INSAN MALAKUT

Oleh : Husain Mazhahiri

Suatu hal yang harus saya tunjukkan dan kita juga perlu memperhatikannya ialah masalah peperangan yang berlangsung dengan dahsyat di dalam diri kita. Peperangan inilah yang dinamakan oleh Rasulullah SAW sebagai “peperangan terbesar” (al-jihad al-akbar). Riwayat-riwayat seputar masalah ini beraneka macam. Sebagai contoh, sebuah riwayat mengatakan, “Seorang pemuda baru saja kembali dari medan peperangan, dia belum sempat kembali ke rumahnya, sementara debu medan peperangan masih tampak menempel di wajahnya. Pemuda itu lewat di sisi Rasulullah SAW dalam keadaan masih menghunus pedangnya yang masih berlumuran darah. Melihat hal itu Rasulullah SAW bersabda, “Wahai pemuda, Allah memberkatimu di dalam jihadmu di jalan Allah. Akan tetapi engkau harus melakukan “jihad yang lebih besar”. Pemuda itu bertanya, “Ya Rasulullah, jihad apakah yang lebih besar daripada  jihad ini?” Rasulullah SAW menjawab, “Jihad yang lebih besar adalah peperangan melawan nafsu ammarah.” Yaitu peperangan antara roh dan jasad, peperangan antara dimensi spiritual melawan dimensi bahimi (hewani).

Kita juga mempunyai riwayat yang menceritakan beberapa orang pemuda melakukan perlombaan di dalam menunjukkan kekuatan masing-masing. Diceritakan bahwa mereka bermaksud mengangkat sebuah batu besar. Lalu Rasulullah SAW sampai ke hadapan mereka dan menyemangati mereka. Rasulullah SAW mengatakan, “Semoga Allah memberkatimu. Ini adalah perlombaan dan olah raga. Akan tetapi manusia yang paling pemberani adalah manusia yang dapat mengalahkan hawa nafsunya.” Orang yang paling berani bukanlah orang yang mampu mengangkat batu besar itu, sehingga kita mengatakan bahwa dia lebih berani daripada yang lain. Benar, bahwa dia adalah seorang yang pemberani, akan tetapi orang yang paling berani dari semuanya adalah orang yang mampu mengalahkan hawa nafsu, syahwat dan dimensi bahimi-nya.

Di dalam Islam, terdapat banyak proposisi yang mirip dengan kedua proposisi yang telah saya sebutkan. Dan slogan Islam ialah, “Manusia yang paling pemberani adalah manusia yang mampu mengalahkan hawa nafsunya.” Jika dimensi spiritual seseorang dapat mengalahkan dimensi materinya di dalam medan peperangan, maka orang ini adalah manusia yang paling pemberani.

Peringatan yang berguna bagi anda, wahai para pembaca yang mulia, ialah bahwa peperangan ini berlangsung secara terus menerus. Terkadang jasad yang menjadi pemenang dan dimensi spiritual yang menjadi si pecundang di dalam peperangan ini. Ini disebabkan dosa menutupi dimensi spiritual dan melumpuhkan geraknya. Karena, dimensi spiritual menjadi terkalahkan disebabkan dosa. Terkadang juga terjadi sebaliknya, dimana seseorang dapat menggilas dosa dan mengalahkan nafsu ammarah, sehingga dosa pun menyingkir dan dimensi spiritual dapat mengalahkan dimensi materi. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian ialah jika dimensi spiritual kita keluar dari medan perang sebagai pemenang, maka kita pun dapat berjalan dengan kepala tegak, persis seorang pemuda yang pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan. Akan tetapi jika terjadi sebaliknya, dalam arti dimensi materi yang keluar sebagai pemenang, maka tentu manusia akan berjalan dengan menundukkan kepalanya karena malu, dan ia persis seperti orang yang ikut di dalam peperangan dan kembali dengan membawa kekalahan. Akan tetapi disini terdapat perbedaan. Artinya, tatkala dosa datang menghadang dan kita dapat mengalahkan nafsu ammarah dan dapat membanting dimensi hewani ke bumi, maka di sini sesungguhnya kita telah mengalahkan diri kita. Karena, kita terdiri dari ruh dan jasad. Dari sini kita harus memahami bahwa hakikat manusia sesungguhnya tersembunyi di dalam dimensi spiritualnya, dan bukan di dalam dimensi materinya. Kemanusiaan manusia teraktualisasi dengan ruhnya, nurani akhlaknya dan akalnya. Manusia yang tidak mempunyai akal atau pikiran, manusia yang pada dirinya tidak terdapat nurani akhlak, dan malah memadamkan nuraninya, sama sekali bukanlah manusia. Dari sisi pandangan Al-Quran, manusia seperti ini tidak dianggap sebagai manusia. “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang (makhluk) di sisi Allah ialah orang yang pekak dan tuli, yang tidak mengerti apapun.” (QS. Al-Anfal : 22)

Akibat akhir sebagian manusia adalah kembali ke jahannam. Seolah-olah mereka mengambil jalan menuju jahannam dan terus maju melangkah menuju arahnya. Mengapa? Mereka mempunyai hati, dalam arti pada diri mereka terdapat dimensi malakut, akan tetapi dimensi ini terkalahkan dan dihancurkan oleh mereka, sehingga menjadikan mereka tidak bisa memahami sesuatu. Pada diri mereka juga terdapat mata batin, akan tetapi mereka mencungkil mata batin mereka itu dengan dosa-dosa yang mereka lakukan. Artinya, dimensi spiritual yang ada pada mereka telah terkalahkan di dalam “peperangan terbesar” (al-jihad al-akbar). Dengan begitu, mereka sudah tidak mempunyai telinga batin lagi yang bisa dipakai untuk mendengar, dan tidak mempunyai mata batin lagi yang bisa dipakai untuk melihat. Al-Quran mengatakan, “Mereka tidak ubahnya seperti binatang ternak.” Artinya, mereka sudah tidak dihitung lagi sebagai manusia. Bahkan, Al-Quran menyebutkan, “Mereka itu tidak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.”

Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab terhadap struktur bangunan nurani akhlaknya, yang mempunyai toleransi kepada yang lain, yang mencintai orang lain, dan siap berkorban demi mereka. Jika dia mendengar teriakan orang yang dizalimi, dia merasa sedih, menangis dan tidak bisa tidur. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebuah hadis, bahwa manusia adalah yang merasa gembira jika menolong orang miskin, yang bangunan kehidupannya berdiri di atas pilar kecintaan kepada orang lain, dan yang tidak mencintai dirinya secara berlebihan. Semoga Allah merahmati penyair Sa’adi tatkala dia mengatakan :

Jasad manusia menjadi mulia dengan ruh kemanusiaannya

Bukanlah pakaian yang indah sebagai petunjuk kemanusiaan

Jika manusia dikatakan manusia karena kedua mata, lidah, telinga dan hidungnya

Lalu apakah bedanya antara gambar di dinding dengan kemanusiaan.

Mungkin Sa’adi mengambil makna ini dari Al-Quran. Dia mengatakan, apa bedanya antara manusia dengan binatang ternak?

Demikianlah yang dikatakan oleh Al-Quran. Jika manusia sudah tidak lagi mempunyai dimensi malakut, jika manusia sudah tidak lagi mempunyai akhlak insani, jika manusia sudah tidak lagi memperhatikan kewajiban-kewajibannya dan sudah tidak sungkan lagi melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, maka apa bedanya antara dia dengan binatang ternak?

Ketika anda melakukan suatu pekerjaan yang diridhai oleh Allah SWT dan diridhai oleh akal, anda akan merasakan kebanggaan dan kemuliaan. Sebaliknya, jika anda mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak diridhai oleh Allah dan akal, anda akan menundukkan kepala anda karena malu. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa kemanusiaan manusia adalah dengan akal, ruh, dan dimensi malakutnya. Itu jika kita adalah manusia. kita harus senantiasa memperkuat dimensi malakut kita.

Apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa mewujudkan kemenangan di dalam peperangan antara yang hak dengan yang batil, antara dimensi nasut (hewani) dengan dimensi spiritual, di dalam sebuah peperangan yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai peperangan terbesar? Kita harus mendatangkan kekuatan dari luar. Karena, jika kita tidak mendatangkan dimensi dari luar, maka kita akan kalah. Itu disebabkan dimensi materi senantiasa berhembus kuat, disamping juga bala tentaranya sangat banyak dan tidak terhitung, seperti gharizah kecintaan kepada harta, gharizah kecintaan kepada hidup, gharizah kecintaan kepada anak, gharizah sifat-sifat tercela, seperti dengki dan hasud, demikian juga faktor genetika, faktor lingkungan dan faktor makanan. Semua ini berada di satu kubu, sementara hanya dimensi spiritual saja yang berada di kubu yang berhadapan. Jika saya ingin membuat perumpamaan, sesungguhnya peperangan yang terjadi di dalam diri kita tidak ubahnya seperti peperangan sekarang yang terjadi di dunia luar.

Sesungguhnya anda sangat lemah sekali dari sisi perlengkapan dan jumlah, lalu bagaimana untuk bisa menang? Inilah yang harus menjadi perhatian kita. Tentunya kekuatan dari luar merupakan keharusan. Lalu, apa kekuatan dari luar tersebut?

Memperhatikan Kewajiban

Manusia harus memperhatikan dan mementingkan kewajiban-kewajibannya. Allah berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah : 45)

Dalam arti, anda harus memohon pertolongan kepada Allah di dalam peperangan kebenaran melawan kebatilan, di dalam peperangan ruh melawan jasad. Allah SWT harus membantu anda. Dengan apa? Dengan shalat. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

Kekuatan luar membantu dimensi spiritual ini, dan dengan perantaraannya dimensi spiritual dapat mengalahkan dimensi jasad. Artinya, tatkala badai datang, maka kekuatan luar dapat menghadapinya, dan bahkan dapat menundukkan dan menjinakkannya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi manusia, jika kita ingin keluar menjadi pemenang di dalam peperangan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai “peperangan terbesar”, maka kita harus memperhatikan kewajiban-kewajiban kita, khususnya shalat. Betapa shalat merupakan kekuatan yang perkasa, betapa shalat sangat bermanfaat bagi manusia, sampai-sampai Allah SWT memberi penekanan kepada shalat sampai sedemikian ini. Oleh karena itu, anda harus menekankan nilai-nilai shalat kepada pemuda anda.

Jika seorang laki-laki mementingkan dan menaruh perhatian terhadap shalat, maka shalat akan membangkitkan kekuatan eksternal pada akal dan ruhnya. Dengan begitu, dimensi spiritualnya akan menang dan dapat mengalahkan dimensi materinya. Al-Quran memberikan isyarat kepada hakikat ini, “Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” Ayat ini memberi isyarat bahwa di dalam diri anda terdapat peperangan, dan anda membutuhkan bala tentara. Anda harus mengirimkan bala tentara dan senjata, dan senjata eksternal ialah menaruh perhatian terhadap kewajiban-kewajiban, terutama shalat.

Setiap kali kita hendak memperkuat ruh kita, dalam arti kita hendak meninggikan kemanusiaan kita, maka kita harus memperhatikan semua kewajiban, terutama kewajiban shalat. Sungguh, telah banyak diwasiatkan tentang shalat, hingga sebagian riwayat menyebutkan bahwa beberapa saat sebelum Rasulullah SAW wafat, Rasulullah SAW mengulang-ulang kata-kata berikut, baru kemudian Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kata-kata yang diulang-ulang oleh Rasulullah SAW itu ialah, “Umatku, engkau harus memperhatikan shalat dan budak-budak perempuan yang kamu miliki.” Artinya, engkau harus memperhatikan dua perkara : Pertama, shalat dan Kedua, adalah budak-budak perempuan yang kamu miliki. Terdapat sebuah riwayat lain dari Imam Ja’far Shadiq yang menceritakan bahwa Imam Ja’far Shadiq mengumpulkan keluarganya pada saat hendak wafat. Keluarganya mengira bahwa Imam Ja’far mempunyai wasiat baru. Di dalam wasiatnya itu Imam Ja’far Shadiq mengatakan sebuah perkataan, lalu kemudian meninggalkan kehidupan dunia ini. Kata-kata akhir yang diucapkan oleh Imam Ja’far Shadiq berbunyi, “Tidak akan memperoleh syafaat kami orang yang meremehkan shalat.”

Saudara-saudaraku yang mulia, anda mengetahui bahwa semua manusia harus pergi ke surga dengan syafaatnya Ahlul Bait Nabi SAW. Jika tidak ada syafaat mereka maka tidak akan ada tempat di surga. Sementara riwayat tadi mengatakan bahwa jika seseorang meremehkan shalat maka dia tidak akan memperoleh syafaat Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Saya berharap pemberian motivasi ini bermanfaat bagi saya dan bagi anda, dan kemudian anda menjadikannya sebagai jalan untuk memperoleh syafaat Ahlul Bait Nabi SAW. Terutama lagi, anda harus menerapkan pembahasan akhir kepada para pemuda dan anak-anak. Anda harus banyak berbicara mengenai shalat kepada anak-anak. Karena, anda tahu bahwa otak seorang anak menyerupai kamera. Bisa saja satu perkataan sangat berbekas pada otaknya, sehingga menjadikannya menjadi seorang manusia yang senantiasa mendirikan shalat sepanjang hidupnya. Yang demikian itu tentunya sangat berguna sekali bagi anda. Karena, pada setiap kali shalat yang didirikannya, Allah SWT akan menuliskan satu pahala pada catatan amal perbuatan anda. Perhatikanlah anak-anak sesuai kemampuan anda. Karena, mereka adalah amanat, dan anda harus memelihara amanat.

Ya Ilahi, kami bersumpah kepada-Mu dengan kemuliaan dan kegungan-Mu, supaya Engkau menganugerahkan kepada kami semuanya sifat-sifat insani, keberanian spiritual, dan ketajaman penglihatan batin, dan anugerahkanlah kepada kami semua taufiq dan kemampuan untuk bisa beribadah kepada-Mu, meninggalkan maksiat dan mementingkan shalat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: