengan tiadanya penampakan (‘adam zhuhur) seperti insaniyyah; lantaran kekurangan dan penambahan merupakan tipologi benda-benda.

Syaikh Akbar dalam frase terakhir menegaskan supaya mereka yang mengetahui apa yang kami katakan tidak terperanjat kaget atas pengetahuan ini bahwa realitas tunggallah yang nampak (lahir) dalam bentuk-bentuk yang banyak dan jelmaan-jelmaan beragam.

Motivasi Urafa menggunakan Bahasa Simbolik dan Isyarah

Menurut Ibnu Khaldun, sejarawan dan sosiolog besar abad 8 Hijriah, “Untaian kata-kata tidak mampu menunaikan keinginan para arif dalam menjelaskan tujuan-tujuan irfani, lantaran kata-kata ditetapkan hanya untuk makna-makna konvensional dan keseharian yang banyak bertautan dengan urusan-urusan persepsi dan indrawi.”

Dalil pertama yang dapat ditunjuk sebagai motivasi para urafa menggunakan bahasa simbolik adalah bahwa penetapan (wadh’e) pertama pelbagai lafaz digunakan untuk perkara-perkara empirik. Dan lantaran tatkala mereka, dalam memahami lapisan-lapisan esoteric al-Qur’an, menjejakkan kaki pada dunia meta-empirik, mau-tak-mau menggunakan penetapan sekunder lafaz tersebut.

Attar dinukil berkata demikian, “Redaksi (ibârat) merupakan bahasa ilmu dan alegori (isyarah) adalah bahasa makrifat.”
Para urafa tidak mampu menumpahkan luapan kondisi batinnya kepada orang lain, mereka hanya dapat menjelaskan pesan-pesan mereka dalam bentuk simbolik dan isyarat itu pun hanya dapat dipahami oleh mereka yang mengalami perasaan yang sama, demikian paparan Rey Nicholson. (Nicholson:1987)
Syaikh Mahmud Syabistari berkata:
Ma’âni hargez andar harf nayâyad
Ke Bahr Qulzum andar zharf nayâyad
Makna-makna sekali-kali tidak termuat dalam gugusan kata
Sebagaimana laut merah tidak termuat dalam wadah
Dalam bahasa Syabistari untaian kata laksana gemuruh laut merah yang tidak termuat dalam wadah, para urafa tidak mampu menuangkan realitas-realitas batin dan rahasia ghaib dalam gugusan dan untaian kata-kata. Oleh karena itu, dalam bentuk yang baru dengan bahasa-bahasa simbolik dan sarat dengan muatan alegoris, mereka tetap menggunakan lafaz-lafaz.

Transformasi Lafaz kepada Makna, takwil dan redaksi isyarah
Proses transformasi lafaz-lafaz yang digunakan para arif kepada makna-makna dan hakikat-hakikat yang menjadi keinginan mereka secara sekilas akan kita bahas di sini. Tanazzul dan tanzil terkait dengan lafaz; akan tetapi dengan media takwil kita ingin merangsek memasuki wilayah makna. Artinya kita ingin memahami makna melalui perantara lafaz. Takwil berbeda dengan tanzil. Takwil bercorak su’udi (menanjak) sementara tanzil berwarna nuzuli (menukik). Tanzil adalah proses penurunan makna-makna dari Tuhan kepada makhluk. Takwil merupakan proses kenaikan dan penanjakan manusia dari makhluk kepada Khaliq dan perjalanan dari domain eksoterik kepada ranah esoterik.

Dasar dari proses kenaikan ini adalah kaun jâmi’ (sebagai khalifah Tuhan) manusia. Manusia dengan mendengar lafaz-lafaz yang bersilewaran dan umum digunakan dalam disiplin ilmu irfan mendasarkan dirinya pada transendental dan universalitas wujudnya. Dengan dasar ini, ia dapat menemukan pelbagai makna yang beragam di balik lafaz secara vertikal, top-down.

Sebagaimana pada penerimaan makna-makna dan hakikat-hakikat bersandar pada tingkatan wujud manusia, pemahaman terhadap redaksi dan isyarah makna-makna ini berpulang pada derajat eksistensi manusia. Secara umum kepelikan dan kesulitan dalam pemahaman bahasa para urafa merupakan hasil dari beberapa faktor seperti tingkatan wujud, perbedaan kondisi dan suasana batin serta banyaknya kesesuaian dalam penggunaan bahasa isyarah dan simbol.

Takwil Ibnu Arabi
Henri Corbin meyakini bahwa pemikiran takwil Ibnu Arabi hanya dapat dijumpai pada kedalaman hikmat esoterik agama-agama Ibrahim dan di antara tiga cabang hikmah agama Ibrahim, takwil Syaikh Akbar tumbuh bersemi dalam hikmat batin Islam.

Ibnu Arabi seorang arif besar dalam karya monumentalnya yang terkenal, Fushûs al-Hikam, dalam mencari derivat bahasa, sedemikian ia melakukan takwil sehingga apabila seseorang lalai dari sisi takwil-takwil yang disebutkan, boleh jadi ia dituding telah melakukan kesalahan dan kekeliriuan dalam melakukan praktik derivasi! Padahal Ibnu Arabi adalah seorang sastrawan dan orang yang berbahasa Arab.
Di antara takwil-takwil iluminatif yang dapat disebutkan dari Ibnu Arabi adalah nisaa’ (wanita-wanita), nisaa (terlambat) dan nasaa (terlupakan) yang ia ambil dari satu klausul.  Atau “mal” (kepemilikan) dipandang sebagai berasal dari derivat yang sama dengan “meil” (selera) atau ‘asha (tongkat kayu) dan ‘asha (membangkang) ia perkenalkan sebagai berhubungan satu dengan yang lain.

Ibnu Arabi, sesuai dengan kaidah yang ia gunakan dan dengan menakwil ayat-ayat al-Qur’an selaras dengan metodenya, menyimpulkan bahwa Fir’aun adalah seorang mukmin dan dengan iman yang diterima oleh Allah Swt meninggalkan dunia ini. “Tuhan mengambil jiwa Fir’aun sementara ia suci dari segala noda dan nista lantaran ia beriman tatkala jiwanya dicabut dan tidak ternoda dengan perbuatan dosa, dan Islâm yajubbu ma Qablahu (Islam menganulir apa yang dianut sebelumnya). Dan Tuhan menempatkan ayat atas inayahnya terhadap siapa pun sehingga tiada orang yang berputus asa dari rahmat Ilahi, lantaran “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Tuhan kecuali orang-orang kafir.” (Qs. Yusuf [12]:87) Sekiranya Fir’aun termasuk dari orang-orang yang berputus asa maka ia tidak akan bergegas memilih iman.”  Demikian takwil Syaikh Akbar ini yang tidak kurang menuai pro-kontra atas praktiknya berhermeneutik ini.
Ihwal kisah penyembelihan Ismail, lagi Ibnu Arabi melakukan praktik takwil dimana dalam fash Idris kita membaca “(Ismail) berkata, “Wahai Ayahku! Kerjakan yang diperintahkan kepadamu.” Dan anak adalah ayah itu sendiri (hubungan kesatuan yang terajut di antara keduanya). Lantaran hubungan antara seorang salik dan syaikh mukammil adalah sebanding dengan hubungan anak kepada ayahnya. Syaikh Akbar menukil hikayat Ibrahim dan Ismail. Dan ucapan murid kepada syaikhnya, “Kerjakan yang diperintahkan kepadamu,” adalah bentuk kepasrahan murid dihadapan gurunya. Dan isyarah atas perbuatan guru bukan dari dirinya sendiri; melainkan perintah Ilahi dan ia merupakan sebuah media antara salik dan Hadrat Haq.  Dan anak merupakan ayah itu sendiri berdasarkan hukum ittihad dan emanasinya merupakan sekumpulan bagian keberadaan sang ayah. Oleh itu, ia tidak melihat selain penyembelihan nafsunya yang merupakan bentuk kefanaan dan penyembelihan ananiyahnya.

Karya magnum opus Ibnu ‘Arabi, Futuhât dan Fushûs al-Hikam merupakan karya yang sarat dengan takwil atas ayat-ayat Ilahi dan hadis-hadis nabawi dimana pada kesempatan ini kami hanya menyebutkan beberapa contoh yang tersebut di atas. Meski dengan segala eksplorasi hermeneutik terhadap al-Qur’an, toh Syaikh Akbar tetap low-profile dengan berkata bahwa kelak akan ketahuan di hari Kiamat bahwa al-Qur’an ini ternyata masih perawan.

Takwil Mulla Shadra
Tafsir irfani al-Qur’an, menurut Mulla Shadra, menjadi mungkin tatkala seorang mufassir (penafsir) telah melintasi tingkatan pencerapan indrawi menuju tingkatan yang lebih tinggi. Artinya dari tingkatan indrawi dan lahir al-Qur’an menuju tingkatan kedua mitsali dan aqli untuk mencapai hakikat.

Mulla Shadra berpandangan bahwa dalam menafsirkan al-Qur’an terdapat dua tingkatan; tingkatan pertama yaitu tafsir lafzi dan kedua tafsir batin. Takwil lafzi berkutat dengan gramatika, sintaktis,  mungkin mirip dengan tafsir gramatikal dan sintaksisnya Schleirmacher. Tafsir lahir ini memberi stressing pada sisi elokuensi (balâghah) dan  bentuk sastranya. Adapun takwil yang disebut belakangan adalah takwil atau tafsir batin bermakna melintasi demarkasi lahir lafaz merangsek memasuki domain batin dan ranah makna. Fenomena ini laksana melintasi alam persepsi indrawi menuju batin dan ruh semesta. Memahami firman Ilahi tidak akan sempurna hanya dengan berkutat dengan lafaz-lafaz dan lahiriyah saja, manusia dengan tingkatan wujudnya untuk mencapai hakikat harus beranjak menuju alam makna dan batin dari firman tersebut. Sebagaimana hal ini disinggung dalam hadis bahwa al-Qur’an memiliki sisi lahir dan batin. Dan batinnya memiliki tujuh gerbang batin yang lain.

Menurut Mulla Shadra dan para urafa masing-masing orang memiliki hak untuk memaknai Qur’an terpisah dari yang lain. Lantaran tingkatan wujud manusia tidak sama, dan masing-masing sesuai dengan wadah dan kemampuannya ia temukan sesuatu dari al-Qur’an. Takwil Qur’an tidak berseberangan dengan bentuk lahirnya melainkan berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurna.

Mulla Shadra meyakini bahwa ayat “Qul unzhâru mâ dza fii as-samâwat wal ardh” dipandang sebagai sebuah titah dan amaran. Sebagai sebuah titah ia adalah taklif. Oleh itu, mengenal semesta, mengenal segala realitas telanjang dan terpendam di alam semesta ini merupakan sebuah kewajiban syar’i. Sesuai dengan takwilnya, Mulla Shadra menyeru setiap orang untuk berusaha menyingkap realitas-realitas semesta dan masalah ruh manusia.

Dalam mengkonstruksi burhan Shiddiqien, Mulla Shadra bersandar  pada ayat  “Allah bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia” (Qs. Ali Imran [3]:18) yang menegaskan bahwa sesungguhnya burhan yang paling agung, paling kokoh, paling benderang adalah penalaran (isitdlal) atas Dzat-Nya dengan Dzat-Nya (istidlal ‘ala dzatih bidzatihi).

“Ketahuilah, sesungguhnya jalan menuju Tuhan itu banyak. lantaran Dia memiliki segala keutamaan dan kesempurnaan. Dan masing-masing kelompok memiliki kiblat yang ditentukan oleh Tuhan baginya. Namun terdapat sebagian jalan yang lebih kokoh, lebih baik dan lebih bercahaya dari yang lain. Argumen (burhan) yang paling kokoh dan paling baik adalah argumen yang premis tengahnya (middle term) tidak lain adalah wajibul wujud. Dalam keadaan seperti ini, jalan dan tujuan akan menjadi satu.   Jalan itu adalah jalan para shiddiqin, dimana mereka menyaksikan Tuhan, kemudian dzat-Nya, kemudian sifat atas perbuatan-Nya.  Imbuh Mulla Shadra.

Dalam burhan ini, Mulla Shadra menyingkap tirai wujub melalui hakikat wujud dimana hal tersebut memerlukan beberapapremis pendahuluan: Kehakikian wujud dan abstraksi mentalnya kuiditas. Setelah kita menerima bahwa terdapat realitas luaran dan kita mengabstraksikan dua pahaman masing-masing dari realitas ini; yang pertama adalah wujud dan selainnya adalah kuiditas (mahiyyah); telah dibuktikan bahwa realitas luaran merupakan mishdâq (obyek luar) wujud. Dan kuiditas merupakan abstraksi mental (i’tibari) yang diabstraksikan dari batasan realitas eksternal. Tasykik al-wujud: Mulla Shadra memiliki keyakinan bahwa wujud-wujud eksternal, baik ia kuat atau lemah, sebab atau akibat, semuanya merupakan sistematika dari sebuah hakikat dan yang menjadi keragamannya adalah keseragamannya dan keseragamannya adalah keragamannya (ma bihi al-isytirak ‘ain ma bihi al-iftirak wa ma bihi al-iftirak ‘ain ma bih al-isytirak) bersumber dari satu genus yang disebut sebagai tasykik al-wujud (gradasi wujud). Sebagai misal -untuk memudahkan pemahaman- intensitas cahaya matahari dibandingkan dengan cahaya bulan, cahaya bintang dan cahaya lampu adalah lebih kuat dan yang belakangan adalah lebih lemah. Tetapi dengan keragaman cahaya yang ada, dari sisi intensitas, ia seragam dalam sebutan sebagai cahaya. Dari tasykik al-wujud inilah muncul apa yang disebut sebagai derajat wujud atau gradasi wujud. Lantaran ketika keragaman wujud-wujud kembali kepada keseragamannya, yaitu wujud itu sendiri, maka sudah tentu keragaman bersumber dari tingkatan wujud itu sendiri, tidak kepada kuiditas (mahiyyah). Besathat al-Wujud (simpelitas wujud); wujud merupakan sebuah realitas simpel. Ia tidak memiliki bagian dan bukan merupakan bagian dari sesuatu. Karena kita tidak memiliki sesuatu selain wujud.  Teraju perlunya akibat kepada sebab; Standar perlunya akibat kepada sebab adalah terelasikannya wujud relasi terhadap wujud. Dengan kata lain, kelemahan tingkatan “wujud akibat” hingga yang paling lemah sekalipun dalam keberadaannya secara niscaya memerlukan sebuah wujud yang lebih tinggi dan lebih kuat. Berdasarkan empat premis di atas, burhân shiddiqîn dapat disimpulkan sebagai berikut: “Tingkatan wujud -kecuali yang paling pamungkas yang memiliki kesempurnaan nir-batas (unlimited) dan tidak berhajat kepada apapun dan siapapun dan memiliki wujud yang mandiri secara mutlak- adalah berhajat dan bergantung. Dan apabila tidak ada wujud yang paling pamungkas, maka tingkatan-tingkatan wujud yang lain tidak akan pernah ada; karena  asumsi ini meniscayakan bahwa hadirnya tingkatan-tingkatan wujud yang lain tanpa hadirnya tingkatan yang paling tinggi dari jajaran wujud, adalah tingkatan-tingkatan wujud, mandiri dan tidak berhajat kepadanya. Sementara dimensi wujudnya adalah bergantung dan fakir serta berhajat kepada wujud yang paling tinggi tingkatannya.

Dengan kata lain, apabila seluruh tingkatan wujud yang bergantung itu tidak berujung kepada wujud mandiri dan tidak bergantung, maka niscaya wujud-wujud yang lain tidak akan pernah ada. Namun wujud-wujud memiliki kebergantungan kepada sesuatu, maka wujudnya mestilah mandiri dan tidak bergantung. Demikianlah takwil Mulla Shadra dalam menetapkan wujud Tuhan dengan burhan Shiddiqien yang terinspirasi dari ayat Ali Imran (2): 18 di atas.
Mulla Shadra, mengikuti maktab Isyraq, memandang cahaya (nur) sebagai realitas meta-fisika. Cahaya dalam pandangan Mulla Shadra adalah wujud.  Cahaya dan wujud merupakan hal yang satu pada arsy instanta luaran (mishdâq) dan perbedaannya pada komprehensinya (mafhum). Dan lantaran al-Qur’an adalah cahaya maka Kitab Suci ini merupakan penampakan (mazhar) dan tempat manifestasi kosmos wujud. Pendeknya al-Qur’an adalah keberadaan.

Sejalan dengan Ibnu Arabi yang berpandangan bahwa kata wujud satu rumpun dengan kata “wujdan”, Mulla Shadra juga berpandangan bahwa makrifat dan pengenalan al-Qur’an merupakan jembatan kepada dunia realitas. Ia meyakini  bahwa setiap eksisten seukuran wujudnya memiliki makrifat dan setiap makrifat akan menambah kuiditas  dan kualitas manusia.(Risalatul Hasyr)

Takwil Rumi
Praktik hermenetik dalam syair-syair irfani Rumi membentuk tipologi-tipologi psikologis, struktur, bahasa isyarah yang dieksplorasi Rumi yang menjadikan karyanya sebagai karya abadi.

Bahasa irfani Rumi, khususnya ghazal-ghazal yang ia gubah merupakan bahasa yang sarat dengan rahasia dan takwil. Bahasa-bahasa pujangga-arif seperti Hafiz, Sa’di dan Baba Thahir juga kurang lebih sama banyak mewariskan karya-karya

kontemplatif yang sarat dengan takwil-takwil terhadap ayat dan hadis.
Bahasa Rumi merupakan bahasa ahli thariqat yang merupakan media untuk menyingkap hakikat. Aplikasi anasir rahasia dan hermenetik irfani Rumi dan pujangga-pujangga yang bercorak gnostik  pada peringkat pertama bersumber dari keharusan penjelasan makna-makna dan keinginan irfaninya.

Oleh karena itu aplikasi bahasa yang dapat ditakwil dan sarat rahasia irfani pada syair Rumi lantaran bahasa rahasia dan hermenetik untuk menjelaskan pelbagai keadaan dan keyakinan irfani, menjadi jelas dan benderang, penuh inisiatif merupakan tipologi esensial para urafa. Sejatinya, Rumi dan pujangga-pujangga arif, media yang lebih mujarab, kuat dan kokoh dalam menjelaskan keinginan dan kondisinya, tidak menemukannya selain pada bahasa rahasia dan simbol yang dapat ditakwil. Rahasia multi makna dan tiadanya penentuan makna dalam ghazal-ghazal Rumi mencapai puncaknya. Teks yang sarat dengan rahasia, dari satu sisi, dengan makna teks. Dan dari sisi lain dengan pemahaman dan penerimaan pembaca dari teks tersebut terjalin erat.

Dengan memperhatikan paradigma linguistik teks-teks yang diketengahkan pada beragam negara dengan aneka bahasa dan budaya, kita menjumpai takwil yang beraneka macam; pada bahasa Persia dapat kita jumpai perbedaan yang dapat diambil sebagai contoh: Dimana tiada yang melebihi Rumi di antara para pendahulu dalam masalah takwil. Sedemikian banyak pandangan, redaksi-redaksi baru dan segar yang ia gunakan sehingga dapat dikatakan bahwa: “Rumi dengan takwil-takwilnya, ia memberikan ketinggian pada makna-makna, dari tingkat sedimenter melesak hingga tingkat trasendental.”

Sebagai contoh di sini praktik takwil terhadap ayat-ayat al-Qur’an seperti berikut ini:
Ashab Kahf adalah wali-wali Tuhan wahai Pebenci
Pada tidur, setiap perubahan dan berdiri
Mereka tergiring tanpa taklif dalam perbuatan
Pada perbuatan tanpa kabar ihwal Dzatal Yamin, Dzatal Syimal
Apa gerangan Dzatal Yamin? segala perbuatan baik
Apa gerangan Dzatal Syimal? segala aktivitas raga
Keduanya dialami oleh Awliya
Tanpa berita ihwal keduanya bak suara
Jika suaramu memperdengarkan kebaikan dan keburukan
Dzatnya tiada kabar dari keduanya

Tanpa syak bait-bait syair tersebut merupakan ungkapan sastra atas ayat 18 surah al-Kahf.
“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri (supaya badan mereka tetap terpelihara).”
Rumi dengan ayat ini melakukan praktik hermeneutik pada redaksi “dzatal Yamin” dan “dzatal Syimal.” Bentuk praktik itu tampak pada “dzatal Yamin” yang ditakwil sebagai perbuatan-perbuatan yang tak-dikehendaki (ghairu iradi) Ashabul Kahf secara khusus dan para wali Tuhan secara umum. Dan dzatal Syimal ditakwil sebagai perbuatan-perbuatan yang dikehendaki (iradi). Dengan kata lain, pelbagai kondisi ruhani dan perbuatan non-ruhani para wali.
Rumi dengan memperhatikan bahwa para wali Tuhan sedemikian tersedot perhatian mereka kepada dzat Ilahi sehingga perhatian mereka tidak tercurah kepada maujud yang lain dan melupakan eksistensinya sendiri, oleh karena itu seluruh perbuatan wali-wali Tuhan, baik sesuai dengan iradah atau tidak, adalah bersumber dari Tuhan.
Terkadang manusia melalui media takwil, di samping menebar rahasia juga membuka tabir rahasia; artinya ia menciptakan simbol-simbol lalu memberikan penjelasan atas simbol-simbol tersebut. Contoh dari hadis yang menjadi obyek takwil Rumi yang dapat disebutkan di sini adalah riwayat yang ia pandang bersumber dari Nabi Saw: “Hendaklah kalian memandang penting musim semi, karena [musim semi] akan memperlakukan badanmu sebagaimana ia memperlakukan pepohonan. Dan hindarilah musim gugur lantaran ia merontokkan badanmu sebagaimana ia merontokkan pepohonan)

Sang Nabi bersabda tentang angin musim semi
Jangan engkau tutupi ragamu sehingga menerpa badanmu angin musim semi
Karena sebagaimana angin musim semi membuat pepohonan bersemi
Demikian juga ia akan membuat badanmu bersemi
Namun menghindarlah dari hembusan angin musim gugur
Karena sebagaimana angin musim gugur merontokkan dedaunan ia juga akan merontokkan badanmu
Para perawi menafsirkan hadis ini secara lahir
Dan merasa puas dengan tafsir ini secara lahir
Tiada pengetahuan tentang batin hadis
Melihat lahiriyah gunung tidak melihat kedalaman gunung
Musim gugur di sisi Tuhan adalah hawa nafsu
Akal dan jiwa itu adalah musim semi dan lestari
Padaku dan padamu terpendam akal sebulir
Temukan akal sempurna di alam semesta
Akal sebulirmu gabungkan dengan akal universal
Akal universal melebur pada jiwa
Takwil hadis ini adalah untuk jiwa-jiwa suci
Karena jiwa-jiwa suci itu adalah musim semi dan kehidupan
Ucapan-ucapan wali Tuhan lembut dan semilir
Jangan engkau tutupi badanmu dari ucapan-ucapan para wali Tuhan
Rengkuhlah ucapan mereka panas dan dingin
Karena panas dan dinginnya mengokohkan dan menerbangkan
Panas dan dinginnya adalah musim semi bagi kehidupan
Penyebab kebenaran, keyakinan dan penghambaan

Sebagaimana yang terlihat pada syair di atas, Rumi menyebutkan bahwa Nabi Saw bersabda bahwa hendaklah kalian memandang penting angin musim semi, sedemikian ia takwil sehingga Anda diminta untuk menemukan mursyid dan syaikh. Kemungkinan besar yang dimaksud Nabi Saw dari sabda yang dialamatkan kepada orang-orang Arab ini, adalah makna lahir dan redaksionalnya; akan tetapi Rumi tidak memperhatikan niat pembicara. Menurutnya, takwil merupakan tabiat makna-makna transendental yang harus digunakakan pada perbuatan dan ucapan para ahli Tuhan dan orang-orang suci. Ucapan dan perbuatan para pembesar agama, menurutnya, secara sempurna merupakan pesan dan hikmah yang tidak dapat dijelaskan kecuali lewat takwil.

Dari tulisan yang ringan ini penulis hanya menyuguhkan tiga tokoh sentral yang dapat dijadikan sebagai pemantik (trigger) untuk kajian yang lebih jeluk. Oleh itu, tertambat asa pada kesempatan mendatang semoga kita tetap memperoleh taufik untuk dapat mengeksplorasi karya-karya monumental para pemikir Islam yang lebih luas dan menjuntai. Bahkan tidak terhenti pada eksplorasi ilmiah-lahiriyah saja, tapi memulai pelancongan amal-esoterik yang akan melesakkan kita ke jenjang makrifat yang lebih menjulang dengan menjadikan al-Qur’an sebagai cahaya untuk memendari kehidupan kita. Menyitir Mulla Shadra,  semakin cahaya itu benderang dalam kehidupan kita, semakin tinggi kuiditas (baca esensi) dan kualitas hidup kita. Wallahu ‘Âlim..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: