SAYYIDINA ALI dan ORANG NASRANI

KISAH 1

SAYYIDINA ALI dan ORANG NASRANI

Sayyidina Ali sangat terkenal sebagai seorang Khalifah yang adil. Ia tak mau menang sendiri terhadap rakyatnya dalam persoalan apapun. Setiap urusan selalu diupayakan untuk diselesaikan melalui jalur hukum, sesuai dengan aturan yang sebenarnya. Di antara fakta yang membuktikan keadilannya itu ialah, ketika terjadi persengketaan tentang baju besi.

Suatu ketika ia melihat baju besinya berada di tangan seorang Nasrani, yakni rakyat biasa, bukan orang berpangkat. Kemudian beliau adukan perkaranya kepada hakim bernama Syuraih supaya disidangkan. Persidangan dimulai. Mula-mula Sayyidina Ali berkata : “Baju besi ini adalah milikku. Aku tak pernah menjualnya ataupun memberikannya kepada siapa pun.” Hakim minta keterangan dari pihak tertuduh : “Bagaimana sikapmu atas tuduhan Amirul Mukminin tadi?” Ia menjawab : “Baju besi ini adalah milikku sendiri. Apa yang diutarakan olehnya adalah bohong belaka.” Kembali hakim mengajukan pertanyaan kepada Ali : “Adakah bukti nyata atau saksi mata yang menguatkan tuduhanmu?”. Ia pun tertawa sambil berkata : “ Benarlah Syuraih, aku memang tak punya bukti.” Karena tak ada bukti, maka Syuraih menjatuhkan vonis, bahwa baju besi adalah hak si tertuduh. Seusai sidang si Nasrani pulang dengan membawa baju besinya, sedangkan Ali hanya memandang kepadanya. Namun baru beberapa langkah, si Nasrani itu kembali lagi lalu berkata : “Saya bersaksi bahwa hal semacam ini adalah akhlak para Nabi. Seorang Khalifah membawaku ke majlis hakim untuk menyelesaikan perkara.” Selanjutnya ia mengaku : “Demi Allah, sebenarnya ini adalah baju besimu wahai Amirul Mukminin, saya telah berbohong dalam persidangan tadi.”

Setelah peristiwa itu orang menyaksikan laki-laki itu menjadi seorang laskar yang paling tangguh dan pahlawan paling pemberani dalam peperangan membela Sayyidina Ali melawan kaum Khawarij di Nahrawan.


KISAH 2

ALI BIN ABI THALIB dan ASHIM BIN ZIYAD

Diriwayatkan bahwa Khalifah Ali datang ke rumah salah seorang sahabatnya di Basrah. Namanya Ala’ bin Ziyad al-Haritsi. Ketika beliau melihat rumahnya yang sangat besar beliau berkata : “Apa yang engkau lakukan dengan rumah yang sangat besar seperti ini? Di dunia ini? Sedangkan di akhirat engkau lebih membutuhkan rumah yang luas. Jika engkau mau, dapatlah engkau mencapai akhirat dengan rumah yang besar ini. Jamulah tamu-tamu dan kuatkanlah silaturahmi di rumah ini. Dengan demikian engkau dapat mencicipi akhirat dengan rumah ini.”

Wahai Amirul Mukminin, kata Ala’ bin Ziyad. “Aku mengadu kepadamu tentang saudaraku, Ashim bin Ziyad.” “Bagaimana tentang dia?,” Tanya Khalifah. “Dia selalu berselimut dan tidak peduli dengan urusan dunia,” jawab Ala’. “Suruh dia kemari.” Ketika Ashim datang kepadanya, beliau berkata : “Wahai orang yang memusuhi dirinya sendiri, engkau dibuat gila oleh perbuatanmu yang jelek. Tidakkah engkau kasihan kepada keluarga dan anakmu? Apakah engkau berpendapat bahwa Allah menghalalkan hal-hal yang baik untukmu, sementara Dia membencimu untuk memanfaatkan hal-hal baik itu?” “Wahai Amirul Mukminin, tuan sendiri berpakaian kasar dan makanan tuan adalah makanan yang tidak enak.” Kata Amirul Mukminin, “Saya tidaklah seperti engkau. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada pemimpin-pemimpin yang adil, supaya mengukur dirinya dengan orang paling lemah di antara rakyatnya, agar orang-orang yang fakir tidak merasa menderita dengan kefakirannya.”


KISAH 3

PENGHORMATAN TERHADAP KHALIFAH

Dalam perjalanan menuju negeri Syam, Sayyidina Ali melewati kota Anbar yang sedang diduduki bangsa Persia. Mendengar kedatangannya, pemuka-pemuka kota Anbar beserta penduduknya keluar berbondong-bondong dan berkerumun berjejal-jejal di sekeliling Sayyidina Ali. Mereka menyambut hangat kedatangannya. Melihat itu, Sayyidina Ali pun bertanya : “Apa maksud kamu sekalian berbuat demikian?” Kata mereka, “Adalah tradisi kami untuk mengagungkan pemimpin-pemimpin kami.” “Demi Allah, perbuatan demikian tidaklah bermanfaat bagi pemimpin-pemimpin, dan kamu benar-benar telah menyulitkan dirimu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Alangkah ruginya orang-orang yang mendapat kesulitan di dunia sedangkan di akhirat mereka ditimpa siksa pula, dan alangkah untungnya orang-orang yang tidak mendapat kesulitan di dunia, sementara di akhirat pun mereka dijauhkan dari api neraka.”

%d blogger menyukai ini: