REFLEKSI KESABARAN (1)

Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri

 

Al-Quran Al-Karim telah menyebutkan sejumlah kekuatan-kekuatan luar, yang mana seandainya kita menggunakannya maka kita akan keluar sebagai pemenang. Salah satu dari kekuatan luar ini ialah memperhatikan kewajiban-kewajiban agama, khususnya salat.

“Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”.(QS. Al-Baqarah : 45)

Mengenai sabar dapat dibagi ke dalam tiga bagian :

  1. Sabar di dalam menghadapi kesulitan.
  2. Sabar di dalam ibadah.
  3. Sabar di dalam maksiat.

Pada kesempatan ini saya akan berbicara seputar masalah sabar di hadapan (di dalam menjauhi) maksiat. Ini perkara yang sulit sekali.Akan tetapi.Jika seorang manusia mampu sabar di sini, maka dia dapat menempuh perjalanan seratus tahun hanya dalam waktu sekejap. Para sejarawan menceritakan kisah Ibn Sirin :

Ibn Sirin adalah seorang penjual pakaian yang buta huruf, akan tetapi kedudukan keilmuannya telah mencapai suatu tingkatan di mana ilmunya masih terus dimanfaatkan hingga sekarang. Penjual pakaian yang buta huruf ini telah membuat kagum semua orang di dalam masalah ta’bir mimpi. Di dunia ini terdapat sekitar tujuh puluh teori pendahuluan seputar masalah mimpi, akan tetapi keyakinan yang banyak diterima ialah kita tidak mengetahui hakikat tafsir mimpi yang sesungguhnya.

Allah SWT telah menganugerahkan karamah mengenai tafsir mimpi kepada Ibn Sirin karena dia telah menjauhi perbuatan dosa. Sikap menjauhi perbuatan dosa yang dilakukan oleh Ibn Sirin mirip dengan apa yang telah dilakukan oleh Nabi Yusuf as. Salah satu mukjizat dan karamah  Nabi Yusuf as. Adalah tafsir-tafsir mimpinya, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Quran.

Diceritakan, seorang wanita datang kepada penjual pakaian ini (Ibn Sirin) dan membeli sejumlah pakaian.Ketika Ibn Sirin membawakan pakaian yang telah dibeli itu kepada wanita tersebut, dia menerima ajakan dari wanita tersebut untuk melakukan maksiat.Supaya dia selamat dari siksa neraka Hawiyah yang menghinakan, dia berpura-pura minta izin untuk pergi ke WC.Lalu, dia pun pergi ke WC dan mengotori seluruh tubuhnya, dari atas kepala hingga ujung kaki, dengan kotoran.Oleh karena itu, akhirnya wanita tersebut terpaksa mengeluarkannya dari rumahnya. Tubuh lahir Ibn Sirin najis, akan tetapi dirinya tidak menjadi najis, bahkan bercahaya dengan cahaya Allah SWT. Ketika dia menyucikan tubuhnya, dan kemudian pulang ke rumah, dia merasakan sebuah cahaya meliputi dirinya; itu disebabkan dia telah menempuh perjalanan seratus tahun hanya dalam waktu sekejap.

Saya katakan, “Para ahli ilmu jiwa terheran-heran dan terkagum-kagum dengan ilmu dan karamah tafsir mimpi yang dimiliki Ibn Sirin.”Dengan menjauhkan dirinya dari dosa, Ibn Sirin telah dapat menempuh perjalanan seratus tahun hanya dalam waktu sekejap.Oleh karena itu, jika anda ingin memperkuat keinginan anda, maka anda harus menjauhi dosa berkali-kali. Orang-orang bertanya kepada saya, apa yang harus kita lakukan untuk memperkuat keinginan. Para ahli ilmu jiwa telah menulis banyak buku mengenai masalah ini. Akan tetapi, sebagaimana kata para pelajar agama, bahwa apa yang mereka kemukakan itu tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. (QS. Al-Ghasyiyah : 7). Dengan kata lain, apa yang mereka kemukakan itu tidak ada faedahnya. Islam mempunyai teori.Islam mengatakan, “Berusahalah untuk bisa memahami apa arti memperkuat keinginan”.Apa yang dimaksud dengan penguatan keinginan, dan dari mana datangnya. Islam mengatakan bahwa menjauhi dosa akan menguatkan keinginan, dan memperkuat dimensi spiritual seorang manusia. Pada keadaan itu seorang manusia mampu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi di hadapan syahwat dan gharizah dan mampu memenangkan peeperangan batin (al-harb ad-dakhili) yang terhitung sebagai sebesar-besarnya peperangan yang dihadapi manusia. Dia mampu memenangkan peperangan, yang digambarkan oleh Imam Husain sebagai peperangan yang hanya akan dimenangkan oleh laki-laki muda Muslim. Benar, apa yang dikatakan oleh Imam Husain. Karena, memenangkan peperangan ini adalah suatu perkara yang sulit sekali, dan membutuhkan kejantanan.Oleh karena itu, untuk bisa memperoleh kemenangan kita harus menghadapkan wajah kita ke arah Islam, “Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

Menjauhi maksiat bukan hanya memberikan tabiat keadilan (malakah al-‘adalah), melainkan juga menjadikan seorang manusia mampu memenangkan peperangan batin (dalam) ini.Jika hanya masalah keadilan saja, kita semua diharuskan meniti keadilan.Salah seorang ulama terkemuka di dalam sejarah menyebutkan bahwa jika kita ragu apakah seseorang itu adil atau tidak, maka kita harus mengatakan bahwa dia itu adil.Perkataan ini memberikan pengertian bahwa seorang Muslim harus menjadi seorang yang adil.

Saya telah menjelaskan arti al-adalah (keadilan) kepada Anda.Saya juga telah mengatakan bahwa Islam berkata, “sesungguhnya keadilan harus ada di dalam semua urusan kemasyarakatan.Jika seorang memegang kendali urusan pernikahan, kepemimpinan shalat jamaah, pengadilan, kesaksian atau marji’iyyah, maka dia harus seorang yang adil.” seluruh fukaha, salah satu di antaranya Imam Khomeini mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keadilan bukan hanya tidak berbuat dosa, melainkan juga seseorang diharuskan memiliki tabiat keadilan.Artinya, dia bertindak secara spontan di dalam meninggalkan dosa dan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.

Jadi, menjauhi pebuatan dosa bukan hanya akan menciptakan tabiat keadilan pada diri seseorang, melainkan juga akan menolong kita di dalam memenangkan peperangan yang penting ini. Jadi, jika kita menginginkan kebahagiaan, keinginan yang kuat, dan kemenangan di dalam peperangan ini, maka kita harus menjauhi perbuatan-perbuatan dosa.

Al-Quran Al-Karim berbicara seputar manusia yang berdosa.Hal pertama yang dikatakan oleh Al-Quran ialah bahwa mengkaji dan mempelajari sejarah adalah sesuatu yang sangat penting.Di dalam Al-Quran Al-Karim terdapat lebih dari sepuluh ayat yang mendorong manusia untuk mengkaji dan mempelajari sejarah. Al-Quran mengatakan, “Berjalanlah di muka bumi”,“Jadikanlah pelajaran wahai orang-orang yang berakal”, “Perhatikanlah, mengapa sebagian manusia sampai kepada kebahagiaan, supaya engkau mengikuti jejak mereka”, Demikian juga, perhatikanlah sebab-sebab yang tersembunyi di balik kesengsaraan sebagian manusia yang lain di dunia.” Berulang kali Al-Quran berbicara seputar orang-orang yang berdosa:

Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).(QS. Ali ‘Imran : 137)

Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.(QS. Al-A’raf : 84)

Ayat-ayat yang mirip dengan kedua ayat di atas banyak sekali terdapat di dalam Al-Quran.Wahai manusia, pelajarilah sejarah dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa. Perhatikanlah, apa hasil akhir yang diperoleh oleh orang-orang yang menentang dan mendustakan kebenaran. Kemudian, ambillah pelajaran; dan pelajarilah sopan santun, bagi orang yang tidak mempunyai adab.Al-Quran Al-Karim memperingatkan kita di dalam ayat-ayat ini bahwa sebuah dosa meskipun kecil tetap merupakan sebuah dosa.Artinya, berkata dusta adalah sebuah dosa besar dalam pandangan kita. Sedemikian besarnya hingga mencapai derajat sebagaimana yang telah dinukil dari Musa bin Ja’far yang mengatakan, “Pada hari kiamat para malaikat membawa seorang pendusta ke padang mahsyar, lalu pendusta itu disiksa oleh para malaikat dengan tongkat yang terbuat dari api neraka. Para malaikat datang membawanya, lalu memasukkan tongkat itu ke dalam dadanya dan mengeluarkannya dari punggungnya, kemudian memasukkan tongkat itu lagi dari satu sisinya dan mengeluarkannya dari sisinya yang lain. Lalu para malaikat berkata, ‘Inilah balasan bagi seorang manusia yang suka berdusta.’”

Al-Quran Al-Karim menempatkan berkata dusta dalam jajaran berhala-berhala, “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”(QS. Al-Hajj : 30)

Takutlah kamu kepada dua perkara: Pertama, menyembah berhala. Kedua, berkata dusta.

Sesungguhnya dusta adalah dosa besar.Akan tetapi karena manusia telah terbiasa berkata dusta, maka ketakutan terhadapnya telah tercabut dari hati mereka.Satu dusta saja, sangat membahayakan kita.Begitu juga dengan mengumpat. Imam Khomeini, di dalam bukunya mengenai mengumpat, mendefenisikan perbuatan mengumpat sebagai berikut, “Anda menyebutkan di belakang saudara Anda, sesuatu yang tidak disukainya.”Mengatakan suatu perkara di belakang seseorang, yang jika perkara itu dikatakan di hadapannya maka dia tidak suka, inilah yang disebut dengan mengumpat.Jika seseorang mempunyai sifat buruk, lalu Anda mengatakannya di belakang dia, maka ini juga perbuatan mengumpat. Akan tetapi jika ia tidak mempunyai sifat buruk sebagaimana yang Anda katakana, maka ini namanya “fitnah”. Oh, sungguh celaka karena dosa fitnah itu lebih besar daripada dosa membunuh.

Ketakutan dari perbuatan mengumpat telah lenyap dari hati-hati kita. Dosa mengumpat sangat besar, dan Al-Quran Al-Karim menganggapnya sama dengan memakan daging orang yang mati, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati?Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.”  (QS. Al-Hujurat : 12)

Artinya, apakah Anda mau memakan daging mayat yang telah membusuk, setelah dikeluarkan dari kuburnya, lalu kemudian perbuatan itu ditulis di dalam catatan amal perbuatan Anda?Betapa perumpamaan ini begitu rupa. Al-Quran Al-Karim berkata, ”Inilah perbuatan mengumpat dalam sosoknya yang paling jelas.”Maksudnya, Anda tentunya tidak mau memakan daging orang yang sudah meninggal.Oleh karena itu janganlah kalian mengumpat seorang Muslim.

Bisa saja satu perbuatan mengumpat yang Anda lakukan (dalam arti Anda mendiskreditkan pribadi seorang Muslim) dapat menyebabkan Allah SWT mengatakan kepada Anda, “Wahai hamba-Ku, sejak saat ini Aku tidak akan mengampunimu.”

“Barangsiapa yang mendiskreditkan seorang hamba, maka dia telah memerangi-Ku.”

Jika seseorang mendiskreditkan seorang Muslim, maka dosanya sama dengan dosa memerangi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa mendiskreditkan seorang hamba, maka dia telah memerangi-Ku.”Jika Anda mendiskreditkan pribadi seorang Muslim, atau jika Anda melukai perasaannya dengan perkataan yang menyakitkan, maka seolah-olah Anda memerangi Allah SWT. Mungkin saja rasa takut dari dosa telah hilang dari kita, akan tetapi yang demikian itu menorehkan luka yang dalam pada roh kita. Karena, yang demikian itu melemahkan keinginan kita dan mencampakkan pertolongan Ilahi dari atas kepala kita:

Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.(QS. Ash-Shaff : 5)

Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim.(QS. Al-Qashash : 50)

Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS. Al-Maidah : 67)

Mungkin, saya telah mengulang-ulang sebanyak puluhan kali perkara ini, bahwa pertolongan Ilahi tidak akan berada di atas kepala orang yang suka melakukan dosa. Kecelakaanlah bagi orang yang pertolongan Ilahi tidak berada di atas kepalanya.

Wahai saudara-saudaraku yang mulia, bacalah selalu doa yang berasal dari Rasulullah SAW ini, “Ya Allah, janganlah kau serahkan urusanku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata.”

Jika sejenak saja Allah SWT menyerahkan urusan seseorang kepada dirinya, maka dia akan celaka. Bukan hanya dia akan kalah dalam peperangan ini, melainkan juga dia akan jatuh dari puncak kemuliaan (sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Quran) ke tempat yang serendah-rendahnya. (Bersambung …….)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: