Meraih Kesempurnaan Insani (2)

Oleh : Ruhullah Syams

Makrifat Nafs, Jalan Syariat Islam

Jalan syariat Islam dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan insani  (sebagaiman telah diisyaratkan pada paparan-paparan sebelumnya) adalah makrifat kepada Tuhan dengan jalan makrifat kepada nafs, di mana jalan ini merupakan paling dekatnya jalan dan paling sempurnanya natijah yang akan dicapai; sebab jalan ini merupakan paling kuat dan kokohnya jalan dalam membangun dan membentuk manusia menjadi manusia paripurna. Oleh karenanya ayat-ayat Al-Quran dan riwayat serta sunnah maksumin menjadikan titik perhatian jalan ini. Dengan berbagai bahasa dan ungkapan, manusia diajak kepada jalan lempang dan lurus ini, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” Ayat ini merupakan penjelasan yang menggambarkan kebalikan dari sabda Rasulullah SAW yang telah disebutkan sebelumnya: “Barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Tuhannya.” Yakni, apabila orang melupakan Tuhan maka niscaya dia akan melupakan dirinya sendiri. Sementara jika orang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.

Perlu diketahui bahwa salah satu implikasi dari pengenalan diri yang akan membawa kepada pengenalan Tuhan adalah mengetahui  hak Tuhan dan mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba-Nya. Dan salah satu dari kewajiban hamba kepada Tuhan adalah mematuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh bangunan akidah, hukum, sosial, politik, ekonomi, dan lainnya dalam Islam, serta akhlak sosial dan individual, semuanya bertujuan untuk menyempurnakan manusia. Oleh karenanya menaati dan mematuhinya akan membersihkan dan menyempurnakan nafs manusia serta membawa manusia kepada kebahagiaan. Sebaliknya, menentang dan melanggarnya akan mendegradasikan jiwa manusia dan menyeret manusia kepada penderitaan akhirat. Bersedekah dan berinfak sebagai salah satu wujud perbuatan sosial dan ekonomi Islam memiliki efek kepada nafs manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh naql bahwa bersedekah dan berinfaklah supaya nafs kamu terbersihkan. Karena itu, pada hakikatnya seluruh bangunan syariat Islam adalah jalan untuk memsucikan jiwa dan menyempurnakan manusia.

Di dalam kitab Gurarul Hikam wa Durarul Kalim yang menyebutkan kalimat-kalimat qishâr Imam Ali, terdapat sekitar 22 hadis yang mengungkapkan tentang makrifat nafs, di antaranya: “Orang pintar dan cerdik adalah orang yang mengenal dirinya dan ikhlas (untuk Tuhan) dalam amal serta perbuatannya”, “Orang arif adalah orang yang mengenal nafsnya dan membebaskannya serta mensucikannya dari segala yang menjauhkannya (dari Tuhan)”, “Paling tingginya hikmah adalah pengetahuan manusia pada nafsnya”, “Makrifat pada nafs adalah paling bermanfaatnya dua makrifat.”

Allamah Thabathabai mengatakan dalam Tafsir Al-Mizan, secara zahir maksud dari Para Imam dari dua makrifat adalah makrifat terhadap ayat-ayat anfusi dan ayat-ayat afaqi, di mana Tuhan berfirman: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Tuhan adalah hak. Tidak cukupkah untuk jelasnya kebenaran Tuhanmu bahwa Dia hadir dan syahid atas segala sesuatu?”

Dengan melakukan perenungan dan kontemplasi terhadap ayat-ayat anfusi dan âfaqi akan membawa kita kepada pengenalan kepada Tuhan, dimana ini akan berimplikasi kepada pemahaman akan kehidupan abadi manusia yang dapat mendidik manusia untuk meraih kesempurnaan akhlak dan insaniah. Di samping itu, untuk mendapatkan kesempurnaan mesti berpegang kepada keyakinan tauhid, nubuwwah, dan maad. Maka peran agama hak dan syariat Ilahi dalam membimbing manusia dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan sangatlah urgen dan dalam menapaki jalan hidayah ini, kedua jalan, yakni jalan anfusi dan âfaqi sangatlah berpengaruh dan bermanfaat dalam mengantarkan manusia kepada agama, keimanan, dan ketakwaan, namun berjalan pada jalan ayat-ayat anfusi lebih bermanfaat. Sebab berjalan pada jalan anfusi akan memberikan hasil makrifat hakiki dan hakikat makrifat.

Sebagian ulama berpandangan bahwa pengenalan nafs sebagai kait kepada pengenalan Tuhan (Barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Tuhannya) adalah suatu perkara yang mustahil, sebab pengenalan Tuhan merupakan perkara mustahil; jadi pengenalan nafs juga adalah perkara yang tidak mungkin. Akan tetapi hadis di atas dan lahiriah hadis-hadis yang dikatakan Imam Ali dalam kalimat qisharnya menolak pandangan ini. Dan demikian pula sabda Nabi SAW lainnya yang menyatakan, “Paling arifnya kamu terhadap nafsnya adalah yang paling arifnya kamu kepada Tuhannya.” Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa makrifat kepada Tuhan, bukanlah suatu perkara mustahil (maksudnya makrifat dengan perantara ilmu hushuli, bukan hudhuri dan syuhudi) dan dalam batas kemungkinan manusia mengenal-Nya, bukan pengenalan dan pengetahuan yang mencakup secara sempurna kepada Tuhan, yang mana ini adalah perkara yang mustahil untuk dicapai manusia. Oleh karena itu, pengenalan manusia kepada Tuhan sebatas kemampuan manusia mengenal-Nya adalah suatu perkara mungkin dan natijah dari ini adalah kemungkinan manusia juga mengenal nafsnya (dan ini lebih mungkin lagi dan lebih terjangkau oleh fakultas makrifat manusia, sebab nafs, kendatipun ia wujud non-materi tetapi ia adalah wujud mumkin).

Jadi, jalan makrifat nafs merupakan perkara mungkin bagi setiap orang dan ini juga merupakan jalan yang disyariatkan Islam, sebagaimana dalil naqli dan aqli yang kita ungkapkan. Dan karena jalan ini adalah jalan yang paling dekat untuk sampai pada kesempurnaan maka sangat urgen untuk diketahui cara sayr dan suluk pada jalan ini. Pertanyaan kita sekarang adalah, bagaimana cara sayr dan suluk pada jalan ini? Siapa yang dapat menunjukkan kepada kita cara menapak pada jalan ini? Apakah berbagai cara dapat ditempuh dalam menapak jalan ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah ini.

Ibadah dengan Jalan Syariat

Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya, jelaslah bahwa kadar kesempurnaan seorang hamba sesuai dengan kadar ketaatan dan kepatuhannya kepada syariat Ilahi. Dan perkara kesempurnaan ini memiliki gradasi dan tingkatan-tingkatan derajat.

Sebagian ahli sayr dan suluk menyatakan bahwa meninggalkan sayr suluk syariat dan beralih kepada riyadah-riyadah yang berat merupakan suatu bentuk pelarian dari sayr suluk yang lebih sulit kepada yang lebih mudah!? Sebab mematuhi syariat itu sendiri merupakan suatu bentuk mematikan nafs secara berkesinambungan dan berangsur-angsur. Dan selama nafas masih ada maka selama itu juga mesti riyadah-riyadah syar’i dijalankan. Akan tetapi riyadah-riyadah berat (dimana syariat tidak mengizinkannya) terhitung sebagai mematikan nafs secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur, karena itu bentuk riyadah ini lebih pendek, lebih mudah, dan lebih sedikit pengorbanannya.

Singkat matlab, syariat tidak melepaskan jalan sayr dan suluk dari jalan nafs dan makrifat terhadapnya.

Di dalam hadis Maksumin disebutkan bahwa terdapat  tiga bentuk ibadah hamba: Pertama, hamba beribadah dikarenakan menginginkan surga, kedua, hamba beribadah dikarenakan takut dari neraka, ketiga, hamba beribadah semata-mata dikarenakan untuk Tuhan, tidak karena takut dari neraka dan tidak karena menginginkan surga.

Dari ketiga bentuk ibadah yang disebutkan dalam hadis tersebut, selain bentuk ketiga, kedua bentuk lainnya ditinjau dari aspek tujuan untuk mendapatkan kemudahan dan terbebas dari azab maka tujuan akhirnya juga terhitung sebagai hasil dari keinginan nafsâni manusia. Oleh karena itu, arah dan tujuan ibadah kepada Tuhan dalam bentuk seperti ini, hanya dikarenakan untuk memenuhi keinginan nafsâni. Dalam ibadah ini manusia menjadikan Tuhan sebagai perantara untuk mencapai keinginan-keinginan nafsâni dirinya. Karena itu, ditinjau dari dimensi ini maka perantara sebagaimana ia perantara, tidak akan pernah menjadi maksud dan tujuan secara zat. Ia hanya akan menjadi maksud dan tujuan secara aksiden.

Hakikat ibadah seperti ini tidak lain merupakan pengejewantahan ibadah syahwat nafsâni, karenanya hanya ibadah bentuk ketiga, yakni ibadah murni untuk Tuhan yang dapat dihitung sebagai ibadah hakiki dan menjadi jalan sayr suluk para nabi-nabi Tuhan serta para wali-wali-Nya. Di dalam kitab suci Al-Quran diisyaratkan: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dalam hadis Maksumin diriwayatkan: “Barang siapa mencintai Allah Azza wa Jalla maka niscaya Allah mencintainya; dan barang siapa yang dicintai Allah, niscaya dia berada di antara orang-orang aman.”

Dinukil dalam  kitab Manaqib bahwa Rasulullah SAW sedemikian menangis hingga sampai pingsan. Kemudian mereka berkata kepada Nabi SAW, Wahai Rasulullah! Bukankah Tuhan telah mengampuni seluruh dosa-dosa kamu yang telah lalu dan akan datang?! (maksudnya ini semua tangisan untuk apa?) Nabi SAW lantas berkata, Apakah tidak ada aku sebagai hamba yang bersyukur ?!….

Sebenarnya, kembalinya syukur dan kecintaan itu hanya kepada satu hal, sebab syukur itu sendiri tidak lain adalah pujian terhadap sesuatu yang indah sebagaimana  ia indah. Oleh Karena itu, ibadah murni tidak lain merupakan perhatian yang sungguh-sungguh dan merendah serendah-rendahnya dalam berhadapan dengan Allah SWT, sebab hanya Dia yang secara zat Maha Indah dan Maha Agung. Jadi hanya dengan ini ibadah kepada-Nya dapat menjadi maksud dan tujuan bagi diri-Nya, bukan untuk maksud dan tujuan selain-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Mahabbah Kepada Tuhan

Mahabbah dan kecintaan memiliki pengertian yang dalam dan penuh makna di dalam relung jiwa setiap pemiliknya. Ia bermakna kenyataan sempurna dan realitas keindahan serta keterpesonaan. Ia menjadi penyebab terciptanya hubungan mesra dan harmoni antara muhib (pecinta) dengan mahbub (dicintai). Karena itu, mahabbah merupakan wasilah bagi terjalinnya hubungan antara setiap pencari dan tujuan akhir, antara setiap murid dengan muradnya. Setiap pecinta mendapatkan daya tarik kepada yang dicintainya sehingga dia dengan perantara pertemuan (wusul) dengan mahbub (yang dicintai) menemukan hakikat keterpesonaan dan kefanaan.

Orang yang meyakini eksistensi pemilik keindahan mutlak, amat sangat kecintaannya kepada-Nya dan hatinya senantiasa terikat serta terpaut terhadap-Nya.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Orang mukmin, hatinya terikat kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pusat perhatian dan kecintaannya. Para penyembah berhala menjadikan berhala-berhalanya sebagai teman sejatinya dan kecintaannya. Akan tetapi kecintaan orang-orang mukmin kepada Tuhan adalah lebih sangat dibandingkan kecintaan para penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka. Sebab, tidak ada keindahan seukuran kesempurnaan keindahan Tuhan dan tidak ada makrifat sempurna seukuran kesempurnaan makrifat kepada-Nya. Dan orang mukmin adalah orang yang paling arif (mengetahui) tentang keindahan dan kesempurnaan. Karena itu, orang mukmin adalah orang yang paling pecinta terhadap pemilik keindahan dan kesempurnaan mutlak.

Kecintaan tidak memiliki ukuran kuantitatif, kendatipun ia mempunyai tingkatan-tingkatan kualitatif. Ia memiliki gradasi keberadaan sesuai dengan derajat kecintaan itu sendiri. Sebab itu keistimewaan dan keutamaan kecintaan orang mukmin kepada Tuhan dibandingkan kecintaan penyembah berhala terhadap berhalanya dikarenakan; berhala (apapun bentuknya, termasuk syahwat hawa nafsu), kendatipun ia indah tapi keindahannya sebatas penglihatan dan pandangan atau sebatas keindahan imajinasi dan fantasi. Mempersepsi keindahan seperti ini dengan perantara indera dan imajinasi serta pengaruhnya sebatas alam penginderaan atau sebatas alam imajinasi dan fantasi. Oleh karena itu, mereka yang tenggelam dalam kecintaan berhala pada hakikatnya mereka yang tidak mempunyai kedalaman makrifat tentang alam realitas dan eksistensi. Mereka hanya mempunyai pengetahuan terhadap alam ini sebatas penginderaan, imajinasi, dan fantasi. Dan tentu saja persepsi keindahan mereka tidak akan melampaui batas-batas makrifat mereka terhadap alam realitas dan eksistensi tersebut. Karenanya mereka tidak akan pernah sampai pada kedalaman hakikat realitas dan eksistensi.

Adapun orang-orang mukmin tidak hanya memandang dengan penglihatan inderawi yang efeknya sebatas efek alam tabiat, atau memandang dengan pandangan imajinasi dan fantasi yang efeknya sebatas efek alam mitsali, tetapi mereka juga memandang dari jalan akal yang memiliki kesempurnaan efek lebih dari kedua alam tersebut. Maka dari itu pandangan orang-orang mukmin terhadap alam realitas dan eksistensi jauh lebih kuat dan lebih sempurna dari pandangan para penyembah berhala dan ini tentu saja melahirkan kecintaan yang lebih kuat mereka kepada Tuhan ketimbang kecintaan penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka.

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Kesimpulannya, jika mahabbah dan kecintaan seseorang kepada dunia dan akhirat atau kepada Tuhan dan selain Tuhan adalah sama maka ia sebenarnya bukanlah seorang mukmin; sebab orang seperti ini tidak memiliki makrifat sempurna tentang alam realitas dan eksistensi. Padahal makrifat itu sendiri merupakan landasan fundamental mahabbah dan kecintaan terhadap sesuatu.

Nizhami, di akhir cerita Laila dan Majnun menuturkan: Laila, di akhir-akhir hayatnya mengalami sakit dan kesegarannya perlahan-lahan pupus. Ia mewasiatkan kepada ibunya, sampaikan pesanku kepada Majnun dan katakan kepadanya: Jika ia ingin memilih kekasih maka janganlah memilih teman dan kekasih sepertiku, dimana dengan satu sakit seluruh kesegarannya akan punah; ambillah teman yang selamanya tetap langgeng dan tidak akan pernah musnah.

Oleh karena itu, makrifat akan memberikan kecintaan hakiki dan kelalaian serta ketidaktahuan akan memberikan kecintaan palsu dan imitasi.

Makrifat, Ibadah, dan Kecintaan

Orang-orang mukmin hakiki memandang eksistensi ini memiliki ketunggalan dan keesaan. Mereka memandang realitas hanya milik eksistensi Tuhan beserta asma-Nya dan tajalli-Nya. Sebab sebagaimana dalil membuktikan bahwa tidak mungkin ada eksistensi lain selain eksistensi maha sempuna dan absolut Tuhan. Jika ada eksistensi lain, kendatipun ia wujud mungkin dan bergradasi rendah, selama ia diyakini memiliki hakikat dan realitas maka selama itu ia menjadi pembatas dari kesempurnaan absolut eksistensi Tuhan. Dan ini menyalahi statemen kesempurnaan tak terbatas dan absolut eksistensi Tuhan.

Ibadah kepada Tuhan tidak mungkin terealisasi secara maksimum dan sempurna tanpa dibarengi dengan makrifat yang sempurna kepada-Nya. Kendatipun ibadah itu sendiri juga merupakan mukaddimah dan persiapan untuk meraih makrifat yang lebih sempurna terhadap-Nya, tetapi untuk merealisasikan ibadah hakiki dibutuhkan perjalanan makrifat. Karena itu, ibadah dan makrifat memiliki hubungan saling meniscayakan satu sama lainnya, sebagaimana dinukil riwayat dari Ismail bin Jabir dimana Imam Shadiq bersabda : Ilmu dan amal saling meniscayakan satu sama lain; maka barangsiapa yang mengetahui dan mengamalkannya maka niscaya dia akan mendapatkan ilmu. Dan juga hadis dari Rasulullah SAW : Barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah akan merezekikan kepadanya ilmu terhadap perkara yang belum diketahuinya.

Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa ibadah mesti dilaksanakan berdasarkan makrifat sehingga ia dapat menciptakan ilmu dan makrifat yang lebih dalam dan hakiki. Dan sebaliknya makrifat yang hakiki dapat mengantarkan pada ibadah yang hakiki pula.

Firman Tuhan: “Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan baik, dan amal shaleh akan mengangkatnya.”

Demikian juga persepsi akal akan menguatkan statemen kita tentang kecintaan. Yakni kadar kecintaan dan keterikatan kepada sesuatu akan melahirkan kadar perhatian terhadapnya. Dan perhatian yang diejawantahkan dalam bentuk amal perbuatan akan menguatkan ilmu dan kecintaan.

Perlu diketahui bahwa dari ketiga kategori di atas; makrifat, ibadah, dan kecintaan, maka yang prinsipil dan asalah adalah makrifat. Sebab makrifatlah yang menjadi landasan ibadah dan kecintaan. Semakin dalam dan hakiki makrifat maka semakin hakiki ibadah dan kecintaan. Dan sebagaimana disinggung sebelumnya, untuk mendapatkan makrifat dibutuhkan pergerakan afaqi (di luar nafs) dan pergerakan anfusi (dalam nafs). Pergerakan afaqi adalah memikirkan, merenungkan, dan memandang kepada maujud-maujud afaqi (maujud-maujud di luar nafs manusia) seperti ciptaan dan karya Tuhan di langit dan di bumi; sehingga pergerakan afaqi ini membuahkan keyakinan kepada Tuhan, asma, dan perbuatan-Nya. Sebab maujud-maujud, efek-efek, dan makhluk-makhluk ini membuktikan keberadaan pengadanya Yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa.

Adapun pergerakan anfusi adalah merujuk kepada nafs dan mengenal Tuhan dari jalannya; sebab nafs ditinjau dari segi keberadaan adalah tidak mandiri secara murni dan mengetahui maujud mandiri yang menjadi penegaknya tidak bisa dipisahkan darinya.

Kesimpulannya, untuk mencapai tujuan ini terdapat dua jalan; pergerakan afaqi dan pergerakan anfusi. Dan sebagaimana dijelaskan sebelumnya pergerakan anfusi atau maktrifat nafs adalah lebih utama dari pergerakan afaqi; sebab pengetahuan terhadap maujud-maujud afaqi ditinjau ia sebagai alamat dan efek Tuhan hanya akan membuahkan ilmu husuli terhadap wujud Tuhan dan sifat-sfat-Nya. Dan ilmu seperti ini hanya berhubungan dengan qadiyah yang memiliki subyek dan predikat dan keduanya tidak lain hanyalah mafhum atau komprehensi. Untuk menjelaskan masalah ini lebih jauh dibutuhkan uraian dan penjelasan filsafat yang bukan tempatnya di sini.

Adapun makrifat nafs, natijahnya adalah makrifat hakiki; sebab seseorang yang ingin memusatkan perhatiannya kepada Tuhan dan meninggalkan setiap apa yang menjadi penghalang yang menyibukkan dirinya kepada selain Tuhan, ia mesti menyibukkan diri terhadap makrifat nafs sampai ia menyaksikan (dengan jalan musyahadah) bahwa nafsnya secara zat butuh kepada Tuhan. Dan barangsiapa yang mencapai maqam seperti ini, ia menyaksikan dirinya tidak terpisahkan dari menyaksikan penegaknya, yakni Tuhan. Dengan demikian ia akan mengenal Tuhan dengan makrifat badihi dan jelas.

Tidak diragukan bahwa setiap orang secara fitrah menginginkan kesempurnaan sejati dan keindahan hakiki dan jalan untuk menggapai tujuan ini tidak lain adalah makrifat, ibadah, dan kecintaan kepada eksistensi pemilik kesempurnaan dan keindahan absolut. Dengan pergerakan anfusi (makrifat nafs dan sayr suluk), manusia selangkah demi selangkah akan bergerak menuju tingkatan kesempurnaan insani dan menjadi manusia sempurna atau insan kamil. Dan orang yang mencapai maqam ini layak diseru oleh Al-Quran dengan, “Wahai jiwa (nafs) yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: