Liga Arab: Israel Harus Dipaksa Tandatangani NPT

Liga Arab menuntut Rezim Zionis Israel bergabung dengan Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) dan menjalankan ketentuan membersihkan kawasan Timur Tengah dari senjata nuklir.

IRNA dari Kairo melaporkan, Wail al-Asad, ketua bidang humas Liga Arab akan memimpin delegasi organisasi ini di konferensi peninjauan kembali NPT di New York. Ia menyatakan, tidak ada alasan bagi Israel untuk menolak NPT.

Wail menandaskan, hal ini bisa membuka peluang terealisasinya perdamaian di kawasan. Konferensi peninjauan kembali NPT akan digelar mulai 3 Mei di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Nuklir Israel; Siapa Bertanggung Jawab?

Nuklir Israel; Siapa Bertanggung Jawab?

Sampai saat ini negara-negara pemilik senjata nuklir masih tetap berusaha menekan Republik Islam Iran agar melepaskan haknya yang diakui dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir. Namun pada saat yang sama rezim Zionis Israel yang didukung Amerika dan negara-negara Barat tetap menolak menandatangani perjanjian NPT.

Sumber-sumber yang dapat dipercaya di departemen pertahanan negara-negara Barat termasuk Inggris meletakkan rezim Zionis Israel di urutan ke-60 dari negara-negara yang memiliki senjata nuklir.

Rezim Zionis Israel sebelum tahun 1970 berhasil memproduksi senjata nuklir dengan bantuan negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Perancis. Tapi sampai saat ini secara resmi para pejabat Zionis Israel tidak pernah menyatakan memiliki senjata nuklir. Semuanya berjalan rapi sampai Shimon Peres, Presiden Zionis Israel dalam wawancara mengakui, baik sengaja atau tidak, kepemilikan senjata nuklir oleh rezim buatan ini.

Pasca wawancara itu, Shimon Peres berkali-kali menyebut pernyataannya itu hanya bercanda, namun pembelaan dirinya malah membuat mata dunia terbuka dan kini yakin bahwa rezim ini memiliki senjata nuklir.

Hal yang tidak diprediksikan sejak sebelumnya oleh Barat kembali pada tekanan yang dilakukan mereka terhadap program nuklir sipil Iran. Bila Barat tidak terlalu kaku dan provokatif dalam melihat masalah ini, dunia juga tidak akan begitu peduli dengan senjata nuklir yang dimiliki Zionis Israel. Karena dalam setiap pembelaannya, Republik Islam Iran pasti menyertakan masalah senjata nuklir yang dimiliki rezim Zionis Israel dan bahaya yang mengancam kawasan Timur Tengah dan dunia. Upaya Iran berhasil menjadikan masalah nuklir Zionis Israel pusat perhatian dunia dan negara-negara Timur Tengah.

Patut diketahui bahwa program nuklir berbahaya Zionis Israel telah dimulai sejak setengah abad lalu. Kemampuan ini dimulai ketika tahun 1953 Zionis Israel mampu memproduksi air berat dan produk olahan uranium lalu mengirimkan pakar-pakar nuklirnya ke Amerika untuk menyempurnakan informasi mereka.

Pada tahun 1986, pakar nuklir Zionis Israel Mordecahi Vanunu mengungkap kepemilikan Zionis Israel atas 100 bom nuklir dan 20 rudal dengan hulu ledak nuklir. Pasca pengungkapan ini, dunia mulai melek terkait aktifitas rahasia nuklir Zionis Israel.

Berdasarkan pengumuman dari sumber-sumber intelijen regional, rezim Zionis Israel hingga tahun 1984 berhasil memproduksi 31 bom plutonium dan pada tahun 1994 jumlah itu meningkat menjadi 64 hingga 112. Itulah mengapa banyak analis yang memprediksikan rezim Zionis Israel kini memiliki 300 hulu ledak nuklir.

Dengan mengoperasikan reaktor nuklir Dimona di Palestina pendudukan, rezim Zionis Israel telah berhasil menguasai teknologi nuklir yang rumit dan produksi senjata nuklir. Jangan lupa pula bahwa usia produktif reaktor ini telah lama berakhir dan kebocoran zat-zat radio aktif telah meradiasi air dan lingkungan hidup warga Palestina dan Yordania. Bahkan penyebaran pelbagai penyakit kanker terhadap warga Palestina yang tinggal di sekitar reaktor nuklir ini berasal dari aktifitas reaktor Dimona yang sudah tidak standar lagi.

Sekaitan dengan hal ini, para pakar lembaga-lembaga hak asasi manusia, lingkungan hidup dan Badan Tenaga Atom Internasional berkali-kali menuntut adanya pengawasan terhadap aktifitas nuklir rezim Zionis Israel. Tapi para pemimpin rezim ini menolak permintaan yang ada dan tidak menerima masuknya tim investigasi IAEA ke area instalasi nuklirnya.

Dalam kondisi yang demikian, pertanyaan paling utama masyarakat internasional dari rezim Zionis Israel dan pendukung Baratnya, termasuk Amerika, Perancis dan Inggris. Sejumlah negara ini yang begitu getol menuntut negara-negara lain mengindahkan isi perjanjian NPT. Bila memang demikian, mengapa rezim Zionis Israel tidak mau mengikuti aturan internasional?

Bungkamnya Barat terkait aktifitas nuklir dan senjata pemusnah massal rezim Zionis Israel membuat rezim ini melakukan aktifitasnya secara sembunyi-sembunyi.

Bila rencananya NPT akan ditinjau kembali, maka harus ada mekanisme untuk menekan Zionis Israel menaati aturan internasional.

Dengan kata lain, Barat, khususnya Amerika dan Perancis yang membantu Zionis Israel memproduksi senjata nuklir harus diperkenalkan sebagai pelanggar utama perjanjian NPT. Karena berdasarkan butir pertama NPT disebutkan, setiap negara yang memiliki senjata nuklir harus komitmen untuk tidak mengalihkan senjata nuklir, alat-alat pembelah atom atau memberikan kontrol langsung atau tidak senjata nuklir kepada negara-negara lain.

Mungkin ini alasan yang membuat Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Zionis Israel tidak menghadiri Konferensi Keamanan Nuklir di Washington dan menyatakan dirinya tidak punya keingingan untuk membongkar program nuklir Zionis Israel.

Hal ini pula yang memaksa Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton mengomentari lawatan Presiden Mahmoud Ahmadinejad ke New York guna mengikuti konferensi peninjauan ulang NPT. Dikatakannya, “Amerika dan Zionis Israel tidak akan menyambut bila Presiden Iran ingin berbicara tentang masalah lain yang mengubah orientasi konferensi.”

Mencegah penyebaran, perlucutan senjata nuklir dan pemanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai merupakan tema utama yang ditekankan oleh Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Kehadiran Presiden Ahmadinejad dalam konferensi ini ingin memberikan ide guna memperkuat keseimbangan terkait masalah-masalah yang akan dibicarakan.

Di sini tampak kehebatan diplomasi Iran. Pasca Konferensi Perlucutan Senjata Nuklir di Tehran, Iran berhasil membuat rezim Zionis Israel dikepung oleh dunia internasional dan bila masyarakat internasional berkehendak, maka Gedung PBB akan menyaksikan peristiwa penting yang akan menjamin keamanan dunia dengan mengawasi aktifitas nuklir rezim Zionis Israel.

Venezuela Dukung Kebijakan Iran

Presiden Venezuela Hugo Chavez menyatakan dukungan negaranya terhadap kebijakan Republik Islam Iran terkait pemanfaatan energi nuklir damai bagi seluruh negara di dunia.

“Mayoritas negara termasuk Venezuela setuju dengan pandangan Iran soal hak semua negara untuk memanfaatkan energi nuklir damai,” kata Chavez,  dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Chavez juga menegaskan perluasan hubungan Karakas dengan Tehran dalam berbagai bidang.

Liga Arab Tak Percaya Janji Damai AS

Kepala Kantor Sekretaris Jenderal Liga Arab mengaku tidak bisa mempercayai jaminan yang diberikan oleh pemerintah AS kepada Kepala Otorita Ramallah tentang dimulainya kembali perundingan damai dengan Rezim Zionis Israel. Hisham Yousuf, kepala Kantor Sekjen Liga Arab dalam wawancara dengan televisi al-Alam mengatakan, secara lisan dan tertulis pejabat tertinggi AS memang sudah memberikan jaminan kepada Mahmoud Abbas bahwa Israel akan menghentikan proyek pemukiman. Namun demikian, jaminan itu sulit terlaksana karena Barat sangat berpihak kepada Israel.

Hisham menjelaskan adanya janji dari Washington bahwa AS akan bersikap tegas terhadap Israel jika rezim itu melanggar ketentuan yang disepakati.  “AS kini punya kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya menekan rezim Zionis dan memaksa Israel mematuhi aturan internasional.”

Perundingan damai Arab-Israel terhenti sejak akhir tahun 2008 menyusul agresi militer Rezim Zionis Israel ke Gaza yang berujung pada meletusnya perang 22 Hari.

Zionis Taklukkan Kabinet Baru Inggris

PM Inggris, David Cameron

Seorang pengamat politik Timur Tengah, Omar Radovan menyatakan, “Pemerintah baru Inggris dapat dikategorikan sebagai kabinet paling Zionis dalam sejarah negara ini dan diperkirakan akan tunduk penuh di hadapan tuntutan Israel.

Radovan, pengamat dari Middle East Monitor, mengomentari dimulainya masa kerja kabinet baru Inggris mengatakan, “Israel memiliki pengaruh sangat besar dalam pemerintah koalisi baru Inggris yang dipimpin oleh Partai Konservatif.”

“Meski Partai Konservatif mendapat dukungan dari Partai Liberal Demokrat yang terkenal frontal terhadap Israel, namun secara keseluruhan kubu Konservatif tidak pernah menolak setiap tuntutan dari Israel dan hal ini berulang kali terbukti,” tambahnya.

Radovan menambahkan, “Pemimpin Partai Konservatif, David Cameron dan rekan-rekan sekubunya, berulangkali menyatakan dukungan penuh mereka terhadap Israel selama masa kampanye.”

“Diperkirakan Cameron akan menentang segala bentuk kritik terhadap Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pada praktiknya dukungan pemerintahan saat ini kepada rezim Zionis akan lebih meningkat berkali lipat.”

“Pemerintahan dari Partai Buruh sebelumnya menangguhkan seluruh kontrak penjualan senjata kepada Israel menyusul serangan rezim Zionis ke Gaza tahun lalu, namun setelah ini, pemerintahan konservatif Inggris jelas akan membuka lagi kontrak tersebut.”

Tidak hanya itu,  kubu Konservatif juga akan mengubah hukum yang berlaku saat ini menyangkut penangkapan para penjahat perang di Inggris sehingga para pejabat Israel dapat dengan bebas melenggang ke Inggris tanpa khawatir ditangkap dan dijerat undang-undang anti-penjahat perang.

Radovan menyebutkan iklan kampanye Partai Konservatif yang mendukung Israel di sebuah jurnal “Jewish Chronicle” bahwa dalam David Cameron berjanji akan membela penuh politik Israel dalam pemerintahan mendatang Inggris. Kubu Konservatif Inggris menyatakan dalam langkah awal akan merevisi undang-undang penangkapan penjahat perang. Jika hal ini terwujud, maka pihak pertama yang akan merasa terbebaskan dari undang-undang tersebut adalah para pejabat Zionis.

“Lobi-lobi Zionis di Inggris merupakan yang paling aktif dan mesin lobi paling terselubung di negara ini bahkan di Eropa secara keseluruhan,” jelas Radovan.

Dikatakannya, “Mantan kepala menteri Irlandia Utara menyatakan bahwa lobi Zionis merupakan lembaga politik paling kuat di Inggris yang mencoba menyulap seluruh kebijakan London menjadi dukungan terhadap Israel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: